Perubahan Status Fungsional Sistem Penglihatan pada Lansia

Organ sensorik penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba, dan penghidu memungkinkan kita berkomunikasi dengan linkungan. Pesan yang diterima dari sekitar kita membuat kita tetap mempunyai orientasi, ketertarikan dan pertentangan. Kehilangan sensorik akibat penuaan mengenai semua organ sensorik dan mengancam interaksi. Merupakan saat dimana lansia menjadi kurang kemampuan kinerja fisiknya dan lebih banyak duduk. Kehilangan penginderaan dapat sangat menganggu bagi orang yang tidak dapat melihat untuk membaca atau menonton televisi, yang tidak dapat mendengar percakapan dengan baik untuk berkomunikasi, atau tidak dapa membedakan rasa makanan.

Karena sel-sel baru terbentuk di permukaan lensa mata, maka sel tengah yang tua aka menumpuk dan menjadi kuning, kaku, padat, dan berkabut. Jadi hanya bagian luar lensa yan masih elastis untuk berubah bentuk (akomodasi) dan berfokus pada jarak jauh dan dekat. Karena lensa menjadi kurang fleksibel, maka titik dekat fokus berpindah lebih jauh. Kondisi ini disebut presbiopi, biasanya bermula pada usia 40-an. Diperlukan kacamata baca untuk memperbesar objek. Selain itu, lensa yang menguning dan berkabut menyebabkan sinar berpendar dan makanya orangtua sangat peka terhadap sinar yang menyilaukan. Kemampuan membedakan biru dari hijau berkurang. Pupil berdilatasi dengan lambat dan tidak sempurna karena otot iris menjadi semakin kaku. Lansia memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan gelap dan terang dan memerlukan sinar yang lebih terang untuk melihat benda sangat dekat. Meskipun kondisi visual patologis bukan merupakan bagian penuaan normal, namun terjadi peningkatan penyakit mata pada lansia. Diantara yang paling sering terjadi adalah katarak, glaukoma, degenerasi maskuler senilis, dan retinopati diabetika.

Konsep Medis

Pengertian Katarak

Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan kekeruh an yang terjadi pada lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.

Klasifikasi Katarak

Katarak dapat diklasifikasikan menjadi :

  1. Katarak Kongenital: Katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
  2. Katarak Juvenil : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
  3. Katarak Senil: katarak setelah usia 50 tahun
  4. Katarak Trauma: Katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata

Etiologi Katarak

Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.

Penyebab katarak lainnya meliputi :

  1. Faktor keturunan
  2. Cacat bawaan sejak lahir
  3. Masalah kesehatan, misalnya diabetes
  4. Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid
  5. Gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
  6. Gangguan pertumbuhan
  7. Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama
  8. Rokok dan alkohol
  9. Operasi mata sebelumnya
  10. Trauma (kecelakaan) pada mata
  11. Faktor-faktor lainya yang belum diketahui

Patofisiologi pada Katarak

Lensa mata mengandung tiga komponen anatomis: nucleus, korteks dan kapsul. Nukleus mengalami perubahan warna coklat kekuningan seiring dengan bertambahnya usia. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai infulks air kedalam lensa proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peranan dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien menderita katarak.

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjangdari badan silier sekitar daerah di luar lensa, misalnya, dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan kogulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun denga bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.

Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan konsekwensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan “matang” ketika orang memasuki dekadeke tujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama.

Manifestasi Klinik

Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam pengelihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif (-). Bila Katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa glaukoma dan uveitis.

Gejala umum gangguan katarak meliputi :

  1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek
  2. Peka terhadap sinar atau cahaya
  3. Dapat melihat dobel pada satu mata
  4. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca
  5. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

Pemeriksaan Diagnostik

  1. Keratometri
  2. Pemeriksaan lampu slit
  3. Oftalmoskopis
  4. A-scan ultrasound (echography)
  5. Hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL.

Pengobatan Katarak

Satu-satunya adalah dengan cara pembedahan ,yaitu lensa yang telah keruh diangkat dan sekaligus ditanam lensa intraokuler sehingga pasca operasi tidak perlu lagi memakai kaca mata khusus (kaca mata aphakia). Setelah operasi harus dijaga jangan sampai terjadi infeksi.

Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyulit seperi glaukoma dan uveitis.

