Pernah nonton kuis yang ditayangkan di sebuah channel televisi swasta berjudul Superdeal 2 Milyar? Malam ini baru nonton itu. Baru tau apa yang dilakukan oleh presenter kepada peserta kuis. Ceritanya, hadiah utamanya adalah uang senilai 2 milyar. Hadiah utama akan didapat oleh seorang peserta jika di akhir sesi ia dapat membuat penunjuk yang mengarah pada sebuah roda yang bertuliskan angka-angka sejumlah rupiah berada pada nilai 2 milyar. Itu layaknya seperti sebuah permainan judi di kasino dengan sebuah dadu dan lingkaran yang diputar oleh bandar. Hmmm … saya yakin bahwa telah ada manipulasi alat yang digunakan untuk kuis tersebut. Bakal bangkrut lah produsernya jika kondisi alatnya normal, memungkinkan setiap orang pulang dengan 2 milyar pada tiap malam penayangannya. Hehe …

Sebelum episode final itu, di awal permainan, salah seorang peserta yang berhak mendapat hadiah hanya perlu memilih dari sekian banyak yang disediakan. Jika seseorang telah memilih hadiah A misalnya, presenter akan berjabat tangan dengan menanyakan : “Deal?”, jika dijawab “Deal”, berarti pilihan jatuh. Pilihan yang masih mungkin diganti. Presenter kemudian akan mempengaruhi pilihan awal peserta dengan menawarkan hadiah yang lain, di tempat yang lain pula. Bisa di tirai, amplop, saku atau tempat lain. Siapa yang tak bergeming jika ditawari dengan hadiah yang beraneka semisal mobil, motor, laptop, perabot, gadget, dan lain sebagainya. Begitu seterusnya. Tiap kali seseorang memilih sebuah hadiah, presenter akan menawarinya untuk memilih hadiah lain yang juga tersembunyi di sebuah tempat.

Melihat dari sisi negatifnya, saya ingin mengatakan bahwa Nonton SuperDeal 2 Milyar hanya akan membuat kita merasa tidak bersyukur atas nikmat yang telah diterima. Salah seorang peserta misalnya, telah memilih tirai nomor 1, kemudian ditawari dengan hadiah dalam sebuah amplop. Ia berpindah hati, memilih amplop. Setelah terjadi kesepakatan, hadiah yang dibuka adalah hadiah yang ditolak, yakni hadiah pada tirai nomor 1. Kalau hadiah nomor 1 ternyata adalah mobil (misalnya), peserta pasti akan sangat menyesal karena telah menolaknya. Pandangan kembali terfokus pada pilihan amplop. Sebelum amplop dibuka, presenter kembali menawari hadiah lain di sakunya. Peserta kembali goyah, akhirnya memilih saku. Halah … amplop dibuka, isinya, sebuah paket wisata senilai 30 juta. Dan ia makin menyesal, telah menolak sebuah hadiah besar. Kini, tiba masanya hadiah yang terakhir ia pilih, yang ada dalam saku presenter. Apa yang terjadi? Ia bisa saja mendapatkan Zonk (hadiah kosong) atau hadiah yang nilainya lebih rendah dari hadiah di tirai 1 dan amplop. Apa peserta tak merasa begitu menyesal menolak hadiah pertama dan kedua? Saya yakin pasti iya.

Efeknya bukan sependek itu. Sepanjang malam ia akan menyesali perbuatannya karena telah melakukan kebodohan dengan menolak hadiah pertama dan kedua. Akhirnya tak bersyukur atas hadiah yang ia bawa pulang. Pilih tebu malah entO’ BongkEng. Memilih tebu, tapi malah mendapatkan glagah (Tumbuhan sejenis tebu yang tumbuh di tepi sungai, rasanya tak manis pula).

Bagi penonton, lain lagi efek ceritanya. Akan ada orang yang mengomentari, mengata-ngatai peserta atas kebodohan yang dilakukannya, membayangkan bahwa dirinya yang mendapatkan hadiah, dan berbagai macam efek negatif lainnya. Lantas akan sampai pada sebuah level layaknya yang pepatah katakan : taman tetangga kadang memang terlihat lebih hijau.

Yah, saatnya untuk menentukan tontonan yang pantas menjadi tuntunan bagi diri. Apalagi ini menjelang Ramadhan. Akan banyak tontonan di pagi, siang, senja dan petang. Semuanya akan memberikan efek. Komisi Penyiaran Indonesia mestinya bekerja lebih keras lagi untuk menyaring dan memilih tontonan yang pantas dikonsumsi oleh masyarakat.

Hmmm ..

Anda suka dengan artikel Tontonan Untuk Tuntunan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kelebihan Dan Kekurangan Bentuk Soal Dalam Pembelajaran. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Tontonan Untuk Tuntunan" :

Ditulis dalam Kategori Catatan MasBied.