Jika dilihat dalam peta, letak kecamatan Bone-Bone adalah sebelah utara timur laut dari Ibu kota propinsi, Makassar. Perjalanan dari Makassar ke Bone-Bone rata-rata memakan waktu 7 jam perjalanan. Jaraknya cukup membuat pegel kesel, 496 km. Dibanding kata Bone-Bone atau Masamba (sebagai ibukota kabupaten), orang Makassar lebih mengenal kata Palopo untuk keseluruhan daerah di daerah ini. Padahal, jarak kota Palopo dan Masamba sendiri masih 70 km lebih, hanya saja Palopo adalah ibukota kabupaten pada waktu itu. Dulu, kabupaten kami hanya terdiri atas sebuah saja, Luwu. Sekarang telah terbagi menjadi empat : Luwu Utara dengan Masamba sebagai ibukotanya, Luwu Timur (Malili), Kota Palopo, dan Luwu (Larompong). Luasnya memang sangadh! Sebelum terpecah, dari ujung ke ujung kabupaten Luwu membutuhkan waktu tak kurang dari 6 jam, hampir sama dengan perjalanan dari kota kami ke Makassar. Bisa jadi, sepersepuluh dari Pulau Sulawesi adalah Tanah Luwu. Ckckckckck …

Pemekaran daerah sendiri sebenarnya bukan hal yang murni berhubungan dengan politik, tapi itu adalah masalah kependudukan. Kata mantan Bupati Luwu Utara, Bapak Luthfi A. Mutti, pemekaran adalah masalah bagaimana mendekatkan pemerintah pada masyarakat. Dengan area yang begitu luas, pemerintah akan kewalahan ‘mendekati’ masyarakat, mereka hanya mampu menjangkau daerah-daerah yang dekat dengan wilayah ibukota, untuk daerah pedalaman akan sangat sulit diatur jadwalnya. Makanya, sekarang juga sedang gencar-gencarnya digagas pembentukan Propinsi Luwu Raya. Awalnya dulu hanya kabupaten, dan sekarang akan direncanakan jadi propinsi. Sebuah perkembangan yang cukup pesat, apalagi untuk daerah yang berada agak jauh dari kota propinsi.

Wilayah Luwu Utara memiliki iklim yang sangat baik. Sepanjang tahun ada hujan, kemarau panjang tak pernah menyerang. Kalaupun kering, sumber-sumber air masih akan tetap ada, tak menyebabkan tanah-tanah sawah retak seperti yang terjadi di beberapa kabupaten lain di Sulawesi Selatan. Seperti lagunya Koes Plus, tongkat ditancap jadi tanaman. Di kabupaten Pangkep misalnya, bulan kemarin waktu saya melakukan perjalanan ke Makassar, tanah sawahnya kering beneran, retak-retak dan yang tersisa hanya warna coklat, daun-daun yang tua, kering, tidak mendapat air.

Jika bercerita tentang Palopo (secara keseluruhan), dan Luwu Utara, pikiran orang Sulawesi Selatan akan langsung mengarah pada sebuah makanan bernama kapurung. Makanan khas terbuat dari sagu, mirip dengan pappEda di Maluku. Hanya saja kapurung dimakan bersama kuah pedis, sayur mayur dan ikan laut atau daging ayam. Hmmm .. Beberapa orang dari Jawa yang baru datang ke Palopo mesti berusaha keras untuk akhirnya bisa menikmati kapurung. Modelnya saja seperti lem, sangat mirip lem kanji. Mereka yang baru mencoba makan akan mengunyahnya. *Hahaha …* Makanan ini tidak perlu dikunyak, hanya perlu langsung telan saja. Kalo dikunyah, justru tidak akan terasa apa-apa, kesulitan, akan lengket sana sini di ruang mulut. Tapi saya jamin, rasanya bukan hanya luar biasa, tapi ruaaaaarrr biasa! Kapurung menjadi satu dari sekian banyak menu yang disajikan pada tiap acara-acara orang Palopo.