Teknik yang umum dilakukan adalah ekstraksi katarak ekstrakapsular, dimana isi lensa dikeluarkan melalui pemecahan atau perobekan kapsul lensa anterior sehingga korteks dan nukleus lensa dapat dikeluarkan melalui robekan tersebut. Namun dengan tekhnik ini dapat timbul penyulit katarak sekunder. Dengan tekhnik ekstraksi katarak intrakapsuler tidak terjadi katarak sekunder karenaseluruh lensa bersama kapsul dikeluarkan, dapat dilakukan pada yang matur dan zonula zinn telah rapuh, namun tidak boleh dilakukan pada pasien berusia kurang dari 40 tahun, katarak imatur, yang masih memiliki zonula zinn. Dapat pula dilakukan tekhnik ekstrakapsuler dengan fakoemulsifikasi yaitu fragmentasi nukleus lensa dengan gelombang ultrasonik, sehingga hanya diperlukan insisi kecil, dimana komplikasi pasca operasi lebih sedikit dan rehabilitasi penglihatan pasien meningkat.

8. Komplikasi

Ambliopia sensori, penyulit yang terjadi berupa : visus tidak akan mencapai 5/5. Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus

Pencegahan Katarak

Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit.C, vit.A dan vit E.


Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Aktivitas/Istrahat

Gejala:   Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan

b. Neurosensori

Gejala: Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskasn kerja dengan dekat atau merasa di ruang gelap. Perubahan pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.

Tanda:   Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil. Peningkatan air mata.

 

c. Nyeri/Kenyamanan

Gejala:   Ketidaknyamanan ringan atau mata berair

  1. d. Pembelajaran/Pengajaran

Gejala: Riwayat keluarga diabetes, gangguan sistem vaskuler. Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin, diabetes. Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.

  1. e. Pertimbangan rencana pemulangan

DRG menunjukkan rerata lamanya dirawat: 4,2 hari (biasanya dilakukan sebagai prosedur pasien rawat jalan). Memerlukan bantuan dengan transportasi, penyediaan makanan, perawatan/pemeliharaan rumah.

  1. f. Prioritas Keperawatan

- Mencegah penyimpangan penglihatan lanjut

- Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan atau penurunan ketajaman penglihatan

- Mencegah komplikasi

- memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan

g. Tujuan Pemulangan

- Penglihatan dipertahankan pada tingkat sebaik mungkin

- Pasien mengatasi situasi dengan tindakan positif

- Komplikasi dicegah atau diminimalkan

- Proses penyakit atau prognosis dan program terapi dipahami

 

2. Diagnosis Keperawatan

Pre operasi

  1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori atau status organ indera.
  2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan – kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
  3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif.
  4. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan
  5. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.

 

Post operasi

  1. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi.
  2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasif insisi jaringan tubuh
  3. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori atau status organ indera.
  4. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan – kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler

 

  1. 3. Perencanaan

 

ü  Diagnosis Keperawatan 1 :

Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera.

ü  Tujuan :

Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.

ü  Kriteria Hasil :

- Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.

- Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

 

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Tentukan ketajaman penglihatan, kemudian catat apakah satu atau dua mata terlibat. Observasi tanda-tanda disorientasi.
  2. Orientasikan klien tehadap lingkungan.
  3. Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dengan menyentuh.

 

  1. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.
  2. Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar kurang lebih 25 persen, pelihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada.
  3. Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar kurang lebih 25 persen, pelihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada.
  4. Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan/posisi yang tidak dioperasi.

Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut.

 

Orientasikan klien tehadap lingkungan.

 

Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut.

Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.

 

 

Komunikasi yang disampaikan dapat lebih mudah diterima dengan jelas.

 

 

 

Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator. Membantu penglihatan pasien.

 

 

Memudahkan pasien untuk berkomunikasi

 

ü  Diagnosis Keperawatan 2 :

Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan – kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.

ü  Tujuan:

Menyatakan pemahaman terhadap factor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.

ü  Kriteria hasil :

-   Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan factor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera.

-   Mengubah lingkungan sesuai dengan indikasi untuk meningkatkan keamanan.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata.
  2. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan.
  3. Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok.
  4. Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi.
  5. Minta klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tiba-tiba, Selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan.

Kondisi mata post operasi mempengaruhi visus pasien

 

 

Posisi menentukan tingkat kenyamanan pasien.

 

Aktivitas berlebih mampu meningkatkan tekanan intra okuler mata.

 

Visus mulai berkurang, resiko cedera semakin tinggi.

 

Pengumpulan Informasi dalam pencegahan komplikasi

 

ü  Diagnosis Keperawatan 3 :

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan dan mengingat, keterbatasan kognitif.

ü  Tujuan :

Klien menunjukkan pemahaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan.

ü  Kriteria Hasil :

Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Pantau informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur, lensa.

