Pengertian Hidayah

Hidayah artinya petunjuk, bimbingan, keterangan, dan kebenaran.  Hidayah adalah petunjuk Allah swt. terhadap makhluk-Nya tentang sesuatu yang mengandung kebenaran atau sesuatu yang berharga dan membawa keselamatan.  Hidayah sinonim dengan dalal±h (petunjuk) dan irsy±d (bimbingan).

Penggunaan Kata Hidayah dalam Al-Qur’an

Kata hiday±h secara langsung tidak ditemui dalam al-Qur’an.  Konseptualisasi yang kemudian ada dibelakang kata itu diambil dari kata (???) dengan segala bentuk derivasinya.  Muhammad Fuad Abdul Baqy menyebutkan penggunaan kata (???) dalam al-Qur’an dengan semua bentuk derivasinya, terulang hingga 232 kali dan kata (?????) sebanyak 61 kali.

Raghib al-Asfahany, seorang pakar leksikografi al-Qur’an, mengartikan kata (???) sebagai “petunjuk halus”. Misalnya, QS. al-¦aj [22]:4

“…telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka” .

Penggunaan bentuk terkadang untuk menunjukkan bahwa petunjuk itu diperoleh melalui jalan ikhtiar, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, seperti digambarkan dalam surat al-An`±m [6]:97

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut…”

Terkadang juga mengandung arti “pengharapan akan hidayah” seperti QS. al-Baqarah [2]: 53

“Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk”

Ibnu Katsir (774-1373 M) seorang mufasir dan ahli hadits, mengatakan bahwa hidayah dipakai oleh ayat-ayat al-Qur’an dalam arti penjelasan, petunjuk, dan taufiq.  Hidayah dengan makna penjelasan mengacu kepada dua hal: (1) menjelaskan sesuatu yang baik dan membawa kepada kebenaran dan keselamatan; (2) menjelaskan sesuatu yang buruk dan membawa kepada kesesatan.  Kedua bentuk penjelasan itu terlihat pada  QS. al-Balad [90]: 10

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”

Yang dimaksud dengan “dua jalan” di atas ialah jalan kebaikan dan keburukan.  Hidayah dalam pengertian ini lebih umum, sedangkan dalam pengertian petunjuk dan taufiq adalah lebih khusus, keduanya hanya mengacu kepada kebaikan saja.  Kedua pengertian terakhir inilah yang dipakai dalam syari’at Islam

Pembagian dan bentuk Hidayah

Muhammad Mustafa al-Maraghi (1881-1945), mufasir kontemporer dari Mesir, membagi hidayah yang diberikan Allah swt. untuk manusia kepada dua bentuk, yaitu: al-Hidayah al-`Ammah (hidayah yang umum) dan al-Hidayah al-Khas (hidayah yang khusus).  Hidayah yang umum ialah hidayah yang diberikan Allah swt. kepada segenap manusia untuk dijadikannya sebagai petunjuk dalam hidupnya, sedangkan hidayah yang khusus ialah hidayah yang hanya dianugerahkan Allah swt. kepada sebagian manusia saja.  Dengan hidayah ini manusia akan sampai kepada kebenaran sejati dan akan selamat dalam hidupnya.

Al-Maraghi membagi hidayah umum ini kepada empat bentuk, yaitu:

Pertama. Hidayah al-ilham (petunjuk ilham), yaitu berupa gharizah (insting, pembawaan asli) yang dibawa oleh setiap manusioa sejak kelahirannya, seperti: bayi yang baru lahir, tanpa belajar dapat menyusu pada ibunya.  Hidayah dalam bentuk ini bukan hanya milik manusia, tetapi dikaruniakan juga oleh Allah swt. kepada makhluk-makhluk lain, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.  Sementara itu Abu Kalam Azad, memberi istilah dengan hidayah wijdan, yaitu gerak hati yang terdapat dalam bakat manusia atau binatang.  Kemampuan alamiah ini dianugerahkan Allah swt. kepada manusia sejak bayi. Ayat-ayat yang dijadikan rujukan bagi jenis hidayah ini, misalnya QS. Th±ha [20]: 50.

“Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”

Kedua, Hidayah al-Hawasy (petunjuk alat indera) yaitu berupa pendengaran, penglihatan, penciuman, perasaan inderawi, dan peradaban.  Dengan indera ini manusia dapat membedakan sesuatu yang bermanfaat dan mudharat bagi dirinya.   Akan tetapi, hidayah dalam bentuk ini belum dapat mengantarkan manusia kepada kebenaran, karena kemampuannya sangat terbatas, misalnya mata melihat benda yang jaraknya jauh lebih kecil dari sebenarnya; lidah orang yang sedang ditimpa sakit merasakan gula itu pahit, dan sebagainya.  Karena itu, Allah swt.  menyempurnakan hidayah ini dengan hidayah akal.

