1. A. Pengertian Aqidah Akhlak
    1. Pengertian Aqidah

Secara etimologis (lughat), aqidah berakar kata dari kata aqada-ya’qidu-aqdan-aqidatan. Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti keyakinan,[1] dapat pula diartikan (???? ) ??? berarti mengingat, menyimpulkan, menggabungkan.[2]

Sebagaimana diketahui bahwa dasar pokok utama dalam Islam adalah aqidah atau keyakinan secara etimologik, aqidah berarti credo, keyakinan hidup, dan secara khusus aqidah berarti kepercayaan dalam  hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.[3] Menurut Arifin Zainal Dzamaris, aqidah istilah suatu yang dianut oleh manusia dan diyakini apakah berwujud agama atau lainnya.[4]

  1. 2. Ruang Lingkup Pembahasan Aqidah

Obyek materi pembahasan mengenai aqidah pada umumnya adalah Arkan Al-Iman, yaitu:

  1. Iman kepada Allah swt.
  2. Uman kepada malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk rohani lainnya seperti Jin, iblis dan syaitan).
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada Rasul Allah
  5. Iman kepada hari akhir
  6. Iman kepada taqdir Allah.[5]

Aqidah Islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak yang Maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujudnya. Kemaha-Esaan Allah dalam zat, sifat, perbuatan dan wujdunya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman.[6]

Aqidah pokok yang perlu dipercayai oleh tiap-tiap muslimin, yang termasuk unsur pertama dari unsur-unsur keimanan ialah mempercayai:

  1. Wujud (ada) Allah dan wahdaniyat (keesaannya) sendiri dalam menciptakan, mengatur dan mengurus segala sesuatu. Tidak bersekutu dengan siapapun tentang kekuasaan dan kemuliaan. Tiada menyerupainya tentang zat dan sifatnya. Hanya Dia saja yang berhak disembah, dipuja dan dimuliakan secara istimewa. Kepadanya saja boleh menghadapkan permintaan dan menundukkan diri tidak ada pencipta dan pengatur selain darinya.

Firman Allah dalam QS. Al-Ikhlas (112): 1-4.

Terjemahnya:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.[7]

  1. Bahwa Tuhan memilih di antara hamba-Nya, yang dipandang layak untuk memikul risalah-Nya (putusan-Nya) kepada rasul-rasul itu disampaikan wahyu dengan perantara malaikat. Mereka berkewajiban menyeru kepada keimanan dan mengajak mengerjakan amal saleh (perbuatan baik). Karena itu wajiblah beriman kepada segenap rasul yang disebut dalam Al-Qur’an
  2. Adanya malaikat yang membawa wahyu dari Allah kepada rasul-rasul-Nya juga mempunyai kitab-kitab suci yang merupakan kumpulan wahyu Ilahi dan isi risalah Tuhan.
  3. Mempercayai apa yang terkandung dalam risalah itu. Di antaranya Iman kepada hari kebangkitan dan pembalasan. Juga iman kepada pokok-pokok syariat dan peraturan-peraturan yang telah dipilih Tuhan sesuai dengan keperluan hidup manusia dan selaras dengan kesanggupan mereka, sehingga tergambarlah dengan nyata keadilan, rahmat, kebesaran dan hikmat kebijaksanaan Ilahi.[8]

Adapun penjelasan ruang lingkup pembahasan aqidah yang termasuk dalam Arkanul Iman, yaitu:

  1. Iman kepada Allah swt.

Pengertian iman kepada Allah ialah:

1)     Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah

2)     Membenarkan dengan yakin keesan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam, makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluknya.[9]

3)     Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari sifat kekurangan yang suci pula dari menyerupai segala yang baharu (makhluk).

Allah zat yang maha mutlak itu, menurut ajaran Islam, adalah Tuhan yang Maha Esa. Segala sesuatu yang mengenai Tuhan disebut ketuhanan.[10]

Firman Allah QS. Al-Baqarah (2): 163.

Terjemahnya:

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.[11]

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk, cara bagaimana memperoleh keimanan terhadap aqidah pokok. Selanjutnya Al-Qur’an memberikan pula petunjuk sekitar ketuhanan dengan menerangkan nama. Nama dan sifat-sifat Tuhan, yang menggambarkan zat Allah, kekuasaan-Nya, kebijaksanaan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan dan layak baginya wajib kita iman.

Dalam mengimani Allah swt. bukan berarti Al-Qur’an memperkenalkan Allah swt. sebagai sesuatu yang bersifat ide atau material, yang tidak dapat diberi sifat atau digambaran dalam kenyataan atau dalam keadaan yang dijangkau oleh akal manusia.

Karena itu Al-Qur’an menempuh cara pertengahan dalam memperkenalkan Tuhan, Dia, menurut Al-Qur’an antara lain Maha Mendengar, maha melihat, hidup, berkehendak, menghidupkan dan mematikan, Ar-Rahman.[12]

Firman Allah QS. Al-A’raf (7): 80.

