Pengertian dan Hakikat Manusia

Pengertian Manusia

Dalam Al-Qur’an ada tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok : manusia yaitu Al-Basyar, Al –Insan dan An-Naas. Disamping itu terdapat istilah lainnya. Namun terpulang kepada tiga istilah tersebut. Istilah lain yang dimaksud adalah Unas, Insiy dan Ins, yang secara keseluruhan menunjukkan pada pengertian manusia sebagai suatu kelompok atau golongan.

Secara singkat istilah Al Basyar mengandung makna manusia yang dengan sifat-sifat biologis seperti makan, minum, seks, berjalan di pasar dari segi inilah maka dapat di sebut sebagai makhlik yang sebaik-baiknya, yakni berjalan tegak dan menggunakan tangan ketika makan.

Kemudian kata Al Insan disebut dalam Al-Qur’an dalam arti manusia dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah, serta dihubungkan pula dengan proses penciptaannya. Manusia sebagai pemikul amanah, didalamnay berarti dapart menemukan hukum-hukum alam, menguasainya, atau dalam istilah Al-Qur’an mengetahui nama-nama semua benda dan kemudian menggunakannya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa manusia adalah mahluk yang sanggup atau memiliki kemampuan rohani untuk menciptakan kebudayaan dan melaksanakan fungsunya sebagai khalifah dimuka bumi. Karena itu pula konsep Al Insan dalam Al Qur’an di hubungkan juga dengan konsep tanggung jawab. Maka kepadanya di wasiatkan agar berbuat baik, karena amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang di kerjakannya karena itu insan menjadi musuh syaitan.

Adapun istilah kunci yang ketiga yaitu An Naas konsep ini mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial, dan inilah istilah manusia yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an.

Jika diperhatikan secara keseluruhan istilah-istilah diatas yakni basyar, insan dan An naas, maka dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki sifat biologis, psikologis dan sosial. Secara keseluruhan ayat-ayat Al-qur’an yang menyebutkan istilah-istilah tersebut betapa besarnya perhatian Al qur’an terhadap manusia, melebihi perhatiaannya terhadap makhluk lainnya/

Dengan kemampuan biologisnya manusia dapat mengembangkan keturunannya dan dengan kemampuan psikologisnya manusia dapat melakukan hubungan dengan Tuhan dengan kemampuan sosialnya, manusia dapat berhubungan dengan manusia lainnya dan dengan lingkungannya.

Hakekat Manusia

Hakekat manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki keistimewaan dalam segala segi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Inilah hakikat manusia yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Kedudukan Rohani dan Kebutuhan Hidup Manusia

Kedudukan Rohani

Manusia berkedudukan paling tinggi diantara segala makhluk Tuhan yang ada di bumi ini, terutama karena rohaninya yang antara lain mengandung aspek biologis, psikologis dan sosial, seperti akal pikiran dan perasaan dengan rohaninya yang ada didalam dirinyam manusia dapat melakukan hubungan dengan Tuhan, membedakan hal yang baik dan buruk yang berguna dan yang berbahaya.

Dengan daya rohaninya, manusia dapat mengenal tuhan yang menjadikan dirinya dan menjadikan segala makhluk, mengenal tentang kekuasaan, kesempurnaan dan keagungan Tuhan. Oleh karena itu, maka rohani manusia itulah yang menjadi tempat pertanyaan Tuhan kepada manusia terhadap amanat yang telah diserahkannya untuk ia pelihara dan ia jaga, serta telah ia sanggupi untuk mengerjakannya sedangkan makhluk yang lain menolak amanat Tuhan tersebut karena beratnya amanat tersebut.

Selain itu, rohani pula yang menjadi tempat tuntunan Allah dan tempat pemeriksaan-nya sedangkan jasmaninya pada saat itu hanya menjadi saksi yang mengatakan dengan jujur di hadapan Tuhan di Akhirat.

Melalui pendidikan rohani, manusia semakin mampu menyadari dirinya, mengenal dirinyam dan orang yang mengenal dirinya niscaya mudah mengenal Tuhannya. Sebaliknya  orang yang jahil terhadapa rohaninya, niscaya jahil tentang dirinya dan kemudian menjadi jahil terhadap Tuhannya. Dengan daya rohaniah itulah manusia kemudian dapat menjadi makhluk yang memiliki keutamaan.

