Berikut ini kumpulan cerita humor, ini khusus tentang tokoh yang bernama Gus Dur, hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Maaf, sama sekali tidak ada niat untuk melakukan pencemaran nama baik terhadap setiap oknum, orang atau tokoh dalam cerita berikut. Lagian, saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Orang yang nulis gak tau dah pada dimana. Semoga mereka dapat pahala dengan menebarkan senyum. Sekali lagi, semua kejadian dalam cerita ini adalah fiktif, jika ada kesamaan nama, tokoh atau karakter, hanya karena kebetulan semata.

Parasut

Sebuah pesawat sedang terancam akan jatuh. Sementara didalamnya ada 5 orang penumpang, sedang parasut untuk terjun hanya tersedia 4 buah.

Penumpang pertama bilang, “Saya kurniawan Dwi Julianto pemain Nasional sepak bola PSSI, persepakbolaan Indonesia masih memerlukan orang seperti saya, dan saya belum boleh mati”. Lalu dia ambil parasut pertama dan terjun.

Penumpang kedua adalah Rahmawaty Sukarno Putri, bilang: ” Saya adalah putri Sukarno, saya juga adalah kandidat presiden Indonesia di masa datang, sekarang ini saya sedang akan menghadiri penobatan saya jadi ketua PKB, saya akan menggantikan kakak saya jadi Presiden Indonesia nantinya. Jadi saya juga belum boleh mati.” Lalu dia ambil parasut kedua dan terjun.

Penumpang ketiga, Abdurrahman Wahid, bilang: ” Saya adalah Presiden Repulik Indonesia, rakyat Indonesia masih sangat membutuhkan kepemimpinan saya, jadi saya belum boleh mati.”

Kemudian dia meraba raba kiri kanan dan akhirnya menemukan parasut ketiga. “Lagi..kalau saya mati, itu  Propinsi Riau, Jawa Timur/Madura, Aceh, Irian Jaya dan masih banyak lagi Propinsi lain lagi pasti akan memisahkan diri dari NKRI dan akan memerdekakan diri” tambahnya sambil melompat terjun.

Penumpang keempat adalah Zainuddin MZ, kepada penumpang kelima seorang anak sekolah umur 10 tahun dia berkata: ” Sudahlah ..nak, kamu pakai sajalah parasut terakhir itu, saya sudah tua saja kok, tak berapa lama juga saya akan  mati sendiri. Lagi saya rasa saya sudah cukup banyak berdakwah untuk kepentingan ummat, saya merasa sudah punya bekal untuk menghadap Yang Kuasa, saya IKHLAS nak,  pakailah..!.”

Anak sekolah itu menjawab, ” Nggak apa-apa pak Ustad, ini masih masih ada dua parasut lagi kok. Tadi itu, Gusdur terjun pakai ransel sekolah saya, saya sih diamin aja.., abis dia belagu sih orangnya….!!”

Senyum Gus Dur

Suatu ketika, tiga buah mayat dikirim bersamaan ke RSCM untuk otopsi. Dokter yang bertugas saat itu merasa ada kejanggalan karena ketiga mayat tersebut dalam posisi tersenyum. Ia lalu menelpon polisi agar segera datang.

” Siapa nama mayat ini ?? apa penyebab kematiannya ??” tanya pak polisi sambil menunjuk mayat yang pertama.

” Hhmm..ini Moerdiono, meninggal karena serangan jantung pada saat sedang berselingkuh di hotel. Makanya mukanya tersenyum.” ” Oooh….Kalo yang ini, siapa ?? ” Polisi beralih ke mayat yang kedua.  ” Ini Sigit, pak !….ybs baru aja menang judi yang cukup besar. Saking senangnya sampai jantungnya shock. Coba Bapak perhatikan senyumnya yang masih tersisa.”

” Kalo begitu meninggalnya wajar dong ” kata pak polisi sambil membaca label mayat yang terakhir. Dahi pak polisi tampak  berkerut, lalu bertanya ke dokter : ” Lho, ini Gus Dur meninggal karena apa ??” ” Kesambar petir, pak !”

