Asertif adalah cara kita mengekspresikan pikiran atau perasaan kita kepada orang lain.
Modeling dan konformitas
Ketika bersama teman-teman, kita berusaha sama seperti mereka. Gaya dandan, hobi, atau idola kita pasti lebih banyak yang sama. Ini yang namanya modeling.
Modeling yang dimaksud di sini bukan melenggak-lenggok di atas titian peraga atau catwalk, tapi kecenderungan meniru orang lain. Dalam mencari identitas diri secara aktif, kita sering melakukan modeling.
n  Masa anak-anak à model dalam keluarga
n  Masa remaja à model berasal dari kelompok sebaya
kelompok sebaya jauh lebih penting daripada keinginan individu. Hal ini membuat kita menyesuaikan diri dengan kelompok dan menyebabkan kita mengikuti sikap, pendapat, dan perilaku yang berlaku dalam kelompok.
Penyesuaian dengan hal lain di luar individu namanya konformitas.
Efek dari konformitas bergantung pada kelompok teman yang menjadi model.
Sikap, pendapat, dan perilaku positif, maka kita cenderung akan berperilaku dan berpandangan positif. Efek positif akan membuat kita punya kemampuan dan keterampilan yang positif juga.
Efek negatif konformitas adalah kenakalan remaja (juvenile delinquency), seperti penyalahgunaan narkoba, perkelahian pelajar, membolos, kebut-kebutan, berjudi, mencorat-coret, dan merusak benda milik umum (vandalisme), ataupun perilaku seksual yang tidak sehat.
n  Individu yang sehat mempunyai pilihan untuk bersikap mandiri dan bebas, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan efek negatif.
n  Mampu mengambil keputusan sesuai dengan keinginan sendiri tanpa merasa khawatir akan tekanan yang diberikan lingkungan sekitar. Ini yang namanya sikap asertif.
Jujur dan terbuka
Kita bersikap asertif ketika kita mampu untuk berkata “tidak”, mampu meminta pertolongan, mampu mengekspresikan perasaan positif dan negatif secara wajar, dan mampu berkomunikasi tentang hal-hal yang bersifat umum.
Asertif adalah kemampuan mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara langsung, jujur, terhormat, dan tidak mengganggu hak orang lain.
Ada keberanian untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran dengan apa adanya tanpa menyakiti orang lain.
Sikap asertif perlu agar supaya individu lebih mengenal diri dan lebih jujur dalam membina hubungan sikap asertif, individu dapat belajar
      menghargai diri sendiri dan orang lain,
      mengekspresikan perasaan positif dan negatif,
      percaya diri,
      mau mendengarkan orang lain,
      mengembangkan kontrol diri,
      mengembangkan kemampuan untuk menolak tanpa merasa bersalah,
      berani meminta bantuan orang lain ketika membutuhkan.
bagaimana caranya untuk jadi asertif ?
n  Sikap asertif terutama dibutuhkan ketika diri dan teman kita memiliki keinginan atau pikiran yang berbeda. Kita bersikap asertif ketika kita menyatakan perasaan dan masalah diri dengan menjelaskan bahwa tingkah laku dan masalah orang lain yang mengganggu dan merugikan diri kita, misalnya “saya merasa tertekan bila kamu memaksakan keinginanmu”.
n  Ketika berkomunikasi dengan orang lain, nyatakanlah keinginan dan alasan dengan jelas, seperti “saya tidak ingin kamu memaksa saya ikut bolos sekolah karena saya tidak siap dengan risiko yang akan saya hadapi”. Kemudian, tanyakanlah pendapat kawan bicara mengenai keinginan dan alasan kita itu.
n  Ketika bicara asertif, kita dituntut untuk tahu alasan-alasan mengapa kita menolak atau menerima ajakan teman. Jadi, kita tahu akibat dan sebab sesuatu yang akan kita lakukan. Dengan bersikap asertif, tidak serta-merta keinginan kita diterima orang lain. Namun, lewat sikap asertif, kita dapat belajar berpikir logis dan belajar memahami teman.
Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.
Seberapa asertif-kah Anda ? Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri Anda sendiri yang dapat menjadi indikator asertivitas.
n  Apakah Anda terbiasa mengekspresikan secara jelas perasaan atau pandangan Anda pada orang lain ?
n  Apakah Anda meminta tolong pada orang lain pada saat Anda memang membutuhkan pertolongan ?
n  Apakah Anda mampu mengekspresikan kemarahan atau pun rasa tidak enak Anda secara proporsional pada pihak lain yang telah membuat Anda merasa sakit hati ?
n  Apakah Anda suka bertanya pada orang lain pada saat menghadapi kebingungan ?
n  Apakah Anda mampu memberikan pandangan secara terbuka saat Anda merasa tidak sepaham dengan pendapat orang lain ?
n  Apakah Anda sering berbicara di depan kelas/umum ?
n  Apakah Anda mampu untuk berkata “tidak” pada saat Anda tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut ?
n  Apakah Anda berbicara dengan sikap percaya diri, serta berkomunikasi secara hangat ?
n  Apakah Anda memandang wajah lawan bicara Anda pada saat Anda berbicara dengannya
Tips untuk bersikap assertif
Tips untuk mampu mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang tidak diinginkan
n  Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.
n  Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
n  Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
n  Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat…saya kurang bisa…..”
n  Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda…Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
n  Gunakan kata-kata “Saya tidak akan….” atau “Saya sudah memutuskan untuk…..” dari pada “Saya sulit….”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk….” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
n  Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)…Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu…..tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk …”
n  Janganlah mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain…atau atas kebahagiaan orang lain, bukan…..
n  Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.

Anda suka dengan artikel ASERTIF ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang PEMBUATAN KEPUTUSAN SECARA ETIS. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "ASERTIF" :