Ada empat macam idiomatikal air atau cairan, sebagaimana disebutkan di Al-Quran. Idiomatikal air itu adalah lambang atas makna syariat Islam (dalam ibadah).

Pertama, shalat diibaratkan sebagai air hujan, karena terjadi melalui proses pencahayaan. Melalui pencahayaan sinar matahari yang menyerap air di lautan dan di mana saja, maka terjadilah hujan yang merupakan rahmat-Nya. Maka shalat adalah upaya manusia untuk mencahayai dirinya sendiri, atau tepatnya mendapatkan cahaya Allah.

Arti cahaya itu sederhana. Bagi orang yang berdagang, cahaya adalah laba, gelap adalah rugi. Bagi kelangsungan rumah tangga, cahaya adalah stabilitas, harmoni, dan ketenteraman. Bagi negara, cahaya adalah tercapainya keadilan di segala bidang.

Orang yang melakukan shalat, belajar mencahayai dirinya sendiri, sehingga berpeluang untuk memercikkan cahaya ke lingkungannya. Metode shalat itu sedemikian rupa kondusif terhadap terciptanya sumber cahaya di dalam diri manusia. Singkatnya, misalnya dimulai dari wudlu: membersihkan isi mulut (supaya jujur), hidung (supaya tidak menjadi pemuka masyarakat yang menyebalkan), telinga (supaya mau mendengarkan), dan seluruh wajah (supaya menjaga integritasnya), tangannya (supaya kinerjanya bagus), kakinya (supaya langkahnya tidak ngawur), dan sebagainya.

Kalau orang kentut, yang dicuci dan dibersihkan bukan pantatnya, melainkan wajahnya. Karena yang merasa malu dan menjadi kotor sesudah kentut bukan pantatnya, melainkan wajahnya. Dalam sujud orang meletakkan wajah dan kepalanya lebih rendah dari pantatnya. Itu suatu workshop tentang derajat kepribadian. Kalau melangkah tak hati-hati, nanti image tentang kita lebih rendah dari pantat kita sendiri. Sekurang-kurangnya 17 kali sehari kita letakkan wajah di bawah pantat itu, dan pada saat sujud itu kita ucapkan ‘Maha Suci Allah yang Maha Tinggi’.

Kedua, puasa ibarat air arak (khamr) atau ragi. Dalam puasa sebenarnya terdapat proses ‘peragian’ sebagaimana yang terjadi dalam proses pembuatan tape. Proses ‘peragian’ sesungguhnya merupakan metode ‘pembersihan’ rohani manusia. Puasa, hakikatnya, bukan hanya menahan lapar dan haus serta mengendalikan hawa nafsu seksual saja, tetapi juga menahan dari hal-hal yang mengotori jiwa.

Peragian adalah pelembutan. Orang yang berpuasa mengubah dirinya dari karakter ketela menjadi tape. Dari watak wadag kasar menjadi rohani lembut. Dari pemarah menjadi pemaaf. Dari kerdil menjadi arif. Dari sempit menjadi luas. Dari rakus menjadi legawa. Dari penuh nafsu menjadi nothing to loose.

Ketiga, zakat ibarat air susu. Zakat fitrah maupun zakat mal merupakan kewajiban bagi orang Islam yang sudah melampaui batas nishab untuk mengeluarkan zakat (mal) kepada mereka yang berhak menerimanya. Tidak ada kambing yang kepalanya melengkung ke bawah badannya sendiri, karena menyusu puntingnya sendiri.

Susu kambing bukan milik kambing itu sendiri seluruhnya. Di antara susu yang dimuat di kantungnya, terdapat hak orang lain. Seekor induk kambing yang tengah menyimpan air susu ditubuhnya misalnya, tidak seratus persen berhak atas susunya sendiri, melainkan harus diberikan kepada anak-anaknya. Itu adalah hak anak-anaknya. Bila air susu kambing itu tertahan ditubuhnya, justru menimbulkan penyakit.

Jika kewajiban zakat tidak dilaksanakan, hal itu lebih ‘berat dosanya’ dibanding dosa seorang pencuri. Seorang pencuri biasanya mencuri harta ‘orang kaya’, sedangkan orang yang tidak membayar zakat ibaratnya orang yang kaya yang ‘mencuri’ hak orang fakir-miskin.

Adapun keempat, haji, identik dengan air madu. Maknanya adalah orang yang telah ‘suci’ kembali ke fitrah, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan, sehingga di dalam pergaulan kemasyarakatan selalu memberikan kemaslahatan dan kemanfaatan kepada dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungan lebih luas. Sebagaimana madu yang rasanya manis –yang bentuknya tidak cair maupun padat– dan memberikan kemanfaatan pada kesehatan tubuh (manusia), maka orang yang ibadah hajinya mabrur, sesungguhnya selalu menjauhi dari hal-hal yang tidak berguna (sia-sia). Sebaliknya orang tersebut senantiasa memberikan hal-hal yang bersifat positif kepada yang lain.

Madu bisa dianggap minuman, bisa dianggap makanan, ia meta-kategori. Orang yang berihram dalam haji sudah mengatasi kelelakiannya dan keperempuanannya. Berarti ia menapak ke level rohani, daerahnya Tuhan. Tuhan itu tidak lelaki tidak perempuan. Juga malaikat. Bahkan lebih sederhana dari itu: yang namanya kecerdasan, intelektualitas, visi, gagasan, ide, kearifan, kebijaksanaan, kemuliaan, dan seterusnya, itu semua tidak laki-laki tidak perempuan.

Jadi, orang berhaji itu orang paling tinggi pencapaiannya, kalau sungguh-sungguh berhaji. Ia sudah memiliki kedewasaan untuk tidak direkrut oleh berbagai jenis primordialisme hidup: parpol, ormas, golongan, kelompok, atau sentimen-sentimen kekerdilan lainnya yang merepotkan kebersamaan hidup manusia.

Mestinya begitu. Tapi yang kita punya adalah Persatuan Haji. Ini suatu golongan, yang berbeda dengan golongan lain, misalnya Persatuan Orang Belum Haji.

Anda suka dengan artikel Empat Air Menyucikan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Lima Faktor-Faktor Kesalahan Akal Menurut Al-Qur'an. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Empat Air Menyucikan" :