John Naisbit pernah mengatakan bahwa era sekarang dan akan datang adalah era bisnis individu, dan Alvin Toefler menggagaskan “gerakan kembali ke rumah” sebagai basis pengembangan ekonomi di era informasi, serta Mahathir Muhammad tokoh terkemuka Negara Malaysia pernah pula mengatakan, “MLM is the Way To Survive in the Global Market”. Perkembangan ekonomi dunia yang berlangsung saat ini, setidaknya akan menggerakkan banyak orang untuk berperan dalam industri pemasaran jaringan.[1]

Di era global sekarang, menjadi distributor MLM diakui sebagai salah sama profesi bergengsi yang dapat mencetak ‘orang-orang kaya baru’ di Indonesia. Sebuah majalah terkemuka nasional (Warta Ekonomi) dalam laporan utamanya menyebutkan, bahwa profesi distributor MLM bersanding ketat dengan profesi-profesi beken lainnya, seperti akuntan, advokat, notaris, dokter spesialis, desainer, artis, broker properti maupun asuransi.[2]

Industri ini akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat untuk memperoleh kebebasan finansial tanpa harus terikat oleh waktu, yang tidak dijumpai di pasar kerja dalam industri tradisional.

Besarnya potensi pasar di Indonesia antara lain dapat disimpulkan dan beberapa hal; Pertama, pada awalnya industri MLM CNI berani mentargetkan untuk merekrut 1 juta orang distributor pada tahun 2006, hasilnya cukup mencengangkan karena pada tahun 2002 yang lalu anggota distributornya telah mencapai 750 ribu orang bahkan di tahun 2004 hasil yang dicapai melampaui target untuk tahun 2006. Kedua, ketika Amway dan Herbalife masuk ke Indonesia, puluhan hingga ratusan orang asing berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk mengembangkan jaringan mereka. Ketiga, perusahaan-perusahaan MLM di Malaysia sering mengincar pasar Indonesia sebagai target utamanya, dan Keempat, jumlah perusahaan MLM yang benar dan sah di Indonesia masth relatif kecil dibandingkan jumlah yang ada di negara Jepang, Malaysia dan Australia.[3]

Mengingat besarnya potensi pasar di Indonesia tersebut. peningkatan jumlah distributor MLM hanyalah soal waktu saja. Industri pemasaran jaringan, dengan karakteristiknya yang unik dan sulit ditandingi oleh industri tradisional, memang merupakan fenomena global yang setidaknya merujuk pada futurolog John Naisbit, akan bersinar terang di Asia pada awal hingga pertengahan abad 21. Sementara pandangan yang mengatakan bahwa industri ini sudah jenu (saturated) merupakan pandangan yang sama sekali tidak beralasan, dan menunjukkan kurangnya pemahaman mengenai pola pengembangan industri MLM.

Banyak orang yang tidak memperhatikan fakta, bahwa di Amerika Serikat industri MLM yang dikenal sejak lahir tahun 1950-an ini terus berkembang pesat setiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk atau angka kelahiran bayi di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibanding jumlah orang yang mendaftar sebagai distributor MLM setiap hari. Ditambah dengan pengangguran yang meningkat tajam karena berbagai krisis dan teknologisasi alat-alat produksi, oleh sebab itu perkembangan industri pemasaran jaringan/MLM di Indonesia masih menjanjikan keajaiban yang luar biasa.[4]

Pasar untuk industri pemasaran jaringan di Indonesia masih sangat luas dibanding Malaysia. Di Negara jiran tersebut dari sekitar 20 juta penduduknya telah berdiri sekitar 400 perusahaan MLM. Sementara di Indonesia dan sekitar 210 juta penduduknya, hanya terdapat tidak lebih dan 60 perusahaan MLM yang tergabung dalam APLI (Assosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Pelaku industri pemasaran jaringan di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang, yang berarti bahwa dan mereka semua hanya 2 % yang mengkais rejekinya di sektor bisnis MLM. Di tahun-tahun mendatang angka di atas diperkirakan membengkak seiring dengan semakin sadarnya masyarakat terhadap bisnis MLM, sebagai sektor yang memberi kemudahan di dalam mencari dan menambah penghasilan tambahan. Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang haknya untuk dapat hidup secara lebih baik dan untuk memiliki kebebasan waktu merupakan sesuatu yang dapat mendorong pertumbuhan industri MLM di Indonesia.[5]

