Contoh Proposal. Melihat realitas yang trjadi gagasan untk melihat kesetaraan jender dan meciptakan kesejahteraan jender tampaknya menjadi perdebatan hingga kini pula, setidaknya pada banyak tempat, termasuk kepemimpinan dan fungsi manajerial, gejala suberdinasi terhadap kaum perempuan. Kalau tindakan suberdinatif terhadap perempuan itu elah terjadi sejak manusia ada, berarti hal itu telah berlangsung sejak 2 juta tahun yang lalu, ketika spesies manusia pertama hadir menghui bumi yang telah berusia 4,5 milyar tahun ini tindakan suberdinatif itu diyakini hingga 35-50 ribu tahun yang lalu sampai “ manusia modern”  lahir. Takkala jutaan bahkan milyaran orang telah berperadaban metropolis, tindakan suberdinatif (salah satu bentuknya adalah kekerasan) terhadap perempuan berlanjut, meski instrumen hukum dan gerakan anti kekerasan tehadap perempuan terus menggeliat pada banyak lini kehidupan dan penghidupan umat manusia dan pranata sosialnya. Agaknya itrumen hukum dan gerkan itu untuk sebagian darinya masih “bertepuk sebelah tangan” karena memang hingga sekarang masih banyak perempuan yang tidak tahu atau mngkin memang tidak berdaya untuk menuntut hak-hak sejatinya sebagai manusia yang memeiliki keseteraan hak hidup secara sosial dan kemanusiaan dengan lawan jenisnya. Contoh Proposal

Tindakan subordinatif terhadap perempuan berlangsung sepanjang sejarah kita menerima mungkin penerimaan ini naif sifatnya dan maaf pada para agamawan teori evolusi dari Charles Darwin, bahwa perwajahan manusia modern sekarang merupakan produk evolusi dari “manusia kera yang berjalan tegak” bukankah kera jantan kerap kali melakukan “tindakan kekerasan” atau subordinatif terhadap kera betina rasa-rasanya terlalu berat bila dosa turunan dari “manusia kera yang berjalan tegak itu” harus kita tanggung secara temurun, kemudian apakah manusia kera jantan jauh lebih perkasa dari kera betina. Pertanyaan ini mungkin harus kita lupakan ketika bangkt kesadaran bahwa rasa lebih perkasa dan lebih dominan ada dalam ranak opnitik, afektif dan tingkah laku pria telah mewarisi selama jutaan tahun. Replika rasa lebih itulah yang memandu kondisi sosiologis, fsikologis dan kultural pria mendominasi wanita yang secara hak hidup dan hak asasi manusia dinilai salah meski kerap diterima sebagai kenyataan, bahkan nasib buruk atau resiko berbeda jenis kelamin.

Contoh Proposal. Diluar skema diatas masih dapat dibuat justifikasi meski tidaklah identik sebagai pembenar bahwa warisan sejarah atau trdisis sosial yang distrukturkanlah yang memicu multi bentuk tindakan subordinatif terhadap perempuan seperti masih dapat disaksikan hingga saat ini. Pertama karakteristik sejati wanita sebagai laang tempat menabur benih “padi” dan pria sebagai “penyemainya” adalah kenyataan keseharian kita. Potensi untuk hamil, melahirkan, menyusui dan siklus bulanan menjadi sebuah ciri khas yang tidak dapat dialihkan dari ciri dominan ”betina” keciri dominan ”jantan” sejati. Kedua takkala melakukan mobilitas diluar rumah secara seksual jauh lebih aman pada pria ketimbang wanita, misalnya, dalam menghadapi resiko serangan mendadak dari lawan jenis. Ketiga secara tradisional kultur wanita, serjak pasca balita hingga menjadfi ibu rumah tangga lebih banyak dibebani urusan-urusan domestik, sementara pria bebas bergerak dan memang harus bergerak untuk menunaikan tugas-tugas sosia, kehidupan, dan penghidupan diluar bahkan jauh dari rumah. Peristiwa ini telah terjadi sejak zaman kehidupan masyarakat nomaden hingga sekarang. Secara taridisional kultural Pula, tidak lasim wanita bertandang dengan orang yang diidamkannya, terbukti dengan lahirnya perilaku pingitan. Keempat, pemberantasan prostitusi yang dilokalisasikan atau penjaringan ”pemain liar” di tempat-tempat liar, nyaris wanita selalu jadi sasaran. Kelima, kultur patrilineal pada sebagian besar komunitas dibelahan dunia manapun ikut memicu dominasi pria terhadap wanita. Keenam, praksis ideologi pembangunan yang cenderung bersifat maskulin telah melahirkan tata perekonomian dan perilaku kehidupan dan penghidupan yang menempatkan perempuan nyaris selalu berada pada posisi subordinat. Ketujuh, tradisi ritual, seperti terjadi pada salah komunitas kecil di india, dimana mereka mempersembahkan gadisnya untuk ”diperawani”merupakan satu bentuk upacara ritual itu. Contoh Proposal