Terjemahnya:

Ayat di atas mengajak manusia untuk berdoa/menyerunya dengan sifat-sifat-Nya, nama-nama yang terbaik itu dalam arti mengajak untuk menyesuaikan kandungan permohonan dengan sifat yang disandang Allah, sehingga jika seorang memohon rezeki ia menyeru Allah dengan sifat ar-Razak (pemberi rezeki).[13]

Dengan demikian setelah kita mengimani Allah, maka kita membenarkan segala perbuatan dengan beribadah kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, mengakui bahwa Allah swt. bersifat dari segala sifat, dengan ciptaan-Nya di muka bumi sebagai bukti keberadaan, kekuasaan, dan kesempurnaan Allah swt.[14]

  1. Iman Kepada malaikat-malaikat-Nya

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata malaikat diartikan makhluk Allah yang taat, diciptakan dari cahaya yang mempunyai tugas khusus dari Allah.[15]

Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk yang dinamai “malaikat” yang tidak pernah durhaka kepada Allah, yang senantiasa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Lebih tegas, iman akan malaikat ialah beritikad adanya malaikat yang menjadi perantara antara Allah dengan rasul-rasul-Nya, yang membawa wahyu kepada rasul-rasul-Nya.[16]

Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyeru kita mengimankan sejenis makhluk yang gaib, yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat dirasa oleh panca indera, itulah makhluk yang dinamai malaikat.

Firman Allah swt. QS. Fushshilat (41): 30.

Terjemahnya:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.[17]

Malaikat selalu memperhambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perintah-Nya, serta tidak pernah berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah swt.

Firman Allah swt. QS. Al-Anbiya (21): 27

Terjemahnya:

Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.[18]

Mengenai nama-nama dan tugas para malaikat tidak bisa diperkirakan sesama mereka juga ada perbedaan dan tingkatan-tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukannya baik yang berada dan tugas di alam ruh maupun ada yang bertugas di dunia.

Di antara nama-nama dan tugas malaikat adalah:

1)     Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu kepada Nabi-nabi dan rasul

2)     Malaikat Mikail, bertugas mengatur hal-hal yang berhubungan dengan alam seperti melepaskan angin, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

3)     Malaikat Israfil, bertugas meniup terompet di hari kiamat dan hari kebangkitan nanti.

4)     Malaikat Maut (Malaikal maut) bertugas mencabut nyawa manusia dan makhluk hidup lainnya.

5)     Malaikat Raqib dan Atid, bertugas mencatat amal perbuatan manusia

6)     Malaikat ridwan bertugas menjaga surga dan memimpin para pelayan surga

7)     Malaikat Malik, bertugas menjaga neraka dan pemimpin para malaikat menyiksa penghuni neraka

8)     Malaikat yang bertugas memikul Arasy

9)     Malaikat yang menggerakkan hati manusia bentuk berbuat kebaikan dan kebenaran

10)Malaikat yang bertugas mendoaka orang-orang yang beriman supaya diampuni oleh Allah segala dosa-dosanya diberi ganjaran surga dan dijaga dari segala keburukan dan doa-doa lain.[19]

Dengan beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, maka kita akan lebih mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah swt. lebih bersyukur akan nikmat yang diberikan dan berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala larangannya. Karena malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia.

  1. Iman kepada kitab-kitab Allah swt.

Keyakinan kepada kitab-kitab suci merupakan rukun iman ketiga. Kitab-kitab suci itu memuat wahyu Allah. Beriman kepada kitab-kitab Tuhan ialah beritikad bahwa Allah ada menurunkan beberapa kitab kepada Rasulnya, baik yang berhubungan itikad maupun yang berhubungan dengan muamalat dan syasah, untuk menjadi pedoman hidup manusia. baik untuk akhirat, maupun untuk dunia. Baik secara individu maupun masyarakat.[20]

Jadi, yang dimaksud dengan mengimani kitab Allah ialah mengimani sebagaimana yang diterangkan oleh Al-Qur’an dengan tidak menambah dan mengurangi. Kitab-kitab yang diturunkan Allah telah turun berjumlah banyak, sebanyak rasulnya. Akan tetapi, yang masih ada sampai sekarang nama dan hakikatnya hanya Al-Qur’an. Sedangkan yang masih ada namanya saja ialah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa dan Zabur kepada Daud. [21]

Firman Allah swt. QS. Al-Furqan (25): 35

Terjemahnya:

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu).[22]

Kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum kitab suci Al-Qur’an tidak bersifat universal seperti Al-Qur’an, tapi hanya bersifat lokal untuk umat tertentu. Dan tidak berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, tidak memberi jaminan terpelihara keaslian atau keberadaan kitab-kitab tersebut sepanjang zaman sebagaimana halnya Allah memberikan jaminan terhadap Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang memuat wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad selama masa kerasulannya.[23] Al-Qur’an merupakan kitab suci yang mempunyai kesempurnaan di atas kitab-kitab sebelumnya atau menjadi penyempurna, kelebihan Al-Qur’an tidak dapat diragukan lagi.

