Ini mungkin hanya keluhan saya sebagai seorang guru baru dalam dunia matematika, atau juga keluhan beberapa orang guru senior yang mengajar sejak berpuluh tahun lalu, yang juga mengalami hal yang sama. Pembelajaran di kelas matematika (atau juga kelas eksak lain) tidak pernah terasa menyenangkan.  Mereka bercerita tentang pembelajaran yang sangat menyiksa, garing, dan tak memperlihatkan hasil. Sungguh!

Alasan pertama yang paling kuat, ketika mereka bercerita tentang ketidaknyamanan mengajarkan matematika bagi siswa adalah adanya siswa yang tidak menguasai ilmu prasyarat dengan baik. Untuk belajar matematika di kelas X SMA misalnya, seorang siswa harus paham dengan benar matematika di SMP, baik kelas VII, VIII ataupun IX. Paham saja tidak cukup, tapi harus pemahaman yang benar. Untuk memahami matematika di kelas VII SMP, siswa harus tahu dengan benar tentang matematika di kelas IV, V dan VI SD. Tahu saja tidak cukup, tapi perlu tahu dengan benar.

Nah, masalahnya adalah jenjang sekolah di level bawah kadang kurang matang membekali siswa dengan ilmu prasyarat itu. Ini bisa jadi kualitas guru yang *maaf* kurang mumpuni, media pembelajaran yang kurang lengkap, metode yang tidak pas, atau jumlah siswa yang terlampau banyak dalam sebuah kelas. Di SMP tetangga sekolah saya, kata salah seorang guru yang anaknya sekolah di sana, jumlah siswa dalam satu kelas bisa mencapai 50 orang, sedangkan standar kuota maksimum jumlah siswa ideal adalah 32. Dengan jumlah siswa sebanyak itu, hanya guru yang sangat pintar yang dapat memanage keseluruhan siswa dan memberi perhatian dengan baik.

Ini realitas, siswa di SMA masih cukup banyak yang tidak paham dengan benar tentang penjumlahan bilangan positif dan negatif. Untuk menjawab soal 2 + (-3), siswa kelas X SMA bisa berdebat dengan teman mereka untuk menentukan jawaban yang benar, membutuhkan waktu sekian menit untuk akhirnya menemukan jawaban yang benar adalah (-1). Padahal, pertanyaan sejenis ini sudah diulang sejak mereka sekolah di SD. Syukurlah, mereka masih mau berdebat untuk menemukan kebenaran (Halah). Namun akibatnya adalah sebuah keterlambatan materi pelajaran. Bagaimana mungkin memahami konsep yang lebih dalam tentang matematika di SMA sedangkan mereka masih belepotan menyelesaikan operasi yang sangat standar yang justru sebenarnya telah diajarkan saat mereka di SMP. Hal ini akhirnya menyebabkan guru harus mengulang lagi materi dari awal, yang mestinya mengajarkan tentang operasi aljabar pada bentuk pangkat akhirnya harus mengulang lagi mengajar penjumlahan dan pengurangan bilangan positif dan negatif. :lol:

Maaf, bukannya ingin saling menyalahkan dengan cara mengajar guru di SMP & SD atau ketidaktuntasan mereka dalam mengajarkan materi, tapi entah bagaimana membahasakannya dengan tepat. Intinya, saya ingin mengatakan bahwa banyak siswa SMA yang tidak paham materi pembelajaran matematika di SMP. Akhirnya, banyak siswa yang mengalami kesulitan teramat sangat ketika harus mengejar ketertinggalan materi, konsep dan pemahaman awal. Selain harus memahami materi baru, mereka juga harus mengejar ketertinggalan mereka.

