Pengertian Asesmen, Pengukuran dan Evaluasi

Asesmen adalah pengumpulan data dan informasi untuk tujuan menjelaskan tingkat pengetahuan, penampilan dan prestasi individu maupun kelompok.

Pengukuran adalah proses mendapaatkan informasi dan diwujudkan dalam bentuk angka.

Evaluasi adalah proses sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi informasi dan menentukan tingkat keberhasilan siswa terhadap tujuan instruksional.

Sifat proses pengukuran yang menghasilkan angka-angka tersebut menentukan interpretasi yang dibuat berdasrkan angka tersebut. Taksonomi pengukuran digolongkan menjadi:

# Skala nominal

Skala pengukuran yang paling sederhana adalaah skala nominal. pengukuran nominal mencakup penempatan obejek atau individu  ke dalam kategori yang mempunyai perbedaan kualitatif. kmisalnya penggolongan berdasrkan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. angka-angka yang digunakan dalam skala nominal jumlah karakteristik apapun baik secara mutlak maupun relatif. Angka-angka dalam skala nominal tidak dapat diperoleh secara matematis.

# Skala ordinal

Dalam pengukuran skala ordinal ditetapkan posisi relatif objek atau individu dalam hubungannya dengan suatu atribut, tanpa menunjukkan jarak antara posisi-posisi tersebut. Angka yang digunakan dalam skala ordinal hanya menunjukkan urutan posisi tidak lebih dari itu.

# Skala interval

Dalam skala interval, hubungan tata urut dan jarak angka-angka itu mempunyai arti. Perbedaan-perbedaan dalam angka menunjukkan perbedaan yang sama pula dalam sifat yang sedang diukur.

# Skala rasio

Skala yang tertinggi ialah skala yang mempunyai titik nol mutlak disamping interval yang sama. Perbandingan dapat dilakukan terhadap setiap dua nilai.

PERENCANAAN TES

Tujuan Tes

Tes dapat digunakan dalam program pengajaran untuk menilai perilaku masukan, memonitorng kemajuan belajar, mendiagnosis kesulitan belajar dan mengukur pencapaian pada akhir pengajaran.

Secara umum ada dua macam fungsi tes yaitu:

  1. Tes sebagai alat pengukur peserta didik dalam hal ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan aatu kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah merekea menempuh proses belajar-mengajar dalam jangka waktu tertantu.
  2. Tes sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.

Tujuan Pendidikan

Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa pengelompokan tujuan pendidikan harus senantiasa melekat pada diri peserta didik yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dalam ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berpikir, yaitu:

  1. Pengetahuan (Knowledge) adalah kemapuan seseprang untuk mengingat kembali atau mengenal kembali, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan adalah proses berpikir yang paling rendah.
  2. Pemahaman (Comprehension) adalah kemampuan seseoramng untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat.
  3. Penerapan (Aplication) adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, aplikasi atau penerapan ini adalah merupakan proses berpikir seringkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.
  4. Anlisis (analysis) adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan antara bagian-bagian tersebut.
  5. Sintesis (syntesis) adalah kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berpikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atrau unsur –unsur secara logis, saehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.
  6. Penilaian (evaluation) adalah merupakn  jenjang berpoikir tertinggi dalam ranah kognitif. Penilaian yaitu kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide maka ia akan memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan atau kriteria yang ada.

Petunjuk praktis dalam perencanaan tes:

  1. Bentuk tes
  2. Waktu pelaksanaan
  3. Format item

Tes diberikan untuk beberapa alasan berbeda. Hal ini untuk mencapai bebarapa tujuan perlu berhati-hati dalam merencanakan sebuah tes. Dalam setting kelas perencanaan ini sering diinstruksikan secara objektif atau ke dalam tabel spesifikasi. Ketika guru menggunakan perintah spesifik yang objekti untuk menjadi lebih jelas. Apakah yang menjadi keharusan dalam tes.

Keobjektifan dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai jenis pengertian yang diperlukan. Taksonomi Bloom digunakan untuk membedakan ke dalam enam hierarki. Ketika sebuah tes berdasarkan taksonomi, mereka lebih seperti menaksir lebih itnggi dari level pemikiran.

Tabel spesifikasi adalah alat lain yang digunakan di dalam desain tes. Dua dimensi berisi proses kognitif yang digunakan dalam merencanakan nomor dan macam-macam item yang ada dalam tes.

Penggunaan tabel spesiikasi dapat diaplikasikan untuk pembentukan tes, tetapi banyak dari tes ditentukan oleh pertimbangan. Pembuat tes harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berapa lama waktu tes yang tersedia, item apa yang memformat sehingga siswa dapat menjawab dan peningkatan level dari latihan. Atau perencanaan tes yang tidak saling tumpang tindih.

MEMILIH RESPON ITEM

Ada dua tipe utama dari item tes, umumnya disebut tes objektif dan tes essay dan masing-masing terdiri dari berbagai bentuk. Kita membuat jarak antara item dan bagaimana pembuat tes merespon tes yang dibuat pakah mereka memilih respon ke dalam dua atau tiga pilihan atau merke memerlukan untuk membangun respon? Jadi istilah objektif item berhubungan dengan pemilihan dan respon item.

Item tes dapat dibedakan baik ke dalam respon yang diperlukan. Jadi respon dipilih dari dua atau lebih pilihan atau dibangun oleh pembuat tes.

Ada tiga bentuk umum yang digunakan untuk menyeleksi respon item.

  1. Benar-salah
  2. Pilihan Ganda
  3. Mencocokkan

Karakteristik umum dalam memilih dan merespon item

Ada dua karakteristik utama atau kualitas dari menyeleksi respon item, yaitu dapat menyesuaikan skor, dan mengikuti isi sampel yang cukup memadai. Satu alasan negatif dari karakteristik beberapa item adalah tes sering dibatasi dalam meangukur hal-hal yang sepele.

Pemilihan respon itu memiliki tiga bentuk umum:

  1. Mereka dapat menyesuaikan respon
  2. Mereka dapat membuat sampel dari isi yang ekstensif
  3. Mereka cenderung mengukur ingatan dari fakta yang tidak penting yang diambil ke dalam konstruksi item.

Tes objektif  bentuk benar salah memuat butir-butir soal berupa pernyataan mana yang benar dan mana yang salah. Jadi tes objektif itu bentuknya adalah kalimat atau pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban benar atau salah, dan diminta untuk menentukan pendapat mengenai pernyataan tersebut dengan cara seperti yang ditentukan dalam petunjuk cara nmengerjakan soal.

Item benar-salah dapat menjadi efektif apabila memperhatikan pedoman pembuatan soal berikut:

  1. Pernyataan harus jelas benar atau salah
  2. Pernyataan harus mengarah langsung ke tes
  3. Penentuan spesifikasi harus mempengaruhi
  4. Trik pertanyaan tidak boleh digunakan
  5. Beberapa pernyataan harus ditulis ke dalam level kognitif yang tinggi
  6. Item benar salah harus seimbang

Tes objektif bentuk multiple choise sering dikenal dengan istilah tes objektif bentuk pilihan ganda, yaitu salah satu bentuk tes objektif yang terdiri atas pertanyaan yang sifatnya belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus dipilih salah satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan pada tiap-tipa butir soal yang bersangkuatan.

***

(Source : Fitriani Nur, Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika, 2008)

Anda suka dengan artikel Pengenalan Tentang Pengukuran Dan Perencanaan Tes ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Landasan Sosiologi Pendidikan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Pengenalan Tentang Pengukuran Dan Perencanaan Tes" :