Firman Allah swt. dalam QS. Al-Isra’ (17): 88

Terjemahnya:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.[24]

Al-Qur’an al-karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu diantaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin Allah, dan ia selalu dipelihara.[25]

Firman Allah QS. Al-Hijr (15): 9.

Terjemahnya:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[26]

Dari berbagai penjelasan dan ayat-ayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

  1. Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang memberi petunjuk kepada manusia dari berbagai persoalan-persoalan aqidah, syari’ah, ibadah, tasyri, akhlak demi kebahagiaan hidup.
  2. Tiada pertentangan antara Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan
  3. Membenarkan atau menjalankan teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Qur’an bertentangan dengan tujuan pokok atau sifat Al-Qur’an dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.
  4. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang baik.[27]

Al-Qur’an menyangkut segala hal. Banyak ayat secara terperinci membahas tentang kehidupan dunia ini dan sesudahnya yang dijelaskan dengan cara yang amat masuk akal.[28] Kesederhanaan Al-Qur’an membuatnya dipahami oleh semua orang sehingga mereka yang tidak bertakwa atau bahkan membenci Allah, memandang Al-Qur’an dengan prasangka buruk akan dapat mengambil kebaikan dari ajaran yang agung.[29]

  1. Iman kepada Nabi dan Rasul

Yakin pada para Nabi dan rasul merupakan rukun iman keempat. Perbedaan antara Nabi dan Rasul terletak pada tugas utama. Para nabi menerima tuntunan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu itu kepada umat manusia. Rasul adalah utusan (Tuhan) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterima kepada umat manusia.[30]

Di Al-Qur’an disebut nama 25 orang Nabi, beberapa diantaranya berfungsi juga sebagai rasul ialah (Daud, Musa, Isa, Muhammad) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterima kepada manusia dan menunjukkannya cara pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana manusia biasa lainnya Nabi dan Rasul pun hidup seperti kebanyakan manusia yaitu makan, minum, tidur, berjalan-jalan, mati dan sifat-sifat manusia lainnya. Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi sekaligus Rasul terakhir tidak ada lagi rangkaian Nabi dan Rasul sesudahnya.

Firman Allah QS. Al-Ahzab (33): 40.

Terjemahnya:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[31]

Sebagai Nabi yang terakhir beliau telah menyempurnakan bangunan dinullah yang dimulai dikerjakan secara bertahap oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya. Yang wajib kita imani, sebagai Nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman sampai akhir kiamat.

Seorang muslim wajib beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul-Nya yang telah diutus oleh Allah SWT, baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan namanya. Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul dengan sifat-sifat, kelebihan, keistimewaan satu sama lain, tugas dan mukjizatnya masing-masing seperti yang diperintahkan oleh Allah.

  1. Iman kepada hari Akhir

Rukun iman yang kelima adalah keyakinan kepada hari akhir. Keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian kesatuan rukun iman lainnya, sebab tanpa mempercayai hari akhirat sama halnya dengan orang yang tidak mempercayai agama Islam, itu merupakan hari yang tidak diragukan lagi.

Firman Allah SWT. QS. An-Nisa (4): 87.

Terjemahnya:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.[32]

Hari akhirat ialah hari pembalasan yang pada hari itu Allah menghitung (hisab) amal perbuatan setiap orang yang suda dibebani tanggung jawab dan memberikan putusan ganjaran sesuai dengan hasil hitungan itu.[33]

Pembahasan tentang hari akhir dimulai dari pembahasan tentang alam kubur karena peristiwa kematian sebenarnya sudah merupakan kiamat kecil dan juga karena orang-orang yang sudah meninggal dunia telah memasuki bagian dari proses transisi dari kehidupan di dunia menuju kehidupan di akhirat.

Menurut sebagian ahli tauhid, hari akhirat ialah hari manusia dibangkitkan dari kubur untuk digiring kepada ma’syar, tempat mereka dikumpulkan sementara dan belum lagi ditentukan tempat mereka, surga atau neraka.[34] Dikatakan akhirat, karena hari itu adalah hari penghabisan yang dinantikan oleh makhluk hidup dan tidak ada lagi yang hidup dan ditunggu-tunggu sesudah hari kiamat terjadi.

Keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan keimanan kepada hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna dengan keyakinan tentang adanya hari akhirat. Demi tegaknya keadilan, harus ada suatu kehidupan baru dimana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing.[35]

Firman Allah SWT. QS. Thaha (20): 15.

