Teori Interaksi Simbolik Pada Diri

Ketika seorang anak lahir dia belum mempunyai  bentuk kepribadian selama dua atau tiga tahun dia hidup dan tumbuh dengan beragam tingkah laku, baik yang kurang baik maupun yang baik, seperti dapat membedakan bagian tubuh dengan bagian lainnya dan masih banyak lagi yang lain hingga usianya dewasa. Sikap diri tumbuh bersama interaksi sosial. Sebagai anak yang berinteraksi dengan objek dan orang, dia menyadari dirinya sebagai objek terpisah dan nyata dari beragam objek dan orang lain, (Lindersmith and Strauss, 1968). Dalam proses berinteraksi dengan orang lain anak, mulai mengaku bahwa aksi orang lain kepadanya adalah pasti dan dia mulai merespon ulang dengan reaksinya sendiri. Dan dengan kemampuan individu dia mengharapkan reaksi berbeda dari orang lain. Anak-anak akan belajar memikirkan sifat kepribadian yang ditiru dari orang lain, sebagai contoh, seorang anak menangkap atau meniru sesuatu yang dia temui dengan kecerdasannya ia mulai mengharapkan pengenalan baru dalam berkreasi kembali dan akan dipertimbangkan dengan menggunakan kecerdasannya. Kemampuan kecerdasan ini akan menunjukkan perbedaan dengan yang lainnya dan melihat dirinya sebagai salah satu objek, memberikan rasa percaya diri dan sikap tentang dirinya dinamakan konsep diri.

Menurut Cooley (1902) dikembangkan oleh konsep ” The looking-glass self (melihat diri sendiri)

“Seperti yang terlihat dikaca, wajah, bentuk badan, dan pakaian dan hal itu cukup menarik karma itu adalah kita dan sekelilingnya sebagai imajinasi, kita percaya & beberapa pikiran, beberapa ide dan penampilan kita, gaya, udara, anggapan, karakter, teman-teman dan lainnyu, udalah usaha kita. (P. 184)

Melihat kaca atau bercermin adalah imajinasi seseorang sebagai bentuk dasar penerimaan, bagaimana orang lain bereaksi kepadanya.

Apa yang diberikan kepada seseorang dapat diambil sebagai peraturan keorang lain, dia dapat merespon kedirinya dari perspektif mereka dan berguna baginya. Dalam hal ini orang juga dapat mengambil peraturan pada orang-orang khusus kedirinya atau menggeneralisasikan peraturan itu ke masyarakat, kelompok atau ke lingkungannya. Dengan cara ini sikap dari orang-orang penting dari kelompok itu masih kestruktur dirinya.

Teori interaksi simbolik pada diri menurut Kinch (1963) adalah konsep diri sebagai pengorganisasian dari mutu (cara dimana individu dapat mengekspresikan analisis, intelegen dan aturan dimana dia berada : diri sendiri-ayah, profesor, dan semacamnya) yang mana pengekspresiannya kedirinya sendiri. Kemudian mendefenisikan dalil dasar dan teori formal itu :

1. Konsep pribadi adalah didasarkan pada persepsinya terhadap cara-cara orang lain menanggapi respon dari dirinya

2.  Konsep pribadi berfungsi untuk mengarahkan tingkah lakunya

  • Pemahaman diri sebagai respon dari refleksnya terhadap orang lain adalah respon aksi orang lain terhadapnya.
  • Cara individu memahami respon orang lain kepadanya akan mempengaruhi tingkah lakunya
  • Reaksi/jawaban aktual dari orang lain ke individu akan menentukan cara dia melihat dirinya (konsep diri sendiri)
  • Jawaban aktual dari orang lain terhadap individu itu akan mempengaruhi tingkah laku individu itu.

Teori ini dapat dirangkum ke pernyataan berikut :  “Jawaban aktual dari orang lain ke individu sangat penting dalam menentukan bagaimana individu itu akan menerima dirinya sendiri ; pernyataan ini akan mempengaruhi konsep dirinya yang pada akhirnya kemudian, akan mempengaruhi/menentukan kelakuannya”

Cara dalam merespon pengaruh yang lain pada konsep diri sendiri dibutuhkan beberapa perluasan lebih lanjut. Jawaban dari asosiasi pertama tidak otomatis dari konsep diri pertama. (1) menyalahkan penerimaan bagaimana dia merespon melalui orang lain disekitarnya. (2) membandingkan penerimaan ini pada dirinya sebagai himpunan dari harapan dimana dia dan dirinya” berarti yang lain ” bagaimana dia bisa bertingkah laku dan karakter apa yang dia harus miliki” (Backman and Secord, 1968).

