Penggunaan Informasi yang Relevan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

A. Studi Kasus : Keengganan Memanfaatkan Informasi

Setelah mengikuti pelatihan Professional Learning Community (Komunitas Pembelajaran Profesional), Komite Pengembangan Sekolah Gladys Knight Charter School (The Pips) menyuarakan solusi penggunaan sebuah model untuk memperbaiki kondisi sekolah mereka. Kepala sekolah memberikan dukungan penuh untuk inisiatif tersebut. Selama liburan musim panas, anggota komite memberikan artikel dan materi pengembangan Professional Learning Community kepada semua guru. Ketika guru-guru kembali mengajar pada bulan Agustus, komite membentuk grup kecil dari setiap pengajar untuk merespon berbagai pertanyaan dan keprihatinan akan kondisi sekolah mereka dalam sebuah proposal sebagai impelementasi konsep Professional Learning Community.

Seluruh guru secara umum memberikan respon sangat positif. Para guru setuju bahwa model itu membuat kemampuan bekerjasama dalam tim dapat menyelesaikan semua pekerjaan tepat pada waktunya. Mereka mengetahui kegunaan ‘kerjasama’ tersebut sebagai cara untuk mengklarifikasi apa yang telah dipelajari oleh siswa. Mereka juga setuju bahwa sekolah seharusnya membangun sebuah sistem intervensi yang mampu meyakinkan seluruh siswa yang menerima pelajaran tambahan atau dukungan belajar, bahwa kurikulum yang sedang dijalankan adalah salah satu elemen penting dalam proses pembelajaran mereka.

Satu-satunya aspek pertentangan yang ditemukan dalam proposal komite adalah adanya kesenjangan antara permintaan tim pengembangan dengan tim administrasi sekolah tentang evaluasi berupa instrumen penilaian formatif, berkali-kali itu terjadi sepanjang tahun, utamanya pada mata pelajaran bahasa dan matematika. Komite beralasan bahwa hasil penilaian formatif yang dilakukan seharusnya bisa digunakan untuk mengetahui kebutuhan siswa yang sedang mengikuti pengayaan materi (remedial), juga digunakan untuk menemukan masalah-masalah yang dihadapi dalam kurikulum, dan yang lebih penting adalah untuk membantu guru dalam menemukan kelebihan dan kelemahan mereka dalam  proses belajar.

Beberapa guru makin khawatir dengan evaluasi yang diberikan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan rasa percaya diri setiap guru yang memunculkan pendapat bahwa perbedaan pencapaian hasil belajar siswa pada penilaian menunjukkan adanya beberapa faktor lain – termasuk usaha dan kemampuan siswa – yang kekuatannya melebihi efektivitas pembelajaran. Mereka merasakan bahwa beberapa usaha yang telah mereka lakukan berdasarkan data dari penilaian untuk membuat kesimpulan berdasarkan kecakapan para guru adalah salah. Guru juga melihat potensi kecelakaan besar berikut ini : hasil belajar siswa digunakan untuk mengevaluasi para guru, kemudian dilakukan analisis untuk menemukan siapa guru terbaik, juga siapa guru yang terburuk.  Tentu saja hal ini akan mengakibatkan harga diri guru jatuh di depan publik. Evaluasi bisa menjadi langkah awal skema pembayaran balas jasa berbasis kompetensi.

Guru mengemukakan pendapat bahwa tim pengembangan instrumen evaluasi tidak pernah memberikan kontribusi pada pengembangan sekolah mereka. Tim pengembangan penilaian juga mempertahankan argumen mereka, bahwa pencapaian belajar siswa dipastikan akan meningkat jika guru setuju bekerjasama untuk mengetahui apa yang penting dalam pembelajaran, hingga kemudian dapat merencanakan proses pembelajaran yang lebih efektif bagi siswa. Jika saja demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian, proses kolaborasi antara guru seharusnya bisa meningkatkan level pembelajaran siswa, guru hanya perlu fokus pada proses belajar, dan memiliki rasa percaya diri untuk meningkatkan hasil sesuai dengan harapan mereka. Demikian pula, jika hasil belajar menjadi fokus, guru seharusnya memberikan perhatian pada kolaborasi yang bermakna dan mereka hanya perlu mengajar dengan satu tujuan, untuk menyelesaikan ujian nasional.

