Banyak strategi pendidikan moral dan etika lingkungan yang telah dikem­banukan oleh para pendidik lingkungan. Masing-masing strategi tersebut memiliki keunggulan dan kelemahannya. Tidak ada satu strategi yang dapat melayani seluiuh kebutuhan pengajar. Kombinasi dari berbagai strategi pendidikan moral dan etika lingkungan seringkali diperlukan akibat situasi pendidikan yang khas dan sifat latar bel-k-ang pribadi pelajar secara individu maupun secara kolektif. Suatu rekomendasi menyebutkan bahwa saat memilih strategi pendidikan moral dan etika yang cocok, atau kombinasi dari strategi, pengajar  mesti menilai strategi  yang mereka miliki mencakup pelajar, sifat dari strategi dan situasi di mana pembelajaran akan dilakukan. Bila pengajar  telah terlatih baik dalam hal penge­tahuan dan keterampilan yang diperlukan, niscaya ia dapat memilih pendekatan yang tepat dengan rasa percaya diri. Berikut ini beberapa parameter utama yang perlu dinilai saat memilih strategi pendidikan moral dan etika lingkungan yang cocok.

Macam-Macam Etika

Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilainilai atau normanorma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:

Etika Deskriptif

Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan  dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.

Etika Normatif

Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat. Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut:

  • Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
  • Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
  • Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

pada akhirnya nilai moral, etika, kode perilaku dan kode etik standard profesi adalah memberikan jalan, pedoman, tolok ukur dan acuan untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang akan dilakukan dalam berbagai situasi dan kondisi tertentu dalam memberikan pelayanan profesi atau keahliannya masing-masing. Pengambilan keputusan etis atau etik, merupakan aspek kompetensi dari perilaku moral sebagai seorang profesional yang telah memperhitungkan konsekuensinya, secara matang baikburuknya akibat yang ditimbulkan dari tindakannya itu secara obyektif, dan sekaligus memiliki tanggung jawab atau integritas yang tinggi. kode etik profesi dibentuk dan disepakati oleh para profesional tersebut bukanlah ditujukan untuk melindungi kepentingan individual (subyektif), tetapi lebih ditekankan kepada kepentingan yang lebih luas (obyektif).

# Etiket

Pengertian etiket dan etika sering dicampuradukkan, padahal kedua istilah tersebut terdapat arti yang berbeda, walaupun ada persamaannya. Istilah etika sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah berkaitan dengan moral (mores), sedangkan kata etiket adalah berkaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal. Persamaannya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. artinya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan. Istilah etiket berasal dari etiquette (perancis) yang berarti dari awal suatu kartu undangan yang biasanya dipergunakan semasa raja-raja di perancis mengadakan pertemuan resmi, pesta dan resepsi untuk kalangan para elite kerajaan atau bangsawan. dalam pertemuan tersebut telah ditentukan atau disepakati berbagai peraturan atau tata krama yang harus dipatuhi, seperti cara berpakaian (tata busana), cara duduk, cara bersalaman, cara berbicara, dan cara bertamu dengan si kap serta perilaku yang penuh sopan santun dalam pergaulan formal atau resmi. definisi etiket, menurut para pakar ada beberapa pengertian, yaitu merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab. Pendapat lain mengatakan bahwa etiket adalah tata aturan sopan santun yang disetujui oleh masyarakat tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah lake sebagai anggota masyarakat yang baik dan menyenangkan. Menurut bertens, dalam buku berjudul etika, 1994. Penerbit utama gramedia utama, jakarta, yaitu selain ada persamaannya, dan juga ada empat perbedaan antara etika dan etiket, yaitu secara umumnya sebagai berikut:

  • Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya. Etiket adalah menetapkan cara, untuk melakukan perbuatan benar sesuai dengan yang diharapkan.
  • Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik  yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya. Etiket adalah formalitas (lahiriah), tampak dari sikap luarnya penuh dengan sopan santun dan kebaikan.
  • Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.
  • Etiket bersifat relatif, yaitu yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan daerah tertentu, tetapi belum tentu di tempat daerah lainnya.
  • Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir. etiket hanya berlaku, jika ada orang lain yang hadir, dan jika tidak ada orang lain maka etiket itu tidak berlaku

