Sejarah Gua Sumpang Bitta di Pangkep Sulawesi Selatan. Pernah berwisata ke Pangkep? Sebuah kabupaten di pesisir Utara Makassar. Waktu masih kuliah dulu, pernah berkemah di Pangkep. Tepatnya di gua ini. Wew, pemandangannya indah Bro. Silakan baca selengkapnya ya. :-)

Nama Gua Sumpang Bitta yang berada di Kabupaten Pangkep terdiri dari dua kata yaitu Sumpang yang berarti pintu dan Bitta adalah sebuah nama desa yang ditempati Gua Sumpang Bitta. Jadi Gua Sumpang Bitta berarti pintu Bitta. Gua Sumpang Bitta juga dikenal dengan sebutan seribu anak tangga dikarenakan untuk menuju Gua Sumpang Bitta harus melalui seribu lebih anak tangga.

Taman Purbakala Gua Sumpang Bitta

Sumpang Bitta merupakan salah satu tempat wisata yang  ada di Sulawesi Selatan. Secara administrative Taman Purbakala Sumpang Bitta berada di Desa Sumpang Bita, Kecamatan Baloccin Kabupaten Pangkep. Berada di kilometer 55 di sebelah utara kotamadya Ujung Pandang (Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan). Letak Astronomiknya 50020’ LS dan 1190 38’BT. Lokasi mudah dicapai dengan mempergunakan kendaraan roda dua dan empat. Dari kotamadya Ujung Pandang arah ke Utara melalui jalan aspal menuju kota Parepare. Sampai di km 55 Kampung Soreang, membelok ke kanan menuju pabrik semen Tonasa. Dari pabrik Tonasa kea rah Timur menuju kompleks Taman Purbakala Prasejarah. Gua Sumpang Bitta sejauh 3 km melalui jalan sedikit mendaki. Untuk tiba di tempat ini diperlukan waktu kira-kita 2 jam letaknya cukup jauh dari Makassar. Daerah Pangkep terdiri dari beberapa desa atau keluraha yang tersebar di semua kecamatan. Salah satu desa yang dilalui untuk menuju Gua Sumpang Bitta adalah desa Kabba. Di pinggir jalanan terdiri atas sawah yang sangat luas dan beberapa rumah dan pohon.

Gua Sumpang Bitta ditemukan oleh Frist dan Paul Sarassin dari Swiss pada tahun 1902. Gua ini merupakan peninggalan dari penduduk Toala yang berarti orang bertempat tinggal di hutan. Di dalam gua itu terdapat beberapa lukisan seperti  telapak tangan orang dewasa dan anak-anak, telapak kaki, rusa, babi, ayam, dan sebuah sampan atau perahu. Semua gambar-gambar ini berwarna merah karena merah melambangkan keberanian. Warna ini terbuat dari hematite atau oker yang di kunyah hingga hancur disemprotkan ke telapak tangan yang telah diletakkan di dinding gua.

Adapun arti dari gambar-gambar tersebut yaitu:

  1. Telapak tangan yang utuh melambangkan sebagai penolak malapetaka atau roh jahat. Dan yang tidak utuh melambangkan turut berduka cita salah seorang anggota keluarga wafat.
  2. Gambar rusa, babi melambangkan sebagai suatu pengharapan bila pergi berburu agar memperoleh binatang yang sejenis/lebih besar dari itu.
  3. Gambar perahu melambangkan sebagai sarana angkutan untuk mencapai tujuan karena daerah mereka pernah dilanda laut.

Di samping gambar-gambar di atas juga pernah ditemukan peninggalan yang merupakan hasil dari ekskavasi oleh suaka peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan dengan mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin Ujungpandang sepeerti Kerewing berhias, kereweng polos, tulang manusia, gigi manusia dan kerang. Sejarah Gua Sumpang Bitta di Pangkep Sulawesi Selatan

Selain Gua Sumpang Bitta juga terdapat Gua Bulu Sumi. Perbedaan dari kedua gua ini adalah Gua Sumpang Bitta merupakan tempat untuk upacara yang kira-kira memuat lebih dari 2000 orang. Sedangkan Gua Bulu Sumi merupakan tempat sia-sia makanan penduduk Toala. Adapun hubungan antara Gua Sumpang Bitta dengan Bulu Sumi merupakan satu rangkaian  yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Disana juga terdapat sumber mata air yang terletak di kaki bukit gamping Sumpang Bita.

Beberapa sarana yang dibangun di daerah ini adalah:

  1. Pagar kawat duri yang dibangun sepanjang 500 m di sebelah utara lokasi yang membatasi antara taman situs dan milik pribadi semen Tonasa.
  2. Jalanan dan jalan setapak ke Gua Sumpang Bitta terdiri atas trap-trap atau anak tangga. Jumlahnya kira-kira 955 tingkat. Para pengunjung menamakannya dengan tangga 1000
  3. Taman yang dihias sedemikian rupa untuk member kesan nyaman dan indah bagi para pengunjung
  4. Rumah informasi yang bentuknya seperti model rumah tradisional Bugis/Makassar
  5. Rumah jaga dan rumah istirahat dibangun supaya pengunjung dapat berhenti beberapa saaat untuk melepaskan lelah sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak bukit, tempat Gua Sumpang Bitta dan Gua Bulu Sumi.

Tempat ini ramai dikunjungi para pengunjung pada hari minggu terutama siswa-siswi yang akan melakukan penelitian dan sebagai pelajaran di luar lingkungan sekolah. Tempat wisata ini juga memiliki beberapa petugas untuk menjaga dan melindungi kelestariannya. Sejarah Gua Sumpang Bitta di Pangkep Sulawesi Selatan

Anda suka dengan artikel Sejarah Gua Sumpang Bitta Di Pangkep Sulawesi Selatan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Sejarah Perkembangan Literature Afektif. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Sejarah Gua Sumpang Bitta Di Pangkep Sulawesi Selatan" :

Ditulis dalam Kategori Sejarah. cara menjaga kelestarian laut, upaya-upaya untuk menjaga kelestarian laut, menjaga kelestarian laut, Situs ml, gua sumpang bita, sumpang bitta, cara menjaga laut, contoh peninggalan sejarah sulawesi selatan, sumpa bita pangkep, tempat tempat wisata di Kab Pangkep, sumpa bitta, bagaimana cara yang tepat untuk menjaga kelestarian pantai dan laut, sumpa bitta pangkep, wisata sejarah sumpang bita pangkep, sejarah sumpabita, sumpabitta, sumpa bita, cara menjaga ekosistem laut, Sumpabita pangkep, sejarah berdirinya kabupaten pangkep, taman purbakala pangkep, taman purbakala sumpang bita, Taman purbakala sumpang bita pangkep, Tangga seribu pangkep sulawesi selatan, sumpang bitta pangkep sulawesi selatan, tempat praseejarah pangkep, tempat wisata di pangkep sulawesi selatan, tips menjaga kelestarian laut, situsml, situs untuk orang ml,