Begitu juga adanya dengan durian. Palopo punya itu, selain rambutan dan Jeruk Malangke (pernah dengar?). Pada musimnya, harga durian bisa menjadi sangat murah, 10ribu untuk 3 buah. Sayangnya bulan ini belum panen, perkiraan akhir bulan Januari hingga awal Maret buah durian dan rambutan akan panen raya. Tak tanggung-tanggung jika panen raya tiba, pemilik pohon durian dan rambutan bisa mendapat penghasilan tambahan hingga puluhan juga rupiah. Tapi yang payah adalah orang Palopo yang tak punya pohon durian. Malah pernah ada pemilik kebun yang hanya mengharuskan seseorang membayar Rp. 20.000,- untuk masuk ke dalam kebun duriannya dan makan hingga puas (tapi gak boleh bawa pulang, mesti dimakan di tempat). Tiap kali nyebut nama Palopo, setiap orang akan mengira pasti punya pohon durian, terus minta kiriman. *Aiyyah!* Dibanding membeli, harga kirim durian lebih mahal. Merepotkan penumpang lain masalahnya.

Sampai saat ini, saya merasa Bone-Bone adalah daerah yang cukup heterogen. Penduduknya bercampur baur antar suku, dengan tradisi saling menghormati dan menghargai. Kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Area lahan yang begitu luas membuat mereka harus melakukan itu. Karena jika tidak, kekayaan alam malah akan sia-sia. Tuhan telah memberikan begitu besarnya karunia bagi Tanah Luwu, dan saya bersyukur, karunia itu telah dimanfaatkan secara maksimal oleh warganya. Tak seperti di kota sejenis Jakarta, meski ada ketimpangan sosial, di Bone-Bone, itu hanya sebatas normal. Sama sekali tak tampak bangunan megah dengan gubuk di sampingnya. Tak ada sungai yang penuh kotor dengan sampah, tak ada kemacetan di pagi hari ketika orang berangkat kerja, tak ada asap dari pabrik-pabrik atau deru kendaraan tiada henti.

Kebudayaan daerah Luwu juga masih kuat dipegang oleh penduduk. Warga Bone-Bone terlihat begitu asyik masyuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Dominasi orang Luwu, Jawa, Tator, Bali dan berbagai suku lain sungguh tak tampak. Bauran masyarakat desa dengan gaya hidup yang hampir metropolitan telah saya rasa.

Gaya hidup modern ala masyarakat desa telah nampak. Jangan kira kami tinggal di sebuah tempat gelap tanpa listrik dan telepon, *Halah*, meski berada 500 km dari ibukota propinsi, kami adalah penduduk sebuah negeri modern. Informasi berkembang pesat, teknologi komunikasi telah jadi kebutuhan. Penjual pulsa meraja lela, penyedia jasa pertanian merebak, dunia pelajar berkembang, pemerintahan berjalan normal. Dalam tiap diskusi, warga bicara politik pada persiapan Pilkada 2010 nanti. Tiap ada wacana berkembang secara nasional, banyak orang yang juga membicarakannya di tempat publik, berbaur dalam satu padunya alasan masing-masing, berdebat hebat.

Remaja muda Bone-Bone kini telah bergaya, tiap hari maen pesbuk, kalo gak gitu poker. Ini yang mungkin perlu diluruskan. Perkembangan teknologi informasi mestinya tidak hanya dimanfaatkan untuk hura-hura, tapi harusnya digunakan untuk perkembangan perilaku hidup yang lebih baik.

Setelah ini, Bone-Boneku masih akan berkembang. MelEk teknologi, taat hukum, sadar agama, cinta pendidikan, cinta budaya.

Anda suka dengan artikel Jalan-jalan Ke Bone-Bone ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kumpulan Kata-Kata Mutiara Cinta Kahlil Gibran. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Jalan-jalan Ke Bone-Bone" :