Dalam PP No.19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan dalam pasal 64 ayat 1 dinyatakan bahwa penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan.  Pasal 19 ayat 3 dinyatakan bahwa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah penilaian menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai, dan teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis, observasi, praktek dan penugasan.

Menurut Jonathan Mueller, Assessment is an integral part of instruction and learning.  When assessment is located in the classroom, it has most immediate value.  This is why assessment cannot be separated from instruction.  With good assessment we can improve instruction, and with goog instruction we can improve the achievement of all students.

Assessment otentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks dunia “nyata” yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan.  Dengan kata lain, asesmen otentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata.  Dalam suatu proses pembelajaran, nyata.  Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian otentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa perubahan dan perkembangan aktifitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas maupun siluar kelas.

Menurut (Hart, 1994), asesmen otentik yaitu asesmen yang melibatkan siswa didalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna.  Berbagai tipe asesmen otentik menurut Hibbard (2000) adalah: 1) asesmen kinerja, 2) observasi dan pertanyaan, 3) presentasi dan diskusi, 4) proyek dan investigasi, dan 5) portofolio dan jurnal.  Hal senada juga dijelaskan oleh David W. Johnson dan Roger T. Johnson (2002) bahwa otentik asesmen meminta siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan atau prosedur dalam konteks dunia nyata.

Authentic assessment requires students to demonstrate desired skill or procedure in real-life contexs.  To conduct an authentic assessment in science, for example: you may assign students to research teams that work on a cure for cancer bay (1) conducting an experiment, (2) writing a lab report summarizing results, (3) writing in journal article, and making oral presentation”.

Penilaian otentik juga disebut dengan penilaian alternatif.  Pelaksanaan penilaian otentik tidak lagi menggunakan format-format peniaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah.  Format penilaian ini dapat berupa: (a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), (b) tugas (tugas keterampilan, tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), (c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya: portofolio, interview, daftar cek, dsb.

Pada hakikatnya, kegiatan penilaian yang dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar siswa saja, melainkan juga berbagai factor yang lain, antara lain kegiatan pengajaran yang dilakukan itu sendiri.  Artinya, berdasarkan informasi yang diperoleh dapat pula dipergunakan sebagai umpan baik penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 4)

(O’Malley dan Pierce, 1996: 4) mendefinisikan authentic assessment sebagai berikut:

Authentic assessment is an evaluation process that involves multiple forms of performance measurement reflecting the student’s learning, achievement, motivation, and attitudes on instructionally-relevant activities.  Example of authentic assessment techniques include performance assessment, portofolio, and self-assessment”.

Asesmen otentik menggambarkan kemampuan siswa, presentasi, motivasi, dan sikap, pada kegiatan pembelajaran yang relevan, yang meliputi, asesmen performansi, portofolio, dan asesmen diri).

Authentic assessment is a term used to describe real task that required students to perform and/ or produce knowledge rather than reproduce information others have discovered (Johnson, D.W., & Johnson R.T. 2002)”.

Asesmen otentik juga merupakan sebutan yang digunakan untuk menggambarkan tugas-tugas yang riil yang dibutuhkan siswa-siswa untuk dilaksanakan dalam menghasilkan pengetahuan mereproduksi informasi.  Sebagai contoh, dalam pembelajaran matematika seorang siswa belumlah dikatakan belajar secara bermakna bilamana dia belum mampu menggunakan rumus-rumus matematis yang dipelajarinya untuk menyelesaikan suatu masalah sehari-hari, seperti ketika kita berbelanja.  Oleh karena itu, dalam pembelajaran sangat perlu dilakukan asesmen otentik untuk menjamin pembentukan kompetensi riil pada siswa.

Beberapa pembaharuan yang tampak pada penilaian otentik adalah: a) melibatkan siswa dalam tugas yang penting, menarik, berfaedah dan relevan dengan kehidupan nyata siswa, b) tampak dan terasa sebagai kegiatan belajar, bukan tes tradisional, c) melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan mencakup pengetahuan yang luas, d) menyadarkan siswa tentang apa yang harus dikerjakannya akan dinilai, e) merupakan alat penilaian dengan latar standar (standar setting), bukan alat penilaian yang distandarisasikan, f) berpusat pada siswa (student centered) bukan berpusat pada guru (teacher centered), dan g) dapat menilai siswa yang berbeda kemampuan, gaya belajar, dan latar belakang kulturnya.

Berikut adalah prinsip-prinsip penilaian otentik.  Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not apart from, instruction).  Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (school work-kind of problems).  Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode dan criteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.  Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensiri-motorik).

Berdasarkan uraian di atas kita sadari bahwa asesmen alternatif menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga dapat mengambangkan instrument untuk mengukur kemampuan siswa dengan cara yang lebih baik.  Menurut Hart (1994) kalau guru mengubah cara mangakses siswa, maka guru juga akan penting untuk peningkatan pendidikan, tetapi juga penting bagi siswa, guru, dan mengubah bagaimana dia mengajar dan bagaimana siswa belajar.  Perubahan ini tidak hanya orang tua.

Bentuk Asesmen

Bentuk-bentuk asesmen alternatif menurut O’Malley and Pierce (1996):

  1. Asesmen kinerja (Performance assessment)
  2. Observasi dan pertanyaan (Observation and Question), Presentasi dan Diskusi (Presentation and Discussion).
  3. Proyek/ Pameran (Project/ Exhibition)
  4. Eksperimen/ demonstrasi (Experiment/ demonstration)
  5. Bercerita (Story or text reteling)
  6. Evaluasi diri oleh siswa (Self assessment)
  7. Portofolio dan jurnal.

Langkah-langkah Dalam Menerapkan Asesmen

Dalam menerapkan asesmen kinerja anda perlu memperhatikan beberapa tahapan.  Berikut langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk membuat penilaian kinerja yang baik antara lain:

  1. Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir yang terbaik.
  2. Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan siperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik.
  3. Usahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua criteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas.
  4. Definisikan dengan jelas criteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan.
  5. Urutkan kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati.

(Source : K’ Masni, Mahasiswa Pasca Sarjana PKLH UNM Makassar | Guru Biologi SMAN 1 Bone-Bone Kab. Luwu Utara, Sulsel)

Anda suka dengan artikel Pengertian Asesmen, Bentuk Asesmen Dan Langkah Penerapan Asesmen ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Strategi Pendidikan Moral Dan Etika Lingkungan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Pengertian Asesmen, Bentuk Asesmen Dan Langkah Penerapan Asesmen" :

Ditulis dalam Kategori Penilaian Pembelajaran. pengertian asesmen, tujuan asesmen otentik, hakekat assesmen, menurut para ahli tentang asesmen alternatif, langkah-langkah penyusunan penilaian alternatif, pengertian asesmen alternatif menurut para ahli, pengertian metode asesment, pengertian otentik asesmen dalam pembelajaran matematika, asesmen alternatif menurut para ahli, prinsip asesemen pelaksanaan di Paud, menurut para ahli asesment alternatif, makalah hakekat assesmen, langkahlangkah menerapkan assesmen yg baik, langkah2 dalam menerapkan asesmen, Para ahli assesment alternatif, langkah-langkah menyusun assesment, langkah-langkah menerapkan asesmen yang baik, asesmen otentik dan asesmen tradisional, assesment alternatif menurut ahli, bentuk-bentuk asesmen, cara menyusun asesment untuk siswa smp, contoh pembuatan asesmen, definisi asesmen tradisional, format rangkuman penilaian paud, hakekat asesmen, hakikat asesmen, langkah langkah menerapkan assesmen yang baik, Langkah langkah penyusunan assesment altetnatif, asesmen,