Pengertian

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan

Menurut bahasa, pendidikan berasal dari kata “didik” yang artinya melatih atau mengajar dan mendapat awalan pen- dan akhiran –an. Dalam bahasa Yunani dikenal dengan istilah Paedagodie yang berarti pergaulan dengan anak-anak atau Paedagogos yang artinya, seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput, anak-anak kesekolah, sedangkan menurut Istilah Pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.[1]

Agama

Pengertian agama secara etimologi adalah kata yang berarti dari bahasa sansekerta yang akar katanya adalah “A” dan “Gama”. “A” artinya tidak dan “Gama” artinya kacau, jadi agama artinya tidak kacau atau teratur, maksudnya agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dan kekacauan yang di hadapi dalam hidupnya bahkan menjelang matinya.[2]

Sedangkan menurut terminologi agama dan religius adalah suatu tata kepercayaan atas adanya yang Agung diluar manusia, dan suatu tata penyembahan kepada yang Agung tersebut, serta suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang Agung, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Alam yang lain, sesuai dengan tata kepercayaan dan tata penyembahan tersebut.[3]

Islam

Pengertian Islam secara Etimologi berasal dari bahasa arab yang diangkat dari kata salinan yang berarti selamat sentosa. Sedangkan Islam secara umum adalah agama yang disyari’atkan oleh Allah dengan perantaraan para Nabi dan RasulNya, yang mengandung perintah-perintah, larangan-laranganserta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan diakhirat.[4]

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah : ilmu yang membahas pokok-pokok keimanan kepada Allah, cara beribadah kepada-Nya, dan mengatur hubungan baik sesama manusia, serta makhluk lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.[5]

Pengertian Kesahatan Mental

Kesehatan mental terdiri dari beberapa definisi yang dekemukakan oleh beberapa pakar yang ditinjau dari berbagai pandangan dan bidangnya masing-masing antara lain :

  • Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala jiwa dan gejala penyakit jiwa.
  • Kesehatan mental adalah adanya kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, orang lain, masyarakat atau lingkungan. Untuk mencapai kesehatan mental itu harus mengenal diri sendiri dan bertindak dengan kemampuan atau kekurangan diri, hal ini bukan berarti kita mengabaikan orang lain.
  • Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan seseorang mengembangkan potensi, bakat dan pembawaannya yang ada semaksimal mungkin.[6]

Jadi dari beberapa definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah : terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dirinya.[7] Seseorang dikatakan mempunyai mental yang sehat bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa. Dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.

Peranan Pendidikan Agama Islam dalam mempengaruhi Kesehatan Mental Anak

Sebagai sebuah disiplin ilmu semakin hari semakin dirasakan pentingnya pendidikan agama bagi anak, dan harus dipahami dan dimengerti secara tepat dasar dan tujuan psikologi agama tersebut. Karena dapat terlihat betapa longgarnya orang berpegangan kepada agama, sehingga banyak orang hidup menderita batin disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan agama yang mereka miliki.

Dengan demikian, jelas kita harus mendidik anak dengan pendidikan agama, sejak anak tumbuh dalam kandungan sampai bayi lahir hingga dewasa, masih perlu kita bimbing. Dan menurut hasil penelitian ilmu pengetahuan modern mengatakan bahwa yang dominan membentuk jiwa manusia adalah lingkungan dan lingkungan yang pertama dialami sang anak adalah asuhan ibu dan ayah.

Pemehamana Pendidikan Agama Islam bagi Kesehatan Mental Anak

Perkembangan pendidikan bagi anak, pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Lingkungan banyak membentuk pengalaman yang bersifat religius, (sesuai dengan ajaran agama) karena semakin banyak unsur agama maka sikap, tindakan dan kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajarana agama.[8]

Setiap orang tua dan semua guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang non formal. Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun prilaku yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadnya.

Masa pendidikan di SD merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang tua, sekolah dasar merupakan dasar pembinaan pribadi dan mental anak. Apabila pembinaan pribadi dan mental anak terlaksana dengan baik, maka si anak anak memasuki masa remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi dimasa remaja itu tidak akan mengalami kesulitan.