Kebutuhan Hidup Manusia

Agama

Agama merupakan kebutuhan manusia Agama berfungsi sebagai pengarah terhadap aktitivitas rohani manusia. Oleh karena itu tanpa agama, atau tidak mematuhi agama, manusia dapat jatuh kepada kehidupan yang nilainya lebih rendah dan binatang sehubungan dengan itu, agamakah yang mendidik menusia supaya hidup berkesopanan.

Peraturan agama islam yang mengatur perilaku manusia tersebut diatas, berkumpul di dalam al-qur’an dengan penjelasan sunnah Nabi Muhammad Saw. Kedua sumber itu berupaya membawa manusia kepada kehidupan yang baik dan mulia, serta membawanya kepada kebahagiaan hidup yang seimbang.

Harta

harta adalah perhiasan hidup bagi manusia di dunia ini segala jenis pekerjaan itu di bolehkan asal dengan jalan yang halal dan jangan menempuh jalan yang haram dan jangan pula mengambil pekerjaan yang dikutuk Tuhan, dan dibenci manusia. Ajaran islam tidak melarang seorang muslim memiliki harta sebanyak mungkin. Hal ini terlihat bahwa dari segi peribadatan dalam islam hampir seluruhnya memerlukan harta. Misalnya mengerjakan salat 5 waktu juga dalam hal zakat dan ibadah haji.

Islam mengatakan bahwa harta itu adalah menjadi ujian, dapat menjadi penyebab celaka dan bahagia, terkadang menjadi bahan pertikaian diantara manusia. Bahwa setiap manusia memerlukan harta namun dalam hal mencari dan menggunakan harta tersebut tidak boleh melanggar ketentuan Tuhan, karena pada hakekatnya harta itu berasal dari Tuhan.

Keturunan

Kebutuhan  hidup manusia lainnya adalah anak atau keturunan guna melanjutkan kelangsungan hidupnya. Namun demikian islam mewujudkan orang tua agar keturunan yang dimilikinya hidup sesuai dengan kemampuan memberikan didikan dan pengajaran penghidupannya sehingga keturunan atau keluarga tersebut menjadi keluarga sakinah yang memberi kebahagiaan kepada semuanya.

Untuk itu maka perlu ada usaha yang sungguh –sungguh dari manusia untuk mendapatkan keturunan yang diharapkan itu mulai dari pemilihan calon pendamping hidup sifat atau tabiat calon pasangan masing-masing. Dengan terpenuhinya kebutuhan manusia tersebut, yakni petunjuk agama, harta dan keturunan kemudian ia mematuhi aturan agama, yang berkenaan dengannya maka akan tercapailah kebahagiaan hidupnya. Jika diperhatikan secara keseluruhan, hal-hal tersebut diatas menunjukkan bahwa ia dapat dicapai melalui hubungan dengan Tuhan, dengan manusia dan lingkungannya. Tanpa melakukan hubungan terhadap tiga hal diatas kebutuhan tersebut mustahil dapat diperoleh.

Landasan Hukum hubungan timbal balik manusia dengan Allah Swt.

Firman Allah Swt.

  • Artinya : Mereka diliputi kehinaan dimana saja, mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia (QS. 3 ; 112)
  • Artinya : Hanya engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan (QS. 1 ; 5)
  • Artinya : Berdo’alah kepadaku niscaya akan aku perkenankan bagimu (QS.23 ; 60)
  • Artinya : Hai Orang –orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada Nya diwaktu pagi dan petang (QS. 33 ; 41-42)

Beberapa ayat diatas semuanya bertemakan hubungan manusia dengan Allah Swt. Pada ayat yang dikutip pertama hubungan tersebut mengambil bentuk berpegang teguh kepada agama dari Allah Swt. Yakni melaksanakan segala ketentuan agama yang telah ditetapkanNya. Kemudian ayat berikutnya ditegaskan bahwa hubungan kepada Allah itu dapat mengambil bentuk beribadah kepadanya yang diiringi dengan memohon pertolongan selanjutnya pada kutipan ayat yang ketiga manusia dianjurkan berdo’a kepada Allah Swt. Ini juga termasuk salah satu bentuk berhubungan dengan Allah. Sedangkan ayat yang dikutip terakhir berhubungan dengan Allah dapat mengambil bentuk berzikir dan bertasbih mengingat nama Allah dan mensucikanNya.