Kompleksitas dan konsistensi dari sikap diri sendiri

Banyak penelitian tentang konsep diri sendiri berasumsi bahwa konsep diri adalah multi dimensional, kemudian orang yang mempunyai konsep diri yang tinggi akan mempengaruhi tingkah lakunya. Asumsi ini sangat dipertanyakan/diragukan. Sekarang banyak teori yang setuju bahwa konsep diri sendiri bukan menyatakan multi konsepsi tapi terdiri dari perwakilan simbolik  seseorang yang telah membuat dirinya pada karakter yang beragam, seperti fisiknya/secara fisik, secara biologi, secara psikolog, secara etis, dan karakter sosial (Deatsch dan Krauss, 1965).

Implikasinya di sekolah adalah bahwa sikap pribadi individu berkaitan dengan prestasi/hasil yang kompleks, sementara itu, sebagai tambahan, penggeneralisasian konsep dari kemampuan akademiknya dia akan memiliki sikap pribadi mengenai beragam subjek dan unsur-unsur sekolah. sebagai contoh seorang pelajar mungkin memikirkan dirinya memiliki kemampuan di ilmu pasti tapi buruk di Bahasa Inggris, agak baik di pelajaran sosial tapi tidak seimbang di ilmu pengetahuan alam.

Dari teori keseimbangan kognitif (Heider, 1959), mungkin saja untuk memprediksi agak sedikit apa yang akan terjadi jika ada elemen /unsur yang tidak tetap diperkenalkan dalam struktur. Pada umumnya ketidaktetapan informasi akan menghasilkan perubahan di dalam sikap pribadi seseorang ke batas yang tidak dapat disangkal, penekanan, atau penyimpangan dalam sebuah cara yang dapat membuatnya konsisten. Perubahan itu kemudian memindah tempatkan ke elemen/unsur yang akan dihasilkan dalam perubahan kecil diseluruh susunan pada sikap. Contohnya jika seorang anak menerima dirinya sebagai pelajar dengan motivasi tinggi dan menjadi cemerlang/pintar dan di informasikan oleh guru bahwa ia telah gagal ujian utama dia akan mengubah sikap pribadinya dengan cara yang akan membuat mereka konsisten dengan hasil tes (diberikan karma dia tidak dapat menguraikan atau menyangkal perbuatannya). Dia boleh menentukan bahwa ia adalah orang cemerlang tapi tidak termotivasi, atau dia termotivasi tapi tidak cemerlang, dengan cara ini dia dapat mengendalikan kemantapan dalam bertindak pada struktur sikapnya yang akan mempertahankan yang sudah ada. Yang diperlukan/yang diperintahkan untuk di lakukan.

Gaya dari kemantapan perubahan minimal dalam bertindak pada sikap pribadi seseorang mengandung arti bahwa dia akan berusaha untuk bertingkah laku yang sesuai dengan sikap pribadinya, jika anak itu menerima/menyadari dirinya sebagai seseorang yang cemerlang dan termotivasi, dia akan berusaha untuk meningkatkan kemampuan akedemiknya yang baik. Bagaimanapun kesadaran anak pada dirinya sebagai orang yang bodoh dan tidak termotivasi akan membuat dia akan berusaha untuk memperbaiki akademiknya yang buruk, dengan kata lain peristiwa yang sesuai dengan harapannya adalah selaras dan ditingkatkan, peristiwa yang berlawanan dengan harapannya adalah tidak sesuai dan mereka menghindari atau meminimalkannya.

Sikap Diri Sendiri dan Prestasi Akademik

Hubunga<
strong>n Sikap Diri Sendiri dan Prestasi Akademik

Quimby (1962) melakukan tes dengan menggunakan metode Q-Sort terhadap konsep pribadi siswa yang telah mengalami kemajuan prestasi dengan yang belum melalui basis rata-rata grade point/nilai. Quimby menemukan adanya hubungan/korelasi antara siswa yang mempunyai konsep rendah dibawah yang ideal (rata-rata) dan siswa yang belum mengalami kemajuan. la beranggapan bahwa seorang siswa dengan konsep pribadi yang memadai merasakan bahwa ia dapat sukses dan akan terus berusaha untuk sesuatu yang penting bagi prestasi akademiknya, sebaliknya siswa yang memang kurang konsep pribadinya akan mengatakan ia tidak dapat sukses dan karena itu ia tidak akan mengusahakan sesuatu yang penting untuk kebutuhan prestasi akademiknya.