Sejak lahirnya industri MLM di Indonesia yang dipelopori oleh PT. Centra Nusa Insan Cemerlang (CNI) yang memulai kiprahnya di Bandung pada tahun 1986, para founding fathers atau pendiri perusahaan ini yaitu Ginawan Chondro, Yanki Regan, Abrian Natan dan Wirawan Chondro serta Penasehatnya, Bapak Himawan Soetanto (Letjen. TNI (Purn)) berkeyakinan tinggi bahwa sistem Network Marketing memiliki prospek cerah dan berkomitmen membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui produk-produk yang bermutu.

Perkembangan CNI berikutnya membawa perusahaan ini mengalihkan pusat kegiatannya dari Bandung ke Jakarta pada tahun 1987. Semula CNI bernama PT. Nusantara Sun-Chiorella Tama (NSCT), sesuai dengan nama salah satu produknya yang sangat populer di akhir tahun 1980-an, yaitu “SunChlorella”. Kemudian CNI mengubah namanya dari PT. Nusantara Sun-Chlorella Tama menjadi PT. Centranusa Insan Cemerlang (CNI) pada tahun 1992, sekaligus memperbanyak jenis produk yang dijualnya. Sebagai perusahaan MLM yang didirikan di Indonesia, CNI juga adalah perintis perusahaan MLM di Indonesia sekaligus yang paling baik pengorganisasiannya dan terluas jaringan distributornya.[6]

Pada tahun awal perkembangannya, CNI telah memantapkan sayap bisnisnya ke manca negara, Malaysia adalah negara pertama yang dimasukinya, joint venture dengan sebuah perusahaan MLM lokal yang telah beroperasi hampir selama 4 tahun (1989-1993), CNI Indonesia Malaysia telah memasuki pasar Hongkong, sebagai salah satu pusat perdagangan di Asia Fasifik. Selain Malaysia dan Hongkong dalam rangka menghadapi perkembangan dunia memasuki era glonalisasi dan perdagangan bebas, belakangan industri MLM yang terlahir dari rahim ibu pertiwi Indonesia ini telah merambah bahkan sampai ke negeri leluhur MLM yaitu Amerika Serikat, dan beberapa tahun kernudian CNI pun sampai ke negara India.[7]

Untuk kota Makassar, masyarakat mulal mengenal PT. CNI pada awal tahun 1992, dan perusahaan ini pulalah yang pertama kali mengenalkan bisnis MLM kepada masyarakat Makassar, Meskipun pada saat itu CNI hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja. PT. CNI dikenalkan pada masyarakat kota Makassar oleh seorang pemuda berdarah Makassar Tionghoa yaitu Ir. Alex Iskandar Wirayadi yang lahir di Kabupaten Jeneponto Sulawesi selatan, beliau pertama kali mengenalkan CNI pada keluarga dan temannya yaitu Ibu Grace Wala (isteri Bpk. Sonny Lirungan) yang tinggal di Jl. Kakatua II Makassar, bersama dengan Ibu Paul Lomoharjo (isteri Bpk. Paul Limoharjo). Kedua ibu inilah yang sangat antusias menjalankan bisnis MLM CNI dan bekerja keras untuk mengenalkan produk-produk kesehatan PT. CNI kepada masyarakat kota Makassar, pada saat itu keduanya memulai dengan mendekati beberapa dokter terkenal di kota Makassar serta mendatangkan dokter spesialis dari Jakarta, kemudian mensosialisasikannya ke masyarakat level menengah ke bawah.