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.[36]

Hari akhir ini ada baiknya kembali kita ingat bahwa seorang mukmin wajib beriman dengan hari akhir dengan segala proses, peristiwa dan keadaan yang terjadi pada hari itu sesuai dengan apa-apa yang telah diberikan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. tanpa mengurangi dan menambahnya. Keyakinan kepada hari akhirat juga menolong manusia memperkembangkan kepribadiannya.[37]

  1. Iman kepada qada dan qadar

Dalam menciptakan sesuatu, Tuhan selalu berbuat menurut Sunnahnya, yaitu hukum sebab akibat. Sunnahnya ini adalah tetap tidak berubah-ubah, kecuali dalam hal-hal khusus yang sangat jarang terjadi. Sunnah Tuhan ini mencakup dalam ciptaannya, baik yang jasmani maupun yang bersifat rohani.

Makna qadar dan takdir ialah aturan umum berlakunya huykum sebab akibat, yang ditetapkan olehnya sendiri.[38] Definisi segala ketentuan, undang-undang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secara pasti oleh Allah SWT, untuk segala yang ada.[39]

Pengertian di atas sejalan dengan penggunaan qadar di dalam Al-Qur’an berbagai macam bentuknya yang pada umumnya mengandung pengertian kekuasaan Allah SWT, yang termasuk hukum sebab akibat yang berlaku bagi segala makhluk hidup maupun yang mati.

Firman Allah QS. Al-Hijr (15): 21.

Terjemahnya

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.[40]

Untuk memahami takdir, manusia harus hidup dengan ikhtiar, dalam kehidupan sehari-harinya takdir Ilahi berkaitan erat dengan usaha manusia dan diiringi dengan doa dan tawakkal.[41] Seorang muslim wajib beriman dengan qada dan qadar kesalahan dalam memahaminya akan melahirkan dan sikap yang salah pula dalam menempuh di kehidupan di dunia ini.

Ada beberapa hikma yang dapat dipetik dari keimanan kepada qada dan qadar, ini antara lain:

  1. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di dalam semesta ini berjalan sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan pasti oleh Allah SWT.
  2. Mendorong manusia untuk terus beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan baik di dunia maupun di akhirat, mengikuti hukum sebab akibat dari Allah SWT.
  3. Mendorong manusia untuk semakin dekat dengan Allah SWT.
  4. Menanamkan sikap tawakkal dalam diri manusia, karena manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan nasibnya diserahkan kepada Allah SWT.
  5. Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena menyakini apapun yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah SWT.

2. Akhlak

  1. Pengertian akhlak

Secara etimologis (lughat) akhlaq (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khulaq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[42] Prof. KH. Farid Ma’ruf mendefinisikan akhlak adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan tanpa meimbulkan pertimbangan pikiran terlebih dahulu[43].

Di samping istilah akhlak juga dikenal etika dan moral ketiga istilah ini sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap perbuatan manusia. perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlak standarnya adalah Al-Qur’an dan assunah, bagi etika standarnya adalah akal pikiran; dan bagi moral standarnya adalah adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.[44]

Definisi-definisi akhlak dapat dilihat pada lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu:

1)     Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya

2)     Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran

3)     Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar

4)     Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara.

5)     Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan ikhlas semata karena Allah swt, bukan karena ingin mendapat pujian.[45]

Dalam pembinaan akhlak mulia merupakan ajaran dasar dalam Islam dan pernah diamalkan seseorang, nilai-nilai yang harus dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil.[46] Ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Qur’an dikaitkan dengan taqwa, dan taqwa berarti pelaksanaan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Larangan Tuhan berhubungan perbuatan tidak baik, orang bertaqwa adalah orang yang menggunakan akalnya dan pembinaan akhlak adalah ajaran paling dasar dalam Islam.[47]

Dalam persepktif pendidikan Islam, pendidikan akhlak al-karimah adalah faktor penting dalam pembinaan umat oleh karena itu, pembentukan akhlak al-karimah dijadikan sebagai bagian dari tujuan pendidikan. Pendapat Atiyah al-Abrasyi, bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan mencapai kesempurnaan akhlak merupakan tujuan pendidikan Islam.[48]

Firman Allah swt. dalam QS. (29): 45

Terjemahnya:

“… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…”.[49]

Firman Allah swt. dalam QS. (3): 159

Terjemahnya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.[50]

Dari dua ayat di atas sangat jelas menekankan kita untuk menjadikan akhlak sebagai landasan segala tingkah laku yang berasal dari Al-Qur’an. Sebetulnya seluruh ajaran Al-Qur’an adalah akhlak.[51]

  1. Ruang Lingkup Akhlak

Secara rinci akhlak dalam Islam dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

1)     Akhlak manusia terhadap al-khaliq

2)     Akhlak manusia terhadap dirinya sendiri

3)     Akhlak manusia terhadap sesamanya

4)     Akhlak manusia terhadap alam lingkungannya.[52]

Yunahar Ilyas membagi pembahasan akhlak dengan enam bagian, yaitu:

1)     Akhlak terhadap Allah swt.