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Willian dan Cole (1968). Mereka menemukan korelasi positif secara signifikan antara beberapa penilaian konsep pribadi dan konsep tentang sekolah, status sosial pada sekolah, penyesuaian diri secara emosional, kemampuan secara mental, kemampuan membaca, dan prestasi matematika.

Pada tahun 1964 oleh Brooke Ovea dan Thomas menemukan jawaban yang lebih signifikan hubungan antara konsep pribadi pada prestasi akademik. Hasil dari penelitian tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan dari konsepsi pribadi secara khusus seperti dalam : matematika, studi sosial dan ilmu pengetahuan alam merupakan alas prediksi yang lebih baik secara signifikan bagi laki-laki, namun bagi wanita tidak kecuali terhadap masalah-masalah sosial.

Oleh karena itu dapat disimpulkan adanya hubungan antara sikap pribadi dan prestasi akademik sebagaimana asumsi yang telah dikemukakan sebelumnya.

Namur demikian hubungan interaksional tersebut tidak sebab dan akibat dimana prestasi akademik dapat menimbulkan sikap pribadi yang positif seperti biasa, sikap pribadi yang dapat menimbulkan prestasi akademik atau dengan kata lain keduanya bisa disebabkan oleh variabel ketiga seperti kelas sosial dan kualitas pengalaman sekolah dimasa lalu yang akhirnya sebuah penelitian dapat membuktikan secara jelas bahwa sikap pribadi terhadap kemajuan/prestasi dilakukan oleh setiap individu secara signifikan mempengaruhi tingkat kernampuan seseorang dimasa yang akan datang, pertanyaan tentang sebab akibat terakhir dijawab disini.

Dapat ditentukan bahwa meskipun konsistensi suatu hubungan antara sikap pribadi dan prestasi. Akademik pada tingkat siswa bebeda umur dan tipenya, tetapi terdapat suatu bukti yang solid yang cukup beralasan dari suatu hubungan antara keduanya. Memang interprestasi hubungan seperti itu selalu relatif pada situasi terhadap apa yang telah ditemukan dan ukuran itu tidak mewakili fakta secara absolut (tepat). Meskipun penelitian yang telah dilakukan di atas untuk meringkaskan penelitian yang ada, mustahil dapat membicarakan suatu hubungan secara umum antara sikap pribadi dan prestasi.

Di sekolah misalnya jika seorang guru mengetahui bahwa seorang siswa termasuk dalam kategori belum mencapai kemajuan/ prestasi atau jika seorang siswa berasal dari latar belakang sekolah yang, menempatkan dia pada posisi yang kurang menguntungkan, seorang guru dapat mencari tabu apakah sikap pribadi anak tersebut memberikan kontribusi atau tidak terhadap rendahnya kemajuan yang dicapai melalui pembicaraan dengan si anak atau mengamatinya.

Pemenuhan Khayalan Sendiri Dan Sikap Pribadi

Seorang anak percaya bahwa ia tidak dapat memahami aritmetika. Oleh karena itu selama pembelajaran berlangsung ia hanya mengkhayal, khawatir dengan cemas tentang apa yang akan terjadi pada dirinya karena tidak mempunyai kemampuan untuk memahami sesuatu yang kompleks dan secara umum menghindari pelajaran dan tugas yang diberikan. Karena ketertinggalannya dalam belajar ia gaya pada ujian aritmetika. Anak tersebut telah mengalami apa yang disebut Self Fulfling Prophecy. Pada mulanya Self Fulfling Prophecy adalah suatu defenisi yang salah pada situasi dimana hal tersebut dapat menimbulkan tingkah laku yang baru yang memungkinkan secara alami konsepsi yang salah tadi menjadi nyata (Merton, 1957).

Seperti yang terjadi pada dua orang anak yang datang pada suatu sekolah yang baru di tahun pertama sekolah. Seorang dari anak tersebut teman-teman kelasnya tidak suka dan mengoloknya sehingga ia membatasi dirinya dan bersikap curiga terhadap teman­ sekelasnya. Yang pada gilirannya membuat teman-teman sekelasnya menghindar dan mencari tempat lain untuk mendapatkan teman lain yang peramah. la kemudian berkata “saya benar mereka akan menolakku” sebaliknya siswa yang satunya datang ke sekolah dengan harapan bahwa hampir semua orang akan baik, ramah, dan bersifat yang baik ia berinisiatif hangat dan ramah yang pada gilirannya ia mendapatkan teman-teman sekelasnya menjadi seperti  apa yang ia harapkan. Masing-masing dari semua tersebut telah mengalami apa yang disebut Self Fulfling Prophecy. Bagaimana dengan self attitudes siswa? Self attitudes siswa dapat saja mengarahkan siswa ke arah sifat Self Fulfling Prophecy.