Dengan demikian berhubungan dengan Allah merupakan perintah Allah Swt. Hubungan tersebut dapat mengambil bentuk berpegang teguh kepada ajaran-ajaranNya, beribadah, berdo’a, zikir dan bertasbih.

Bentuk-Bentuk Hubungan dengan Allah Swt.

Berhubungan dengan Allah dapat mengambil bentuk yang bermacam-macam, dan berdasarkan landasan hukum ayat-ayat diatas bentuk hubungan tersebut dapat berbentuk berpegang teguh kepada agamanya beribadah, berdo’a, zikir dan bertasbih.

Adapun hadits bentuk – bentuk hubungan

Berpegang kepada agama Allah

Berpegang teguh kepada agama Allah merupakan suatu perintah yang amat pundamental. Hal ini dapat dijelaskan karena manusia dalam kehidupannya memerlukan norma dan kode etik yaitu sistem yang mengatur bagaimana berhubungan dengan Allah, dengan manusia dan lingkungan hidupnya manusia tidak dapat hidup sendiri ia memerlukan orang lain.

Agama mengatur hubungan manusia juga melalui tali perkawinan yang didalamnya diatur dan ditetapkan soal Akad Nikah sebagai pangkal pembangunan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Dari sini timbul masyarakat yang beradab, hanya mungkin terjadi kalau dilanjutkan dengan menegakkan keadilan, keadilan itu bersumber kepada hukum yang ditetapkan Allah. Bertindak berdasarkan hukum, menegakkan hukum, memelihara hukum, dan seterusnya adalah termasuk perintah Allah. Dengan mematuhi semua ini semua orang akan merasa hidup dalam suasana keadilan.

Yang mampu memberikan kode etik yang bernilai absolut untuk mengangkat martabat manusia dan membedakannya dari seluruh jenis binatang dan makhluk lainnya, hanyalah agama oleh sebab itu agama merupakan kebutuhan yang mendasar yang dihajatkan manusia. Itulah sebabnya Allah menyuruh manusia berpegang teguh kepada agama sesuai dengan firmanNya

“Maka hadapkanlah wajahmu lurus kepada agama sebagaimana engkau adalah Hanif (secara kodrat memihak kebenaran) itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia  menurut fitrahnya itu” (QS. 30 ; 30)

Andai kata dalam kehidupan suatu masyarakat tidak di patuhi lagi nilai –nilai halal dan haram sudah tidak di kenal antara yang muhrim dan bukan muhrim. Lembaga perkawinan sudah diabaikan dan penguasa negeri yang adil tidak lagi diperhatikan seruannya, maka ketika itulah martabat kemanusiaan meluncur jatuh kemartabat binatang seperti yang disebutkan firman Allah Swt. dalam qur’an surat 7 ayat 179.

Dengan mengikuti uraian tersebut diatas terlihat jelas bahwa berhubungan dengan Allah dalam bentuk mematuhi ajaran-ajarannya pada hakikatnya adalah untuk kepentingan  manusia sendiri, yaitu untuk terciptanya suasana kehidupan yang beradab dan martabat tidak jatuh kepada tingkat kehidupan binatang.

Beribadah Kepada Allah

Beribadah secara umum ibadah berarti bakti manusia kepada Allah Swt. Karena didorong dan di bangkitkan oleh Akidah Tauhid, ibadah juga berarti memusatkan pengabdiannya hanya kepada Allah semata, tidak ada yang disembah dan dipuja kecuali hanya Allah. Pengabdian berarti menyerahkan sepenuhnya secara lahir bathin kepada kehendak Allah semua itu dilakukan dengan kesadaran baik sebagai orang seorang dalam masyarakat maupun bersama-sama. Ibadah ini dilakukan, karena tujuan penciptaan manusia pada intinya agar ia beribadah Firman Allah Swt.

