A. Pendahuluan

  • Pada profesi kep kom menjadi lebih bermakna karena, merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses kep.
  • Langka pertama dlm pendekatan ini adalah pengkajian yg bertujuan mengumpulkan data secara valid dan akurat sebagai dasar untuk menegakkan masalah dan diagnosa kep.
  • Pada tahap ini , kom memegang peranan penting karena untuk mendapatkan data subyektif dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang efektif.
  • Selain itu, kemampuan ini juga dibutuhkan dalam memberikan intervensi kep khususnya pada klien yang mengalami gangguan kejiwaan.
  • Menurut Hays dan Larson, tehnik yg dpt membantu perawat dlm melakukan interaksi yang lebih terapeutik dengan kliennya yg dikenal dengan tehnik kom terepeutik.
  • Perawat yg menguasai tehnik ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan askep yg telah ditetapkan.
  • Seorang perawat tidak dapat memperoleh pengetahuan tentang pasiennya, jika tidak ada kemampuan menghargai keunikan yg ada pada pasien.
  • Melalui kom terapeutik diharapkan perawat dpt menghadapi , mempersepsikan, bereaksi, dan menghargai keunikan pasien.
  • Kom teraapeutik bukan pekerjaan yg bisa dikesampingkan , namun harus direncanakan , disengaja, dan merupakan tindakan profesional.
  • Perawat berkom terapeutik untuk pertama kali , proses kom akan terlihat canggung, semu, dan seperti dibuat-buat
  • Perawat sering menggunakan interaksi sosial yang masih superfisial pada awal percakapan dengan pasien sebagai fondasi menciptakan hubungan saling percaya yang lebih akrab
  • Hubungan yang saling membantu antara perawat-pasien tidak begitu saja terjadi, hal ini dibangun secara cermat ketika perawat melakukan tekhnik kom terapeutik.
  • Roger mengidentifikasi ada 3 faktor mendasar dalam rangka menciptakan hub yg saling membantu yaitu :
  • Pertama : perawat harus memahami sebenar-benarnya tentang siapa dirinya,
  • Kedua    : perawat harus menunjukkan rasa empatinya,
  • Ketiga    : Klien yg dibantu harus merasa bebas untuk mengeluarkan segala sesuatu yg berhub dgn dirinya dlm hub tersebut.

Pengertian

  • Komunikasi terapeutik adalah proses dimana perawat yang menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien.
  • Kom terapeutik disampaikan secara rahasia karena klien tahu bahwa semua informasi yg disampaikan pada perawat menjadi bagian dari catatan medis dan tidak disebarkan sebagai gosip.

Sikap Kom Terapeutik

Menurut Egan ada 5 sikap yang dpt memfasilitasi kom yg terapeutik, yaitu:

1. Berhadapan

  • Arti dari posisi ini adalah “ Saya siap untuk anda”.

2. Mempertahankan kontak mata

  • Artinya menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.

3. Membungkuk ke arah klien

  • Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu.

4. Mempertahankan sikap terbuka

  • Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi.

5. Tetap relaks

  • Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon pada klien.

Teknik Kom Terapeutik

Menurut Wilson dan Kneisl (1992) menyatakan bbrp teknik kom terapeutik,yaitu :

1. Mendengarkan dgn penuh perhatian.

  • Sikap yang dibutuhkan untuk menjadi pendengar yg baik adalah : pandang klien saat sedang bicara, tidak menyilangkan kaki dan tangan , hindari gerakan yg tidak perlu, anggukkan kepala jika klien membicarakan hal yg penting atau memerlukan umpan balik, condongkankan tubuh kearah lawan bicara.

2. Menunjukkan Penerimaan

  • Sikap perawat yang menyatakan penerimaan adalah mendengarkan tanpa memutus pembicaraan, memberikan umpan balik verbal yang menyatakan pengertian, memastikan bahwa isyarat non verbal cocok dgn kom verbal, menghindari perdebatan, ekspresi keraguan atau usaha untuk mengubah pikiran klien.

3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan

  • Tujuan perawat bertanya adalah utk mendapatkan informasi yg spesifik mengenai apa yg disampaikan oleh klien.
  • EX : tadi anda katakan memilki 3 org saudara, siapa yg anda rasa paling dekat dgn anda ?

