Pengantar

Aplikasi teori-teori konseling pada praktek konseling keluarga adalah suatu keharusan. Sebenarnya setiap teori konseling ada praktek untuk konseling individual. Akan tetapi sering konselor mengalami kesulitan dalam aplikasi tersebut dengan single theory, karena perilaku manusia tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja. Jadi harus disorot dari segala arah. Karena itu menggunakan multi theory adalah hal yang wajar dalam mempelajari atau mengamati perilaku manusia, terutama dalam praktek konseling.

Pendekatan Terpusta pada Klien

Rogers (1961) menulis tentang implikasi konseling terpusat pada klien terhadap kehidupan keluarga. Dalam bukunya “On becoming a person” dia menekankan bahwa hubungan dalam keluarga dapat dihidupkan atas suatu dasar yang wajar, jujur, asli, sebagaimana bertentangan dengan kehidupan  yang berpura-pura atau penuh kepalsuan. Dalam kehidupan tersebut membolehkan anggota keluarga untuk menyatakan pikiran dan perasaan secara terbuka, belajar berkomunikasi dua arah, saling menerima dan menghormati dan membiarkan orang lain berbeda pendapat, pikran dan perasaan.

Anggota keluarga sering berjuang untuk mempertanyakan kepercayaan anggota lain yang didasarkan pada rasa kejujuran, keterbukaan berespon dan kewajaran. Sebagaimana anggota keluarga yang datang untuk konseling, pada mulanya  bersikap defensive dan tidak ditemukan pernyataan-pernyataan. Karena itu konseling keluarga harus dengan iklim terbuka, bebas, dan jujur sehingga seharusnya iklim itu dibawa juga sampai ke rumah nantinya.

Masalah besar lainnya adalah bahwa sebagian anggota keluarga merasa tidak dilayani atau dihargai sebagai pribadi unik yang berbeda dengan orang lain. Kadang-kadang terjadi bahwa suatu penerima dan kasih sayang dari orang tua harus bersyarat. Sebagai contoh, seorang ibu akan sayang dan menerima anaknya jika anak tersebut melakukan sesuatu yang unggul sesuai harapan ibu itu. Jika syarat itu tak terpenuhi maka anak tersebut hanya akan menerima umpatan dan caci atau olok-olok dari orang tua. Situasi ini akan muncul dalam konseling keluarga terutama pada sesi-sesinya, karena itu harus diusahakan muncul kepermukaan.

Di dalam konseling keluarga, fungsi konselor adalah sebagai fasilitator,yaitu untuk memudahkan membuka dan mengarahkan jalur-jalur komunikasi apabila ternyata dalam kehidupan keluarga tersebut pola-pola komunikasi telah berantakan bahkan terputus sama sekali.

Thayer (1982) menemukan kemampuan anggota-anggota keluarga untuk mencapai aktualisasi diri dan menemukan sumber atau potensi diri untuk digunakan memecahkan masalah individu maupun masalah keluarga. Mereka mampu untuk membentuk pertumbuhan mereka sendiri baik secara individual maupun secara keluarga. Dan esensinya adalah bahwa anggota keluarga adalah arsitek bagi dirinya sendiri.

Pendekatan Eksistensial dalam Konseling Keluarga

Walter Kempler (1981) dalam bukunya experiental Psyhchotherapy mengemukakan pertama kali pendekatan Gestalts terhadap konseling keluarga. Ia sebagai konselor gestalt beranggapan bahwa, pendekatan ini amat dekat dengan pendekatan eksistensial fenomenologis. Dalam deskripsinya mengenai teori dan praktik psikoterapi pengalaman keluarga (family experiential psychotherapy), Kempler menekankan perhatiannya pada perjuangan (encounter) atau interaksi interpersonal dalam situasi terapeutik di sini dan sekarang (here and now). Selanjutnya konselor harus mengembangkan tujuan konseling dengan cara berpartisipasi penuh sebagai manusia (person).

Yang paling penting dalam fase awal konseling keluarga ialah mendorong semangat anggota keluarga untuk berani mengemukakan dunia pribadinya. Kelabunya kehidupan keluarga tidak lain adalah karena berkurangnya kemauan para  anggota untuk mengalami, merasakan pandangan dunia pribadi anggota keluarga yang lain. Yang satu merasa benar sendiri, dan berusaha menyalahkan orang lain sehingga masalah yang ada dalam keluarga itu dirasakan oleh anggota keluarga sebagai masalah yang tak dimengertinya dan kadang-kadang tak memperdulikannya. Akan tetapi menunjukkan suatu kemauan untuk melihat dunia orang lain melalui kacamata orang itu sendiri adalah cara konseling yang diinginkan dan arah ini yang perlu dicapai dengan situasi terapeutik dalam  konseling keluarga.

Konseling Keluarga Pendekatan Gestalt

Kempler (1982) mendefinisikan konseling keluarga dengan pendekatan Gestalt sebagai suatu model difokuskan pada saat sekarang ini (present moment) dan pada pengalaman keluarga yang dilakukannya di dalam sesi-sesi konseling.

