Kalimat di atas adalah sebuah kalimat bijak yang diucapkan oleh Johannes A. Gartner. Kedengarannya sederhana, dan memang benar, itu sederhana. Setiap orang mampu memahami makna dari kalimat pendek di atas. Hanya saja, sejauh mana kita telah mengaplikasikannya?

Senja tadi nonton realiti show “Minta Tolong” di RCTI. Seorang ibu tua meminta bantuan orang yang dijumpainya untuk menukar tikar tua-nya yang sudah bolong-bolong dengan sebuah tikar yang lebih baik. Kalau Sahabat pernah nonton acara ini, sahabat akan liat banyak orang yang sebenarnya memiliki daya untuk menolong, tapi hatinya tak terketuk untuk melakukan itu. Akhirnya, di akhir acara, seorang ibu muda penjual pisang mentah dan sayuran, rela mengeluarkan uangnya Rp. 35.000 untuk membeli sebuah tikar. Nilai rupiahnya memang tak terlampau besar – apalagi bagi sahabat yang punya kesempatan untuk datang ke blog ini –, tapi butuh hati selembut sutra untuk rela melakukan itu. Dalam kesehariannya, uang segitu bisa jadi jumlah yang sangat besar.

Saya mengamati beberapa episode realiti show ini, dan sayangnya, saya akhirnya selalu berkesimpulan bahwa orang yang penolong ‘hanya’lah orang yang juga pernah merasakan kehidupan layaknya orang yang akan ditolong. Sama sekali tak pernah menemukan episode dimana orang yang menolong adalah orang kaya yang mampu duduk santai dalam mobilnya, atau juga berleha dengan fasilitasnya. Tak ada. Yang ada selalu ibu-ibu atau bapak-bapak yang kehidupannya jauh dari layak. Yang selalu siap menolong adalah mereka yang kadang tak punya kesempatan untuk menikmati makan tiga kali sehari, atau juga orang yang tak pernah tidur nyenyak tanpa air hujan yang bocor di dalam kamar.

Hmmm … akhirnya merenung! *Aiyyah* Andai setiap dari kita adalah makhluk yang bersyukur, kita akan selalu mampu merasakan kehidupan surgawi. Ibu-ibu yang membelikan tikar seharga rupiah di atas, mendapat hadiah sekian juta dari pembuat realiti. Hadiah tunai. Itu belum ucapan terima kasih dari lubuk hati terdalam orang yang ditolong, selain ucapan salut dari para tetangga yang melihat kerelaannya ‘bersyukur’ dengan sekedar berbagi apa yang dimilikinya, selain balasan pahala berlipat yang dijanjikan Tuhan bagi yang berbuat baik. Selain banyak hadiah lain, juga ia akan menjadi motivator bagi para penonton yang mungkin hatinya telah keras karena susahnya kehidupan, hingga hanya untuk berbagi dengan orang lain saja kadang membutuhkan banyak kali pikiran. Beri gak, beri gak, beri gak? Gak! Beri! Gak! Manusia itu, satu gunung emas diberikan, akan meminta dua lagi! Cukupkan apa yang ada, jangan fokus pada yang tak ada!

Kukira dengan bersyukur tak hanya dengan bibir, kehidupan kita akan lebih baik. Yakinkan itu, Insya Allah! Dengan membuat seseorang bahagia hari ini, Kita tak hanya membuatnya bahagia hari ini saja, kita juga membuatnya bahagia beberapa tahun lagi, saat ia mengenang apa yang telah Kita lakukan hari ini.

Ikhlas. Ikhlas.

There is no way to ikhlas. Ikhlas is the way … (Erbe Sentanu)

Anda suka dengan artikel Hidup Dalam Rasa Syukur Berarti Menikmati Kehidupan Surgawi ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Mencari Orang-orang Dari Masa Lalu. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Hidup Dalam Rasa Syukur Berarti Menikmati Kehidupan Surgawi" :

Ditulis dalam Kategori Catatan MasBied.