Artinya :    “Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku tidak menghendaki mereka memberi makan kepadaKu, sesungguhnya Allah Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”(QS. 56-58)

Pada ayat tersbut terlihat bahwa kata – kata ibadah dan dihubungkan dengan kata-kata rezeki yakni bahwa Allah tidak menghendaki rezki atau pemberian apapun dari ibadah dalam arti seluas-luasnya yang diperoleh manusia berupa kemakmuran hidup adalah untuk manusia sendiri bukan untuk Allah. Allah tidak menghendaki pemberian apapun dari manusia karena dia Mha Kaya dan Maha cukup, dan sebaginya.

Ibadah yang dikerjakan manusia dapat mengambil bentuk ibadah yang telah di tetapkan aturannya caranya dan ukurannya seperti salat, puasa, zakat dan haji dan ada pula yang tidak ditetapkan aturan ukuran, dan tata caranya seperti menolong. Ibadah model kedua ini waktu cara, dan kadarnya diserahkan kepada kesanggupan manusia harus didasarkan semata-mata karena Allah, bukan kareba tujuan-tujuan yang bersifat pribadi seperti ingin di puji orang lain.

Suatu kegiatan dalam kehidupan yang didasarkan kepada tujuan ibadah, akan memberikan ketenangan hidup dan kerja. Dari kerja yang diliputi ketenangan akan mendatangkan hasil yang lebih baik dari pada kerja yang dilakukan tanpa ketenangan. Seorang akan tenang jiwanya antara lain dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah tersebut. Sebaliknya manakala suatu kegiatan dalam kehidupan tidak bertujuan ibadah, maka mudah dijangkiti penyakit putus asa.

Demikian pula jika seseorang tanpa tujuan hidup atas dasar ibadah, maka dalam pekerjaannya mudah terlibat dalam kecurangan dan kejahatan, akan membawa akibat buruk dan kerusakan bersama dalam masyarakat.jadi suatu masyarakat atau negara akan hancur karena perbuatan jahat manusia, bahkan Tuhan akan menambahnya dengan menurunkan Azab siksaannya sebagai hukuman atas pelanggaran yang dilakukan manusia.

Dengan memperhatikan keterangan diatas, jelaslah bahwa hubungan dengan Allah melalui ibadah akan mendatangkan keuntungan kepada manusia sendiri, bukan untuk Allah, sebaliknya meninggalkan ibadah dapat mengundang bencana atau azab Allah oleh kareba itu hubungan dengan Tuhan perlu di pelihara agar tetap harmonis.

Berdo’a

Hubungan dengan Allah selanjutnya dapat mengambil bentuk berdo’a kepada Nya, yakni memohon sesuatu yang kita inginkan kepada Nya dengan tujuan agar menambah peningkatan pengabdian kepada Nya berdo’a memperlihatkan bahwa manusia, disamping memiliki kelebihan atau kekacauan berupa kekuatan fisik, akal, perasaan dan kemampuan rohaniyah lainnya, namun masih banyak sesuatu yang terjadi diluar batas kesanggupan dan kecakapannya. Misal manusia tak mampu menolak datang nya ajal (maut), menghentikan datangnya hujan, dan sebagainya.

Dalam do’a yang di panjatkan itu terdapat tata cara yang harus diperhatikan, dalam do’a itu manusia sedang berhadapan dengan Allah Swt. Hali ini perlu disertai dengan etika berdo’a dan adab-adabnya.

Dengan berdo’a tersebut, seseorang seolah-olah menyerahkan dirinya kepada Allah Swt, semata-mata. Namun do’a tersebut hendaknya dibarengi dengan usaha atau kerja keras yang tak mengenal lelah. Sebab terkabulnya do’a itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan memerlukan sarana lain untuk tersalurnya permohonan tersebut. Do’a tanpa usaha sama artinya orang yang memohon datangnya emas dari langit, mustahil hal ini akan terjadi.

Berzikir

Zikir telah mendapatkan tempat sendiri dalam ajaran islam, karena baik dalam Al-qur’an maupun hadits menyuruh memperbanyak berzikir kepada Allah yang pada intinya adalah mengingat Allah dan melakukan hubungan dengan Allah. Manfaat zikir tersebut juga kebahagiaan manusia sendiri, bukan untuk Allah. Firman Allah Swt. :

(#rãà2ø?$#ur ©!$# #Z?ÏW?2 öNä3¯=yè©9 ?cqßsÎ=øÿè?