” Lha kok bisa tersenyum ?? ” ujar pak Polisi bingung.

” Beliau kira lampu blitz wartawan yang mau ngambil foto !”

Perangko Gus Dur

Seperti halnya presiden presiden sebelumnya, Gus Dur juga ingin fotonya diabadikan dalam perangko RI. Diinstruksikanlah ke Menteri Parpostel untuk segera membuat perangko tersebut. Sebulan setelah  perangko tersebut beredar, Gus Dur mendengar banyak komplain dari masyarakat bahwa perangko tersebut susah digunakan karena sulit nempel di amplop.

Beliau langsung menugaskan Kapolri untuk mencari tahu apa penyebabnya. Seminggu kemudian, Kapolri datang menghadap :

” Bapak Presiden. kami tidak menjumpai adanya sabotase dalam pembuatan perangko tersebut. Juga tidak ada korupsi atau manipulasi dana karena perangko tersebut dibuat dengan standar internasional. Adapun penyebab perangko itu susah nempel, karena masyarakat memberi ludah pada sisi yang salah.”

Gus Dur dan Mamat

Mamat, pesuruh di kantor kami dikenal suka omong gede, ngakunya kenal sama semua orang beken di negeri ini. Tingkahnya itu kadang-kadang ngeselin. Suatu waktu, boss-nya penasaran dan ingin membuktikan bualannya.

“Oke boss” kata si Mamat, “sebutin aja deh nama orangnya yang ane kagak kenal”.

“Coba buktiin you kenal nggak sama si Meriem Bellina”.

“Beres boss. ‘Yuk kita ke pengadilan”.  Maklum si Meriem ‘kan lagi ngegugat-cerai lakinya.

Di pengadilan, menunggu sebentar, nggak lama kemudian muncul Meriem diiringi pengacaranya.

Begitu lewat di depan si Mamat, langsung si Meriem negorin:

“Eh, Mat ke mana aja udah lama nggak keliatan?”, diiringi cium pipi kiri dan kanan ala selebritis. “‘Ntar kalo urusan udah selesai main ya kerumah”.

Sejenak si boss terpana, tapi tak lama kemudian dia ngomong: “Ah, saya masih belum yakin. ‘ngkali kebetulan aja. Ayo sekarang tunjukin kalo you kenal sama si Liem Sioe Liong”.

“Beres boss”. Esoknya mereka menunggu di lobby gedung BCA. Tak lama kemudian muncullah si taipan diiringi bodyguard-nya.

Melihat si Mamat, eh si taipan nyamperin:”Haiyya, Mat.

Tumben elu baru nongol. Owe udah lama nyariin elu. Ke mana ajah? Yuk keatas dulu, kita ngopi sebentar”.

“Wah, ‘koh, ane lagi banyak urusan nih. Kamsia deh. Kapan-kapan ane pasti mampir lagi”. Si taipan nyautin: “Iya dah. Jangan lupa ya”, sambil tangannya menyisipkan sesuatu ke kantong si Mamat. Beberapa saat si boss melongo menyaksikan semua adegan pembicaraan. Tapi si boss masih penasaran, katanya: “Oke deh, saya udah hampir percaya semua yang saya saksikan. Tapi ini test yang terakhir. Coba buktiin kalo you kenal sama Gus Dur”.

“Yakh boss, terang ane kenal, ‘kan saben hari nongol di TV”.

“Bukan itu maksudku, tapi kenalnya kenal beneran”, sergah si boss.

“Beres deh boss, ‘kan hari Minggu ada Istighosah mendukung Gus Dur di Senayan. ‘Ntar kita ke sana.”

Hari Minggu sungguh luar biasa, ribuan massa NU sudah luber di Senayan.

