Sebelumnya saya pernah membahas tentang Paham Asy’ariyah, Pengaruh Pemikiran Aristoteles terhadap Al-Farabi dan Biografi Syeh Muhammad Ridho maka kali ini saya akan membahas tentang Abed Al-Jabiri. Perdebatan akhir-akhir ini antara kalangan Islam liberal dengan Islam fundamentalis, sesungguhnya mengulang pertarungan sejarah lama antara kelompok Mu’tazilah dengan kelompok yang menolak rasionalisme sebagai titik pusat dalam pencarian kebenaran hal-hal ini bisa diuraikan oleh pemikiran Asy’ariyah dan khawarij. Di tengah arus global modernitas, dimana agama dituntut untuk mampu menjawab tantangan zaman maka pemikiran rasionalisme menjadi keharusan sejarah (historical necessity) dalam menginterpretasikan kembali wacana agama. Pada setiap wilayah kajian keagamaan. Hubungan antara agama dan filsafat tidak lagi perlu diperdebatkan karena sebenarnya, jika kita mau jujur pendekatan filosofis-rasional sangat membantu kita untuk memahami agama secara konstektual dan sebagai pandangan dunia (World View) menuju (mendekati) kebenaran, secara arif dan bertanggungjawab.

Pemikiran Islam kritis dan rasional pasca Ibnu Rusyd terasa mati karena memang pintu ijtihad dan rasionalisme tidak berkembang sejak abad pertengahan, dikunci oleh arus deras pemikiran konservatif para ulama. Ketika itu, banyak pemikiran filsafat yang diharamkan atau bahkan sang pemikirannya dijatuhi hukuman mati atau fatwa kafir (takfir) karena dianggap filsafat adalah produk bid’ah yang datang bukan dari Islam. Banyak referensi yang mencatat bahwa hal demikian terjadi setelah Al-Gazali (1050-1111) menggugat dan mempertanyakan kaum filosof. Dalam bukunya, Tahafut Al-Falasifa (Kerancuan atas para filosof). Ia mempersoalkan penggunaan Aristotelianisme (sebagai dasar pijakan paripatetisme) dalam filsafat Islam. Ibnu Sina (980-1037 M) dan Al-Farabi (257 H / 870 M) adalah dua filosof muslim yang menjadi objek kritikan Al-Gazali dan dianggap banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam logika pemikiran metafisika (ketuhanan).

OTOBIOGRAFI ABED AL-JABIRI

Muhammad Abed al-Jabiri difiguing, Maroko Tenggara pada tahun 1936. Yakni saat maroko mengalami masa-masa penjajahan dibawah koloni perancis dan spanyol. Ia terlahir dari keluarga yang mendukung partai Istiglal (Partai Kemerdekaan). Imperialisme telah membuat keluarga Abed al-Jabiri menentukan penyampaian aspirasi politiknya pada partai istiglal ini, yakni partai yang memperjuangkan kemerdekaan Maroko dari cengkraman imprealis barat dan mempersatukan wilayah kedaulatan Maroko.

Gerakan kemerdekaan yang tergabung dalam partai istiqlal ini mendirikan sekolah dimana Al-Jahiri menempuh masa awal studinya, seiring dengan kemerdekaan Maroko, Jabiri mudah memasuki perguruan tinggi setingkat diploma pada sekolah tinggi Arab dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada tahun 1960 Al-Jabiri memasuki Universitas Rabat, setelah satu tahun sebelumnya ia memasuki universitas Damaskus, Syiria dalam bidang studi filsafat.

Sejak awal ia telah diperkenalkan dengan perjuangan melawan imperialis melalui bimbingan Mehdi Ben Berka, seorang politikus pemimpin sayap kiri partai Istiqlal. Perkenalannya dengan cara inilah yang kelak mempersentuhkan antara al-Jabiri dengan dunia politik di partai Istiqlal yakni sebagai anggota divisi humas. Ia sering diceploskan kepenjara karena berkonfirmasi untuk melawan pemerintahan.

Al-Jabiri hidup dalam dua peristiwa yang krusial baik itu bagi Maroko itu sendiri, maupun bagi dunia Arab pada umumnya, pertama, saat-saat mana ia terlahir dalam keadaan keluarga yang terjajah oleh imperialisme barat, yakni oleh Perancis dan Spanyol.