Karena produk yang ditawarkan masih sangat terbatas dan hanya makanan kesehatan/health food saja, tidak semua orang bisa menerimanya dengan baik, bahkan menjualnya tergolong sulit, akan tetapi diantara orang-orang yang bisa menerimanya terdapat beberapa nama yang betul-betul menjalankannya dengan baik dan tetap antusias untuk memasarkan produk health food tersebut meskipun harganya relatif mahal dan di atas harga standar/pasaran.

Sejak masuknya CNI di kota Makassar yaitu pada tahun 1992 dan berhasil menarik perhatian di kalangan masyarakat, bahkan pada awal tahun 1994 CNI telah membuktikan diri sebagai perusahaan yang bonafide dengan banyaknya distributor yang sukses meraih prestasi pertama dalam jenjang kedistributoran yaitu Komisi Kepemilikan Sepeda Motor (KKSM), maka sejak itu pada pertengahan tahun 1994 perusahaan MLM lain pun memproklamirkan dirinya di kota Makassar.

Beberapa perusahaan MLM yang telah sukses di ibukota Jakarta merambah ke kota Makassar yaitu Amway Corporation, perusahaan MLM yang lahir di Negara Amerika Serikat juga sebagai pelopor bisnis MLM di dunia, perusahaan Herbalife, yang terkenal dengan produk kesehatan penurun berat badan, disusul oleh perusahaan UBS dan Zullian. Pada tahun 1999, masyarakat kota Makassar juga dihebohkan dengan hadirnya perusahaan DXN, disusul oleh Forever Young dan masih banyak lagi perusahaan MLM yang berdatangan ke kota Makassar, baik perusahaan yang benar-benar murni MLM maupun semi MLM bahkan perusahaan yang berkedok MLM pun tidak kalah boomingnya saat itu.

Akan tetapi pada tahun 1997, kondisi perekonomian Indonesia sangat tidak bersahabat, terjadi krisis ekonomi berkepanjangan sehingga mempengaruhi sebagian besar perusahaan untuk terpaksa melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) bahkan banyak diantaranya yang gulung tikar. Begitupun dengan perusahaan-perusahaan MLM yang tidak memiliki sistem management dan organisasi yang baik, banyak diantaranya yang tidak dapat mempertahankan sistemnya sehingga akhirnya berhenti untuk beroperasi, dan ada diantaranya yang tetap beroperasi hanya saja sudah tidak sama pada saat awal kiprahnya.

Dari sekian banyak perusahaan MLM di Indonesia pada umumnya dan Makassar khususnya, hanya ada beberapa perusahaan yang tetap bertahan dan dua diantaranya yang sangat terkenal yaitu Amway Corp. dan PT. CNI. Hanya saja untuk sebagian besar masyarakat kota Makassar setelah dilanda krisis moneter produk yang dimiliki oleh Amway tergolong sangat mahal bahkan tidak terjangkau sehingga akhirnya pada tahun 1997 Amway hanya digeluti oleh masyarakat tertentu saja.

Lain halnya dengan PT. CNI setelah dilanda krisis moneter perusahaan mi semakin memperlihatkan keunggulannya bahkan semakin bercahaya dengan predikat MLM tanpa terpengaruh krismon, terbukti pada tahun 1997 CNI telah menarik minat sekitar 150.000 orang yang mencatatkan diri sebagai distributor independennya di seluruh wilayah Indonesia. Menjelang akhir tahun 1998 jumlah tersebut meningkat secara signifikan menjadi lebih dan 240.000 orang distributor, dan meningkat lagi menjadi 330.000 orang pada Desember 1999. CNI Indonesia telah relatif berhasil menjadi market leader dan trend setter di Indonesia dan bersaing ketat dengan Amway. Berikutnya pada pertengahan tahun 2001, CNI telah mencatat 700.000 orang distributor dengan pertambahan 50.000 orang perbulannya. Pada tahun 2002 CNI mentargetkan jumlah distributorya hingga mencapai 1 juta orang dengan total penjualan Rp. 1 triliun.[8]

Amway Corp. yang juga sempat dingin dari peredaran, memulai kembali masa kejayaannya seperti pertama kali masuk ke kota Makassar, terbukti di awal tahun 2004 sampai sekarang, Amway memiliki Kantor Cabang yang ada di Jl. Dr. Ratulangi Makassar, kantor ini dibagun untuk lebih memudahkan membernya melakukan aktifitas marketing plannya, semenjak adanya kantor tersebut, perusahaan ini mengalami peningkatan distributor hingga 15 % dari jumlah sebelumnya.