Jadi pengertian experiential adalah bahwa sesi konseling yang sedang berlangsung digunakan sebagai laboratorium di mana kita memperoleh pengalaman pengalaman baru. Konseling itu lebih bersifat action counseling.

Yang lebih ditekankan lagi adalah keterlibatan konselor dalam keluarga. Kempler bahkan beranggapan bahwa konseling keluarga eksperiensial sebenarnya adalah  personal pribadi sebagai manusia bagi konselor itu, dan masalah teknik cenderung tak menjadi yang terpenting dalam sesi-sesi itu. Tidak ada alat atau skill, yang ada hanyala hubungan orang dengan orang, manusia dengan manusia. Karena itu yang penting bagi konselor adalah mendengarkan suara dan emosi  mereka. Konselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya dalam perjumpaan antara sesama. Karena itu kadang-kadang Kempler senang dengan style directive dan confrontatitnya, sebab hubungan mereka akrab.

Pendekatan Konseling Keluarga Menurut Aliran Adler

Aliran Adler mempunyai sejarah yang panjang dalam pekerjaannya dengan keluarga dan studi tentang dinamika keluarga. Adler memperkenalkan kelompok-kelompok keluarga dan klinik bimbingan anak di Vienna.

(+) Tujuan konseling keluarga menurut aliran Adler

Tujuan dasar pendekatan ini adalah untuk mempermudah perbaikan hubungan anak-anak dan meningkatkan hubungan di dalam keluarga. Mengajarkan anggota keluarga bagaimana menyesuaikan diri yang lebih baik terhadap anggota keluarga yang lainnya dan bagaimana hidup bersama dalam keluaga sosial yang sederajat (sesama manusia) sebagai bagian dari tujuan ini.

Dinkmeyer et. al. (1979) menungkapkan bahwa tujuan  ini adalah menyempurnakan kehidupan dalam keluarga dengan cara sharing (berbagi) dengan sesama  anggota keluarga atas dasar prinsip demokrasis dalam menyelesaikan koflik, memperbaiki orientasi destruktif antara anggota keluarga menjadi komunikasi dua arah, dan yang penting lagi mengajar anggota keluarga agar mampu memberikan semangat dan dorongan untuk berkembang bagi anggota lain.

(+) Tanggung jawab anggota keluarga dalam proses konseling

Fungsi konselor dalam proses konseling keluarga adalah sebagai fasilitator bagi semua anggota yang mengunjungi sesi. Konselor berasumsi bahwa peranan membantu orang tua adalah berupa pemahaman  yang lebih baik terhadap faktor-faktor penyebab kesulitan keluarga dirumah, dan menyarankan cara-cara pemecahannya. Diharapkan bahwa anggota keluarga akhirnya akan mempelajari strategi-strategi bagi pemecahan konflik dan masalah dalam keluarga dengan cara yang saling menghormati.

(+) Teknik-teknik Konseling Keluarga

Banyak teknik yang digunakan yang dipelopori oleh aliran Adlerian ini, dan sebagai garis besarnya dikemukakan oleh Lowe (1982) sebagi berikut:

@ Interview awal

Tujuan interview adalah membantu mendiagnosis tujuan anak-anak, mengevaluasi metode orang tua dalam mendidik anak, memahami iklim dikeluarga, dan dapat membuat rekomendasi khusus bagi perubahan dalam situasi keluarga tersebut. Proses interview ini difokuskan pada usaha memberikan keberanian dan memperkuat semua anggota keluarga. Yang paling utama adalah pembentukan rapport yang memungkinkan usaha produktif tercapai.

@ Role playing (bermain peran)

Bermain peran dan metode-metode lain yang berorientasi kepada perbuatan yang tampak, sering merupakan bagian dari sesi-sesi konseling keluarga. Perbuatan yang tampak adalah hasil interaktif anggota di dalam keluarga.

@ Interpretasi (penafsiran)

Interpretasi merupakan bagian penting dalam konseling Adlerian yang dilanjutkan pada sesi-sesi seterusnya. Tujuannya adalah untuk menimbulkan insight (pemahaman bagi anggota keluarga, memberi pemahaman tentang apa yang telah dilakukannya), dan mendorong mereka untuk menterjemahkan apa yang mereka pelajari dan diterapkan bagi perilakunya sehari-hari. Seorang anggota keluarga memberikan tafsiran terhadap perilakunya terhadap anggota lain, atas usul konselor.

Pendekatan Trasactional Analysis (TA) Dalam Konseling Keluarga

Tujuan dasar dari konseling keluarga TA ialah bekerja dengan struktur kontrak yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga terhadap konselor. Secara umum kontrak-kontrak ini mempunyai tujuan suatu struktur keluarga yang independen dan fungsional. Model kontraktual menempatkan tanggung jawab klien bagi menentukan tujuan seseorang dan bekerja mencapai tujuan.