“Wah, boss kalo gini caranya susah juga ya. Gimana caranya dia tau ane ada di sini. Tapi … gini aja deh, boss. Boss tunggu aja di sini. Boss liat aja nanti ane keluar di podium barengan ame Gus Dur. Ane kenal kok sama Banser-Banser yang tugasdi podium.”

Ditunggu-tunggu, setengah jam kemudian tepuk tangan bergemuruh menyambut Gus Dur keluar dari podium, dan  …. keluar dengan digandeng si Mamat di sebelahnya. Di sebelah satunya jelas si Yenny, putrinya.

Tak lama kemudian si Mamat balik mau nemuin boss-nya.

Kaget dia nemuin boss-nya pingsan dikelilingi Petugas P3K, jangan-jangan serangan jantung.

Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, pelan-pelan dia ngomong ke si boss-nya: “Boss, boss kenapa ente. Nyebut dong, nyebut”.

Alhamdulillah, nggak lama si boss buka matanya, setengah berbisik: “Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa”. “Abis kenapa bisa kejadian begini”, tanya si Mamat.

“Tadi waktu you keluar bareng Gus Dur di podium, orang di sebelah saya ngomong: “Eh, siapa tuh yang digandeng si Mamat ?”

Mommy Says

Selama berabad-abad, ibu selalu memberi nasihat yang baik dan pepatah yang patut dicatat pada anak mereka. Dan berikut ini hanya beberapa contoh kecil:

Ibu Monalisa “Aku dan ayahmu sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli kawat gigimu, Mona … apa hanya itu senyum paling lebar yang bisa kau berikan pada kami?”

Ibu Colombus “Aku tidak peduli kau menemukan apa, Christoper… setidaknya kan kau bisa menulis surat padaku?!”

Ibu Albert Einstein “Tapi, Albert … ini kan acara pemotretan SMUmu, apa kau tidak bisa merapikan rambutmu sedikit? Pakai gel, mousse, atau apalah…?”

Ibu Michael Angelo “Mike, apa kau tidak bisa melukis di tembok saja seperti anak-anak lain? Kau tidak bisa membayangkan ya, susahnya membersihkan lukisanmu di langit-langit?!”

Ibu Batman “Mobilmu bagus, Bruce. Tapi apa kau sadar seberapa mahal asuransinya?”

Ibu Superman “Clark, ayahmu dan aku sudah membicarakan ini dan kami memutuskan untuk memberimu saluran telepon sendiri, supaya kau tidak usah sering-sering masuk ke boks telepon umum”

Ibu Thomas Edison “Tentu saja aku bangga kau menemukan bola lampu listrik … Thomas, sekarang matikan lampu itu dan pergi tidur!”

Dan akhirnya……

Ibunda Gus Dur “Wis tak kandhani to le, dia itu aslinya ya… Ariyanti.. tetep wae ngeyel, kamu bilang dia Sophia Latjuba!”

Parasut

Sebuah pesawat sedang terancam akan jatuh. Sementara didalamnya ada 5 orang penumpang, sedang parasut untuk terjun hanya tersedia 4 buah.

Penumpang pertama bilang, “Saya kurniawan Dwi Julianto pemain Nasional sepak bola PSSI, persepakbolaan Indonesia masih memerlukan orang seperti saya, dan saya belum boleh mati”. Lalu dia ambil parasut pertama dan terjun.

Penumpang kedua adalah Rahmawaty Sukarno Putri, bilang: ” Saya adalah putri Sukarno, saya juga adalah kandidat presiden Indonesia di masa datang, sekarang ini saya sedang akan menghadiri penobatan saya jadi ketua PKB, saya akan menggantikan kakak saya jadi Presiden Indonesia nantinya. Jadi saya juga belum boleh mati.” Lalu dia ambil parasut kedua dan terjun.

Penumpang ketiga, Abdurrahman Wahid, bilang: ” Saya adalah Presiden Repulik Indonesia, rakyat Indonesia masih sangat membutuhkan kepemimpinan saya, jadi saya belum boleh mati.”