Seorang siswa berfikir ia tidak dapat belajar untuk membaca dapat menjadi pemenuhan terhadap prophecy sendiri. Dan seorang siswa yang berfikir yang susah menerima sesuatu dapat menemukan bagian dari rentetan tingkah lakunya yang menyebabkan pengharapan-pengharapannya tercapai. Masalahnya bagi guru adalah sedapat mungkin memecahkan lingkaran negatif Self Fulfling Prophecy tersebut dan Self Fulfling Prophecy positif. Ini memungkinkan tingkat kecerdasan siswa yang mengalami hal tersebut di kelasnya. Cara pemecahan masalah dari Self Fulfling Prophecy negatif tadi adalah melalui pembebanan arti definisi situasi yang telah terbentuk oleh lingkaran negatif tadi menjadi suatu emosi (Marton, 1957). Ketika asumsi orisinil adalah pertanyaan dan suatu defeniai terhadap situasi tercapai, lingkaran negatif terpecahkan ketika siswa yang berfikir ia begitu membaca aspek Self Fulflingnya terhadap self attitudenya berakhir.

Mengubah Self-Attitudes

Teory interaksi simbolik (Symbolik-Interaktion) menyatakan bahwa karena self attitudes di peroleh selama interaksi bersama orang-orang yang mempunyai harapan pada pembelajaran maka self attitudes mungkin juga dapat di ubah melalui pengubahan harapan tersebut oleh orang orang yang mempunyai keinginan yang sama dengan pembelajar bersangkutan.

Ada beberapa cara dimana self-attitudes pada diri seorang siswa yang, berkaitan dengan prestasi akademik dapat diubah di lingkungan sekolah. Bagaimana besar dari hal tersebut mencakup pemodifikasian image dan harapan siswa bahwa ada saja orang ” di sekitarnya yang peduli dengan kemampuannya. Mereka adalah orang, tuanya, guru atau kawan sebaya.

Brookover (1962) menemukan bahwa orang tua yang lebih sering (banyak) ia jumpai menurut Brookeover menjadi yang sangat penting dalam kehidupan pembelajaran dan kepedulian dengan anak, seJauh mana anak tersebut berbuat disekolahnya. Namun demikian oleh Rosenberg (1963) mendemonstrasikan bahwa menunjukan kelalaian menghadapi anak-anak mereka, anak-anaknya kemudian akan menunjukan rendahnya derajat self-estemages (instink pribadi).

Penelitian Brookover tersebut dengan hubungan antar self-attitudes dan prestasi dimana rendahnya prestasi anak karena nasehat orang tua. Beberapa siswa dari yang tengah berumur 9 tahun, dimana kebutuhan mereka masih memerlukan ungka
pan-ungkapan (ajaran) kepercayan dari orang tuanya dalam hal kemampuannya untuk maju. Dalam kasus dimana orang tua mengubah evaluasinya dan perubahan itu tampak bagi si anak, perolehan rata-rata grade pont (nilai) ditingkatkan dengan 42 persen dari sejumlah anak yang, diteliti. Penelitian ini mendemonstrasikan bahwa orang tua dapat mempengaruhi self-attitude yang ada pada si anak dan oleh karena itu dapat meningkatkan prestasi akademik anak tersebut secara nyata. Salah satu cara dimana suatu dapat meningkatkan self attitudes bagi anak yang belum mengalami kemajuan adalah dengan mendaftarkan bantuan dari orang tua dan memberikan mereka ungkapan (pujian) pengharapan-pengharapan positif mengenai kemampuan anak untuk menunjukan kemampuan yang baik secara akademik.

Pendekatan yang lain dengan penawaran nasehat secara intensif kepada mereka yang self attitudenya rendah dalam hal kemampuannya sendiri untuk maju.

Harapan-harapan oleh guru berpeluang besar untuk mempengaruhi self attitudes siswa dan tentu juga pada prestasi akademik anak secara nyata. Namun penelitian yang sangat menakjubkan dan profokatif atau dapat dikatakan suatu study kritik yang dilakukan oleh Resenthal dan Jacobson (1968) mendemonstrasikan kuatnya harapan-harapan oleh guru. Yang harus dijelaskan disini bahwa harapan-harapan guru menghadapi anak sebagai pembelajar tidak akan selalu mempengaruhi self attitudes pada anak. Dari seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan ada yang mau melaksanakannya ada yang tidak.