(+) Tahapan-tahapan konseling

McClendon (1977) menerangkan tiga tahap dalam konseling keluarga menurut pendekatan transactional analysis.

@ Tahapan awal

Fokus konseling adalah pada dinamika keluarga sebagai suatu sistem. Konselor mendorong anggota-anggota keluarga untuk berbicara tentang apa sebabnya ia datang ke konselor dan apakah yang ingin ia cari. Teknik yang digunakan konselor adalah yang dapat mengembangkan kesadaran bagaimana keluarga berfungsi sebagai sistem, tentang masalah yang dihadapi keluarga, dan tentang kemungkinan perubahan.

@ Tahapan kedua

Terjadinya proses terapeutik dengan setiap anggota keluarga. Di sini terlihat dinamika individual dalam proses konseling. Konselor mulai inisiatif untuk menyeleksi anggota keluarga yang mempunyai kekuatan yang amat besar dalam keluarga. Misalnya fokus kita pada ibu, anak, atau ayah, maka hendaknya konselor mengamati terjadinya dinamika intrapiksi

@ Tahapan ketiga

Tujuan kita disini adalah mengadakan reintegrasi terhadap keseluruhan keluaga. Setelah bekerja dengan keluarga sebagai suatu sistem untuk mencerahkan hakikat transaksi antara anggota keluarga, maka konselor sekarang menuju kepada aspek-aspek seperti  keributan-keributan, perintah-perintah, keputusan-keputusan, dan sejarah hidup (life script) dari individu-individu anggota keluarga.


Aplikasi Konsep-konsep Psikoanalitik

Konsep psikoanalitik mengajarkan konselor untuk memahami tentang ketakberfungsian pola-pola keluarga yang telah menyebabkan isu-isu pribadi yang tak terpecahkan di antara ayah, ibu dan anak gadisnya. Di dalam konseling keluarga situasi yang tak menentu itu merupakan pola masa lalu yang terungkap dimasa sekarang di dalam keluarga. Tantangan terbesar dari konselor ialah untuk membantu anggota keluarga agar menyadari keadannya dan mengambil tanggung jawab dalam menanggulangi proyeksi masih saja berlarut-larut seandainya merek terus menerus berorientasi secara tak sadar kepada kehidupan masa lalunya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa suatu kekuatan yang ditempuh untuk memecahkan masalah keluarga sebagai suatu sistem dengan tujuan mencapai perubahan struktur kepribadian kedua orang tua.

Konseling Keluarga Rational Emotive

Tujuan rational emotive theraphy dalam konseling keluarga pada dasarnya sama dengan yang berlaku dalam konseling individual atau kelompok. Anggota keluarga dibantu untuk melihat bahwa mereka bertanggungjawab dalam membuat gangguan bagi diri mereka sendiri melalui perilaku anggota lain secara serius.

Albert  Elis (1982) mengemukakan teknik-teknik yang bersifat kognitif, emotif, dan behavioral yang tepat untuk konseling keluarga.

  1. Teknik kognitif (the cognitive techniques)
  2. Teknik emotif (emotive techniques)
  3. Teknik behavioral (behavioral techniques)

Aplikasi Teori Behavioral dalam Konseling Keluarga

Konselor-konselor behavioral telah memperluas prinsip-prinsip teori belajar sosial (social-learning theory) terhadap konseling keluarga. Mereka mengemukakan bahwa prosedur-prosedur belajar yang telah digunakan untuk mengubah perilaku, dapat diaplikasikan untuk mengubah perilaku yang bermasalah di dalam suatu keluarga.

Dalam deskripsi ini ada tugas dan teknik-teknik yang menandai ciri utama dari aplikasi behavioral terhadap konseling keluarga. Liberman (1981) mengemukakan tiga bidang kepedulian teknis bagi konselor; 1) kreasi dari gabungan terapeutik yang positif, 2) membuat analisa fungsional terhadap masalah-masalah dalam keluarga dan 3) implementasi prinsip-prinsip behavioral yakni reinforcement dan modeling di dalam konteks interaksi dalam keluarga.

  1. Peranan gabungan terapeutik (role of therapeutic alience)
  2. Penilaian keluarga
  3. Melaksanakan strategi behavioral

Konsep-konsep Logotherapy dalam Konseling Keluarga

Konsep dasar logotherapy ditulis oleh Frakl pada tahun 1946 dalam bahasa Jerman, dan pada tahun 1959 dalam bahasa Inggris. Publikasi dan konsep-konsep logotherapy populer setelah keluar tulisan Frankl dalam bukunya “Mans’ Search for Meaning” pada tahun 1962. Logotherapy bertujuan agar klien yang  menghadapi masalah dapat menemukan makna dari penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan cinta.

DAFTAR PUSTAKA

Willis Sofyan. 2009. Konseling Keluarga. Bandung: Alfa Beta.

Anda suka dengan artikel Aplikasi Teori-Teori Konseling ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Aplikasi Teori-Teori Konseling" :

Ditulis dalam Kategori Psikologi.