Kemudian dia meraba raba kiri kanan dan akhirnya menemukan parasut ketiga. “Lagi..kalau saya mati, itu  Propinsi Riau, Jawa Timur/Madura, Aceh, Irian Jaya dan masih banyak lagi Propinsi lain lagi pasti akan memisahkan diri dari NKRI dan akan memerdekakan diri” tambahnya sambil melompat terjun.

Penumpang keempat adalah Zainuddin MZ, kepada penumpang kelima seorang anak sekolah umur 10 tahun dia berkata: ” Sudahlah ..nak, kamu pakai sajalah parasut terakhir itu, saya sudah tua saja kok, tak berapa lama juga saya akan  mati sendiri. Lagi saya rasa saya sudah cukup banyak berdakwah untuk kepentingan ummat, saya merasa sudah punya bekal untuk menghadap Yang Kuasa, saya IKHLAS nak,  pakailah..!.”

Anak sekolah itu menjawab, ” Nggak apa-apa pak Ustad, ini masih masih ada dua parasut lagi kok. Tadi itu, Gusdur terjun pakai ransel sekolah saya, saya sih diamin aja.., abis dia belagu sih orangnya….!!”

Senyum Gus Dur

Suatu ketika, tiga buah mayat dikirim bersamaan ke RSCM untuk otopsi. Dokter yang bertugas saat itu merasa ada kejanggalan karena ketiga mayat tersebut dalam posisi tersenyum. Ia lalu menelpon polisi agar segera datang.

” Siapa nama mayat ini ?? apa penyebab kematiannya ??” tanya pak polisi sambil menunjuk mayat yang pertama.

” Hhmm..ini Moerdiono, meninggal karena serangan jantung pada saat sedang berselingkuh di hotel. Makanya mukanya tersenyum.” ” Oooh….Kalo yang ini, siapa ?? ” Polisi beralih ke mayat yang kedua.  ” Ini Sigit, pak !….ybs baru aja menang judi yang cukup besar. Saking senangnya sampai jantungnya shock. Coba Bapak perhatikan senyumnya yang masih tersisa.”

” Kalo begitu meninggalnya wajar dong ” kata pak polisi sambil membaca label mayat yang terakhir. Dahi pak polisi tampak  berkerut, lalu bertanya ke dokter : ” Lho, ini Gus Dur meninggal karena apa ??” ” Kesambar petir, pak !”

” Lha kok bisa tersenyum ?? ” ujar pak Polisi bingung.

” Beliau kira lampu blitz wartawan yang mau ngambil foto !”

Perangko Gus Dur

Seperti halnya presiden presiden sebelumnya, Gus Dur juga ingin fotonya diabadikan dalam perangko RI. Diinstruksikanlah ke Menteri Parpostel untuk segera membuat perangko tersebut. Sebulan setelah  perangko tersebut beredar, Gus Dur mendengar banyak komplain dari masyarakat bahwa perangko tersebut susah digunakan karena sulit nempel di amplop.

Beliau langsung menugaskan Kapolri untuk mencari tahu apa penyebabnya. Seminggu kemudian, Kapolri datang menghadap :

” Bapak Presiden. kami tidak menjumpai adanya sabotase dalam pembuatan perangko tersebut. Juga tidak ada korupsi atau manipulasi dana karena perangko tersebut dibuat dengan standar internasional. Adapun penyebab perangko itu susah nempel, karena masyarakat memberi ludah pada sisi yang salah.”

Gus Dur dan Mamat

Mamat, pesuruh di kantor kami dikenal suka omong gede, ngakunya kenal sama semua orang beken di negeri ini. Tingkahnya itu kadang-kadang ngeselin. Suatu waktu, boss-nya penasaran dan ingin membuktikan bualannya.

“Oke boss” kata si Mamat, “sebutin aja deh nama orangnya yang ane kagak kenal”.

“Coba buktiin you kenal nggak sama si Meriem Bellina”.