Akhirnya, mereka berargumen bahwa satu-satunya hal yang dipermasalahkan dalam sistem akuntabilitas negara adalah hasil ujian nasional. Jika saja guru menghabiskan waktu yang banyak untuk menganalisis data, maka mereka akan berkesimpulan seharusnya bisa fokus pada kemampuan siswa menjawab soal ujian nasional dibanding membuat instrumen penilaian pada level yang lebih rendah.

Refleksi

Berdasarkan studi kasus dan argumen yang dibuat oleh orang yang menentang penggunaan penilaian untuk memonitor hasil di atas, muncul sebuah pertanyaan : haruskah komite masih bertanya

kepada kelompok kerja guru pada masing-masing tingkat kelas agar mau

mengembangkan penilaian formatif?

B. Bagaimana Hal Ini Bisa Terjadi?

Satu-satunya alasan paling kuat untuk mengembangkan proses Professional Learning Community adalah untuk meningkatkan hasil belajar. Untuk itu, harus ada kesepakatan bahwa proses pembelajaran haruslah difokuskan pada hasil belajar, bukan pada proses dan input. Telah sejak lama sekolah fokus pada proses dan input, beroperasi berdasarkan sebuah asumsi yang salah bahwa jaminan peningkatan pembelajaran adalah jika sekolah memilih kurikulum yang tepat, membuat jadwal yang benar, membeli buku panduan yang baik, meningkatkan standar penerimaan siswa baru, mengembangkan bangunan sekolah setiap tahun, dan lain sebagainya. Asumsi itu berulang tiap tahun, konsisten tiap masa dan tidak pernah bisa dibuktikan bahwa itu benar. Sekolah hanya akan bisa menjadi Professional Learning Community jika mereka mengubah fokus pembelajaran mereka, dari input menjadi outcome, dan dari aktivitas belajar menjadi hasil belajar.

Guru dapat mendiskusikan bagaimana cara mengajarkan sebuah konsep yang membuat masing-masing guru mendapatkan informasi bermanfaat dalam meningkatkan hasil belajar, meski harus menafikan salah satu poin penting bahwa setiap opini pasti akan ditanggapi secara berbeda oleh setiap orang. Salah satu diantara dua orang guru bisa saja bersemangat untuk meyakinkan guru lainnya bahwa ia mempunyai konsep yang lebih baik. Tapi bagaimana mungkin ia dapat menggambarkan hal tersebut jika guru lain, dalam kenyataan, juga telah menemukan sebuah cara yang baik untuk mengajarkan konsep yang sama? Hal ini bisa diuji dengan melihat hasil ujian siswa secara kolektif – bukti nyata hasil belajar siswa – yang pasti akan menunjukkan bahwa diskusi dua guru di atas akan berpindah dari berbagi pendapat menjadi berbagi pengetahuan. Berbagi pengetahuan adalah salah satu langkah penting dalam pengembangan kemampuan untuk mencapai fungsi Professional Learning Community.

Pada bab sebelumnya, kami telah mengemukakan pendapat bahwa salah satu strategi yang baik untuk membantu proses penciptaan instrumen pembelajaran yang berorientasi hasil di sekolah adalah dengan menanyakan kepada tim kolaborasi perihal tujuan (SMART goal) yang tentunya searah dengan tujuan sekolah dan daerah. Tujuan pendidikan yang berorientasi hasil adalah salah satu hal terpenting dalam tim. Kemampuan tim untuk menggapai tujuan akan meningkat secara drastis jika setiap anggota tim mempunyai akses untuk melakukan tindakan timbal balik (feedback). Feedback ini berupa informasi tentang pengalaman individu – feedback yang akan membantu guru mengetahui proses mana yang bekerja dan proses mana yang tidak bekerja dengan baik pada strategi pembelajaran yang telah mereka jalankan.

Tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh sekolah dalam pengembangan Professional Learning Community adalah proses penyediaan informasi yang powerful dan autentik, secepat mungkin bagi setiap guru. Informasi ini akan memberikan pengaruh pada cara guru tersebut mengembangkan proses pembelajaran bagi siswa, yang selanjutnya juga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Sebagaimana yang telah kami paparkan di bab 3, ujian propinsi atau ujian nasional telah gagal memberikan kesempatan guru untuk melakukan feedback. Penilaian dalam kelas, pada sisi yang berbeda, dapat memberikan kesempatan pada guru untuk melakukan feedback sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Apalagi jika penilaian tersebut dikembangkan oleh tim kerja guru, mereka bisa menjadi dasar perbandingan untuk selanjutnya menjadi informasi penting bagi pihak profesional di atas level mereka.

Sekolah, sejak lama telah dikenal sebagai “pengendali data”. Meskipun begitu, fokus ini sebenarnya adalah salah tempat, karena sekolah tidak pernah terpengaruh oleh data yang rendah. Setiap guru yang bekerja secara terpisah akan bisa menggeneralisasi ribuan data pada setiap tes yang ia lakukan, misalnya mean, median, modus, persentase keberhasilan, persentase kegagalan, dan sebagainya. Guru dapat memberikan tes yang sama pada tiap tahunnya, mendapatkan hasil yang sama pada tiap tahun, dan kemudian mempunyai data yang bersifat berkelanjutan setiap tahunnya. Jika mereka memiliki perbandingan dasar, mereka mestinya dapat melakukan identifikasi terhadap kelebihan dan kekurangan proses belajar mengajar yang telah mereka lakukan bertahun-tahun sebelumnya. Guru juga mestinya mampu menentukan bahwa tugas utama dari komponen kurikulum, strategi dan siswa mereka sendiri  adalah pembentukan kepribadian siswa yang mau belajar keras.

Data yang rendah bukanlah masalah. Sekolah biasanya akan turun pamornya jika mengalami apa yang Robert Waterman (1987) sebut sebagai DRIP Syndome : Data Rich but Information Poor (Kaya akan data tapi kekurangan informasi). Data, secara sendiri, tidak akan mampu memberikan informasi kepada guru profesional tentang praktek yang baik, dan itu tidak akan menjadi media untuk pengembangan kelas kecuali jika data itu diletakkan dan dianalisis dalam konteks yang benar, yakni sebagai dasar perbandingan. Meskipun begitu, data sebagai dasar perbandingan mestilah valid. Misalnya, seorang guru yang persentase kegagalan siswanya tinggi. Ia tidak akan secepat itu yakin dengan apa yang ia lihat. Jika dimungkinkan, ia akan menghilangkan nilai siswanya yang rendah, hanya untuk menunjukkan bahwa standar nilai koleganya lebih rendah dari yang diterapkannya di kelas. Namun jika ia diberi kesempatan untuk melakukan perbandingan data itu sendirian, akan sulit untuk menghilangkan nilai yang rendah dari siswa koleganya. Ini bermakna, data sebagai dasar perbandingan adalah valid dan tidak dibuat-buat.

Kepercayaan, “praktek akan mengajarkan kita bagaimana cara mencapai kesempurnaan” sebenarnya salah. Ini bisa dilihat jika seseorang melanjutkan praktek yang tidak efektif, maka secara otomatis Ia tidak akan mampu berkembang, ia justru akan makin menjauh dari kesempurnaan. Siswa yang menyelesaikan 50 soal matematika dengan kesalahan perkalian yang sama terus menerus, tidak mengembangkan kemampuannya dalam masalah matematika tersebut. Perkalian yang ia lakukan selalu salah. Seorang pemain golf yang memukul lubang bola karena kesalahan sebenarnya ada pada posisi pundaknya ketika memukul bola, tidak pernah melakukan pengembangan kemampuannya untuk membuat par (memasukkan bola golf ke dalam lubang). Dan seorang guru yang menggunakan cara mengajar yang sama terus menerus, boleh jadi berusaha makin keras, tapi tetap tidak mampu mengembangkan hasil belajar pada siswa. Setiap orang pada contoh di atas membutuhkan sebuah feedback – setiap waktu, secara berkelanjutan dan detail, untuk menjadi lebih baik. Sehingga, setiap orang membutuhkan dukungan untuk berusaha mengimplementasikan strategi yang direkomendasikan. Ini dilakukan untuk peningkatkan hasil.