Bila CNI tetap jaya hingga sekarang , masyarakat tidak perlu heran sebab CNI adalah market leader dan trend setter MLM, dan karena melejitnya CNI, maka banyak perusahaan yang mencoba mengikutinya dengan juga pada awalnya memasarkan produk makanan kesehatan, High Desert (HD) misalnya, pada pertengahan tahun 2000 perusahaan ini pun berkembang di Makassar, tidak heran bila sekarang perusahaan ini pun telah memiliki kantor cabang di JI. Dr. Ratulangi Makassar, dengan memakai simbol “billioners”. Perusahaan ini melejit bagai roket, masyarakat golongan menengah hingga golongan elitpun menggelutinya, dan sepertinya sekarang merambah ke level masyarakat menengah ke bawah.

Pada awal tahun 1998, kota Makassar juga disemarakkan dengan hadirnya 2 perusahaan MLM yang berbeda, yaitu PT. Capriasi Multinasional Sejahtera, perusahaan yang bergerak di bidang fashion, disusul oleh PT. Nadja Sukses Utama yang dikenal dengan sebutan Sophie Martin, perusahaan yang menggabungkan antara fashion dengan body care.

Setelah Capriasi dan Sophie Martin hadir di kota Makassar di awal tahun 1998, maka pada pertengahan tahun 2000, PT. Harmoni Dinamika (High Desert),  PT. Kencana Mulia Sejahtera (Azaro), dan PT. Tangguh Sakti Pondasi Megah (Bracini) juga hadir memeriahkan kancah MLM-an di kota Makassar, Dua perusahaan yang disebutkan terakhir adalah perusahaan yang memasarkan produk fashion khususnya sepatu, sandal dan tas. Disusul oleh perusahaan Cocopeli yang juga memasarkan produk yang sama.

Persaingan perusahaan MLM yang ada di kota Makassar semakin ketat, sehingga membuat banyak perusahaan MLM yang tidak memiliki sistem yang baik dan benar, kalah dan harus mengakui kehandalan pesaingnya (kompetitornya). Akan tetapi dengan semakin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan manusia pun tidak pernah berhenti untuk membuat suatu gebrakan baru yang dapat membuat sebagian orang terperangah. Terbukti di awal tahun 2001 Indonesia dikejutkan oleh satu perusahaan yang memperlihatkan sesuatu yang sangat “wah” dengan sistem marketing plan yang sangat mudah, PT. Usaha Jaya Fico Operasional yang lebih dikenal dengan sebutan UFO. Di awal berdirinya perusahaan ini sempat mengantongi Surat Izin dari APLI (Assosiasi Penjualan Langsung Indonesia) akan tetapi setelah beberapa tahun beroperasi, perusahaan inipun didepak dari keanggotaan APLI.

Perusahaan ini membuat resah pelaku bisnis MLM murni, sebab dalam prakteknya sangat jauh berbeda dengan peraturan APLI yang ada, selama beroperasinya perusahaan ini banyak dari anggota MLM lain (distributor) berpindah tempat, sebab sesuatu yang ditawarkan sangat mudah dan jauh dari kerja keras. Berbeda dengan perusahaan MLM murni yang mengajarkan kerja keras dan ketekunan dalam hal penjualan.