Kedua, hal ini sangat mempengaruhi melejitnya kepesatan pemikiran Abed Al-Jabiri, yakni disaat ia telah merampungkan tesisnya pada tahun 1976 dan ketika ia mulai mengajar di Universitas Muhammad V di Rabat. Hal mana dalam masa-masa ini selain pemikirannya menampakkan kematangan, juga yang terpenting adalah peristiwa kekalahan perang yang menimpa dunia Arab dari Zionisme Israel. Hal kedua terakhir inilah yang menyebabkan Al-Jabiri menguras pemikirannya pada pencairan Autentitas dunia Arab-Islam.

Kekalahan Arab atas Israil telah menyebabkan kajian atas dunia Arab semakin menyeruak, karena paska peperangan tersebut dunia Arab mengalami krisis yang cukup dahsyat. Sebenarnya krisis yang di dera oleh Arab telah lama sejak abad ke-19, yakni ketika dunia Arab dipersinggungkan dengan budaya heterogen yang datang dari Barat. Ekspansi politik, ekonomi dan budaya yang dilakukan oleh Negara-negara asing terhadap dunia Arab dalam bentuk kolonialisasi dan imprialisasi telah menanamkan keterbelakangan dunia Arab. Permasalahan yang pelik ini telah menyita perhatian para intelektual Arab tak terkecuali Al-Jabiri sendiri untuk menelaah kembali tradisi yang dimiliki oleh dunia Arab Islam. Para intelektual Arab Islam mencoba mengupayakan perumusan kembali konsep tradisi agar tercipta kebangkitan dunia Arab Islam paska keterpurukannya.

A. PEMIKIRAN ABED AL-JABIRI

Dalam beberapa tulisannya, Abed Al-Jabiri mengklarifikasikan setidaknya ada haluan pemikiran yang merespon antara tradisi dan modernitas ini. Diantaranya :

  1. Kaum tradisionalis-fundamentalis atau kelompok salafi (al-salafiyyun);
  2. Kaum modernis (al-ashriyyum)
  3. Kaum eklektis  (al-intiga atau al-taufiqiyyun)

a. Kaum Tradisionalis

Kaum tradisionalis memandang bahwa kejayaan dan kebangkitan Arab-Islam akan terwujud manakala masyarakat Arab melakukan penghidupan kembali akan ruh kejayaan Islam pada masa Nabi, para sahabat, dan kebangkitan pada abad pertengahan. Karena bagi mereka, Islam masa lampau telah berhasil membangun peradaban yang sesuai dengan karakteristik dunia Arab dam mampu menghalau segala rintangan yang datang di hadapan Islam saat itu. Bagi Al-Jabiri analisis pemikiran mereka sangat dongkol mengingat bahwa sesungguhnya zaman telah berubah dan tantangan kekinian tidak lagi sama sebagaimana tantangan yang dihadapi pada masa lampau. Saat ini Islam harus menghadapi mesin-mesin industri dan kekuatan teknologi yang mengimplikasikan adanya sistem ideologi kapitalisme dan moliberalisme ekonomi Negara-negara metropolis dengan perangkatnya berupa imperealisme dan kolonialisme.

Bagi Al-Jabiri kajian tentang pembentukan model Arab-Islam masa lampau (dalam bahasa yang dipakai olehnya sebagai kajian atas tradisi/turaits) merupakan sebuah kemunduran intelektual karena kajian tersebut tidak mampu mengangkat dari budaya Arab masa kini.

Kajian terhadap tradisi tidak mampu memproduksikan pengetahuan baru. Namun hanya mampu memproduksi pengetahuan lama, dalam bentuk apresiasi terhadap karya-karya para pemikir Islam klasik hal ini tidak lain merupakan penonjolan tradisi luar yang masih diujung oleh dunia Arab kontempoar. Tradisi yang diproduksi pada abad pertengahan hanya berfungsi sebagai penguat wacana keilmuan dan bukan berarti dijadikan sebagai autentitas yang dimiliki dunia Arab karena ketika tradisi kita akui sebagai kekhasan Arab kontemporer, maka kita telah terjebak pada proses penjiplakan terhadap budaya diluar Arab kontemporer.

b. Kaum Modernis

Kaum modernis memandang bahwa Islam harus menjiplak kebudayaan maju masyarakat Eropa demi membangkitkan dunia Arab dari kebangkrutannya. Bagi mereka pengadopsian terhadap modernitas Eropa merupakan bentukan yang tepat bagi dunia Arab kontemporer.