 

  1. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin, beritahu untuk melaporkan penglihatan berawan.
  2. Identifikasi tanda/gejala memerlukan upaya evaluasi medis, misal : nyeri tiba-tiba.
  3. Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.
  4. Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antar obat mata dan masalah medis klien.
  5. Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi, membongkok pada panggul, dll.
  6. Anjurkan klien tidur terlentang

Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut.

Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator.

 

Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan tekanan intra okuler.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidur terlentang dapat membantu kondisi mata agar lebih nyaman.

 

ü  Diagnosis Keperawatan 4 :

Ansietas berhubungan dengan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan.

ü  Tujuan/kriteria evaluasi:

-   Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.

-      Pasien tampak rileks tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.

-   Pasien dapat mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan.

INTERVENSI

RASIONAL

1 . Pantau tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan nonverbal.

 

  1. 1. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.
  2. 2. Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien.
  3. 3. Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapan dan akibatnya.
  4. 4. Beri penjelasan dan suport pada pasien pada setiap melakukan prosedur tindakan.
  5. 5. Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas,

 

Derajat kecemasan akan dipengaruhi-dan peralatan yang akan digunakan.  bagaimana informasi tentang prosedur penatalaksanaan diterima oleh individu.

Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat ditujukan.

 

Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan.

Meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi kecemasan dan kooperatif.

 

Mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan .

 

Mengurangi perasaan takut dan cemas.

 

ü   Diagnosis Keperawatan 5 :

Nyeri berhubungan dengan trauma insisi

ü   Tujuan : pengurangan nyeri.

 

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai dengan resep.

 

  1. Berikan kompres dingin sesuai dengan permintaan untuk trauma tumpul.
  2. Kurangi tingkat pencahayaan.

 

  1. Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya yang kuat

Pemakaian sesuai dengan resep akan mengurangi nyeri dan TIO dan meningkatkan rasa.
Mengurangi edema akan mengurangi nyeri.

 

 

Tingkat pencahayaan yang lebih rendah nyakan setelah pembedahan.

Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator

ü   Diagnosis Keperawtan 6 :

Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.

ü   Tujuan : mampu memenuhi kebutuhan perawatan diri

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Beri instruksi kepada pasien atau orang terdekat mengenal tanda atau- gejala komplikasi yang harus dilaporkan segera kepada dokter.
  2. Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berati mengenal teknik yang benar memberikan obat.
  3. Evaluasi Perlunya bantuan setelah pemulangan.
  4. Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan.

Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut.

 

Pemakaian teknik yang benar akan mengurangi resiko infeksi dan cedera mata.

 

 

Sumber daya harus tersedia untuk layanan kesehatan, pendampingan dan teman di rumah
Memungkinkan tindakan yang aman dalam lingkungan.

 

ü   Diagnosis Keperawatan 7 :

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasif insisi jaringan tubuh.

ü   Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi selama tindakan prosedur pembedahan ditandai dengan penggunaan teknik antiseptik dan desinfeksi secara tepat dan benar.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Ciptakan lingkungan ruangan yang bersih dan babas dari kontaminasi dunia luar.
  2. Jaga area kesterilan luka operasi
  3. Lakukan teknik aseptik dan desinfeksi secara tepat dalam merawat luka
  4. Kolaborasi terapi medik pemberian antibiotika profilaksis

Mengurangi kontaminasi dan paparan pasien terhadap agen infektious.

 

Mencegah dan mengurangi transmisi kuman.
Mencegah kontaminasi pathogen

 

Mencegah pertumbuhan dan perkembangan kuman.

Anda suka dengan artikel Asuhan Keperawatan Katarak Pada Lansia ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Asuhan Post Natal Care (Nifas). Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Asuhan Keperawatan Katarak Pada Lansia" :

Ditulis dalam Kategori Kesehatan. contoh akomodasi, askep katarak pada lansia, pengertian lingkungan bersih, pengertian sensorik, pengertian ambulasi, askep katarak, cara menghindari diri dari bahaya virus, pengertian informasi verbal, contoh antibiotik, laporan pendahuluan katarak, contoh teori fungsional, pengertian komplikasi, katarak pada lansia, pengertian radiasi matahari, contoh perilaku raja, pengertian post operasi, askep post op katarak, peran keluarga terhadap lansia, askep lansia dengan katarak, tujuan ambulasi, teori titik tumbuh, pengertian diagnosa medis, pengkajian pada lansia, intervensi kurang pengetahuan, Asuhan keperawatan katarak pada lansia, teori akomodasi komunikasi, laporan pendahuluan gangguan pola tidur, asuhan keperawatan presbiopi, pengertian peralatan komunikasi, pengertian pasca operasi,