2)     Akhlak terhadap Rasulullah saw.

3)     Akhlak pribadi

4)     Akhlak dalam keluarga

5)     Akhlak bermasyarakat

6)     Akhlak bernegara.[53]

Prinsip akhlak dalam Islam yang paling menonjol adalah bahwa manusia dalam melakukan tindakan-tindakannya, ia mempunyai kehendak-kehendak dan tidka melakukan sesuatu. Ia harus bertanggung jawab atas semua dilakukannya dan harus menjaga perintah dan larangan akhlak. Tanggung jawab itu merupakan tanggung jawab pribadi muslim, begitupun dalam kehidupan sehari-hari harus selalu menampakkan sikap perbuatan berakhlak. Akan tetapi akhlak bukalah semata-mata hanya perbuatan akan tetapi lebih kepada gambaran jiwa yang tersembunyi.

  1. B. Garis-garis Besar Progaram Pengajaran (GBPP) Bidang Akhlak Aqidah Akhlak.

  1. 1. Pengertian Bidang Sutudi Aqidah Akhlak

Mata pelajaran aqidah akhlak adalah sub mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar yang membahas ajaran agama Islam dalam segi aqidah dan akhlak. Mata pelajaran aqidah akhlak juga merupakan bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam yang memberikan bimbingan kepada siswa agar memahami, menghayati, meyakini kebenaran ajaran Islam serta bersedia mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.[54]

  1. 2. Fungsi Bidang Studi Aqidah Akhlak

Bidang sutudi aqidah akhlak berfungsi

  1. Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.
  2. Pengembangan keimanan dan ketakawaan kepada Allah swt., serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin yang mulai ditanamkan dilingkungan keluarga.
  3. Penyesuaian mental dan peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui aqidah akhlak.
  4. Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Mencegah peserta didik dari hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya asing yang akan dihadapinya sehari-sehari.
  6. Pengajaran tentang informasi dan pengetahuan keimanan dan akhlak
  7. Penyaluran peserta didik untuk mendalami aqidah akhlak pada jenjang pendidikan yang lebih penting.[55]
  1. 3. Tujuan Bidang Sutudi Aqidah Akhlak

Bidang situdi aqidah akhlak bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukkan pengetahuan, penghayatan, pengalaman peserta didik tentang aqidah dan akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, serta berakhak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[56]

  1. 4. Ruang Lingkup Bidang Studi Aqidah Akhlak

Secara garis besar, mata pengajaran aqidah akhlak berisi materi pokok sebagai berikut:

  1. Hubungan manusia dengan akhlak

Hubungan vatikal antara manusia khaliqnya mencakup dari segi aqidah yang meliputi, iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikatnya, iman kepada kitab-kitabnya, iman kepada rasul-rasulnya, dan kepada qada’ dan qadarnya.

  1. Hubungan manusia dengan hamba

Materi yang dipelajari meliputi akhlak dalam pergaulan hidup sesama manusia, kewajiban membiasakan diri sendiri dan orang lain, serta menjauhi akhlak yang buruk.

  1. Hubungan manusia dengan lingkungannya

Materi yang pelajari meliputi akhlak menusia terhadap lingkungannya, baik lingkungan dalam arti yang luas, maupun akhlak hidup selain manusia, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan.[57]

  1. C. Pengertian Kepribadian Siswa.

Kepribadian berasal dari kata pribadi yang berarti keadaan manusia orang perorang atau keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak perorangan. Anton M. Meovono mengatakan kepribadian adalah:

Sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dari orang atau bangsa lainnya.[58]

Menurut Hortmann kepribadian adalah:

Susunan yang teriutegrasikan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebaigaimana yang dinyatakan dalam corak khas yang tegas yang diperlihatkannya kepada orang lain.[59]

Dari kedua defenisi diatas, Witherington menyimpulkan bahawa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Manusia karena keturunannya mula-mula hanya merupakan individu dan berubah menjadi suatu pribadi setelah mendapat pengaruh lingkungan sosial hanya dengan cara belajar.
  2. Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja.
  3. Kepribadian untuk menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan pikiran tersebut ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.
  4. Kepribadian tidak menytakan sesuatu yang bersifat statis seperti bentuk atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang.
  5. Kepribadian tidak berkembang secara fasif saja, tetapi setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lngkungan sosial.

Cermin dari ciri-ciri kepribadian tersebut,  pada dasarnya merupakan unsur yang terkandung dalam diri anak, yang akan dikembangkan melalui pendidikan, sehingga kepribadian anak menampilkan ciri-ciri khas seorang muslim.