Pada akhir tahun yang sama (2001), Makassar juga kedatangan satu perusahaan asing yaitu Tiangshi yang berada di bawah bendera PT. Singa Langit Jaya, perusahaan ini pun diawal beroperasinya sangat diminati oleh orang-orang yang menginginkan kemudahan. Menyusul berrikutnya perusahaan-perusahaan yang juga menggunakan sistem MLM adalah PT. Revell Indonesia, PT. Elite Rajawali (Elite Club), PT. Genesis Nusantara dan PT. Wilsa Makmur Lestari (Lavivaci).

Di jalur keagamaan, kota Makassar juga diramaikan dengan hadimya beberapa perusahaan bersistem MLM syariah, diantaranya; Ahad Net Internasional yang diresmikan pada tangga 1 Januari 1996 di Jakarta, di tahun pertama diresmikan perusahaan mi mencapai omzet 44 juta rupiah, sementara jumlah mitra niaga mencapai 490 orang, mitra pasok 3 perusahaan dan penjualan mencapai 55,9 juta. Pada tahun 2000, prestasi yang dicapai makin meningkat dengan memiliki mitra niaga sebanyak 33.370 orang, mitra salur 83 buah, jumlah mitra pasok 21 perusahaan dan penjualan mencapai 11.66 milliar. Sementara itu pada tahun 2003, jumlah mitra niaga telah mencapai sekitar 150.000 orang, jumlah mitra salur 150 dan omzet penjualan mencapai 6 miliar / bulan di seluruh Indonesia.[9]

Dengan adanya peningkatan seperti ini, maka secara otomatis Ahad Net di kota Makassar pun sangat berkembang. Dengan ditunjang lebih dan 300 item produk yang dipasarkan melalui jaringan MLM Syariah Ahad Net, bukan hanya di kota Makassar akan tetapi Ahad Net telah memiliki cabang di 61 kota di Indonesia.

Selain Ahad Net, masih ada beberapa perusahaan bersistem MLM syariah yang hadir di kota Makassar, akan tetapi tidak sebesar dan sesukses Ahad Net, kecuali ada satu perusahaan yang mendulang sukses nama besar seorang Kyai kondang yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar (AA’ Gym), perusahaan tersebut adalah MQ Net (PT. Multi Qreasi Networkindo) yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 2003 di Bandung dan bertindak sebagai Komisaris Utama adalah AA Gym sendiri.

MQ Net ikut memeriahkan persaingan MLM di Makassar dengan memulai dari penggemar berat (fans) Aa Gym, 75 % pengagum Aa Gym yang ada di Makassar langsung bergabung menjalankan bisnis MQ Net dan 35 % diantaranya adalah panitia/remaja mesjid. MQ Net sebagian besar memasarkan produk yang berlabel Manajemen Qalbu termasuk perlengkapan sekolah dan busana muslim. Di awal tahun 2005 perusahaan ini sukses dan semakin eksis dengan pertambahan produk yang dipasarkan, diantaranya produk perawatan diri dan buku-buku cerita seri anak-anak Islam.

Melihat perkembangan perusahaan MLM di Indonesia, sebagai pemerhati umat, Aa Gym mendirikan perusahaan MQ Net dengan alasan;

  1. Ingin turut berperan dalam menempatkan produk domestik menjadi than rumah yang terhormat di negeri sendiri.
  2. Membangun kesadaran menggunakan produk dalam negeri sebagai suatu kebanggaan.
  3. Membantu menciptakan lapangan kerja
  4. Untuk menggalang dana bagi program peningkatan kesejahteraan masyarakat yang secara ekonomis kurang beruntung, seperti anak jalanan, fakir miskin, program kemasyarakatan yang berdasarkan fisabilillah dan lain-lain.
  5. Berdasarkan faktor eksternal, berdirinya MQ-Net termotivasi dengan keberhasilan MLM syariah yang lebih dulu berdiri.[10]

Adapun jika menganalisa korelasi sosok Aa Gym, dengan banyaknya para jamaah maupun pengagumnya, maka secara khusus ada kecenderungan bahwa MQ-Net didirikan dengan alasan; Pertama, Para jamaah dan /atau pengagum Aa Gym adalah pasar potensial untuk membangun bisnis MLM (MQNet). Kedua, Mereka adalah prospek bisnis yang jika terorganisir akan memperkuat “jaringan” bisnis MQNet yang merupakan kekuatan MLM. Seperti yang penulis telah uraikan di atas ada anggapan bahwa “Jaringan” merupakan kekuatan bisnis yang akan mampu menghadapi terpaan zaman di masa yang akan datang. Ketiga, Turut menyelaraskan kegiatan dakwah dan bisnis.