Dan berzikirlah kamu sekalian kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh kebahagiaan (QS. 8 ; 45)

?wr& ̍ò2É?Î/ «!$# ?ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$#

Ingat, hanya dengan berzikir kepada Allah, jiwamu akan tentram.(QS.13;28)

Yang jelas bahwa dalam zikir orang biasanya menyebutkan nama-nama Allah seperti pada kata-kata : Subhanallah (Maha Suci Allah) Allahu Akbar (Maha Besar Allah).

Zikir pada intinya mengingat Tuhan dapat diartikan mengingat dan menghayati ajaran Tuhan dan berupaya melaksanakan ajaran tersebut sesuai dengan kesanggupan yang dimiliki. Zikir dapat pula menjadi pengendali nafsu dan perilaku diri agar tidak menyimpang dari garis-garis atau ketentuan Tuhan.

Bertasbih

Bartasbih, seperti halnya berzikir merupakan salah satu bentuk hubungan dengan Tuhan. Dalam bertasbih biasanya seseorang mengingat Allah dengan memakai kata-kata “Subhanallah” yang artinya “Maha Suci Allah” bertasbih dapat membawa keuntungan bagi manusia yang melakukannya, cara melakukannya yang benar sama dengan melakukan zikir. Karena bertasbih adalah merupakan bahagian dari berzikir. Tasbih dipahami seperti akan menimbulkan semangat dalam kehidupan manusia untuk berusaha menghiasi diri dengan perilaku yang baik, dan berusaha sekeras mungkin mengatasi kekurangan yang ada pada dirinya.

Dalam melakukan hal –hal tersebut dibarengi dengn kerja keras, pemikiran, penghayatan, perasaan, dan perbuatan yang secara keseluruhan mencerminkan kesesuaiannya dengan apa yang dikehendaki Allah.

Taqwa Kepada Allah Swt.

Taqwa kepada Allah berarti melaksanakn semua perintah Allah Swt. Dan meninggalkan semua  laranganNya, sebagaimana firman Nya :

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa  yang telah diperbuatnya untuk hari esak (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (AlHasyr S. 59 ; 18)

Ayat tersebut memerintahkan kepada setiap orang yang beriman supaya bertaqwa kepada Allah Swt. Dan selalu instropeksi terhadap apa yang telah di kerjakan untuk memperbaiki dan meningkatkan iman/taqwa dimasa mendatang.

Mengerjakan Sholat 5 waktu

Shalat adalah tali penghubung antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan melaksanakan sholat 5 waktu secara teratur berarti ia tidak pernah lupa pada Allah Swt. Dan senantiasa mendapat bimbingan dari padaNya. Sholah mempunyai kedudukan yang pokok dalam agama islam, perintah sholat diterima langsung dari Allah pada saat Nabi melaksanakan Isra’ Mi’raj. Shalat dikatakan sebagai tiang agama sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Yang artinya sebagi berikut :

“Shalat itu tiang agama barang siapa mendirikan sholat berarti ia telah mendirikan agama, dan barang siapa meninggalkan sholat berarti ia telah menghancurkan agama” (HR. Baihaqi)

Lebih dari itu sholat adalah amalan yang pertama kali akan di hisab atau di perhitungkan di hari kiamat, sabda Rasulullah Saw, dalam buku Drs. H. M. Ali Hasan yang Artinya :

“Yang mula pertama akan dihisab (ditanyakan) kepada agama islam, Seorang hamba pada hari kiamat ialah masalah sholat apabila sholatnya baik niscaya dinilai baiklah segala amalan lainnya. Jika sholatnya rusak, maka dipandang buruklah semua amalnya” (HR. Thabrani dari Abdullah bin Qurthin)

Berpuasa di Bulan Ramadhan

Puasa adalah latihan pengendalian diri untuk sampai kepada taqwallah dengan puasa, jiwa dan kepribadian akan lebih terlatih dan terbina, sehingga akan terciptalah pribadi yang berakhlak muliam sabar dan tabah dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Oleh karena itulah puasa yang di syari’atkan melalui ayat Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 tidak hanya melarang makan dan minum di siang hari saja, tapi lebih dari itu puasa juga harus mampu menjaga ucapan-ucapan yang keji dalam sebuah hadits nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.