4. Mengulang ucapan klien dgn menggunakan kata-kata sendiri.

  • Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, perawat memberikan umpan balik bahwa ia mengerti pesan klien dan berharap komkom dilanjutkan.
  • EX; Klien :Saya tidak dapat tidur , sepanjang malam saya terjaga.
  • Perawat; Saudara mengalami kesulitan untuk tidur …..”.

5. Mengklarifikasi

  • Klarifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dlm kata-kata , ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien.
  • Tujuan : untuk menyamakan pengertian.
  • EX : Apa yang anda maksudkan dengan ………” atau saya tidak yakin saya mengikuti apa yg anda katakan.

6. Memfokuskan

  • Tujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.
  • Usahakan untuk tidak memutuskan pembicatraan ketika klien menyampaikan maslah yg penting.
  • EX : Hal ini tampaknya penting, mari kita bicarakan lebih dalam lagi.”

7. Menyatakan hasil observasi

  • Perawat harus memberikan umpan balik kepada klien dgn menyatakan hasil pengamatannya sehingga klien dapat mengetahui apakah pesannya diterima dgn benar atau tidak.
  • EX : Anda kelihatannya tampak tegang

8. Menawarkan informasi

  • Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan tindakan penyuluhan kes utk klien.
  • Perawat tidak dibenarkan memberikan nasihat kepada klien ketika memberikan informasi, karena tujuan dari tindakan ini adalah memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.

9. Diam

  • Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir pikirannya.
  • Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dgn dirinya sendiri
  • Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan.

10. Meringkas

  • Meringkas adalah pengulangan ide utama yg telah dikomunikasikan secara singkat.
  • Bermanfaat untuk membantu mengingat topik yg telah dibahas sebelum meneruskan pembicaraan berikutnya.
  • EX : selama lima belas menit ini anda dan saya telah membicarakan …..”

11. Memberikan Penghargaan

  • Penghargaan jangan sampai menjadi beban untuk klien, dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya.
  • EX : Ibu tampak cocok sekali menggunakan baju berwarna kuning ini.

12. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan

  • Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan., perawat dpt menstimulasi utk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.
  • Ex : apakah yg sedang anda pikirkan?”.

13. Menganjurkan utk meneruskan pembicaraan

  •  Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
  • Teknik ini juga mengindikasikan bahwa perawat mengikuti apa yg sedang dibicarakan dan tertarik dgn apa yang akan dibicarakan selanjutnya.
  • EX: …Teruskan…atau “….Dan kemudian…? “Coba ceritakan kepada saya tentang hal tersebut.”

14. Menempatkan kejadian secara berurutan.

  • Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif .
  • Kelanjutan dari suatu kejadian akan menuntun perawat dan klien untuk melihat kejadian berikutnya yg merupakan akibat dari kejadian sebelumnya.
  • EX : Kapan kejadian tersebut terjadi ?
  • Apakah yg terjadi sebelum dan sesudah kejadian tersebut. ?

15. Memberikan kesempatan kepada klien utk menguraikan persepsinya.

  • Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.
  • Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat.
  • EX : Coba ceritakan kepada saya bagaimana perasaan saudara saat akan dioperasi.

16. Refleksi

  • Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaanya sebgai bagian dari dirinya sendiri.
  • Klien mempunyai hak utk mengemukakan pendapatnya, membuat keputusan dan memikirkan dirinya sendiri.
  • EX; Klien : Apakah menurut anda saya harus mengatakannya kepada dokter ?

Perawat : Apakah menurut anda sendiri anda harus mengatakannya?

DIMENSI HUBUNGAN

  • Dimensi hubungan adalah keterampilan tertentu yg dibutuhkan perawat untuk mencapai dan mempertahankan hubungan terapeutik.
  • Keterampilan ini menggabungkan antara ket verbal dan non verbal serta sikap dan perasaan di balik sikap perawat.
  • Ketrpl ini dibagi dalam 2 dimensi yaitu dimensi responsif & tindakan.

A. Dimensi Responsif

Menurut Stuart dan Sundeen dalam dimensi responsif ini adalah keihlasan, penghormatan, pengertian, empati, dan kekonritan

  1. Kesejatian/keihlasan

Keihlasan akan tampak melalui sikap perawat yg terbuka, jujur, tulus dan berperan aktif dlm berhub dgn klien.