Pendidikan anak di sekolah dasarpun, merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa agama pada anak. Apabila guru agama di SD mampu membina sikap positif terhadap agama dan berhasil dalam membentuk pribadi dan akhlak anak, maka untuk mengembangkan sikap itu pada masa remaja muda dan sianak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.

Anak-anak akan bersifat sama sopan dan hormatnya kepada orang lain seperti kita kepada mereka, jika dibesarkan dilingkungan rumah dimana mereka diperlakukan dengan penuh kewibawaan, kebaikan hati dan rasa hormat, akan besar pengaruhnya terhadap cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa begitulah cara mereka harus memperlakukan orang lain. Mereka juga cenderung memperlakukan kita dengan cara melihat kita memperlakukan orang lain diluar keluarga.

Pendidikan agama islam memberikan hari dan mensucikan jiwa serta mendidik hati nurani dan mental anak-anak dengan kelakuan yang baik-baik dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Karena pendidikan agama islam memelihara anak-anak supaya melalui jalan yang lurus dan tidak menuruti hawa nafsu yang menyebabkan nantinya jatuh ke lembah kehinaan dan kerusakan serta merusak kesehatan mental anak.

Pendidikan agama islam mempunyai kedudukan tinggi dan paling utama, karena pendidikan agama islam menjamin untuk memperbaiki akhlak dan kesehatan mental anak serta mengankat mereka ke derajat yang lebih tinggi serta berbahagia di dunia dan tenang kehidupannya.

Adapun pendidikan agama islam yang perlu di terapkan kepada anak sejak usia dini antara lain

Membisikkan Kalimat Tauhid

Dalam hal ini sejak anak lahir kedunia tidak lain yang dibisikkan atau diperdengarkan setelah keluar dari rahim ibunya kecuali “Allah” dengan menggunakan azan di telinga kanan untuk anak laki-laki dan iqamat di telinga kiri untuk anak perempuan, karena pendidikan agama islam membersihkan hati dan mensucikan jiwa agar anak-anak nantinya tetap patuh perintah Allah.[9]

Mengajari Akhlak yang Mulia

Dengan mengajari anak akhlak yang mulia atau yang terpuji bukan hanya semata untuk mengetahuinya saja, melainkan untuk mempengaruhi jiwa sang anak agar supaya beraklak dengan akhlak yang terpuji. Karena pendidikan agama islam dalam rumah tangga sangat berpengaruh besar dalam rangka membentuk anak yang berbudi pekerti yang luhur dan memiliki mental yang sehat.

Mengislamkannya atau mengkhitankannya

Disebutkan dalam Assahhain, dari hadits Abi Hurairah ra, berkata : “Rasululullah Saw. Bersabda : “Pitah itu ada lima (Khitan, mencukur buku di bawah perut, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut buku ketiak)”. Disini khitan ditempatkan ditempat sebagai ciri fitrahnya seseorang yang berdasarkan pada kelemah lembutan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, dimana ia diperintahkan untuk melakukannya pada waktu ia mencapai usia 80 tahun.

Dengan demikian sebagai orang tua yang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap anak-anaknya, agar tidak menyia-nyiakan amanah tersebut, orang tualah sebagai pembina pertama dalam hidup dan kehidupan si anak, olehnya itu anak perlu berbakti dan hormat serta berakhlak mulia terhadap kedua orang tuanya.

Oleh sebab itu pemahaman agama islam sangat dianjurkan untuk pendidikan anak usia diniagar anak tersebut mempunyai kesehatan mental yang baik untuk menuju kehidupan yang cemerlang.

Upaya Melestarikan Kesehatan Mental Anak Melalui Pendidikan Agama Islam

Dalam upaya melestarikan kesehatan mental setiap anak / orang harus mendapatkan pendidikan dan bimbingan dan penyuluhan kejiwaan. Dengan demikian mereka membutuhkan sistem persekolahan yang sesuai dengan kepribadian dan perkembangan anak.

Perlunya diketahui bahwa kesahatan mental dapat dicapai melalui kehidupan jadi rukun dan damai diantaran kelompok sosial dengan saling memberi dukungan fisik, material maupun moral untuk mencapai ketenangan hidup melalui agama, dapat meredam gejala jiwa, dan perlu dilakukan / dilaksanakan secara konsisten dan produktif.