“Beres boss. ‘Yuk kita ke pengadilan”.  Maklum si Meriem ‘kan lagi ngegugat-cerai lakinya.

Di pengadilan, menunggu sebentar, nggak lama kemudian muncul Meriem diiringi pengacaranya.

Begitu lewat di depan si Mamat, langsung si Meriem negorin:

“Eh, Mat ke mana aja udah lama nggak keliatan?”, diiringi cium pipi kiri dan kanan ala selebritis. “‘Ntar kalo urusan udah selesai main ya kerumah”.

Sejenak si boss terpana, tapi tak lama kemudian dia ngomong: “Ah, saya masih belum yakin. ‘ngkali kebetulan aja. Ayo sekarang tunjukin kalo you kenal sama si Liem Sioe Liong”.

“Beres boss”. Esoknya mereka menunggu di lobby gedung BCA. Tak lama kemudian muncullah si taipan diiringi bodyguard-nya.

Melihat si Mamat, eh si taipan nyamperin:”Haiyya, Mat.

Tumben elu baru nongol. Owe udah lama nyariin elu. Ke mana ajah? Yuk keatas dulu, kita ngopi sebentar”.

“Wah, ‘koh, ane lagi banyak urusan nih. Kamsia deh. Kapan-kapan ane pasti mampir lagi”. Si taipan nyautin: “Iya dah. Jangan lupa ya”, sambil tangannya menyisipkan sesuatu ke kantong si Mamat. Beberapa saat si boss melongo menyaksikan semua adegan pembicaraan. Tapi si boss masih penasaran, katanya: “Oke deh, saya udah hampir percaya semua yang saya saksikan. Tapi ini test yang terakhir. Coba buktiin kalo you kenal sama Gus Dur”.

“Yakh boss, terang ane kenal, ‘kan saben hari nongol di TV”.

“Bukan itu maksudku, tapi kenalnya kenal beneran”, sergah si boss.

“Beres deh boss, ‘kan hari Minggu ada Istighosah mendukung Gus Dur di Senayan. ‘Ntar kita ke sana.”

Hari Minggu sungguh luar biasa, ribuan massa NU sudah luber di Senayan.

“Wah, boss kalo gini caranya susah juga ya. Gimana caranya dia tau ane ada di sini. Tapi … gini aja deh, boss. Boss tunggu aja di sini. Boss liat aja nanti ane keluar di podium barengan ame Gus Dur. Ane kenal kok sama Banser-Banser yang tugasdi podium.”

Ditunggu-tunggu, setengah jam kemudian tepuk tangan bergemuruh menyambut Gus Dur keluar dari podium, dan  …. keluar dengan digandeng si Mamat di sebelahnya. Di sebelah satunya jelas si Yenny, putrinya.

Tak lama kemudian si Mamat balik mau nemuin boss-nya.

Kaget dia nemuin boss-nya pingsan dikelilingi Petugas P3K, jangan-jangan serangan jantung.

Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, pelan-pelan dia ngomong ke si boss-nya: “Boss, boss kenapa ente. Nyebut dong, nyebut”.

Alhamdulillah, nggak lama si boss buka matanya, setengah berbisik: “Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa”. “Abis kenapa bisa kejadian begini”, tanya si Mamat.

“Tadi waktu you keluar bareng Gus Dur di podium, orang di sebelah saya ngomong: “Eh, siapa tuh yang digandeng si Mamat ?”

Mommy Says

Selama berabad-abad, ibu selalu memberi nasihat yang baik dan pepatah yang patut dicatat pada anak mereka. Dan berikut ini hanya beberapa contoh kecil:

Ibu Monalisa

“Aku dan ayahmu sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli kawat gigimu, Mona … apa hanya itu senyum paling lebar yang bisa kau berikan pada kami?”

Ibu Colombus

“Aku tidak peduli kau menemukan apa, Christoper… setidaknya kan kau bisa menulis surat padaku?!”