Hal di atas dapat menunjukkan bahwa supervisi guru dan evaluasi program telah mampu menyediakan feedback bagi guru, tapi banyak calon guru harus dipaksa mengetahui batasan program ini. Supervisi kadang dirasa mempengaruhi praktek mengajar guru. Meskipun jika feedback-nya tepat, hal itu tidak perlu dilakukan setiap waktu, tidak juga berkelanjutan. Apalagi, kami sangat jarang melihat purna guru yang memberikan respon positif terhadap sugesti supervisor yang mengatakan bahwa praktek pembelajaran yang telah mereka lakukan bertahun-tahun adalah pembelajaran tidak efektif.

Cara terbaik yang bisa dilakukan untuk menyediakan feedback yang powerful bagi guru dan mendapatkan informasi dari data, yang nantinya dapat mengembangkan proses belajar mengajar adalah lewat tim pengembangan dan tim analisis penilaian formatif. Sistem yang harus dibangun oleh sekolah yang ingin mengembangkan Professional Learning Community adalah memastikan bahwa setiap guru yang mengajar di sekolah harus :

  1. Sering menerima dan memberikan feedback secara simultan atas kemampuan siswa yang mereka ajar
  2. Setuju dengan Standar kompetensi siswa yang telah dikembangkan oleh tim
  3. Menggunakan penilaian yang valid, yang dibuat oleh tim
  4. Melakukan perbandingan pada siswa lain di sekolah dengan tujuan untuk menemukan standar yang sama.

Akhirnya, sekolah harus menjamin bahwa setiap guru mendapatkan manfaat dari tim untuk mempraktekkannya kembali di kelas dan belajar dengan cara mereka sendiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Bab 3 telah menggambarkan proses yang harus digunakan oleh tim untuk mengembangkan penilaian formatif dan menjelaskannya secara detail tentang mengapa penilaian merupakan hal penting bagi pengembangan Professional Learning Community. Kekuatan penilaian formatif akan dikurangi, walaupun demikian, karena ini adalah kerja tim, maka secara perorangan guru tidak akan memiliki dasar perbandingan sebagai bahan uji coba hasil belajar siswa mereka.

Pimpinan Professional Learning Community dalam proses pengembangan sekolah mestinya memiliki komitmen yang kuat untuk menggunakan strategi ini. Respon mereka atas pertanyaan “Bagaimana Hal ini bisa terjadi?” adalah cara peningkatan hasil pencapaian siswa tanpa terkecuali. Mereka harus bekerjasama dalam menganalisis hasil belajar, dan menolong guru lain menjadi pendidik yang lebih efektif sebagai guru secara pribadi atau juga sebagai anggota tim. Doug Reeves (2002) menyebutnya sebagai “Common Collaborative Scored Assessments” (Skor Penilaian Bersama) dalam akhir bagian bukunya (hal. 37). Michael Fullan (2004) menyebut proses itu sebagai salah salah satu metode yang paling kuat yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pencapaian hasil belajar siswa. Rick Stiggins (2005) menyimpulkan bahwa tim dapat berkembang dengan membuat mereka mendapatkan manfaat dari pepatah “Yakni tentang bagaimana menolong siswa kita tumbuh dewasa sebagai pebelajar” (hal. 82). Mike Schmoker (2005) menyebutnya sebagai sebuah proses “jalan baik yang tidak bisa dipungkiri dapat meningkatkan kualitas dan level pembelajaran yang baik” (hal. xi).

Telah dikemukakan bahwa mengumpulkan data hasil belajar siswa adalah langkah pertama, dan itu bisa dilakukan lewat : berbagi data. Jika sekolah dalam studi kasus ini menjadi sebuah sekolah Professional Learning Community, maka sekolah harus memiliki struktur dan kultur untuk menjamin data dari penilaian formatif yang mudah diakses dan terbuka untuk semua guru yang bekerja secara independen untuk mencapai SMART goal yang sama. Hal ini akan merepresentasikan level pembelajaran yang lebih tinggi untuk siswa mereka. Setiap guru harus mengetahui dengan pasti bagaimana kemampuan siswa mereka untuk kemudian dibandingkan dengan siswa pada level yang sama, juga pada instrumen penilaian yang sama pula. Hal ini akan terjadi hanya ketika masing-masing guru dan tim menerima informasi penting untuk melakukan pengembangan berkelanjutan disertai dengan fokus pada hasil.

