Tahun 2000. Kelas di sudut timur SMP Negeri 1 Bone-Bone ditempati oleh 40 siswa advance, kelas kita, kelas 3A. Tak terasa, kini telah 10 tahun sudah masa itu terlewat. Yang pasti, semua dari kita telah berubah, beranjak dewasa, mengerti tentang hidup dan kehidupan, cinta dan cita-cita. Bahkan, beberapa siswa imut kala itu kini telah menjadi ‘orang’. Syukurlah …

Sepuluh tahun lalu kawan … Kita adalah siswa sebuah sekolah menengah pertama, dimana setiap guru adalah panutan yang selalu mendapat tempat istimewa di hati. Meski cubitan Pak Nurdin atau ketokan di kepala dari seorang guru matematika masih pernah ada hanya karena kita salah meletakkan tanda koma atau minus, kita tak pernah membenci mereka. Bahkan sekarang, tiap kali berjumpa, kita akan mencium tangan yang dulu mencubit kita, memeluk tubuhnya, merasakan betapa beliau menyayangi kita, betapa berharganya kita bagi mereka, dan sebaliknya.

Tiap kali berjumpa dengan guru-guru hebat, mereka menyanjung kita di hadapan orang yang sedang ada di dekat kita. “Ini salah satu siswa andalan SMP Bone-Bone”, “Ini siswa hebat SMP Bone-Bone”, “Ini dia, siswa SMP Bone-Bone”. Meski itu mungkin terlalu membesar-besarkan, dan akhirnya membuat kita tersipu malu. Beliau bertanya kepada kita tentang sahabat-sahabat kita yang lain, kemana mereka semua? “Entahlah …”

Tahun 2000, tahun ajaran terakhir untuk kita, siswa SMP Negeri 1 Bone-Bone yang mengenyam pendidikan sejak ajaran 2007/ 2008. Masa itu sungguh menyenangkan, sekarang baru terasa. Sekarang saya baru percaya bahwa kita kadang memang merasa memiliki sesuatu setelah kehilangannya. Hmmm …

Sepuluh tahun lalu kawan … Kita bertarung untuk banyak hal, untuk prestasi, untuk membanggakan orang tua, untuk berbuat baik, untuk belajar semaksimal mungkin, untuk menampilkan nilai sempurna di tiap ulangan harian, untuk mengharumkan nama sendiri dan keluarga.

Kita bertarung untuk sebuah majalah dinding di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Majalah dinding terbaik akan ditampilkan paling awal di papan pengumuman sekolah. Hah! Itu menggembirakan. Kita bertarung untuk pohon jagung paling subur di kebun sekolah, belakang lapangan Bone-Bone. Entah siapa yang menang kala itu, apakah anak petani atau anak pedagang. Kita bertarung untuk makanan paling lezat dalam praktek memasak mata pelajaran PKK. Sampe rela tak tidur untuk menyiapkan itu semua. :-) Kita bertarung untuk berbagai lomba porseni akhir tahun, ada yang melarikan diri karena tak mau baca puisi, ada yang marah karena gak siap nyanyi, ada yang ditertawakan karena waktu pertandingan volley ball harus jatuh tersungkur, waktu main takraw hampir berkelahi dengan supporter lawan. Juga sering balapan sepeda waktu pulang sekolah, hingga berbagai luka di betis ada ketika setir sepeda mencium aspal. Atau yang suka tawuran, ikut perang antar siswa setelah kelas usai, di belakang sekolah atau di lorong Tanimba. Payah! Kita juga berlomba lari dalam lomba keliling lapangan Bone-Bone sebanyak 15 kali! Hah! Itu yang terberat yang diberikan Pak Bakri pada kita. Biasanya tiap kali pemanasan sebelum olahraga, hanya satu atau dua kali keliling lapangan. Kita bertanding untuk banyak hal, banyak sekali. Sering juga berlomba keluar dari ruangan ketika ulangan tiba, siapa yang tercepat itu yang terhebat! Setelahnya, kita diskusi banyak tentang jawaban ujian, dan kemudian merasa bahagia karena jawabannya benar semua, atau justru kecewa karena akhirnya nilai tak sesuai dengan harapan. Apalagi saat pelajaran bahasa Lontara, ternyata nilai tertinggi diraih oleh siswa Jawa, Hah?! Mana logikanya? Heheh …

Tapi itu justru mendekatkan kita. Mengakui kelebihan yang lain, menghargai perbedaan pendapat, belajar menghormati orang lain tanpa perlu tau ia siapa, dan paham bahwa semua orang tak mesti sama dengan kita. Sehingga setelah setiap pertarungan, perlombaan dan pertandingan selesai, kita saling traktir, minum segelas es sirup seharga lima ratus rupiah atau pisang goreng manis di toko Pak Daud dekat perpustakaan. Atau jika ada yang ulang tahun, kita menyiram mereka dengan adonan telur busuk ditambah air comberan. Tepung atau bubuk kopi juga mengotori pakaian putih bersih. Indahnya.. :-)