Ibu Albert Einstein

“Tapi, Albert … ini kan acara pemotretan SMUmu, apa kau tidak bisa merapikan rambutmu sedikit? Pakai gel, mousse, atau apalah…?”

Ibu Michael Angelo

“Mike, apa kau tidak bisa melukis di tembok saja seperti anak-anak lain? Kau tidak bisa membayangkan ya, susahnya membersihkan lukisanmu di langit-langit?!”

Ibu Batman

“Mobilmu bagus, Bruce. Tapi apa kau sadar seberapa mahal asuransinya?”

Ibu Superman

“Clark, ayahmu dan aku sudah membicarakan ini dan kami memutuskan untuk memberimu saluran telepon sendiri, supaya kau tidak usah sering-sering masuk ke boks telepon umum”

Ibu Thomas Edison

“Tentu saja aku bangga kau menemukan bola lampu listrik … Thomas

sekarang matikan lampu itu dan pergi tidur!”

Dan akhirnya……

Ibunda Gus Dur

“Wis tak kandhani to le, dia itu aslinya ya… Ariyanti..

tetep wae ngeyel, kamu bilang dia Sophia Latjuba!”


Kumpulan Humor Sufi | Cerita Lucu Nasrudin, Versi 3.0

Berikut ini kumpulan cerita humor sufi bagian 1, dengan tokoh utama bernama Nasrudin. Hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Sumbernya ada di Paryoga Net. Saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Semoga pengarang cerita dapat pahala dengan menebarkan senyum.

Pada Sebuah Kapal

Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong.

Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.

“Teman-teman!” teriak Nasrudin. “Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!”

Umur Nasruddin

“Berapa umurmu, Nasrudin ?”

“Empat puluh tahun.”

“Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama.”

“Aku konsisten.”

Belajar Kebijaksanaan

Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin.

Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. “Mengapa api itu kau tiup?” tanya sang darwis. “Agar lebih panas dan lebih besar apinya,” jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.

“Mengapa sop itu kau tiup?” tanya sang darwis. “Agar lebih dingin dan enak dimakan,” jawab Nasrudin.

“Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus si darwis, “Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu.”

Ah, konsistensi.

Yang Tersulit

Salah seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, “Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?”

“Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya,” kata Nasruddin.

“Apa itu?”

“Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.”

Penyelundup

Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup.

Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti.

Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering harus melintasi batas wilayah.

Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. “Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?”

“Jubah,” kata Nasrudin, serius.

Terburu – Buru

Keledai Nasrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nasrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nasrudin berpegangan di atasnya, ketakutan.

Nasrudin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi.

Beberapa teman Nasrudin sedang bekerja di ladang ketika melihat Nasrudin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak,”Ada apa Nasrudin ? Ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru ?”

Nasrudin balas berteriak, “Saya tidak tahu ! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku !”

Tampang Itu Perlu

Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.

“Tapi aku mengabdi kepada Allah saja,” kata Nasrudin.

“Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah,” kata istrinya.

Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, “Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!” berulang-ulang.

Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak “Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah.”

Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasrudin menjawab “Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah.”

Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin berkelit, “Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin.”

Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim.

“Bagaimana pembelaanmu?” tanya hakim pada Nasrudin. “Tetangga saya ini gila, Tuan,” kata Nasrudin.

“Apa buktinya?” tanya hakim.

“Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya.”

Dengan kaget, sang tetangga berteriak, “Tetapi itu semua memang milikku!”

Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.


Kumpulan Humor Sufi | Cerita Lucu Nasrudin, Versi 3.1

Berikut ini kumpulan cerita humor sufi bagian 2, dengan tokoh utama bernama Nasrudin. Hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Sumbernya ada di Paryoga Net. Saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Semoga pengarang cerita dapat pahala dengan menebarkan senyum.

Sembunyi

Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah.

Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi.

“Aha!” kata si pencuri, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?”

“Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”

Periuk Beranak

Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya.
Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.

“Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat.”

Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.

Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,

Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, “Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan.”

Sang tetangga menjadi marah, “Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!”
“Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia,” kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.