C. Inilah Sebabnya

Tidak ada sekolah yang berkomitmen untuk membantu siswanya dapat belajar dengan baik, namun dengan cara menafikan hasil belajar mereka. Pembelajaran yang terstruktur adalah pengaturan proses belajar dimana setiap orang mengembangkan kapasistas mereka untuk mencapai hasil sesuai yang mereka inginkan (Senge, 1990, hal. 3). Fokus pada hasil adalah :

  • Hal penting pengelolaan sekolah secara efektif
  • Hal penting dalam efektivitas kerja tim
  • Penyedia motivasi yang sangat kuat
  • Hal penting untuk kelanjutan proses pengembangan sekolah

1. Fokus Pada Hasil Adalah Hal Penting dalam Pengelolaan Sekolah Secara Efektif

Ketidakefektifan sebuah lembaga dapat disebabkan oleh “terpusatnya aktivitas, fundamental yang cacat dan secara logika membingungkan, serta usaha yang dilakukan tanpa hasil yang dicapai” (Schaffer dan Thomson, 1998, hal. 191), lembaga efektif dapat menciptakan hasil yang “proses perkembangannya dijalankan secara baik” yang fokus pada pencapaian hasil yang spesifik, dan pengukuran hasil pencapaian (hal. 193). Lembaga yang baik, secara berkesinambungan ditingkatkan dan diperbaharui dengan cara mengumpulkan orang dan melakukan perbandingan data untuk menginformasikan aktivitas yang telah dilakukan orang melalui lembaga (Kotter, 1996; Waterman, 1987). Pimpinan dari sebuah lembaga adalah “pemimpin yang fanatik, yang terpengaruh dengan hasrat kuat tanpa rasa putus asa dalam menciptakan nilai (Collins, 2001, hal. 30). Sebab ketika berbicara tentang kepemimpinan, maka kita akan selalu membahas tentang hasil (Drucker, 1996). “Outcome dari kepemimpinan yang efektif itu sederhana : harus memberikan aspirasi dalam aksi … dan kepemimpinan yang efektif tidak hanya cukup dengan pemaparan tujuan, tetapi sang pemimpin harus menunjukkan hasil” (Ulrich, 1996, hal. 211)

Sekolah dan daerah yang fokus dalam pengembangan hasil melalui penciptaan tujuan pembelajaran yang spesifik untuk siswa mereka dan juga proses kontrol pembelajaran tepat pada waktunya, selalu mampu menjadi lebih efektif dalam peningkatan hasil belajar siswanya (Cawelti dan Prothero, 2001); Council of Chief School Officer, 2002; Lezotte, 1997; Marzano, 2003). Hal utama yang membedakan antara sekolah yang mampu mengurangi rentang hasil belajar antar siswa cerdas dan bodoh, dengan sekolah yang belum mampu melakukannya, adalah tentang bagaimana cara sekolah memanfaatkan data (Symonds, 2004). Guru pada sekolah yang mampu mengurangi gap hasil belajar menggunakan penilaian yang lebih sering, menggunakan data lebih sering dan juga bekerjasama dengan guru lain dalam menganalisis hasil belajar serta mengambil tindakan yang tepat atas data tersebut.

