Disclaimer : Tulisan ini dipublish oleh Dee, istri nomor satu di dunia.  :-) Mengisahkan tentang proses kelahiran bebi mungil kami, Alwan. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi bahan bacaan yang menyenangkan, menjadi sebuah kenangan indah tentang perjuangan hidup seorang Ibu. Semoga setelah ini, rasa sayang antara kita dan orang tua makin meraja. Semoga setelah ini, rasa cinta pada sesama makin menguasa. Semoga, setelah ini … Kebijakan dan kedewasaan ada di dalam badan. Regards, Dee.

Ibu, peran baru yang kujalani beberapa hari belakangan setelah melahirkan seorang putra pada tanggal 22 Juni kemarin.

Masih begitu jelas proses persalinan yang kualami beberapa hari yang lalu. Awalnya begitu sedih karena Ia tak di sisi. Tak dapat menemani saat hidup di pertaruhkan.

Tepat pukul 13.00 aku di bawa ke RS Jeneponto. Tiba di ruang persalinan ternyata baru pembukaan satu yang mestinya sampai sepuluh. Hmm… Nyeri yang datang sili berganti membuat waktu rasanya berjalan begitu lambat.

Waktu makan malam hanya terlewati dengan desisan menahan rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi. Mulut tak henti-hentinya beristigfar, memohon agar Allah memberi kemudahan, meminta maaf kepada Ibu untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan. Hmm… Ada kekhawatiran tak bisa melahirkan bayiku dan lebih fatal lagi tak bisa selamat dari proses persalinan.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.10 malam, aku merasa semakin tak berdaya. Kuminta bidan untuk melakukan vakum. Merasa sudah tak kuasa untuk berkuat. Tapi bidan menolak sembari mensuport dan Ibu yang sejak tadi mendampingi sudah menangis di sampingku.

Bantu Ibu nak ya, cepatlah lahir sayang”, bisikku.

Dan tepat pukul 24.00 akhirnya perjuanganku pun usai. Bayi kami lahir dengan berat 3,4 kg dan panjang 52 cm. Alhamdulillah…

Sesaat kemudian bidan mulai merapikanku dan terdengar suara suamiku yang sedang mengadzani Abied Jr. melalui telfon. Ada setetes air bening yang bergulir di sudut mataku. Perasaan senang, haru dan entah apa lagi. Segalanya campur aduk.

Tentu akan lebih sempurna dengan kehadiranmu di sini Mas”, hatiku membatin.

Dua jam kemudian akupun kembali keruang perawatan. Rasa lelah yang menyerang, membuatku terlelap untuk beberapa saat hingga terbangun karena suara si kecil yang minta untuk di beri ASI. Puji syukur karena hari pertama ASInya sudah ada dan sembari menyusui, aku menilik putraku.

Entah perasaan apa yang kurasakan. Tak bisa mendefinisikannya untuk berbagi kepada siapapun bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu. Mungkin hanya bisa mengetahuinya setelah merasakannya sendiri.

Dan lebih dari semuanya, aku bersyukur dengan apa yang ada dalam kehidupanku saat ini.  Memiliki seorang imam yang bijak, bayi yang kemudian akan meramaikan keluarga kecil kami, insya Allah menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Amin…

Dan kukira “kesempurnaan bagi seorang wanita telah kuraih”, horeee….^_^

Hal lain, saat ini hanya sibuk merawat Alwan. Yah, kami memberinya nama Mahmud Alwan Abidin setelah aqiqah tanggal 29 Juni kemarin.

Curhat Sang Dewi

Tak mudah memang, dengan segala hal baru yang Allah sajikan untukku. Mulai belajar memandikan bayi, makan, mandi dan tidur yang tidak teratur. Semuanya seperti mengikuti rutinitas Alwan saja. Menunggu sampai Ia selesai dengan hal tersebut kemudian melakukannya untuk diri sendiri.

Hmm…Ibu menyayangimu nak, cepatlah besar dan membuat duniaku semakin indah”.

Dan,

Ya.. Allah, dekatkanlah kami selalu kepada-Mu. Izinkan kami menjadi hamba-hamba-Mu yang pandai-pandai bersyukur. Kumohon agar Ia selalu dalam penjagaan-Mu, dalam lindungan-Mu ya Rabb”.

Amin….

Anda suka dengan artikel Curhat Sang Dewi, Cepatlah Besar Alwanku! ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Cara Mengatasi Kenakalan Remaja. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Curhat Sang Dewi, Cepatlah Besar Alwanku!" :