Setiap orang hendaknya menjalankan perintah agama dengan penuh rasa tanggung jawab dan meninggalkan larangan-larangannya. Dengan melaksanakan kehidupan beragama dan menjalankan ibadah, seseorang yang memiliki kesadaran agama dan secara matang melaksanakan ibadahnya dengan rasa tanggung jawab dengan dilandasi wawasan agama yang luas. Dengan demikian ia akan mendapatkan kebahagiaan dan dapat menikmati ketenangan jiwa yang menyebabkan kepribadian yang matang dan sehat.[10]

Agama islam mampu memberikan jawaban dan menetapkan hukum atau kaidah secara rasional dan logis, agama tidak hanya memberikan pegangan hidup yang rasional saja, melainkan juga menunjukkan dinamika penyaluran dan kepuasan dalam dorongan emosional. Agama dapat memberikan masalah yang berada diluar jangkauan logika dan rasio misalnya, persoalan kematian, hidup sesudah mati, alam akhirat dan sebagainya. Bahkan agama memberikan dorongan lebih kuat dan lebih bermakna terhadapat semangat dan arti hidup.

Dengan mengungkapkan beberapa contoh diatas bahwa dalam ajaran islam terkandung dasar dan prinsip kesehatan mental sebaliknya gangguan jiwa dimulai dari kotoran jiwa yang pada hakekatnya merupakan pendurhakaan terhadap kefitrian jiwa itu sendiri.[11]

Kesehatan mental dalam islam juga mencakup pengertian Al-mutmainnah, yakni hati yang tentram juga Al-Sakinah yakni bersih menurut pandangan islam kesehatan mental tidak hanya sekedar harmonisnya interaksi manusia dalam kepentingan duniawi, tetapi sekaligus dalam rangka integritas iman yang sempurna.[12]

Ada beberapa konsep untuk mencapai ketenangan jiwa dalam diri manusia sebagai berikut :

  • Orang yang mau mentaati perintah Allah dan RasulNya pasti akan senang dan bahagia.
  • Orang –orang yang beriman pasti akan diberi ketentraman hidup.
  • Orang – orang yang beriman dan beramal soleh pasti mempunyai kehidupan yang baik
  • Orang – orang yang beriman dan beramal soleh pasti pernah merasa takut dan berduka cita-cita.[13]

Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Melalui Pendidikan Agama Islam

Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan bila ia dapat menguasai dirinya sendiri sehingga ia terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan frustasi dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya. Keharmonisan antara fungsi jiwa dengan tindakan dapat dicapai antara lain dengan menjalankan ajaran agama dan berusaha menerapkan norma-norma sosial, hukum, moral, dan sebaginya.[14]

Kartini kartono mengemukakan bahwa orang memiliki mental yang sehat tentu memiliki sifat – sifat yang khas antara lain : mempunyai kemampuan untuk bertindak secara efisien, memiliki tempat hidup yang jelas, memiliki konsep diri yang sehat, memiliki koordiansi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya dan memiliki kepribadian dan bathin yang selalu terang.[15]

Adapun ciri-ciri dari oraqng yang bermental tidak sehat antara lain :

  • Timbulnya rasa sedih, rasa sedih ini terkadang timbul dari hal-hal yang sepele terjadi. Karena kesehatan mental yang terganggu bukan karena penyebab kesedihan secara langsung.
  • Rasa rendah diri dan hilangnya kepercayaan pada diri. Rasa rendah diri menyebabkan seseorang menjadi tersinggung, sehingga menyebabkan orang yang bersangkutan tidak mau bergaul karena merasa dikucilkan. Ia tidak mau mengemukakan pendapatnya dan inisiatif, lama kelamaan pada dirinya akan hilang kepercayaan diri bahkan ia mulai tidak mempercayai orang lain.
  • Pemarah bila seseorang mudah sekali marah, maka kita menduga bahwa ia oversensitif, ia cenderung untuk merasa dimiliki karena pengalaman masa

lampau.[16]

Untuk itu agar mental seseorang / anak tidak terganggu maka orang-orang yang paling berpengaruh terhadap kepribadian anak tersebut adalah orang tuannya, saudara-saudaranya, famili, kawan-kawan dekat dan juga pendidikan agama islam yang telah di pahaminya. Karena dalam proses pertumbuhan dan pembentukan jiwa pada anak banyak mengalami hambatan, rintangan dan selalu mengalami kegoncangan dalam dirinya sebagai suatu dinamikan kehidupan.

