Hello everybody … Let me introduce my self. My name is Muhammad Zainal Abidin. I was born at North Luwu on 1985. My hobby is traveling and blogging. Now, bla bla bla ..  *Lho, kok malah ngenalin diri pake bahasa Inggris? Bukannya judulnya di atas berwisata ke Jeneponto?* Haha .. Sorry, terlalu bersemangat. Habis kemarin waktu pulang dari Jeneponto liat 2 orang bule’ lagi asyik masyuk berfoto di sekitar lahan petani garam. Wew.

Mungkin sahabat sekalian telah mengenal Jeneponto. Sebuah kabupaten di pesisir selatan pulau Sulawesi, yang juga terkenal sebagai daerah penghasil garam di pulau berbentuk K ini. Jeneponto adalah salah satu kabupaten terpanjang di Sulawesi, membentang dari arah barat ke timur, mengikuti arah pantai menuju perjalanan ke daerah Bulukumba.

Sejak tahun 2010 kemarin, saya juga menjadi salah satu penduduk Jeneponto. Aseek … Setelah menikah dengan seorang gadis manis di sebelah utara kota Bontosunggu, kini hampir setiap bulan saya menginjakkan kaki di sana. Postingan ini adalah cerita saya tentang Jeneponto, tentu saja sesuai dengan pandangan saya. Hihi …

Bagaimana Menemukan arah ke Jeneponto?

Jeneponto berjarak sekitar 130-an kilometer dari Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Dengan sepeda motor dapat ditempuh dengan waktu minimal 1 jam 20 menit. Tapi mungkin juga bisa lebih cepat jika sahabat menggunakan Ducati-nya Rossi. Haha … Jika menggunakan kendaraan umum, waktu minimalnya adalah 2 jam. Mungkin karena jalanan yang agak sempit dan bergelombang.

Jika menggunakan kendaraan umum, datanglah ke terminal Gowa. Dari arah Pasar Sentral Makassar, naik mobil berwarna merah dan katakan : “Daeng, sampe’ di terminal Gowa ji ini ka?”. Jika diiyakan, perjalanan dari Sentral ke terminal mungkin memakan waktu 45 – 60 menit. Tergantung keramaian. Kalo ada demo di depan Unismuh mah bisa sampe setengah hari. Hehe …

Setelah tiba di terminal *tepatnya setelah melewati dua buah jembatan kembar*, cari kendaraan umum yang akan mengantarmu ke Jeneponto. Tarif mobil Makassar – Jeneponto dan sebaliknya saat ini adalah Rp. 20.000 saja. Rata-rata mobil yang ke sana adalah jenis Panther atau Kijang. Ada sih mobil bus besar, tapi biasanya itu menuju ke Selayar. Sebuah pulau kecil di seberang lautan melewati Bulukumba.

Oh, iya … Ada 2 kabupaten yang akan sahabat lewati saat menuju ke Jeneponto, yaitu Gowa dan Takalar. Mungkin 45 menit setelah lepas dari terminal, sahabat akan sampai di perbatasan Takalar Jeneponto, tapi untuk tiba di ibukota kabupaten justru butuh waktu lebih lama lagi. Bisa sampe sejam. Itu karena panjang kabupaten Jeneponto memang lumayan, makanya Jeneponto dijuluki kabupaten terpanjang di pesisir selatan.

Kondisi Jalanan Jeneponto

Jika mengamati perjalanan saya dari Makassar – Jeneponto selama ini, jalanan menuju Jeneponto bisa dikatakan sebagai ‘jelek’, *jika tak ingin dikatakan parah, haha … *.  Saya juga heran. Sebagai salah satu jalur transportasi utama menuju beberapa kabupaten di selatan Sulawesi (Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai dan Bone), jalur ini seperti tak mendapat perhatian serius.

Perbaikan aspal memang terjadi sepanjang jalan, tambalan kecil hampir ada di tiap kilometer. Mungkin karena memang kontur daratan yang bergelombang, sehingga aspal lebih cepat rusak.

Saya juga menemukan beberapa jembatan yang ber’lubang’. Ditutupi dengan batang pohon kelapa di beberapa sisi. Hadeuh … Gimana mo berkembang kalo gini, bukankah jalur transportasi itu utama?