  1. Hormat/Menghargai

Sikap menghargai akan tampak saat perawat menerima klien apa adanya, tidak menghakimi, tidak mengejek, atau menghina.

 Rasa menghargai akan terppar melelui sikap:menemani klien yg sedang menangis , minta maaf atas hal yg tidak disukai klien,memenuhi permintaan klien untuk tidak menanyakan pengalaman tertentu.

  1. Empati

Empati merupakan kemampuan masuk dlm kehidupan klien agar dpt merasakan pikiran dan perasaannya sehingga kemudian mampu mengidentifikasi masalah klien dan membantu mengatasi maslah tersebut.

Perilaku yg menunjukkan tingkat empati yang tinggi adalah : memperkenalkan diri kepada klien, kepala dan badan membungkuk kearah klien, respon verbal thp pendapat klien khususnya kekuatan dan sumber daya klien, kontak mata dan berespon pada tanda non verbal klien, mis nada suara, kegelisahan, eskpresi wajah, tunjukkan perhatian, minat, kehangatan melalui ekspresi wajah, nada suara konsisten dgn ekspresi wajah dan respon verbal.

  1. Konkrit

 Perawat menggunakan terminologi yg spesifik, bukan abstrak.

 Manfaat dari penggunaan terminologi yg spesifik adalah mempertahankan respon perawat thp perasaan klien, penjelasan dpt diberikan secara akurat, mendorong klien memikirkan masalah yg spesifik.

B. Dimensi Tindakan

Menurut Stuart dan Sundeen yg termasuk dalam dimensi tind adalah konfrontasi, kesegeraan, pengungkapan diri perawat, katarsis emosional dan penerimaan peran

Dimensi ini harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan, penerimaan, dan pengertian yg dibentuk oleh dimensi responsif.

1. Konfrontasi

Pengekspresian perawat terhadap perbedaan pada perilaku klien yg bermanfaat untuk memperluas kesadaran diri klien.

    Menurut Carkhooff mengidentifikasi 3 kategori konfrontasi yaitu :

  1. Ketidaksesuaian antara konsep diri klien(ekspresi klien ttg dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan klien).
  2. Ketidaksesuaian antara ekpresi non verbal dan perilaku klien
  3. Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dan perawat.

Konfrontasi seharusnya dilakukan secara asertif bukan agresif/marah.

Sebelum melakukan konfrontasi perawat perlu mengkaji antara lain : tingkat hubungan saling percaya dgn klien, waktu yg tepat, tingkat kecemasan dan kekuatan koping klien.

 Konfrontasi sangat berguna utk klien yg telah mempunyai kesadaran diri tetapi perilakunya belum berubah.

2. Kesegeraan

Terjadi jika interaksi P-K difokuskan dan digunakan utk mempelajari fungsi klien dlm hub interpersonal lainnya.

 Perawat harus sensitif thp perasaan klien dan berkeinginan membantu dgn segera.

3. Keterbukaan Perawat

Tampak ketika perawat memberikan informasi tentang diri, ide, nilai, perasan dan sikapnya sendiri untuk memfasilitasi kerjasama , proses belajar, katarsis, atau dukungan klien.

Melalaui penelitian yg dilakukan oleh Johnson ditemukan bahwa peningkatanketerbukaan antara P-K menurunkan tingkat kecemasan antara P-K.

4. Katarsis Emosional

Klien di dorong utk membicarakan hal-hal yg sangat mengganggunya utk mendptkan efek terapeutik.

Jika klien mengalami kesulitan mengekspresikan perasaannya , perawat dpt membantu dgn mengekspresikan perasaannya jika ia berada pada situasi klien.

5. Bermain Peran

Membangkitkan situasi tertentu utk meningkatkan penghayatan klien ke dlm hub antar manusia dan memperdalam kemampuannya utk melihat situasi dari sudut pandang lain, juga memperkenankan klien utk mencobakan situasi yg baru dlm ling yg aman.

Anda suka dengan artikel Komunikasi Terapeutik ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Komunikasi Keperawatan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Komunikasi Terapeutik" :

Ditulis dalam Kategori Komunikasi.