Salah seorang guru senior di sekolah saya mengatakan bahwa salah satu cara yang perlu dilakukan untuk membuat mengurangi efek ketidakmapanan ilmu prasyarat siswa adalah melakukan tes prasyarat pada tiap memulai materi baru. Ini ide yang dilakukannya, memberikan sekitar 100 nomor tes pilihan ganda tentang materi prasyarat yang akan digunakan untuk mengukur dan mengklasifikan mereka dalam beberapa kelompok kecil. Tapi juga penuh dengan kerepotan. Ribet pokoknya! Tapi mungkin itu perlu ditempuh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Alasan kedua pembelajaran matematika di kelas tidak pernah menyenangkan adalah kurangnya motivasi siswa dalam belajar. Ini menarik, di tengah perkembangan dunia teknologi yang begitu pesatnya, kelas matematika saya masih menggunakan whiteboard dan spidol sebagai salah satu media belajar utama. Ketika orang telah bercerita tentang penggunaan ICT, saya masih melongo dengan keadaan lingkungan yang sama sekali tidak mendukung penggunaan alat itu. Ada sih iya, tapi belum cukup digunakan untuk semua kelas. Sesekali waktu bisa, tapi mesti melakukan prosedur yang njelimet. Mungkin ini yang akhirnya menyebabkan beberapa siswa yang saya perhatikan sering melamun ketika pembelajaran berlangsung. Secara pribadi, saya mencoba memahaminya sebagai sebuah masalah psikologi yang harus saya pahami. Tapi lama kelamaan itu membuat hati saya galau : “Ada yang salah dengan cara saya mengajar”. Lha tiap hari hanya mesti belajar dengan duduk di kelas, maju ke papan tulis mengerjakan soal latihan, bekerjasama dengan teman mengerjakan tugas, pulang ke rumah dengan bejibun PR, datang lagi ke sekolah untuk ngumpul tugas dan siap-siap untuk kuis dadakan pada tiap waktu. Bukankah itu membosankan?

Sempat juga bercerita dengan salah seorang guru di sebuah SMA Negeri di Makassar tentang motivasi siswa ini. Lucu. Beliau memiliki cara unik untuk membuat siswa belajar. Beliau beranggapan bahwa siswa selalu suka bertindak sebagai tokoh antagonis dalam pembelajaran. Mereka suka berlogika secara kontradiktif. *Aiyyah…* Ketika seorang guru berkata : “Anak-anak, tugas kalian adalah belajar … Karenanya, jangan terlalu banyak main ya!”, apa yang terjadi dengan anak-anak? Mereka akan lebih sering bermain. Makanya beliau menyikapi ini dengan cuek dan (sambil bercanda) mengatakan : “Hari ini tidak ada PR. Kalian bermain saja di rumah ya … Liburan kali ini gunakan untuk bener-bener liburan. Sama sekali jangan pernah buka buku … Oke?!” Entah apa yang akan dilakukan oleh anak-anak. Mungkin bisa jadi mereka belajar, takut guru memberikan kuis di hari pertama masuk sekolah, atau juga malah beneran bermain karena mengikuti kalimat sang guru. :lol:

Motivasi memang penting. Bagi guru yang tinggal di daerah yang penduduknya sadar akan pendidikan bisa jadi itu tak terlampau sulit. Tapi bagi saya yang tinggal di daerah dimana pendidikan adalah hal gratis, bener-bener gratis, sama sekali tak ada pungutan dari sekolah untuk semua biaya pendidikan siswa, motivasi adalah hal sulit. Mungkin saja beberapa orang tua siswa tidak akan peduli lagi dengan hasil ulangan anak mereka, tidak peduli lagi dengan perkembangan hasil pendidikan anak mereka, apalagi hanya dengan nilai matematika mereka semester ini. “Lha wong pendidikan gratis ae lho … ngapain mesti mikir repot-repot! Yang penting kan sekolah! Eh, Pak, bukunya juga gratis kan?! Nah, lo! Emang sekolah itu penerbit apa?

Alasan ketiga pembelajaran matematika di kelas tidak pernah menyenangkan adalah matematika terlalu abstrak untuk sekedar digunakan dalam kehidupan. Ini yang sebenarnya berusaha diretas oleh pengembang Real Mathematic Education (RME), matematika yang diajarkan berdasarkan kebutuhan siswa pada dunia nyata. Pembelajaran yang berbasis kompetensi dimana prosesnya dilakukan dengan mengacu pada konteks kegunaan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Boleh. Boleh. Boleh jadi pada beberapa materi SD dan SMP, RME dapat dikembangkan dengan baik. Materi SD dan SMP memang masih belum terlalu abstrak, semua masih nyata digunakan. Operasi aljabar sederhana, geometri sederhana. Tapi pada tingkat SMA, ini agak sulit. Beberapa materi memang sangat abstrak, bahkan salah seorang guru mengatakan kepada saya : “Saya heran, sampai sekarang saya masih tak tau apa sebenarnya manfaat materi ini diajarkan pada siswa. Ini yang membuat mereka belajar hanya untuk mencari nilai, tidak untuk mencari ilmu”. Masalahnya, beberapa materi memang tidak dapat digunakan dalam ilmu praktis, harus dikembangkan terlebih dahulu dengan bantuan ilmu lain. Ekonomi, statistik, engineering, fisika, kimia, biologi, geosains, dan semacamnya, menggunakan matematika.