Tak ada ‘China’ di Jeneponto

Jeneponto bagi saya adalah sebuah kabupaten yang agak ‘kolot‘. Kolotnya karena mereka tidak menerima orang selain muslim untuk bermukim di sana. Apalagi China?! Hadeuh, jangan harap. Padahal kata seorang teman : “Kalo sudah ada orang China yagn masuk ke sebuah daerah, tunggu saja daerah itu bentar lagi pasti akan maju”. Hahai. Terlepas dari benar atau tidaknya, orang Jeneponto memang sepertinya memiliki kesepakatan tak tertulis antar mereka yang melarang orang non-muslim untuk hidup berkembang di daerahnya.

Yah, itu hak mereka. Saya pikir mereka sedang mempertahankan adat dan tradisi nenek moyangnya, sehingga tidak siap menerima akulturasi budaya. Atau juga karena mereka berfikir untuk menjaga kemurnian daerah? Hmm …

Jika mengamati jalanan sepanjang Jeneponto, sahabat tidak akan menemui satu pun gereja. Awalnya saya tidak mengamati, tapi setelah diceritakan, dan mengamati jalanan, bener! Tidak ada satu pun gereja di Jeneponto. Wew. Yang ada hanya masjid di sepanjang jalan. Hampir tiap setengah kilometer, akan ada bangunan mesjid, meski kadang juga tak terlalu besar.

Keberagamaan Masyarakat Jeneponto

Sebagai masyarakat muslim, kondisi kehidupan beragama masyarakat Jeneponto *tentunya di mata saya* layaknya biasa. Sama dengan kehidupan masyarakat di tempat kelahiran saya, Luwu Utara. Mereka memiliki adat-adat yang tetap dilakukan sehubungannya dengan kegiatan agama.

Waktu Alwan aqiqah kemarin, kami memang memotong dua ekor kambing layaknya tuntunan Islam, tapi ternyata juga ada adat-adat khas yang dilakukan. Saya sih tak menolak, selama tidak membuat itu menjadi wajib kan tidak dosa. Hahai.

Shalat Jumat di Jeneponto

Hadeuh, ini cerita lucu. Shalat Jumat di Jeneponto adalah sebuah masalah kecil. Haha .. Masalahnya di mana? Bahasa yang digunakan. Khatib Jumat mayoritas menggunakan bahasa daerah ketika menyampaikan isi khutbah. Awalnya sih mengira bahwa khutbah akan menggunakan bahasa Indonesia, tapi setelah ikut Jum’atan. Ampun … 80% bahasanya tak dapat saya mengerti. Sisanya, 20% adalah bahasa Arab, sehingga sedikit banyaknya bisa memahami. Hahai. Tak rugi pernah kuliah di UIN Alauddin Makassar. Haha …

Jeneponto dan Coto Kuda

Selain terkenal sebagai daerah penghasil garam, Jeneponto juga identik dengan kuda. Jeneponto adalah satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki kekayaan fauna jenis ini. Kalo daerah lain paling hanya sapi atau kerbau. Tapi Jeneponto punya semuanya. Sapi, kerbau dan kuda.

Coto kuda adalah panganan terkenal dari Jeneponto. Bagi yang belum pernah melihat dan merasakan daging kuda, bentuk dan teksturnya mirip dengan daging sapi. Hanya saja seratnya lebih besar sedikit.

Jika dibuat coto, rasanya juga sedap. Sayangnya, bagi yang tidak terbiasa makan, bisa gak tidur semalaman kalo kebanyakan mencicipi. Saya mencoba makan coto kuda beberapa kali, dan tiap kali sudah makan, pasti malamnya mengalami kesulitan tidur. Hehe .. Katanya sih daging kuda menyebabkan panas di badan, *Ssstt … dan juga meningkatkan libido seks*.  Haha …

Tapi bagi yang sudah biasa ya gak pernah masalah. Ya to?

Masakan Jeneponto, begitu juga coto kuda-nya, mungkin hampir tidak cocok untuk lidah saya. Pasalnya orang Jeneponto tidak terlalu suka dengan bumbu yang beraneka layaknya orang Jawa. Pedis pun mereka tak biasa. Sehingga, kesan khas makanan mereka memang terasa. Sangat khas. Hampir semua makanan dan sayuran yang dibuat lebih berasa ke ‘manis’. Hmmm …

Tempat Wisata di Jeneponto

Apakah sahabat tak ingin Berwisata ke Negeri Turatea, Jeneponto?

Bersambung ..

Anda suka dengan artikel Berwisata Ke Negeri Turatea, Jeneponto ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Masalah Ekonomi Di Negara Berkembang & Negara Maju. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Berwisata Ke Negeri Turatea, Jeneponto" :

Ditulis dalam Kategori Catatan MasBied.