BAB I

PENDAHULUAN

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) bukan merupakan barang baru dalam dunia pendidikan. Belajar dengan sendirinya dalam bentuk keaktifan siswa walaupun, tentu saja, dalam derajat yang berbeda-beda. Selanjutnya keaktifan itu dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam seperti misalnya : mendengarkan (ceramah), mendiskusikan, membuat sesuatu, menulis laporan dan sebagainya. Keaktifan-keaktifan yang lebih penting, bahkan lebih sulit diamati, ialah menggunakan khazanah pengetahuan dalam memecahkan masalah baru, menyatakan gagasan dengan bahasa sendiri, menyusun suatu rencana satuan pengajaran atau eksperimen IPA, dan sebagainya. Akan tetapi semuanya itu harus dapat dipulangkan kepada satu dalam kegiatan belajar-mengajar yang bersangkutan; asimilasi dan akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langung terhadap balikannya dalam pembentukan keterampilan, dan penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan nilai dan sikap. Dengan perkatan lain, keaktifan dalam rangka CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, meskipun untuk mencapai maksud ini, dalam banyak hal, dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam pelbagai bentuk keaktifan fisik.

Salah satu cara meninjau derajat ke-CBSA-an di dalam peristiwa belajar mengajar adalah dengan mengkonsepsikan rentangan antara dua kutub gaya mengajar:

Instructor – Contered Instruction dan Student – Contered Instruction.

Dengan sengaja digunakan perkataan rentangan karena ke-CBSA-an memang bukan merupakan suatu dikotomi, dalam arti seorang pengajar dapat dikatakan menggunakan CBSA atau tidak menggunakan CBSA. McKeachie mengemukakan tujuh dimensi di dalam proses belajar mengajar, yang didalamnya terjadi variasi kadar ke-CBSA-an.

BAB II

PEMBAHASAN

Cara Belajar Siswa Aktif : Apa, Mengapa dan Bagaimana

Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif

Gagasan belajar aktif atau peng-aktiv-an siswa dalam proses belajar mengajar pada dasarnya bukanlah suatu barang baru dalam proses pembelajaran. Bagi dunia pendidikan Indonesia, tahun 1977 merupakan tahun kebangkitan kembali gagasan yang dikemas dengan nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Dikatakan kebangkitan kembali karena (a) untuk jangka waktu yang cukup lama azas belajar aktif ini memang sering diabaikan atau upaya perwujudannya dalam proses belajar-mengajar kurang mendapatkan perhatian dari guru, dan (b) pada hakekatnya setiap proses belajar dengan sendirinya mengandung keaktivan atau dengan perkataan lain, yang namanya belajar tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya keaktivan dari siswa yang belajar, mulai dari yang sangat minimal sampai kepada yang sangat optimal. Dengan demikian yang menjadi issu pokok dalam konsep CBSA bukanlah “ada-tidak adanya” keaktivan tersebut dalam proses, melainkan “kadar/ derajat keaktivan” siswa dalam proses belajar.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan CBSA diartikan sebagai “anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan. Pelibatan intelektual-emosional/ fisik siswa serta pengoptimalisasi dalam pembelajaran diarahkan untuk membelajarkan siswa bagiamana belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan nilai” (Dimyati & Mudjiono, 1999, h. 115).

Rasional CBSA

Penerapan CBSA dalam proses pembelajaran bertumpu pada sejumlah rasional. Yang terpenting diantaranya ialah rasional yang berkaitan langsung dengan upaya perwujudan tujuan utuh pendidikan serta karakteristik manusia dan masyarakat masa depan Indonesia yang dikehendaki.

Dewasa ini, seperti diketahui, kita telah memasuki ambang “masyarakat belajar”, yaitu masyarakat yang menghendaki pendidikan seumur hidup. Dalam latar pendidikan seumur hidup, proses belajar mengajar di sekolah seyogyanya mengemban misi utama, yaitu membelajarkan peserta didik sehingga pada saatnya nanti peserta didik memiliki kemampuan untuk belajar mandiri sebagai basis dari pendidikan seumur hidup.

Sebagaimana telah diungkapkan bahwa meskipun telah lama dipahami bahwa belajar memerlukan keterlibatan secara aktif orang yang belajar, kenyataan masih menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Dalam proses pembelajaran masih tampak adanya kecenderungan meminimalkan peran dan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak berperan sebagai peserta pasif. Proses pembelajaran sebagaimana digambarkan, jelas tidak mungkin mampu mempersiapkan peserta didik untuk mampu bersaing dalam kehidupan dan menyesuaikan diri terhadap berbagai tantangan yang makin berat. Pembelajaran seyogyanya diorientasikan pada pembentukan kemampuan bersikap dan berfikir kritis dibangun di atas konsep-konsep dari sistem filosofis yang kuat, dilakukan melalui proses pengajaran yang memberikan berbagai peluang dan pengalaman yang bermakna.

Secara umum, esensi tujuan pendidikan, menurut T. Raka Joni (1980) adalah pembentukan manusia yang bukan hanya dapat menyesuaikan diri hidup di dalam masyarakatnya, melainkan lebih dari pada itu, mampu menyambung bagi penyempurnaan masyarakat itu sendiri. Ini berarti bahwa para lulusan suatu lembaga pendidikan bukan hanya menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakatnya, akan tetapi juga, apabila itu diperlukan, juga mampu mendeteksi kekurangan-kekurangannya sehingga memungkinkan penyempurnaannya.

Prinsip-Prinsip CBSA

Pendekatan CBSA, seperti telah diisyaratkan, pada dasarnya merupakan gagasan konseptual dan bukan merupakan suatu prosedural-perseptual. Dengan demikian penerapan CBSA dalam pembelajaran diupayakan dengan menerapkan sejumlah prinsip dan rambu-rambu, sementara pada sisi lain dipergunakan sejumlah indikator untuk memperkirakan kadar keterlibatan siswa tersebut.