Bahasa Kurdi

Tetangga Nasrudin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Nasrudin. Sebetulnya Nasrudin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.

“Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash.”

“Bagaimana dengan sop dingin ?”

“Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi.”

Bahasa Burung

Dalam pengembaraannya, Nasrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nasrudin telah menguasai bahasa burung-burung.
Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nasrudin ke istana.

Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana. Bertanyalah raja pada Nasrudin, “Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!”

“Ia mengatakan,” kata Nasrudin, “Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya.”

Yang Mana Bagianku ??

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Nasrudin dan seorang temannya merasa capai dan haus. Mereka mampir di sebuah warung kecil untuk minum. temannya mengusulkan membeli segelas susu dan membagi dua bagian yang sama.

Nasrudin setuju. Setelah mereka mendapatkan susu, temannya berkata, “Minumlah dulu bagianmu karena aku punya gula yang hanya cukup untuk satu orang saja. Dan aku akan memasukkan pada bagianku nanti kemudian meminumnya.”

“Mengapa tidak dimasukkan sekarang saja.” kata Nasrudin, “toh aku hanya akan minum bagianku yang separo.”

“Tidak bisa. Gulaku hanya cukup untuk memaniskan setengah gelas susu.” Nasrudin pergi ke pemilik warung lalu kembali ke temannya dengan membawa segenggam garam. Lalu berkata,”Aku membawa berita bagus untuk kita berdua. Aku meminum bagianku seperti kita sepakati bersama dan aku ingin mencampur susuku dengan segenggam garam ini !”

Perusuh Rakyat

Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana.

Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.

“Menjauhlah engkau, hai mullah!” teriak pengawal.

“Mengapa ?” tanya Nasrudin.

“Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !”

“Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?”

“Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !”

“Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?” kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.

Tampak Seperti Wujudmu

Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.

“Oh kasih yang agung.Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.Segala yang tampak oleh mataku.Tampak seperti wujud-Mu.”

Seorang tukang melucu menggodanya, “Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?”

Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten: “Tampak seperti wujudmu.”


Kumpulan Humor Sufi | Cerita Lucu Nasrudin, Versi 3.2

Berikut ini kumpulan cerita humor sufi bagian 3, dengan tokoh utama bernama Nasrudin. Hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Sumbernya ada di Paryoga Net. Saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Semoga pengarang cerita dapat pahala dengan menebarkan senyum.

Nasruddin Memanah

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

“Ayo Nasrudin,” kata Timur Lenk, “Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu.”

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, “Demikianlah gaya tuan wazir memanah.”

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, “Demikianlah gaya tuan walikota memanah.”

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, “Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.”

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Nasruddin Memungut Pajak

Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan.

Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.

Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.

Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.

“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?” bentak Timur Lenk. “Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.

“Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?” Timur Lenk lebih marah lagi.

Nasrudin menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku indahkan pada roti hangat ini.”

Timur Lenk Di Dunia

Timur Lenk masih meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

“Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?”

Kali ini Nasrudin menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir.

“Saya taksir, sekitar 100 dinar saja”

Timur Lenk membentak Nasrudin, “Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah 100 dinar.”
“Tepat sekali,” kata Nasrudin. “Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja.”

Timur Lenk Di Akherat

Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

“Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?”

Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan ‘semudah’ ini.

“Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah.”

Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. “Betulkah itu, Nasrudin ?”

“Tentu,” kata Nasrudin dengan mantap. “Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.”

Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.

Orientasi pada Baju

Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah.

Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.

“Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku,” ujar Nasrudin ringan.

Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi.

Sementara itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya. Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.

“Ini semua salahmu!” teriak tuan rumah, “Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!”

“Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju.”

Teori Kebutuhan

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”
Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

Yang Benar-benar Benar

Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah !

Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Anda suka dengan artikel Kumpulan Cerita Humor Gus Dur ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kumpulan Humor Sufi | Cerita Lucu Nasrudin, Versi 3.1. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Kumpulan Cerita Humor Gus Dur" :

Ditulis dalam Kategori Humor.