Tanpa perhatian yang baik terhadap hasil yang dicapai, mustahil bagi setiap lembaga untuk mengevaluasi efektivitas dari proses pengembangan yang telah mereka lakukan (Schmoker, 1996). Hal ini juga searah dengan saran dari James Champy (1995) “Semua zig zag akan menghilang dalam kegelapan hanya ketika Anda mampu memilih penentu kebijakan yang memiliki rasa kasihan dan menilai hasil secara berkelanjutan” (hal. 120). Bukanlah keajaiban jika pemimpin sekolah disarankan mengatur hasil sebaik-baiknya melebihi program dan rencana lain. (Schlecty, 1997, hal. 71)

2. Fokus pada Hasil adalah Hal Penting dalam Efektivitas Kerja Tim

Tim yang memiliki fokus pada hasil seringkali lebih efektif dibanding tim yang memusatkan perhatian mereka pada kegiatan dan tugas (Katzenbach dan Smith, 1993). Sementara itu, menafikan hasil adalah karakter tim yang tak mampu bekerja, “Ukuran yang paling baik dalam mengukur kinerja sebuah tim hebat adalah dengan melihat hasil kerja mereka” (Lencioni, 2005, hal. 69). Tim akan mendapatkan kesuksesan sempurna hanya ketika mereka paham akan apa yang mereka inginkan, dan pemahaman itu benar-benar tidak ambigu, juga terjadi ketika mereka mengetahui bagaimana mengklarifikasikan progres yang telah mereka capai, serta ketika mereka membuat papan schedule yang membuat mereka selalu terfokus pada hasil (Lencioni, 2005). Ketika tim bekerja bersama untuk menentukan target yang terukur, mengumpulkan dan menganalisis data berdasarkan pencapaian yang telah mereka capai, serta memonitor dan menerima tindakan mereka sebelumnya, maka tim tersebut sebenarnya telah menciptakan hasil yang “terbimbing, terkontrol dan dapat memotivasi tim dan individu di dalamnya” (Schmoker, 1996, hal. 38).

3. Fokus pada Hasil dapat Menyediakan Motivasi yang Sangat Kuat

Pada bab 2, kami telah menggambarkan kebutuhan akan peningkatan atau “kemenangan kecil” untuk bertahan dalam perencanaan pengembangan program. Peningkatan adalah hal yang tidak dapat dijelaskan hanya ketika perhatian tidak difokuskan pada hasil. Selanjutnya, kemampuan untuk menunjukkan bukti sebagai hasil kerja adalah salah satu cara paling efektif untuk mendapatkan motivasi bagi diri sendiri untuk melakukan yang lebih baik lagi. Beberapa orang kadang perlu melihat bukti yang nyata dari hasil kerja mereka sebelumnya, hanya agar mereka mampu untuk membuat komiten lagi. Tapi ketika mereka menolak dengan skeptis, “rasakanlah keajaiban sebuah momentum, ketika mereka dapat memulai untuk melihat dengan jelas hasil kerjanya – yaitu ketika mereka mulai masuk ke dalam aktivitas” (Collins, 2001, hal. 178)

4. Fokus pada Hasil adalah Hal Penting untuk Kelanjutan Proses Pengembangan

Frederick Winslow Tailor, bapak managemen sains, mengatakan bahwa tugas seorang pemimpin adalah untuk mengidentifikasi jalan yang benar untuk melakukan pekerjaan dan menciptakan sebuah sistem untuk memastikan bahwa setiap orang bekerja pada tempatnya masing-masing. Secara filosofi, seorang pemimpin bertanggung jawab untuk menyediakan kerangka kerja sebuah lembaga, membantu managemen mendapatkan haknya dan berusaha untuk menjaganya agar tetap berjalan pada jalurnya. Sekolah umum juga mestinya meminjam apa yang dilakukan oleh managemen sains, mencari pemimpin yang mampu memilih input dan sistem (kurikulum, jadwal, dan materi pelajaran) serta para pekerja (guru) yang tepat untuk memenuhi kebijakan yang telah dibuat oleh pimpinan. Legalitas ini telah menciptakan tradisi di mana sekolah diatur untuk memaksa kesinambungan, bukan untuk melanjutkan pengembangan (Consorsium dalam Produktivitas Sekolah, 1995, hal. 51).