Ketika peradaban dan keberadaan manusia makin menunjukkan kemajuan yang amat pesat, mestinya tindakan subordinatif terhadap wanita dihilangkan. Oleh karena itu kami kami dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fak. Tarbiyah dan Keguruan, Bidang Pemberdayaan Perempuan  berusaha untuk menumbuh kembangkan kesadaran saudari kami untuk keluar dari posisi subordinat dengan sebuah bentuk Pelatihan Gender dan Kepemimpinan Perempuan Sebagai bentuk manifesto gerakan perempuan.

Contoh Proposal : Pelatihan Gender & Kepemimpinan Perempuan

A. NAMA  

kegiatan ini bernama : Pelatihan “GENDER DAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN ” .

B. TUJUAN

Umum :

  • Terbetuknya paradigma perempuan indonesia yang sesuai kultur ke Indonesiaan dan tetap dapat berjalan berimbang dengan perkembangan zaman .
  • Mehilangkan sikap patriarki falam kehidupan perempuan .
  • Persiapan dalam membagun pepmimpin-pemimpin perempuan baru, yang memilki kompetesi yang mapan,
  • Membantu pemerintah, masyarakat dan pelajar dalam meningkatkan kesadaran perempuan. Untuk tidak terbelenggu dengan kehidupan patriarki. Sehingga mampu untuk mengankat drjat perempuan yang selalu di ”subordinatkan
  • Sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan erempuan terkhusunya di sulawesi –selatan di mana masih bayak terbelenggu denga kehipan patriarki

Khusus :

  • Sebagai stimulant untuk meningkatkan animo kaum perempuan utuk tidak terbelenggu dalam patriari kehidupan perempuan.
  • Menumbuhkan kesadaran dini tentang posisi perempuan ditenga dinamika hidup berbangsa dan bernegara.
  • Adanya paradigma baru bagi peserta pelatihan ini khususnya tentang posisi perempuan
  • Mengurangi tingkat perlakuan “subordinatif” terhadap perempuan
  • Diharapkan mampu memiliki kemampuan dasar dalam menjadi pemimpin. Contoh Proposal

C. TEMA

Kediatan ini bertemakan : “Paradigma Baru Perempuan Indonesia ”

D. PESERTA

Peserta seminar ini terdiri dari :

  • Unsur Pelajar
  • Unsur mahasiswa
  • Pemuda dan masyarakat umum

E. WAKTU DAN TEMPAT  

Seminar pengembangan minat baca tulis ini Insya Allah, akan di adakan pada tanggal 31 Maret – 3 April  2012, di gedung Auditorium UIN Alauddin Makassar.

F. PENYELENGGARA

Pertemuan ini akan dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar bidang Pemberdayaan Perempuan.

G. ANGGARAN

Adapun anggaran yang kami butuhkan sebesar Rp. 18.220.000.dengan rician estimasi anggaran terlampir.

H. SUMBER DANA

Dana kegiatan ini di upayakan bersumber dari :

  • Pemerintah Propinsi Sulawesi – Selatan
  • Pemerintah kota/kabupaten.
  • Swadaya Lapenmi dan otodidak
  • Lembaga yang memiliki perhatian pada persoalan minat baca tulis masyarakat
  • Sumber dana lain yang tidak mengikat .

I. PENUTUP

Demikian kerangka acuan ini kami buat sebagai landasan dalam berbuat. semoga apa yang kita lakukan senantiasa bernilai ibadah di sisi-Nya. Amin. Contoh Proposal

Anda suka dengan artikel Contoh Proposal : Pelatihan Gender & Kepemimpinan Perempuan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Ucapan & SMS Idul Fitri. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Contoh Proposal : Pelatihan Gender & Kepemimpinan Perempuan" :