Adapun istilah digunkan untuk menggambarkan tentang kepribadian anak menurut Jalaluddin adalah sebagai berikut:

  1. Mentality, yaitu situasi mental yang berhubungan dengan kegiatan mental atau intelektual.
  2. Personality, yaitu ciri seorang yang dengan adanya ciri tersebut menyebabkan ia dapat dibedakan dari orang lain, berdasarkan seluruh sikap yang ditampilkan.
  3. Individuality, yaitu sikap khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sikap yang berbeda dari orang lain.
  4. Identity, yaitu sikap kedirian sebagai suatu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhada sesuatu dari luar.[60]

Dari penjelasan istilah diatas, nampaknya bahwa kepribadian itu adalah hasil dari suatu proses kehidupan yang dijalani seseorang. Oleh karena itu, proses yang dialami tiap orang itu berbeda beda, maka kepribadian tiap-tiap individu pun berbeda.

Namun demikian, karena hidup ini mempunyai tujuan tertentu dan kepribadian sendiri-sendiri ternyata dapat dibentuk dalam hidup. Usaha yang sistematis dan berencana, manusia dapat mengupayakan terbentuknya kepribadian yang diharapkan sebagaimana dalam tap MPR No. II tahun 1983, mengatakan bahwa:

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembagunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.[61]

Analisis secara filosifis mengatakan bahwa hakekat kodrat martabat manusia memiliki potensi esensial sebagai berikut:

  1. Manusia sebagai mahluk pribadi (Individual being)
  2. Manusia sebagai mahluk sosial (Sosial being)
  3. Manusia sebagai mahluk susila (Moral being)
  4. Manusia sebagai mahluk bertuhan.[62]

Perkembangan atau aktualisasi dari potensi esensial manusia secara kesatuan integral akan menentukan kualitas kepribadian seseorang.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka kepribadian dapat dirumuskan sebagai penampilan ciri khas manusia didalam sikap lahiriah dan sikap mental yang dimiliki. Manusia berupaya untuk mempertahankan keberadaan pribadinya masing- masing sebagai jati diri setiap individu. Upaya tersebut akan lebih efektif apabila dilakukan melalui bimbingan dan pengarahan. Pembentukan kepribadian melalui proses yang cukup panjang, yaitu sepanjang kehidupan manusia itu sendiri.

Dari beberapa defenisi atau penjelasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa kepribadian adalah unsur kejiwaan atau psikis serta moral yang tampil dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati secara lahiriah dalam pergaulan bersama. Pribadi bersifat unik ; artinya kepribadian seseorang sifatnya khas dan mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan individu yang satu dengan yang lainnya.

D. Aspek- aspek kepribadian siswa.

Pembentukan kepribadian itu bukan suatu hal yang sekali jadi, melainkan berlangsung secara berangsur-angsur dan mangalami proses perkembangan secara sistematis. Oleh karena itu, pembentukan kepribadian merupakan suatu proses, dan akhir dari perkembangan itu berlangsung secara baik pula atau dengan kata lain kepribadian yang harmonis.

Kepribadian itu disebut harmonis kalau segala aspek-aspek kejiwaan seimbang dengan tenaga yang bekerja seimbang pula sesuai dengan kebutuhan. Sebagaimana firman Allah swt, QS. Al-Baqarah (2):143.

Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.[63]

Adapun aspek-aspek kepribadian yang di maksud oleh Ahmad D. Marimba adalah:

  1. Aspek-aspek kejasmanian, meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya cara berbuat dan berbicara.
  2. Begitu pula aspek kejiwaan yang meliputi aspek-aspek yang tidak mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalanya caa-acara berpikir, sikap dan minat.
  3. Disisi lain aspek kerohanian yang luhur, meliputi aspek kejiwaan yang lebih abstrak, seperti filsafat hidup dan kepercayaan. Ini meliputi sistem  nilai yang telah meresap di dalam kepribadian itu, yang menjadikan bagian pribadi yang mendarah daging dalam kepribadian itu yang mengarahkan dan memberi corak seluruh kehidupan individu seseorang. Bagi orang-orang yang beragama, aspek tersebut yang menuntutnya  kearah kebahagian, bukan saja didunia tetapi juga di akhirat. Dan aspek-aspek inilah yang memberi kualitas kepribadian manusia secara keseluruhannya.[64]

Ketiga aspek kepribadian tersebut yang akan dibentuk melalui pendidikan. Sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian adalah keutuhan jiwa dan mental yang memili akhlak mulia.

Menurut Abdullah al-Darraz, yang di kutip oleh Jalaluddin, mengemukakan bahwa:

Pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian muslim berfungsi sebagai pengisi nilai-nilai keIslaman. Dengan adanya cerminan nilai-nilai yang dimaksud dalam sikap dan perilaku seseorang maka tampillah kepribadian sebagai muslim.[65]

Dalam ajaran Islam tentang wujud pribadi muslim, serta aspek-aspek yang harus dikembangkan adalah identik dengan aspek pribadi manusia seutuhnya, seperti cermin dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, usaha untuk membentuk kepribadian muslim searah dengan usaha-usaha pembentukan pribadi manusia Indonesia seutuhnya melalui jalur pendidikan yang diproses secara Formal lewat pendidikan maupun non Formal.

