Tiap anak mungkin memiliki gaya belajar berbeda. Meski begitu, tiap anak tetap mampu berprestasi dengan ditunjang sarana belajar yang sesuai kebutuhan.

Fahri (9), Fahra (7), dan Fikri (5) adalah adalah tiga bersaudara. Rani, ibu dari tiga anak tersebut, heran dengan cara tiap anaknya dalam menangkap pelajaran saat di rumah dan sekolah. Berdasarkan pengamatan dan laporan dari guru, hanya Fikri yang suka mendengarkan cerita atau penjelasan dengan serius. Fahri seringkali acuh saat mendengarkan penjelasan, sementara Fahra sering menguap karena bosan.

Bila Rani menggunakan alat peraga gambar, gantian Fikri yang kurang semangat. Sementara Fahra biasanya antusias mendengar penjelasan, sedang Fahri tampak biasa saja. Namun, saat Rani atau guru di sekolah mengajak mengerjakan prakarya, gantian Fahri yang bersemangat. Fahra dan Fikri ogah-ogahan mengikutinya.

Berdasarkan penjelasan guru dan psikolog di sekolah, Rani baru mengerti bahwa ketiga anaknya memiliki gaya belajar yang berbeda. Tapi, meski berbeda, ketiganya memiliki prestasi yang cukup baik di sekolah.

Tiga gaya belajar

Menurut Leny Sintorini, Psi, Konsultan Terapi Gangguan Tumbuh Kembang Anak di Klinik Aulad Tsabita, Depok, pada umumnya ada tiga tipe gaya belajar, yaitu tipe visual, tipe audio dan tipe kinestetik. Tapi sebenarnya pengelompokan tersebut tidak mudah dan kaku.

Sebenarnya tidak ada anak yang murni 100% sebagai pembelajar visual, pembelajar audio, atau pembelajar kinestetik. Banyak anak yang memiliki kombinasi ketiganya. Namun, biasanya seorang anak memiliki kecenderungan untuk lebih dominan pada satu gaya belajar tertentu.

Anak dengan gaya belajar visual biasanya adalah anak yang disenangi guru dan orangtua. Ia selalu mengikuti dan melihat guru saat memberikan penjelasan. Cara tersebut membuat guru merasa bahwa anak ini memperhatikan penjelasannya karena memang cara belajarnya harus dilakukan dengan cara melihat gambar atau ada kontak mata dengan hal yang dipelajari. Anak dengan tipe belajar ini cenderung mudah diatur dan mendapat julukan easy child.

Sementara, anak dengan tipe gaya belajar audio biasanya belajar lewat membaca dengan suara keras. Anak ini tidak membutuhkan kontak mata dengan guru atau pelajaran yang sedang dijelaskan. Tanpa kontak mata, umumnya guru dan orangtua merasa tidak diperhatikan. Namun, saat ditanya biasanya anak mampu menjawab dengan benar.

Yang ketiga adalah tipe kinestetik. Anak dengan tipe gaya belajar seperti inilah yang paling sulit. Anak ini tidak hanya perlu melihat, ia juga perlu menyentuh atau mempraktikkan. Biasanya anak ini juga membutuhkan aktifitas bergerak. Anak seperti ini di kelas kadang suka mendapat label “anak nakal” atau trouble maker. Hal itu terjadi karena bila pekerjaannya sudah selesai, sementara teman-temannya belum, maka anak itu cenderung aktif dan sering mengganggu teman-teman lainnya. “Anak tipe ini biasanya memiliki energi yang lebih besar daripada anak lainnya,” tutur psikolog yang sedang menanti kelahiran buah hatinya ini.

Selain ketiga tipe tersebut, ada pula yang memiliki tipe gaya belajar gabungan, misalnya anak yang gaya belajarnya audio visual, audio-kinestetik, visual-kinestetik, atau gabungan ketiganya. Tentu saja, anak yang memiliki gabungan ketiganya semakin mudah dalam menangkap pelajaran.

Kenali gaya belajar anak agar tetap berprestasi

Banyak anak yang dicap sebagai under achiever (prestasi belajar rendah) karena nilai raportnya jelek, namun saat dilakukan tes ternyata kemampuannya cukup bagus. Menurut Leny, ini dikarenakan orangtua tidak kenal gaya belajar anak.

Agar kenal pada gaya belajar anak, para orangtua bisa melakukan pengamatan atau observasi. Contoh, bila saat belajar anak senang mendengarkan nasyid atau yang lain, biasanya dia termasuk anak dengan gaya belajar audio. Selain observasi di rumah, orangtua juga dapat memperoleh data dari guru di sekolah tentang proses pembelajaran di kelas.

Apapun gaya belajar anak, sebenarnya mereka tetap dapat berprestasi bila diiringi oleh penerimaan orangtua terhadap gaya belajarnya. Menurut Leny, yang sering jadi masalah adalah tidak setiap orangtua bisa menerima gaya belajar anak. Akibatnya, orangtua tidak mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua agar anak memiliki prestasi baik. Pertama, temukan gaya belajar anak dan terimalah anak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, berikan rangsangan sesuai dengan kemampuan anak. Ketiga, jangan lupa bahwa kecerdasan tidak tunggal, tapi majemuk. Jangan hanya terfokus pada aspek intelegensi. Ada aspek lainnya seperti, verbal, kinestetik, dan lain-lain. Bisa jadi, seorang anak tidak cerdas di bidang matematika, namun cerdas di bidang nada.

Apapun tipe gaya belajar anak, perlu kreativitas tersendiri dalam mengoptimalkan kecerdasan anak. Misalnya, anak dengan tipe visual membutuhkan gambar-gambar yang menarik. Anak tipe audio membutuhkan cerita atau suara sebagai teman belajar. Sementara anak dengan tipe kinestetik membutuhkan alat peraga atau praktik untuk membantunya memahami pelajaran.

Jangan lupa. Sosialisasikan pula tipe mereka pada anggota keluarga yang lain dan juga para guru, agar tak ada label buruk bagi anak hanya lantaran ia mempunyai tipe belajar berbeda dengan anak-anak lainnya.
(Sarah Handayani/Bahan : Rosita | Judul Asli : Tetap Berprestasi Dengan Gaya Belajar Berbeda)


Anda suka dengan artikel Mengenali Gaya Belajar Anak ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Asal Usul Kumandang Adzan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Mengenali Gaya Belajar Anak" :