Ketiga, Hidayah al-‘Aql (petunjuk akal), yaitu berupa kemampuan akal untuk memikirkan, memahami, dan mengetahui suatu objek, yang akan dapat membawanya kepada kebenaran dan keselamatan hidup. Al-Qur’an menganjurkan manusia agar memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya serta memikirkan, memahami, dan mengetahui seluk beluknya sebagai ciptaan Allah swt. guna memantapkan keimanannya, seperti terlihat pada QS. ²li `Imr±n [3]: 190

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”

Nalar/akal berfungsi dalam batas-batas panca indera dan tidak bisa  lepas darinya.  Akal jarang sekali mampu menangkap apa yang di luar jangkauan panca indera.  Dia tidak mampu menuntun kita ke alam kehidupan yang berada di luar jangkauan panca indera, bahkan dalam khazanah kegiatan lahiriah.  Di sana sini kadang-kadang dia bertentangan dengan nafsu, dan seringkali nafsu itulah yang menang.  Akal dengan jelas menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu akan menyebabkan luka, akan tetapi nafsu memaksa  untuk mengabaikan akal.  Di sinilah dibutuhkan hidayah yang keempat, yaitu Hidayah al-D³n  (al-Wa¥yu) yang merupakan karunia Ilahi kepada manusia yang terbesar.

Ayat-ayat di atas, yaitu QS. al-Ins±n [76]: 2-3, dan al-Balad [90]: 8-10, dan beberapa ayat lain mengindikasikan hal tersebut, misalnya  QS. an-Na¥l [16]: 78

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur”

Kata … di atas bukan untuk arti fisik/jasmani, tetapi merupakan suatu daya yang terdapat dalam tubuh seseorang berfungsi memelihara akal.

Keempat, Hidayah ad-D³n (petunjuk agama), yaitu berupa wahyu yang diturunkan Allah swt. kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umatnya atau kepada manusia seluruhnya, untuk dijadikan sebagai pedoman hidup guna mencapai kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Wahyu tersebut kemudian dibukukan dan disebut kitab suci.  Salah satu kitab suci ialah al-Qur’an, yang diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagai hidayah untuk segenap manusia.. Di samping hidayat yang umum di atas, terdapat pula hidayah yang khusus dikaruniakan Allah swt. kepada orang tertentu, yang akan membuat keimanan dan ketakwaan lebih mantap.  Hidayah yang seperti ini bisa berwujud taufiq, ma`­nah (pertolongan Allah swt. terhadap orang-orang yang beriman), dan lain-lain.

Hidayah dalam bentuk-bentuk yang telah disebutkan di atas adalah milik Allah swt. semata-mata.  Oleh sebab itu, tidak seorang pun yang dapat memberikannya selain Allah swt., baik dalam bentuk hidayah yang umum ataupun hidayah yang khusus.  Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah swt. dalam QS. al-Qashash [28]: 56

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”

Karenanya, Abi Thalib bin Abdul Muttalib  (85 SH/540 M-3 SH/619 M), paman Nabi Muhammad saw., sekalipun sangat dicintai Nabi saw. dan bahkan senantiasa memberikan dorongan dalam dakwahnya, sampai akhir hayatnya tetap berada dalam kekafiran, karena tidak mendapat hidayah dari Allah swt.  Demikian pula kalangan orientalis yang memahami kebenaran Islam, sebagian masuk Islam karena mendapat hidayah, sedangkan sebagian tetap tidak masuk Islam karena tidak memperoleh hidayah Allah swt. Sehubungan dengan itu, Allah swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 272

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya..”

Penutup

Karena hidayah itu hanya milik Allah swt., maka kewajiban manusia ialah memohon hidayah tersebut kepada-Nya, di samping senantiasa melakukan tindakan-tindakan preventif, seperti menghindari perbuatan maksiat, dan selalu melakukan kewajiban, mempelajari ajaran agama, dan sebagainya.  Firman Allah swt. dalam QS. al-¦asyr [59]: 19

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan lupa kepada diri mereka sendiri.  Mereka itulah orang-orang yang fasik

Salam …

Anda suka dengan artikel Konsep Hidayah Dalam Al-Qur’an ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Konsep Hidayah Dalam Al-Qur’an" :

Ditulis dalam Kategori Al-Quran. konsep hidayah,