Adapun aspek-aspek pokok yang memberi corak khusus bagi seorang muslim menurut ajaran Islam yaitu:

  1. Adanya wahyu Tuhan yang membebani kewajiban pokok setiap individu yang harus dilakukan seorang muslim. Kewajiban tersebut mencakup seluruh aspek hidupnya, baik yang menyangkut kewajiban terhadap Tuhan maupun terhadap manusia lain terlebih pada masyarakat.
  2. Praktek ibadah yang harus dilakukan dengan aturan-aturan yang pasti dan teliti.
  3. Konsepsi Al-Qur’an tentang alam yang menggambarkan penciptaan manusia secara harmonis dan seimbang dibawah perlindungan Tuhan.[66]

Dalam psikologi pendidikan di jelaskan bahawa aspek-aspek kepribadian adalah sebagai berikut:

  1. Intelegensi, yaitu termasuk didalamnya kewaspadaan, kemampuan belajar, kecakapan berpikir dan kemampuan mengambil kesimpulan.
  2. Kesehatan, yaitu kesehatan jasmani dan rohani.
  3. Keterampilan, yaitu merupakan cara orang bereaksi terhadap situasi tertentu.
  4. Nilai-nilai, yaitu pandangan dan keyakinan kita terhadap adat istiadat, etika, kepercayaan.
  5. Peranan, yaitu kedudukan atau posisi seseorang didalam masyarakat di mana ia hidup termasuk tempat dan jabatan.[67]

Dari aspek-aspek di atas yang akan dibentuk melalui jalur pendidikan baik secara formal maupun non formal. Semua aspek-aspek tersebut turut menentukan kepribadian seseorang.

  1. E. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Kepribadian Siswa.

Untuk mengembangkan tugasnya sebagai khalifah Allah, manusia dilengkapi potensi yang perlu dikembangkan. Potensi tersebut berfungsi secara maksimal bila dikembangkan melalui intuisi, sosial, sosial yang ada. Usaha untuk mengembangkan potensi fitriyah tersebut dapat dilakukan melalui dua jalur, jalur pendidikan formal dan jalur nonformal, semuanya dapat berperan dalam proses pembentukan selanjutnya.

Dalam psikologi dinyakatan bahwa pada faktor yang mempunyai terjadinya pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak yaitu:

  1. Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak yakni; keturunan dan pembawaan.
  2. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri anak yakni; pengalaman dan lingkungannya.[68]

Hal tersebut dikemukakan oleh aliran konvergensi bahwa: dalam perkembangan anak menjadi manusia menjadi dewasa sama sekali ditentukan oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan kedua fakror inilah yang membentuk kepribadian anak.[69]

Senada dengan di atas F.G. Robbius mengemukakan bahwa kepribadian itu banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Faktor dasar
  2. Faktor lingkungan
  3. Perbedaan individual
  4. Lingkungan dan
  5. Motivasi[70]

Menurut Sertain Lingkungan itu dibagi menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut:

  1. Lingkungan alam, yaitu segala sesuatu yang ada di alam dunia ini yang bukan manusia, seperti rumah, air, iklan, hewan dan tumbuh-tumbuhan/
  2. Lingkungan dalam, yaitu segala sesuatu yang termasuk lingkungan luar. Akan tetapi makanan yang sudah didalam perut itu sudah (sedang) dalam percernaan.
  3. Lingkungan sosial, yaitu semua orang yang mempengaruhi kita.[71]

Pengaruh lingkungan sosial yang ada kita terima secara langsung dan ada yang tidak secara langsung, pengaruh secara langsung seperti dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, dengan keluarga dan tekanan. Yang tidak langsung seperti melaui surat radio, televisi, buku majalah dan surat kabar.

Ki Hajar Dewantara pengemukakan bahwa lingkungan sosial meliputi tiga bagian yaitu:

  1. Lingkungan kelurga
  2. Lingkungan sekolah
  3. Lingkungan masyarakat[72]

Dengan demikian, ketiga unsur tersebut bertanggung jawab dalam pembentukan kepribadian anak dalam upaya pengembangannya. Pada kematangan kemampuan intelektualnya, sikap mental, keterampilan, dn pertumbuhan jasmani dan rohaninya. Untuk mendapatkan suatu bentuk yang ideal dalam pelaksanaan masing-masing tanggung jawabnya, ketiga unsur ini harus terjalin kerja sama yang baik intergralistik sehingga dapat membawa dan menjadikan anak didik sebagai seorang yang dapat diharapkan di tengah-tengah kelurga, sekolah dan masyarakat.

Berdasarkan pernyataan di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dalam pembentukan kepribadian anak, sehingga dapat dinyakan bahwa sikap dan sifat serta watak anak yang beriteraksi antara pembawaan dan lingkungan.