Dalam kenyataannya, Professional Learning Community mempunyai komitmen untuk melakukan pengembangan yang berkelanjutan, sebuah elemen penting untuk setiap lembaga pendidikan. Anggota Professional Learning Community mengenali bahwa tantangan mereka saat ini bukan hanya untuk mendapatkan haknya dan menjaganya tetap berjalan, namun lebih tepat jika “mendapatkan haknya dan membuatnya menjadi lebih baik dari masa ke masa” (Champy, 1995, hal. 27). Tidak ada lembaga yang dapat berkembang hingga orang yang ada di dalamnya berusaha untuk mengembangkan kemampuan belajarnya. Untuk itulah, pemimpin Professional Learning Community harus terus menerus membangun proses pembelajaran ke dalam wilayah kerja individu dan tim. Ini dilakukan dengan cara bekerjasama dengan guru untuk menciptakan tujuan yang jelas, untuk memanage kegiatan yang mesti dilakukan dalam pencapaian tujuan tersebut, untuk mengetahui keberhasilan proses yang telah berjalan, dan untuk lebih fokus pada hasil yang akan dicapai (Deming, 2000; Drucker, 2002). Tanpa komitmen untuk terus melanjutkan pengembangan, sekolah maupun daerah tidak akan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan yang akan mereka temukan di masa yang akan datang (American Association of School Administrator, 1999).

Feedback (timbal balik) adalah sebuah elemen penting dalam setiap proses untuk memanjukan pembelajaran yang berkelanjutan. Setiap individu maupun tim harusnya memiliki akses terhadap data dan informasi yang memungkinkan mereka membuat penyesuaian ketika mereka melakukan pengembangan kerangka kerja mereka (Covey, 1996; Pfeffer & Sutton, 2000). Informasi yang dikumpulkan dari tes pembelajaran yang berguna akan memungkinkan seorang guru untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam proses belajar mengajar siswa mereka. Dan karenanya, setelah semua pekerjaan selesai, harus ada alasan bahwa ujian bagi siswa adalah prioritas pertama” (Popham, 2003, hal. 49).

Sekali lagi, ujian semester ataupun evaluasi yang dilakukan oleh daerah telah gagal untuk memberikan feedback. Sebagaimana hasil penelitian Rick Stiggins (2004, hal. 23), evaluasi yang dilakukan hanya berupa instrumen “kembali modal”, sebagai sebuah alat untuk pengembangan sekolah dan menyediakan sedikit nilai bagi pembelajaran di beberapa level” (2001, hal. 385). Penelitian yang komprehensif telah menunjukkan bahwa penilaian formatif jauh lebih kuat dalam memajukan proses pengembangan sekolah dibandingan penilaian sumatif. Sebagai kesimpulan dari penelitian tersebut, “Inisiatif kecil dalam dunia pendidikan telah berhasil menjadi sebentuk tubuh yang kuat untuk menandai adanya dukungan bagi kenaikan standar pendidikan”, itulah penilaian formatif. (Black, Harrison, Lee, Marsh & William, 2004, hal. 9).

5. Hal Terpenting dalam Pembelajaran Berorientasi Hasil

Proses yang dilakukan sekolah untuk menjadi Profesional Learning Community sebenarnya didesain untuk mencapai sebuah tujuan yang sangat spesifik, yakni melanjutkan pengembangan kemampuan seluruh komponen tim, untuk mencapai hasil yang diharapkan. Untuk itulah, adalah hal yang tidak disepakati jika dalam pengembangaan prosesnya, hasil dinafikan. Ketika Edward Deming memperkenalkan pengembangan berkelanjutan ke dalam industri, dia mempresentasikan empat langkah bagan feedback yang memperlihatkan pada pekerja bahwa mereka harus mengidentifikasi dan meningkatkan masalah dalam wilayah kerja mereka. Empat hal tersebut yaitu :

  1. Plan (Rencana) : desain proses untuk meningkatkan hasil
  2. Do (Melakukan) : Pelaksanaan rencana dan pengukuran hasil kerja
  3. Check (Cek) : Menganalisis, mengevaluasi dan melaporkan hasil kerja
  4. Act (Tindakan) : Memutuskan perubahan apa yang mesti dilakukan untuk meningkatkan proses dan menyesuaikan tindakan sesuai hasil analisa.

Anda suka dengan artikel Professional Learning Community (PLC) ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang SMAN 1 Bone-Bone In Action (Part 2). Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Professional Learning Community (PLC)" :

Ditulis dalam Kategori Karya Tulis Ilmiah.