Dear everybody. Sebagai rangkaian artikel tentang Ceramah Ramadhan di OnlineSyariah.com, saya masih mempublish lagi artikel tentang itu. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi para muballigh. Amin.

Mukaddimah

Salah satu tujuan Allah dalam menciptakan makhluk jin dan manusia adalah untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya. Ibadah atau penyembahan kepada Allah dibagi kepada dua macam; pertama, ibadah khusus disebut juga dengan istilah ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari (inti) ibadah kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya; kedua, ibadah umum yakni semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas kepada Allah Swt. seperti minum, makan, bekerja mencari nafkah, dan sebagainya.

Urgensi Niat dalam Ibadah

Niat merupakan pensyaratan sahnya ibadah. Semua bentuk amal kebaikan dapat dikatakan sebagai ibadah umum bila dilandasi dengan niat semata-mata karena  Allah Swt. Dalam ibadah khusus (ibadah mahdlah), niat selain bertujuan membedakan ibadah mahdlah yang satu dengan ibadah mahdlah lainnya, misalnya untuk membedakan shalat fardhu dengan shalat sunat, niat juga merupakan salah satu syarat sahnya ibadah mahdlah tersebut. Ini didasarkan pada firman Allah Swt. dalam al-Qur’an al-Karimsurat al-Bayyinah ayat 5 :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat dan yang demikian adalah agama yang lurus.

Dalam salah satu hadis Nabi Saw. juga disebutkan :

Sesungguhnya semua amal itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang mereka niatkan.

Dalam ibadah umum, adanya usaha untuk mendapatkan sesuatu kebajikan berkaitan erat dengan sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupannya. Sikap dan perilaku itu ada hubungannya dengan tujuan hidup manuasia itu sendiri. Bila manusia sadar akan diri dan fungsinya, serta sadar dari mana ia dan mau kemana, tentu ia akan mengikuti rumusan tujuan hidup yang berasal dari penciptanya. Ia akan keluar dari konsepsi yang telah Allah anugerahkan kepadanya dan semua peralatan yang ada pada dirinya serta fasilitas yang ada di bumi dijadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan dirinya (beribadah) kepada Allah Swt.

Setiap manusia yang mampu membuat aktivitas dirinya untuk mendapatkan ridha Allah Swt. berarti melakukan sesuatu amal ibadah yang amat besar artinya dalam mencapai tujuan hidup yang telah ditetapkan Allah Swt.  Aktivitas di sini mencakup semua bentuk usaha yang dilakukannya, baik di bidang pertanian, perdagangan, perburuhan, usaha, jihad unruk menegakkan agama Islam, ilmu pengetahuan, dakwah meningkatkan penghayatan dan pengamalan agama, dan berbagai usaha lainnya. Semua ini akan menjadi ibadah (umum) bila dilandasi niat mencari keridhaan Allah Swt. dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalamsuratan-Nahl ayat 97:

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Manusia yang mempunyai pandangan hidup bahwa semua aktivitasnya diarahkan pada amal saleh memandang materi atau harta benda, pangkat, jabatan dan lainnya sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup yang diridhai Allah Swt. Sikap yang demikian sangat terpuji di sisi Allah swt., karena ia telah mengikuti jalan yang baik yang telah dianugerahkan Allah kepada umat yang beramal saleh. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 38 yang berbunyi:

Maka barang suapa yang mengikuti petunjukKu niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dan firman Allah yang berbunyi:

Dan orang-orang yang berjihad di jalanKu, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Ceramah Ramadhan

Dengan demikian menjadi jelas bahwa semua aktivitas dan kreativitas manusia dapat diketegorikan sebagai amal saleh. Yang dimaksudkan amal saleh di sini adalah seluruh aktivitas hidup manusia yang dilandasi niat karena Allah Swt. (ikhlas) dalam rangka mencapai keridhaanNya. Semua itu dilaksanakan berdasarkan aturan Allah swt.  baik hubungannya dengan Allah swt. (hablum min Allah), antara manusia (hablum min al An-nas), maupun hubungan dengan alam (hablum min al-‘Alam) dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hubungan sesama manusia secara luas tersebut (muamalah), yaitu segala kegiatan yang dilakukan secara pribadi maupun secara bersama-sama serta menghindari kemudharatan. Dalam Islam dibedakan antara ibadah dan muamalah, tetapi keduanya tidak mungkin dipisahkan. Ibadah dan muamalah terjalin dalam satu kesatuan utuh, yang menjalin keduanya adalah niat keikhlasan mencari ridha Allah swt. sehingga semua bentuk aktivitas mauamalah dan menjadi ibadah, (ibadah umum).