Materi-materi SMA telah sampai di tahap abstrak itu, dan siswa yang kurang matang ilmu prasyaratnya di awal pembelajaran, tidak akan menemukan soul pembelajarannya.

Alasan ke-empat pembelajaran matematika di kelas tidak pernah menyenangkan adalah guru yang terlalu cerdas. Ini mungkin berbeda, cerdas dan pintar. Saya tak ingin berdebat tentang pengertiannya. Hanya ingin menguatkan bahwa di kelas matematika ada siswa yang alergi, ada siswa yang kadang lambat loading, ada siswa standar, ada siswa jenius dan mungkin juga ada phytagoras di kelas kita. Guru yang cerdas mengajar dengan menggunakan ukuran kecepatan pemahaman diri sendiri untuk melakukan percepatan pembelajaran pada siswa. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat hanyalah salah satu file yang disediakan hanya untuk pengawas dan supervisor. Bukan untuk perkembangan proses pembelajaran. Guru cerdas mengajar seperti dosen, hanya memberikan penjelasan materi sejenak, memberikan contoh soal dua atau tiga buah, kemudian memberikan beberapa latihan yang berbeda dengan model pada contoh. Kemudian jika siswa tak dapat menyelesaikannya, berkata pada diri “Ini kesalahan saya atau siswa?”.

Ada tiga hal yang perlu ditanyakan ke dalam diri guru ketika nilai matematika pada ulangan harian siswa tidak memenuhi standar : a) Metode dan cara penyampaian pelajaran oleh guru tidak pas, b) Materi dan soal ujian yang terlampau sulit, atau c) Siswa yang malas belajar!

Semoga tiap kali terjadi ketidakpuasan guru dengan hasil ujian siswa, masalahnya adalah pada point (b), materi dan soal ujian yang terlampau sulit. Tapi kadang, dengan sangat memelas, siswa akan menyatakan bahwa yang terjadi adalah point (c), “Kami yang kurang belajar Pak …” Syukurlah jika kalian sadar.

Abied percaya bahwa di dunia ini tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanyalah siswa yang malas. (Abied)

Berdasarkan pemahaman saya tentang Personality Plus, saya menyimpulkan bahwa semua guru matematika berwatak melankolis. Orang yang punya kreatifitas tinggi, jenius, cerdas, selalu mengintrospeksi diri terhadap apa yang ia lakukan. Ini yang akhirnya membuat beberapa guru matematika selalu mengidentifikasi hasil kerja mereka, dan kemudian merasa bahwa semua yang mereka lakukan seakan tidak berguna, hanya karena beberapa siswa tidak dapat menjawab soal matematika pada ulangan harian dengan baik. Jika Anda seperti itu (dalam tahap ekstrim), mungkin sejak sekarang perlu menurunkan standar. Sekali lagi perlu dipahami, di kelas matematika kita ada siswa yang alergi, dan tidak semua mereka adalah sang jenius sekelas Phytagoras.

Guru yang cerdas, mungkin kalah dengan guru yang pintar, dalam hal menjelaskan materi kepada siswa. Guru yang cerdas mampu menjawab sesulit apa pun soal yang diberikan, namun kadang sulit memberikan pemahaman kepada orang lain tentang cara menyelesaikan soal yang sama dengan cara yang mudah. Sedangkan guru yang pintar, merendah, meletakkan diri sebagai teman siswa, meletakkan gaya berfikir setinggi kemampuan siswa menganalisis. Meski tak cukup cepat menyelesaikan soal, guru yang pintar mampu memberikan pemahaman mendalam bagi siswa. Memang perlu menjadi guru cerdas, tapi juga penting menempatkan diri sebagai guru yang pintar. Pintar menempatkan diri dalam situasi pembelajaran di kelas. Salah satu hal yang penting adalah jangan menyiksa diri dengan standar hasil yang terlalu tinggi. Kita berhadapan dengan banyak siswa dari banyak tipe dan latar belakang pendidikan.

Akhirnya, saya berdoa semoga proses pembelajaran matematika di kelas saya bisa lebih menyenangkan, bermanfaat, berguna, berdaya ubah. Mohon saran. Apalagi yang membuat pembelajaran matematika tidak pernah menyenangkan menurut Anda?

Anda suka dengan artikel Kenapa Pembelajaran Matematika Di SMA Tidak Pernah Menyenangkan? ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Personality Plus | Belajar Memahami Kepribadian Orang Lain : Watak Sanguinis. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Kenapa Pembelajaran Matematika Di SMA Tidak Pernah Menyenangkan?" :

Ditulis dalam Kategori Pend. Matematika.