Tak banyak dari kita yang sadar hal ini. Sebuah penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat pada beberapa ratus karyawan menghasilkan kesimpulan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan untuk menjaga komunikasi yang baik dalam perusahaan adalah kemampuan mendengarkan yang baik. Dan pada kenyataannya memang begitu adanya. Kebanyakan dari kita selalu lebih senang menjadi pembicara yang atraktif, yang otoriter, yang agresif, dibandingkan dengan menjadi pendengar yang baik ketika terjadi percakapan antar sesama. Lihat saja, selalu ada orang yang menjadi sentral perhatian dalam diskusi-diskusi kecil. Selalu ada orang yang omongannya bahkan lebih besar daripada besarnya gedung yang ditempati. Yang bicaranya lebih banyak daripada banyaknya jumlah peserta pembicaraan.

Logika yang paling sering digunakan untuk memperingatkan kita tentang mendengar adalah : Tuhan memberikan kita dua buah telinga, namun hanya memberikan bagi kita satu buah mulut. Kalau mau di bilang adil, ya yang banyak jumlahnya mesti diberi proporsi besar. Sedangkan yang kecil diberi porsi secukupnya. Anda pasti paham maksud saya. Telinga yang dua buah ini mestinya diberikan tugas lebih lama dalam keseharian kita untuk mendengarkan. Bukan justru mulut yang cuma satu ini yang selalu menjadi pusat hidup. Kerjanya ngomoooong aja. Gak pernah mau jadi pendengar.

Ketika salah satu orang dari kita patah hati, kita selalu membutuhkan orang yang mau mendengarkan curahan hati kita. Yang mau mendengarkan tiap desah cerita kita. Meski pun kita mengulang-ulang kalimat yang sama. Maksud yang sama, dan kesedihan yang sama. Saat kita bercerita tentang sakit hati kita, kita tidak pernah membutuhkan orang yang berkata “Mmmm … Kamu baru begitu, saya dulu waktu patah hati malah begini … begini … begini”. Menjadi pendengar yang baik memang sangat penting.

Seberapa banyak masalah yang muncul dalam kehidupan kita akibat salah satu dari kita tidak mau menjadi pendengar? Berapa banyak dari keluarga yang retak dan hancur berantakan akibat tidak ada yang mau jadi pendengar? Berapa banyak dari organisasi yang bubar hanya gara-gara ketidakmampuan anggotanya untuk saling mendengar? Dan seberapa banyak siswa yang gagal dalam ujiannya karena tidak mau mendengar perintah guru? (Padahal waktu itu kan guru sudah berkata, Pilih jawaban yang benar! Dasar siswa tidak mau mendengarkan, jawaban yang salah dipilih, jadinya tidak lulus deh! Hehehe … Ini sih bukan karena tidak mendengar perintah guru, dasar siswanya aja tidak tahu mana jawaban yang benar

Satu pertanyaan mendasar bagi kita : SUDAHKAH KITA MENJADI PENDENGAR YANG BAIK? Semoga jawabannya : YA

Anda suka dengan artikel Mendengar Itu Lebih Sulit ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Facebook Akan Ditutup?. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Mendengar Itu Lebih Sulit" :

Ditulis dalam Kategori Uncategorized.