Sifat dan strategi pendidikan moral dan etika lingkungan

Ada beberapa karakteristik penting dari strategi pendidikan moral dan etika lingkungan yang perlu dipertimbangkan saat menentukan strategi mana yang digunakan untuk perorangan, kelompok dan seperangkat kondisi operasi. Setelah mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, selanjutnya terserah kepada penilaian pengajar  sendiri untuk menetapkan apakah suatu strategi sesuai ataukah tidak. Beberapa hal penting berikut ini kiranya cukup memadai sebagai bahan pertimbangan :

  • Apakah tingkat pertimbangan moral dibutulikan untuk kesesuaian strategi dengan pelajar ?
  • Apakah strategi tersebut layak dimasukkan ke dalam kurikulum yang ada ? (Pendidikan moral dan etika lingkungan sejauh memungkinkan mesti digabung­kan ke dalam kurikulum pendidikan yang ada).
  • Apakah sasaran pendidikan telah dinyatakan secara jelas alam bahan-bahan pendidikan?
  • Apakah sasaran pendidikan sesuai dengan keadaan anda?
  • Apakah tidak ada bias rasial atau etnik di dalam bahan-bahan pendidikan?
  • Apakah pelatihan khusus diperlukan untuk dapat menggunakan bahan-bahan pendidikan – jika ya, apakah tersedia?
  • Apakah sekuens waktu dari bahan-bahan pendidikan disesuaikan terhadap kebu­tuhan anda dan pelajar – apakah itu berupa aktivitas jangka panjang ataukah latih­an sekali saja?
  • Apakah petunjuk pengajar  memberikan pedoman/arahan untuk menerapkan prosedur atau strategi ?
  • Apakah prosedur atau instrumen evaluasi khusus  tersedia untuk menilai kemajuan pelajar dan keefektifan program ?
  • Punyakah bahan-bahan pendiclikannya, dan apakah sudah diujicobakan ?
  • Apakah bahan-bahan pendidikan berisi perencanaan yang cermat, pelajaran yang rinci, atau apakah ia bersifat sebagai bahan dasar, sehingga pengajar  dapat menggugunakannya setiap saat dia melihat cocok ?

Memfasilitasi pengalaman belajar

Pendidikan moral dan etika lingkungan adalah suatu proses, balk dalam pengertiannya maupun sasaran akhimya. Sasaran akhirnya adalah berkembangnya perilaku dan sikap yang positif, baik secara sosial maupun dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Sementara pengertiannya adalah merujuk pada suatu proses pe­nanainan etika mencintai dan keadilan. Unttik alasan ini, cara yang digunakan di dalam pendidikan moral dan etika lingkungan sama vitalnya dengan tujuan program itu sendiri. Tata nilai tidaklah seperti benda yang bisa dicabut dari konteksnya, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan diri pribadi.

Perhatian kepada mendidik pelajar secara total mencakup ketrampilan me­ngelola emosi dan melibatkan intuisi, kreativitas, pemikiran kritis dan sistesis. Teori pembelajaran yang komprehensif semestinya mencoba menentukan tidak cuma tingkat optimal dari keticlakpastian intelektual, risiko dan relevansi, melainkan juga tingkat optimal dari pelibatan emosi dan rasa keingintahuan setiap pribadi. Pelibat­an pelajar mengandung pengertian : mengalami, aktif, relevan dan belajar yang berarti, baik di sekolah maupun masyarakat.

Setiap, pribadi memiliki benih kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang. Peranan pengajar  adalah menciptakan situasi dan lingkungan yang menunjang. Pelajar perlu membantu didalam mencintai diri mereka sendiri dan orang lain. (Source : K’ Masni, Mahasiswa Pasca Sarjana PKLH UNM Makassar | Guru Biologi SMAN 1 Bone-Bone Kab. Luwu Utara, Sulsel)

Salam …

Anda suka dengan artikel Strategi Pendidikan Moral Dan Etika Lingkungan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Esensi PKLH (Pendidikan Kependudukan Dan Lingkungan Hidup). Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Strategi Pendidikan Moral Dan Etika Lingkungan" :