Salah seorang teman kita, Budi Leksono, dapat hukuman, hampir saja terjatuh dari tribun kelas, karena tak dapat mengerjakan soal matematika biasa. Ah, ternyata selama beberapa bulan matanya mengalami gangguan, minus, dan ia tak pernah mau jujur tentang itu. Tak berdaya dengan situasi, bahkan dengan sengaja tak menggunakan kacamata. Itu biasa terjadi di kelas matematika. Menyeramkan bagi yang tak bisa, tapi sungguh menyenangkan bagi sang penguasa. Teman kita, anak Pak guru juga dapat jeweran di telinga. Sepulangnya dari sekolah, ia marah pada bapak, minta ganti jewar. Yang pasti, kelas kita tak pernah serempak mendapat hukuman, kita adalah siswa hebat! Hahahah … Sekali dua kali tak apa dapat cubitan dari sang guru. Itu hanya jadi penyemangat bagi kita untuk belajar lebih keras, karena kehidupan di masa datang tak hanya butuh matematika, tapi butuh banyak hal. :-)

Masih ingat juga, saat kepala sekolah yang baru, Bapak Ismair Lira, menerapkan peraturan baru tentang pakaian putih-putih. Rahmad, anak Banyuurip lorong 5 yang belum mengenakannya, saat diskusi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, hanya mesti menjawab pertanyaan Bahasa Inggris dari kepala sekolah baru jika tak ingin dikeluarkan dari kelas. Bertubi-tubi pengantar bahasa Inggris, diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Rahmad, yang hanya mendengar sebuah kata : “parent …”, akhirnya hanya menjawab : “My father is a farmer, Sir ..”. Kalimat itu menyelamatkannya dari hukuman juga. Banyak peraturan yang diberlakukan pada kita, seketika itu kita ingin berontak, mengelak. Tapi akhirnya juga harus sadar, bahwa tak ada pesta yang tak berakhir. Semuanya akan berlalu, dan berganti dengan sesuatu yang mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Di SMP, kita belum paham tentang cinta. Kalopun ada, mungkin hanya cerita cinta monyet. Sang pria dan wanita, sejenak mengungkapkan rasa, bercinta dalam kekanak-kanakan. Kala itu tak ada HaPE, dunia kita mungkin hanya surat atau titipan atensi di radio. Kita masih terjaga dari dunia gelap seperti yang terjadi pada kebanyakan anak sekarang. Masih SD kelas 4 dah bicara cinta. Hah! Dan tau apa yang terjadi sekarang? Umur dan Pernikahan adalah satu dari sekian hal yang pantang untuk dibicarakan.

“Bisa gak bicarakan itu lagi gak? Lagi sensi ini E … “

Itu yang terungkap, tiap kali ada pertanyaan : “Kapan kawin?”

Sabar kawan … sabar … Cinta itu akan datang pada masa yang tepat dengan cara yang indah. Huah! Sok Bijak Mode : ON!

Sepuluh tahun lalu kawan … Azis, Ghafur, Ammang, Arli, Asri, Budi, Ishak, Gunawan, Cahyo, Edi, Iwan, Rahmat, Bidin, Syahrir dan Supari, adalah 15 Pejantan Tangguh kelas 3A. Kala itu, setiap mata pelajaran adalah bidang kita. Tak ada satu pun dari kita yang terkalahkan dari kelas lain. Juga dengan ini, Wanita Idaman Pria : Tuti, Ria, Ruth, Nani, Dewi, Hasnita, Wilma, Wiwin, Wini, Eka, Alm. Hijrah, Sukma, Salbiana, Suryati, Eka, Made, (siapa lagi?). Kita memang bersaing bukan untuk adu ketampanan atau kecantikan, bukan untuk melihat siapa yang paling kaya dan paling mempesona. Kita adalah kelas siswa berprestasi, dimana lingkungan kondusif memaksa kita untuk berfikiran bahwa prestasi adalah hal utama. Tak ada guna harta segudang jika otak tak hebat. Tak ada guna berpenampilan menawan tapi tak bermartabat.

Sepuluh tahun lalu kawan … terkenang tadi pagi. Saat kita berkumpul, meski hanya sejenak, tak cukup setengah hari. Tapi, itulah kehidupan. Kita harus jumpa dan pisah pada tiap masa. Andai kali ini kita pisah, kuyakin, akan ada masa yang lebih indah untuk perjumpaan berikutnya.

Keep on fighting Buddy! Untuk sobat kelas 3A SMP Negeri 1 Bone-Bone, dimana pun kalian berada, semoga kebahagiaan dan cinta selalu bersama kita. :-)

Saya, Muhammad Zainal Abidin, dari sebuah tempat paling indah di dunia.

Anda suka dengan artikel Sepuluh Tahun Lalu, Di Kelas 3A SMP Negeri 1 Bone-Bone ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Renungan Tentang Harga Diri Anda : Anda Spesial!. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Sepuluh Tahun Lalu, Di Kelas 3A SMP Negeri 1 Bone-Bone" :

Ditulis dalam Kategori Catatan MasBied.