Artinya :

“Adu lima perkara yang dapat membatalkan (merusak) orang yang puasa, yaitu : dusta, mempergunjingkan orang lain, menghasud/ mengadu domba, sumpah atau kesaksian palsu, dan pandangan dengan syahwat”

Menunaikan Zakat

Salah satu ajaran islam yang menyinggung masalah kepedulian sosial adalah zakat. Umat islam yang satu dengan yang lainnya adalah saudara nabi Muhammad mengibaratkan umat islam seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.

Setiap manusia diberi kelebihan sendiri-sendiri, termasuk kelebihan dalam hal rizki. Bagi umat islam yang mempunyai kelebihan harta yang sudah memenuhi kadar untuk dikeluarkan zakatnya, harus diingat, bahwa pada hartanya itu mensucikan jiwa. Artinya zakat dapat membersihkan harta yang dimilikinya sehingga halal dimakan, dan mensucikan diri dari sifat bakhil dan tamak.

Perintah shalat dan zakat selalu beriringan satu sama lainnya. Perhatikan firman Allah surat An Nur 56:

“Dan dirikanlah Shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat”

Jadi, kalau shalat titik tekannya adalah hubungan manusia kepada Allah sedangkan zakat adalah hubungan manusia dengan manusia lainnya . antara perintah shalat dan zakat adalah dua kali yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain saling terkait.

Bagi mereka yang tidak banyak harta, ia juga masih ada kesempatan untuk bershadakah atau berinfaq di jalan Allah sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Taat Kepada Pemimpin

Dalam kehidupan bernegara diperlukan seorang pemimpin sebab tertibnya suatu masyarakat harus ada yang siap memimpin. Seorang pemimpin yang bijaksana akan bertanggung jawab terhadap apa yang ia pimpin, dan tidak semua orang mampu memimpin.

Oleh karena itu kewajiban yang dipimpin adalah harus taat kepada yang memimpin. Firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 59 :

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri diantara kamu”

Yang dimaksud “Ulil Amri” pada ayat diatas adalah pemimpin yang mengurus masalah keduniaan. Selagi tidak bertentangan dengan agama, kita harus memtaatinya. Jadi inti dari hadits Nabi tersebut adalah, bahwa taqwa sebagai realitas dari iman harus dibuktikan dengan melaksanakan amanat dengan baik maka ia akan masuk syurga.


Hubungan Timbal Balik Antara Manusia dan Allah

Anda suka dengan artikel Hubungan Timbal Balik Antara Manusia Dan Allah ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Ajaran Dasar Dan Non Dasar, Faham Rasional Dan Pendidikan Harun Nasution. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Hubungan Timbal Balik Antara Manusia Dan Allah" :

Ditulis dalam Kategori Artikel Islami, Karya Tulis Ilmiah. pengertian basyar, pengertian al basyar, hubungan timbal balik antara manusia dengan allah, makalah tentang makhluk ciptaan tuhan, hubungan timbal balik manusia dengan allah, hubungan timbal balik antara manusia dan allah, pengertian ciptaan, Bagaimanakah kode etik allah dan manusia, bentuk hubungan pada Allah, makalah tentang hubungan tuhan dengan makhluknya, makalah mengenal makhluk ciptaan Allah, makalah mengenal mahluk ciptaan allah, jelaskan hubungan timbal balik antara manusia dan allah manusia serta manusia dan lingkungannya, macam timbal, kata kata kekuasaan tuhan, makalah hadits manusia sebagai mahluk psikologis, kata kekuasaan Allah, tujuan dan fungsi Aqidah, makna ya kholiq, timbal balik manusia dan allah, timbal balik antara manusia dengan tuhan, timbal balik antara manusia dengan allah, tiga tujuan akidah, Sebutkan pengertian kodrat, pertanyaan tentang hubungan makhluk dengan allah, pengertian dan sifat-sifat mustahil bagi rasul, pengertian al-khaliq, maksud timbal, maksud hubungan timbal balik antara manusia dan allah, jelaskan hubungan timbal balik antara manusia dan allah,