Suatu hal yang cukup beralasan bahwa hanya ketika siswa (anak) mempunyai kebutuhan untuk menjauhkan diri dari kalangan orang dewasa atau ketika seorang guru peramah percaya akan hubungan siswa yang mempunyai keinginan, harapan-harapan guru tersebut mempunyai pengaruh paling kuat terhadap self attitudes siswa (anak). Beberapa siswa seperti halnya anak di bawah usia sekolah, mungkin saja belum mempunyai sifat orientasi kedewasaan ketika keinginan itu harus ditunjukan pada kehidupan sosial atau mungkin tidak- dapat dibangun (dikembangkan) bimbingan siswa yang tengah mencapai usia sekolah seperti keinginan guru sehingga harapan-harapan dari guru sangat berpengaruh, lagi pula kata pengaruh mesti diekspresikan dengan menempatkan harapan­-harapan itu pada siswa dalam upaya mempromosikan suatu perubahan.

Ada banyak variasi studi penelitian yang mendemonstrasikan sebanyak seseorang berpengaruh besar seseorang berpengaruh besar pada attitudes seseorang tersebut seseorang berpengaruh termasuk tingkah lakunya lebih aman dikatakan bahwa pertemanan sebaya seorang siswa mulai menyokong self attitudes dan mendukung prestasi akademik siswa bersangkutan itu akan efek yang sangat besar pada siswa.

Suatu studi yang kontras dengan kekuatan sifat kehangatan (keramahan) dan dukungan guru dengan pertolongan (bantuan) yang terus aktif  dan dukungan dengan bukti yang difasilitasi oleh pertemanan sebaya bahwa sikap menerima dan dukungan kelompok pertemanan sebaya memberikan penilaian yang meningkat dalam rata-rata grade point sementara kehangatan (keramahan) guru sebaliknya (tidak), (Engle, Davia dan Mayer, 1968).

Namun demukian orang dapat curiga bahwa kekuatan dari kawanan sebaya dan guru atas attitudes siswa dan tingkah laku yang akan bervariasi sebagaimana bervariasinya umur mereka, yakni  anak-anak yang lebih muda mungkin lebih di pengaruhi oleh guru dan bagi yang agak dewasa dipengaruhi oleh kawanan sebayanya.

Ada dua metode yang lain yang telah digunakan untuk mempengaruhi self attitudes siswa dan sebagai konsekuensi terhadap prestasinya. Seseorang dapat menempatkan siswa dalam suatu rangkaian situasi dimana anak (siswa) tersebut menerima dukungan dan pengenalan untuk pengalaman-pengalaman kesuksesan yang disebut dengan kritikal area (daerah kritik).

Akhirnya dapat diangkat suatu hipotesis bahwa penyiapan model yang tepat terhadap anak dapat mengubah self attitudes anak tersebut. Dari hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa memodifikasi mungkin saja dilakukan pada self attitudenya yang berkaitan dengan prestasi melalui pemodifikasian harapan-harapan, orang tua, teman sebaya dan para guru dalam menghadapi siswa sebagai pembelajar dan mulai bimbingan kelompok, pengalaman-­pengalamn sukses dalam daerah kritik (critical areas) dan model-model yang tepat. Namun demikian harus ditekankan bahwa tak satupun dari metode tadi akan berhasil pada semua kelas.

Dengan berbagai macam, rangkaian kegiatan ada diantaranya sukses dengan efektif dan ada yang tidak. Harus di ingat pula bahwa self attitude pads diri seseorang adalah berbeda dan mempunyai semangat banyak segi (facet). Seorang guru tidak harus mengubah sernua self attitudes yang mungkin ada pada siswa, tetapi dapat dikonsentrasikan pada beberapa saja khususnya yang relevan terhadap bidang ilmu (hal yang akan di teliti) dimana Seorang guru ingin tingkatkan prestasi anak tersebut .

Akhirnya mungkin pendekatan teraman bagi guru adalah mencoba segala sesuatu pada saat yang bersamaan. Hal yang dimaksud adalah dengan lebih mendukung sikap-sikap dan tingkah laku baru yang dapat dibangkitkan dan kemungkinan perubahan lebih besar (tinggi). Seorang guru mendapat bantuan dari orang tuanya dan teman sebayanya untuk mengungkapkan harapan positif anak itu sendiri dengan lebih jelas mendorong anak (siswa) untuk bergabung dalam kelompok bimbingan dan menyediakan variasi pengalaman-pengalaman sukses dari model-model yang memungkinkan. Seperti pendekatan “short gun ” akan lebih efektif untuk semua kondisi memburu.

Salam …

Anda suka dengan artikel Teori-Teori Sikap Pribadi & Prestasi Akademik ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kumpulan Kata-Kata Mutiara Motivasi Kerja. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Teori-Teori Sikap Pribadi & Prestasi Akademik" :