Kemudian berdasarkan “nilai-nilai” yang terkandung dalam bisnis MLM, maka alasan lain Aa Gym mendinikan MQ-Net kemungkinan karena;

  1. Setiap orang dapat melakukannya
  2. Pendidikan bisnis yang mengubah hidup
  3. Nilai berpindah quadrant dan sebagai potensi yang tidak terbatas
  4. Adanya nilai menghidupkan impian pada setiap orang yang menjalankannya
  5. Terdapat Nilai kepemimpinan yang sangat bermanfaat bagi setiap orang
  6. Kontinuitas kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembinaan, serta
  7. Bisnis MLM memiliki tujuan membantu orang lain sebanyak-banyaknya.

Aa Gym adalah seorang muslim yang memiliki komitmen terhadap kemajuan ekonomi umat. Beliau seakan menyadari bahwa kondisi perekonomian bangsa masih didominasi oleh orang-orang non Islam. Jadi, didirikannya sejumlah perusahaan miliknya di bawah MQ Corporation seperti PT. Mutiara Qalbun Salim (MQS), PT MQ Media, PT. Madinatussalaami, PT MQ Fashion dan yang lainnya termasuk PT. MQ-Net adalah merupakan upaya untuk turut serta membangun kekuatan ekonomi Islam.[11]

Dan sekian banyak perusahaan MLM yang penulis sebutkan di atas, masih banyak perusahaan yang juga sempat hadir di kota Makassar dengan menggunakan sistem MLM, diantaranya; Multicare, Tupperware (MLM khusus peralatan Rumah Tangga), Sara Lee, Electrolux, Cosway, Forever Living Product, Kompak, Dinamic, Vintaly dan New Image International serta yang lainnya.

Dengan banyaknya perusahaan MLM yang hadir di kota Makassar, maka masyarakat tinggal memilih perusahaan mana yang paling cocok untuk dijalankan kemudian berusaha menjalankannya secara profesional dan tidak merugikan perusahaan MLM lain, dengan kata lain tetap menjalankan bisnis dalam batas kewajaran serta tidak mengeluarkan komentar negatif tentang perusahaan MLM lain sebagai kompetitor dan perusahaan yang digelutinya.

[1]Muhammad Fakhrurrozi, Budaya Industri Pemasaran Jaringan di Indonesia (Cet. I; Yogyakarta: Netbooks Press, 2003), h. 51.

[2]Lihat Warta Ekonomi, Edisi 15 April 2001 Jakarta.

[3]Andrias Harefa, Multi Level Marketing (Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia, 2001), h. 9

[4]Andrias Harefa, MLM dan Penggandaan Uang (Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia, t.th), h. 88

[5]Lihat Majalah Sukses, Edisi 20 Juni – 20 Juli 2002, Jakarta.

[6]Andrias Harefa, Pesona Bisnis Direct Selling dan MLM (Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia, t.th), h. 38

[7]Ibid., h. 39

[8]Muhammad Fakhrurrozi, op.cit., h. 60

[9]Kuswara, Mengenal MLM Syari’ah (Cet. I; Tangerang: Kultum Media, 2005), h. 229-230.

[10]Sopian, Kontroversi Bisnis Aa Gym (Cet. I; Jakarta: Pustaka Media, 2004), h. 65.

[11]Ibid., h. 67

Anda suka dengan artikel Perkembangan Multi Level Marketing (MLM) Di Kota Makassar ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kumpulan Judul Skripsi Peradilan Dan Kekeluargaan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Perkembangan Multi Level Marketing (MLM) Di Kota Makassar" :