Ibadah khusus dan ibadah umum dapat diterima oleh Allah Swt. jika keduanya dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah Swt. dalam nas al-Qur’an dan hadis sebagai dasarnya. Adapun sah artinya amal ibadah yang dilakukan itu sesuai dengan ketentuan syara’ (hukum Islam) atau memenuhi rukun dan syarat-syarat. Ibadah khusus yang telah ditentukan bentuk dan tatacara pelaksanaannya memerlukan adanya pemenuhan ketentuan tersebut. Disamping syarat-syarat tersebut ibadah khusus maupun umum harus dilakukan penuh ikhlas yaitu dilakukan hanya karena Allah semata.

Pengertian Ikhlas

Secara etimologis, ikhlas adalah  membersihkan sesuatu hingga menjadi bersih. Secara istilah, ikhlas adalah usaha seseorang melakukan perbuatan semata-mata berharap ridha Allah swt. Menurut para ahli  hakikat (tasawur), ikhlas merupakan syarat sah ibadah. Jika amal diumpamakan sebagai badan, maka ikhla adala hruh  (jiwa) amal itu.  Ibnul Qayyim menyatakan bahwa seseorang yang ikhlas dala melakukan perbuatan, tujuan, cita-cita dan amalannya semata hanya karena Allah swt, maka Ia (Allah) akan selalu menyertaina.

Karena pentingnya ikhlas dalam beribadah dan beramal, dalam al-Qur’an, Allah menyebut kata-kata ikhlas berulang sebanyak  37 kali.  Selain itu, kata-kata ikhlas s ternyata selalu dibgabungkan dengan  dengan kata agama. ini menunjukkan bahwa dalam beragama (beribadah dan bermu`amalah) kita harus ikhlas dan berniat melakukannya anya karena Allah semata. Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang  menghubungkan keikhlasan dengan  agama adalah :

Katakanlah: Tuhanku menyuruhku menjalankan keadilan. Dan (katakanlah) luruskanlah mukamu (dirimu) di setiap shalat dan  sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama (ketaatan) kepada-Nya. Sebagaimana dia telah menciptakan kamu pada permulaanmu. (demikianl pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran , Jaka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama (ketaatan) kepada-Nya.

Untuk mengetahui hakikat orang ikhlas (mukhlis), para ulama sepakata bahwa mereka mempunyai ciri-ciri antara lain bahwa ia sama sekali tidak mempunyai niat untk menjadi orang yang sum`ah(orang yang suka menari ketenaran), suka memuji ketimbang dipuji, tidak sombong, tidak ria (ingin dipandang orang). Ia selalu merendah, suka beramal. Orang ikhlas juga selalu  berbuat wajar ketika menjadi pejabat atau pemimpin, selalu mencari kerdhaan Allah dan melakukan sesuatu hanya karena Allah. Selain itu orang ikhlas ju galselalu sabar dalam bekerja dan sabar dalam menghadapi cobaan. Merka merasa senang  kaalu ada orang yang bergabung dengannya, senang melakukan amal yang bernafaat. Inilah beberapa ciri orang yang muklis,  yang melakukan suatu ibadah atapun amal dengan ikhlas.

Kesimpulan dari khutbah ini adalah:

  1. Allah senganja menciptakan jin dan manusia agr mereka selau taat dan beribadah kepada-Nya.
  2. Ibadah terdiri atas ibadah khusus seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah umum seperti melakukan suatu perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena Allah swt., seperti makan, minum, dan mencari nafkah.
  3. Pekerjaan atau amal saleh apapun kalau dilakukan  hanya karena Allah dan dikerjakan dengan ikhlas maka pekerjaan itu adalah ibadah.

Anda suka dengan artikel Ceramah Ramadhan : Ikhlas Dalam Ibadah & Beramal ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Ceramah Ramadhan : Konsep Rasulullah Menjaga Kesehatan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Ceramah Ramadhan : Ikhlas Dalam Ibadah & Beramal" :

Ditulis dalam Kategori Pidato. pengertian etimologi, ceramah agama islam tentang puasa, dasar hukum shalat, arti mudharat, pengertian buruh menurut para ahli, pengertian muamalah dalam islam, pengertian mudharat, makalah ikhlas dalam beribadah, pidato agama islam tentang puasa, Ceramah tentang ikhlas, pengertian buruh tani, macam macam kitab allah, pengertian hukum islam secara etimologi dan terminologi, pengertian taat, macam-macam kitab allah, ceramah agama islam tentang zakat, kesimpulan ceramah, kesimpulan ceramah ramadhan, Hukum berdasarkan fungsinya, ikhlas dalam beribadah, perilaku ikhlas dalam beribadah, pidato ikhlas beribadah, inti ceramah, contoh dakwah tentang ikhlas, ceramah ikhlas beribadah, macam-macam buruh, ceramah tentang ikhlas dalam beribadah, intisari isi ceramah, ceramah ikhlas, inti sari isi ceramah,