Dalam penerapan CBSA terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan baik yang menyangkut siswa yang belajar maupun guru yang mengelola proses pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut, menurut T. Raka Jeni (1993) ialah (i) penyediaan pijakan dan tuntunan kognitif oleh guru sehingga siswa terbantu untuk memberikan makna terhadap pengalaman belajarnya, (ii) kegiatan belajar mengajar yang beraneka ragam dari guru, (iii) pemberian tugas/ kesempatan bagi siswa untuk berbuat langsung guna mengkaji, berlatih/ menghayati isi kurikulum, (iv) guru berusaha memenuhi kebutuhan individu siswa, (v) guru berupaya melibatkan sebanyak mungkin siswa dalam interaksi belajar mengajar, (vi) guru mencek pemahaman siswa, dan (vii) guru memberi balikan.

Sumber lain mengemukakan tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan CBSA, yaitu (i) merupakan variasi kegiatan dan suasana belajar dengan penggunaan berbagai strategi belajar mengajar, (ii) menumbuhkan prakarsa siswa untuk aktif dan kreatif dalam kegiatan belajar mengajar, (iii) mengembangkan berbagai pola interaksi dalam proses belajar mengajar, baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa, (iv) menggunakan berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (by utilization), (v) pemantauan yang instensif dan diikuti dengan pemberian balikan yang spesifik dan segera (P2SD – Ditdikdas, 1989/ 1990 : 2-5).

Penerapan CBSA dalam Pembelajaran

Pendekatan CBSA dapat diterapkan dalam pembelajaran dalam bentuk-bentuk : 1) Pemanfaatan waktu luang, 2) pembelajaran individual, 3) belajar kelompok, 4) bertanya jawab, 5) belajar mandiri, 6) umpan balik, 7) pendayagunaan lingkungan masyarakat, 8) pengajaran unit, 9) pameran/ display hasil karya siswa, dan 10) mempelajari buku sumber (teks).

Beberapa diantaranya akan diuraikan di bawah ini :

1)                  Pemanfaatan waktu luang.  Pemanfaatan waktu luang di rumah oleh siswa memungkinkan dilakukannya kegiatan belajar aktif, dengan cara menyusun rencana belajar, memilih bahan untuk dipelajari, dan menilai penguasaan bahan bahan sendiri. Jika pemanfaatan waktu tersebut dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan memberikan manfaat yang baik dalam menunjang keberhasilan belajar di sekolah.

2)                  Pembelajaran individual. Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perbedaan individu tiap siswa, seperti : minat abilitet, bakat, kecerdasan, dan sebagainya. Guru dapat mempersiapkan/ merencanakan tugas-tugas belajar bagi para siswa, sedang pilihan dilakukan oleh siswa masing-masing, dan selanjutnya tiap siswa aktif belajar secara perseorangan. Teknik lain, kegiatan belajar dilakukan dalam bentuk kelompok, yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan, minat bakat yang sama.

3)                  Belajar kelompok. Belajar kelompok memiliki kadar CBSA yang cukup tinggi. Teknik pelaksanaannya dapat dalam bentuk kerja kelompok, diskuis kelompok, diskusi kelas, diskusi terbimbing, dan diskusi ceramah. Dalam situasi belajar kelompok, masing-masing anggota dapat mengajukan gagasan, pendapat, pertanyaan, jawaban, kritik dan sebagainya. Siswa aktif berpartisipasi, berelasi dan berinteraksi satu dengan yang lainnya.

4)                  Bertanya jawab. Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa, dan antar kelompok siswa dengan kelompok lainnya memberikan peluang cukup banyak bagi setiap siswa belajar aktif. Kadar CBSA-nya akan lebih besar jika pertanyaan-pertanyaan tersebut timbul dan diajukan oleh pihak siswa dan dijawab oleh siswa lainnya. Guru bertindak sebagai pengatur lalu lintas atau distributor, dan dianggap perlu guru melakukan koreksi dan perbaikan terhadap pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut.

5)                  Belajar Inquiry/ Discovery (Belajar Mandiri). Dalam strategi belajar ini, siswa melakukan proses mental intelektual dalam upaya memecahkan masalah. Dia sendiri yang merumuskan suatu masalah, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan serta mengaplikasikan hasil belajarnya. Dalam konteks ini, keaktifan siswa belajar memang lebih menonjol, sedangkan kegiatan guru hanya mengarahkan, membimbing, memberikan fasilitas yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan inkuirinya.

BAB III

PENUTUP

CBSA merupakan suatu upaya dalam pembauran pendidikan dan pembelajaran. CBSA bukan hal baru dalam pendidikan dan pengajaran. CBSA merupakan konsekuensi logis dalam pembelajaran dan pengajaran. Tidak ada proses belajar tanpa keaktifan anak didik yang belajar. Semua komponendalam sekolah harus mendalami seluk beluk CBSA mulai dari pengertian CBSA, setelah itu mengedepankan rasionalitas dan memperhatikan prinsip-prinsip CBSA. Sehingga penerapan CBSA dalam pembelajaran lebih efektif. Dengan metode CBSA kualitas pendidikan bisa ditingkatkan, CBSA dapat berjalan apabila diinternaliasasikan doktrinnya dalam dunia pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, J.J. Drs., Dip. Ed. Drs. Moedjiono. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset. 1992.

Djamarah, Syaiful Bahri, Drs. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2000.

Salam …

Anda suka dengan artikel Rasional Dan Prinsip-Prinsip CBSA ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Rasional Dan Prinsip-Prinsip CBSA" :