Suatu ketika, seseorang mengambil sebuah sepeda motor yang sedang terparkir. Mengambil sesuatu yang bukan merupakan haknya adalah sebuah tindakan pencurian. Dalam melakukan operasi pencurian tersebut, ia ketahuan dan mencoba melarikan diri. Dan seperti yang mungkin sudah kita duga, bahkan mungkin ada yang menganjurkan, ia mengalami eigenrichting, ia harus menjalani ‘pengadilan massa’ ataupun dibabak-beluri oleh massa. Aparat ? Tidak ada pada saat itu. Dan hasilnya sang pencuri harus merelakan nyawanya sebagai sebuah harga motor yang ‘hanya hampir’ dicurinya. Ia tewas dengan menggenaskan dihujani oleh batu, pukulan, tendangan dan cacian. Ia terbaring di jalan dan dibiarkan teronggok bagai sampah. Para pengeroyok, si ‘hakim-hakim’, sang ‘jaksa-jaksa’ dan ‘eksekutor-eksrekutor’ itu pun melakukan penggeledahan. Di kantong sang pencuri terdapat sebuah resep yang belum ditebus dengan berlabel nama Ny. X yang kemudian dicocokkan dengan tanda pengenal sang pencuri. Ternyata, Ny. X adalah isteri tercinta dari sang pencuri. Ny. X sedang terbaring sakit parah dan membutuhkan obat yang tertera pada resep. Ny. X menjadi sang ‘juara mengharap satu’, obat tak kunjung datang dan mayat sang suamilah yang tiba. Tragis..!

Inilah sepengalan kisah nyata yang terukir dalam kilasan sejarah manusia yang mungkian jarang melakukan pencatatan terhadap tragedi serupa. Saya yakin, anda punya kesimpulan yang sama tentang motif sang pencuri untuk melakukan tindakan terkutuk tersebut. Ia pasti sedang terdesak, Ia terpaksa melakukan dan melakoninya, karena ia bermain dalam panggung drama kehidupan, teater kesedihan dalam lakon cerita kemiskinan yang mengharuskan ia mencari uang dengan cara yang nota bene adalah pencurian.

Kisah ini sesaat membuat saya termenung dan terpekur. Pikiran saya melayang, masygul dan gundah gulana. Sesaat, saya berfikir tentang bagaimana Tuhan sebagai “Sang Hakim Agung”, menghadapi perkara macam ini. Terdakwanya adalah sang pencuri yang telah melakukan dosa individual, ataukah massa pengeroyoklah si terdakwa yang pantas duduk di kursi pesakitan karena  melakukan kesalahan berupa penghilangan nyawa orang lain ?

Kalau kita mau lebih menganalisis, menurut saya, sang pencuri adalah korban. Korban dari dosa sosial kita semua yang mempunyai keadaan ‘berkelebihan’ darinya yang dalam keadaan cul de sac dan tanpa melakukan distribusi kekayaan berupa menunjukkan jalan finansial pada mereka. Dosa sosial dari orang-orang yang menimbun hartanya dan menjadikan perutnya adalah kuburan. Cuma itu ? Tidak ! Ia juga korban dari kesalahan pembangunan dari rezim yang sama sekali tidak pernah melirik apalagi memihak mereka. Buah dari kemiskinan yang ‘diciptakan’. Orang-orang miskin yang jumlahnya sekian banyak tersebut adalah korban dari sistem sosial dan bukan karena kesalahan individual yang terkesan klise, malas, bodoh dan lain-lainnya. Mereka adalah korban dari bantuan JPS, pajak, zakat, khumus dan infak yang tidak sampai dan terpotong oleh para pejabat penghisap.

Para pengeroyok juga merupakan korban. Mereka adalah korban dari gagalnya para penegak hukum membangun supremasi hukum. Mereka adalah korban-korban dari para penegak hukum yang berperan ganda menjadi para penggerogot hukum. Mereka sakit secara sosial, karena bakteri hakim sogokan, jaksa yang terjual, polisi yang hanya memikirkan rupiah dan sarjana-sarjana hukum yang bangga karena berhasil meloloskan kliennya dari jerat hukum. Mereka gelap mata, tak punya pelindung, dan melakukan teknik perlindungan  untuk melindungi kepemilikan mereka yang pada saat yang sama tidak mendapat perlindungan hukum dari para penegak hukum

Lalu siapakah yang paling bertanggungjawab ? Mereka semuanya hanyalah korban dari rezim yang lebih memperhatikan kursi kepresidenan ataupun jabatan daripada perut dan keadaan mereka. Mereka semuanya korban dari orang-orang elit yang sama sekali enggan berpaling pada mereka. Mereka semuanya adalah korban dan bukan tersangka…

Tuhan yang adil pasti mempunyai hukuman yang pas bagi mereka, dan kita hanya bisa mendoakan mereka yang menjadi korban dan melaknat orang-orang yang menjadikan seseorang atau suatu kaum sebagai korban.

Dan hanya Dia Yang Maha Tahu (Zainal A.M. Husein – Sekretaris Pelaksana Yayasan RausyanFikr)

Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia.

Anda suka dengan artikel Kemiskinan Di Indonesia, Antara Dosa Sosial Dan Dosa Individual ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang 5.000 Klik Sehari! 1.000.000 Klik, Akhirnya!. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Kemiskinan Di Indonesia, Antara Dosa Sosial Dan Dosa Individual" :

Ditulis dalam Kategori Masalah Soial.