Adapun cara untuk menjaga kesehatan mental anak melalui pendidikan agama islam antara lain :

  • Menanamkan Rasa Keagamaan terhadap Anak. Dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang agama, agar anak dapat mengenal lebih dekat kepada sang pemberi petunjuk yaitu Allah Swt. Agar apabila suatu saat seorang anak mengalami atau mendapatkan masalah dalam hidupnya tidak timbul frustasi pada anak tersebut yang dapat menimbulkan gangguan jiwa dan kesehatan mental paa tersebut dengan pengenalan agama lebih dekat.
  • Membimbing dan Mengarahkan Perkembangan Jiwa Anak Melalui Pendidikan Agama Islam. Membimbing dan mengarahkan perkembangan jiwa anak dapat diusahakan melalui pembentukan pribadi dengan pengalaman keagamaan terhadap diri anak baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat, lingkungan yang banyak membentuk pengajaran yang bersifat agama (sesuai dengan ajaran agama islam). Akan membentuk pribadi, tindakan dan kelakuan serta caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama yang kesemuanya itu mengacu pada perkembangan jiwa dan pembentukan mental yang sehat dalam diri si anak.
  • Menanamkan Etika Yang Baik Terhadap Diri Anak Berdasarkan Norma-Norma Keagamaan. Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0 – 12 tahun.

Masa kanak-kanak merupakan masa yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan psikologi dan agama si anak. Oleh karena itu pada masa ini orang tua harus ekstra ketat dalam mendidik anaknya misalnya kita membiasakan anak untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan dan minum, menulis, menerima tamu dan mengajarkannya untuk selalu memulai pekerjaan dengan membaca Basmalah serta harus diakhiridengan membaca Hamdalah.

Ada beberapa upaya mendidik anak antara lain :

  • Membiasakan anak untuk selalu menjaga kebersihan memotong kukunya, mencuci kedua tangannya sebelum dan sesudah makan, mengajarinya untuk bersuci ketika buang air kecil dan air besar, sehingga membuat najis pakaiannya dan shalatnya menjadi sah.
  • Membiasakan anak-anak untuk diam ketika Adzan berkumandang dan menjawab bacaan-bacaan muadzin kemudian bersolawat atas Nabi dan berdo’a
  • Waspada terhadap persahabatan mereka dengan kawan-kawan yang nakal , mengawasi mereka dan melarang mereka untuk duduk – duduk dipinggir jalan dan lain-lain.

Jika akhlak dan sopan santun yang dibiasakan oleh anak didik baik, kelak jika ia dewasa akhlak mereka kepada orang tua dan teman-temannya tidak akan membuat kesalahan seperti anak-anak yang jarang di didik oleh orang tuanya.[17]


[1] Irawati Istadi, Mendidik Dengan Cinta (Bekasim 2006), hal. 5.

[2] M. Fauzi AG., Pendidikan Agama Islam untuk SMP Kelas VII (Jakarta, 2004), hal. 25

[3] Ibid, hal. 27

[4] Ibid.

[5] Ibid, hal. 31

[6] Dr.H.M. Sattu Alang, M.A. op.cit. hal. 11.

[7] Ibid. hal. 13.

[8] Ibid, hal. 64

[9] Ibid,hal.59

[10] Charles Schaefer Ph.D, Bagaimana Mempengaruhi Anak (Semarang, 1989), hal.26

[11] Ibid, hal.

[12] Dr. H.M. Sattu Allang, A.Ma. loc.cit

[13] Ibid.

[14] Ibid.hal. 12

[15] Ibid.hal. 11

[16] Ibid.hal. 20

[17] Irawati Istadi, op cit., hal.121


Anda suka dengan artikel Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Mempengaruhi Kesehatan Mental Anak ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Nurcholish Madjid : Modernisasi, Sekularisasi Dan Desakralisasi. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Mempengaruhi Kesehatan Mental Anak" :