[1]Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir (Yogyakarta: PP. Al-Munawwir Krapyak, 1984),       h. 1023.

 

[2]Atabik Ali, Kamus Kontemporer Arab Indonesia (Cet. VIII; Yogyakarta: Multikarya Grafika, 2003), h. 1305.

[3]Khaeruddin, Ilmu Pendidikan Islam (Makassar: Yayasan Fatiya, 2002), h. 113.

[4]Zainal Arifin Dzamaris, Islam Aqidah dan Syari’ah (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 19.

[5]Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Cet. VIII; Yogyakarta: LPPI, 2004), h. 1.

[6]Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 199.

[7]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, 1971), h. 1118.

[8]Syekh Mahmud Syaltut, Akidah dan Syari’ah Islam (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 1994),   h. 3-4

[9]Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Al-Islam (Cet. II; Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1998), h. 103.

[10]Mohammad Daud Ali, op.cit., h. 202.

[11]Departemen Agama RI, op.cit., h. 40

[12]M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi (Cet. II; Jakarta: Lentera Hati, 1999), h. xxiv

[13]Ibid., h. xxxvii

[14]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1998), h. 15.

[15]Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pembinaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 550.

[16]T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., h. 196.

[17]Departemen Agama RI, op.cit., h. 777

[18]Ibid., h. 498

[19]Yunahar Ilyas, op.cit., h. 83-88.

[20]T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., h. 196.

[21]Ibid.

[22]Departemen Agama RI, op.cit., h. 564.

[23]Mohammad Daud Ali, op.cit., h. 217.

[24]Departemen Agama RI, op.cit., h. 437.

[25]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Cet. XVIII; Bandung: Mizan, 2004), h. 21.

[26]Departemen Agama RI, op.cit., h. 391.

[27]M. Quraish Shihab, ‘Membumikan …’, op.cit., h. 59-60.

[28]Harun Yahya, Memilih Al-Qur’an sebagai Pembimbing (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 2004), h. 4.

[29]Ibid., h. 3

[30]Mohammad Daud Ali, op.cit., h. 221.

[31]Departemen Agama RI, op.cit., h. 674.

[32]Ibid., h. 133

[33]T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., h. 334.

[34]Ibid., h. 335

[35]M. Quraish Shihab, ‘Wawasan Al-Qur’an’, op.cit., h. 85

[36]Departemen Agama RI, op.cit., h. 447.

[37]Mohammad Daud Ali, op.cit., h. 229.

[38]T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., h. 293.

[39]Yunahar Ilyas, op.cit., h. 177.

[40]Departemen Agama RI, op.cit., h. 392.

[41]Mohammad Daud Ali, op.cit., h. 233.

[42]Yunahar Ilyas, Kuliah Ibadah dalam al-Munjid fi al-Lughah wa al-I’lam (Cet. XXVIII; Beirut: Dar al-Masyriq, 1989), h. 164

[43]Mustofa, Akhlak Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 13-14

[44]Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlak (Jakarta: Rajawali Press, 1992), h. 9

[45]Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 5-7

[46]Harun Nasution, Islam Rasional (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1996), h. 60

[47]Ibid.

[48]Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 44

[49]Departemen Agama, op.cit., h. 635

[50]Ibid., h. 103.

[51]Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (Cet. III; Bandung: Muthahari Press, 2003), h. 139.

[52]Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Cet. I; Yogyakarta: Aditya Media, 1992), h. 83.

[53]Yunahar Ilyas, Kuliah Ibadah (Cet. VIII; Yogyakarta: LPPI, 2005), h. 6

[54] Departemen Agama, Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Madrasaha Tsnawiyah Mata Pelajaran Aqidaj Akhlak. (Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1993), h. 1

[55] Kompetensi., op. cit, h. 22

[56] Ibid, h. 22

[57] Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, op. cit, h. 2

[58] Jamaluddin, Teologi Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: PT. Radjagrafindo Persada, 2001), h. 171

[59] Ramayulis, Psikologi Agama, Cet. I; Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 105

[60] Jamaluddin, op.cit., h. 161

[61] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2001), h. 28

[62] Zuhairih, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 187

[63] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 26

[64] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Pendidikan, (Cet. I; Bandung: PT. Al-Ma’rif, 1989

[65] Jalaluddin, op.cit., h. 179

[66] Zuhairih, dkk., Filsafat Pendidikan, (Cet. V; Jakarta: Remaja Rosda Karya, 1990), h. 157

[67] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Cet. V; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990), h. 157

[68] Tadjab, M.A, Ilmu Jiwa Pendidikan (Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994), h. 20

[69] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 36

[70] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 158

[71] M. Ngalim Purwanto, op. cit., h. 28

[72] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 47

Anda suka dengan artikel Aqidah Akhlak ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Kiat Sukses Menjalani Profesi Sebagai Penjual, Politik Dan Hukum Penjualan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Aqidah Akhlak" :