Terhadap kaum modernis ini, Al-Jabiri pun mengkritik modernitas yang dimiliki oleh peradaban barat (Eropa dan Amerika). Dia melihat modernitas yang dibangun oleh Eropa tidak layak untuk dijadikan pegangan bagi peradaban Arab-Islam. Modernitas Eropa merupakan kesadaran  yang membentuk sikap dikotomis antara dunia pada tataran protan dan akhirat yang berdimensi sakral. Hal ini bertentangan dengan tradisi historis yang telah dimiliki oleh dunia Arab sangat tergantung pada tatanan transendent  untuk dijadikan fondasi pada kehidupan duniawi. Tradisi yang dibangun pada jaman nabi dan abad pertengahan memiliki ciri pemaduan antara keduanya yang diikat oleh pola-pola kekuasaan. Nabi sebagai insan suci yang diutus oleh Tuhan dengan sendirinya telah melegitimasi kekuasaan tersebut, sedangkan kekuasaan yang dibangun pada abad pertengahan diperoleh melalui institusi-institusi politik yang patrimonial. Hal ini sebenarnya telah dimulai pada masa-masa dinasti awal, yakni dinasti umaiyah dengan khalifah pertamanya adalah muariyah bin Abi sufyan.

c. Kaum Eklektis

Kaum eklektis yang mencoba mengadopsi unsur-unsur terbaik yang dimiliki oleh tradisi lampau dengan modernitas pembentukan Eropa kemudian keduanya diikat dalam model yang mampu menyatukan keduanya dalam bentuk yang akomodatif terhadap keduanya.

Para asumsi kaum eklektis ini, Al-Jabiri memberikan contoh bagaimana perpaduan antara keduanya menjadi wacana yang tak terbendung, seperti orientasi salafi liberal, Marxis internasional, Marxis Nasional, Salafi ultra nasionalis, Nasionalis ultra salafi. Disinilah letak proyek peradaban yang dibangun oleh al-Jabiri, dirumuskan melalui konsep kritik Nalar Arab (nagal al-agi al-arabi) yang merupakan rangkaian magmum opusnya al-Jabiri. Ia merumuskan proyeknya antara tahun 1984, 1986. Proyek kritik Nalar Arabnya ini dituangkan dalam dua volume buku yang memberikan analisis cukup riqid proyeknya diakhiri dengan tawaran solutif atas pembangunan peradaban Barat-Islam melalui konsep-konsep  yang lebih praktis pada tataran sosial politik. Volume pertama adalah takw al-agl al-arabi (formasi Nalar Arab) yang mengkaji tentang perkembangan struktur epsitemologi kebudayaan Arab secara ilmiah pada masa-masa awal. Batasan kajiannya di mulai pada masa kualifikasi (ashr al-tadwin) dalam Islam sekitar abad ke-2 Hijriyah.

Volume keduanya berjudul banyak al-age al-Arabi : Analisis system epistemologis yang disebutkan pada volume pertama buku keduanya ini mengembangkan konsep dan karakteristik dasar sistem epistemologis yang disebutkan pada volume pertama buku keduanya ini mengembangkan konsep dan karakteristik dasar sistem epistemologi nala Arab dengan dibubuhi contoh kasus yang diambil dari teks-teks klasik dalam pemikiran Arab.

Setelah Al-Jabiri mengkritik berbagai model pembacaan yang dilakukan kaum modernis, tradisionalis dan eklektis maka Al-Jabiri mencoba menawarkan konsep pembacaan terhadap tradisi dan modernitas sehingga. Bisa menemukan autentitas dunia Arab kiwari, Al-Jabiri melihat bahwa dunia Arab bisa membebaskan diri dari otoritas referensial baik itu model tradisi Arab-Islam maupun model kebudayaan dan pemikiran Eropa. Tradisi baginya tidak mesti diberangus, namun ia mesti direngkuh dan dikaji secara kritis untuk dilampaui. Baginya yang ideal adalah mengkaji secara kritis untuk dilampaui. Baginya yang ideal adalah mengkaji secara kritis tentang model peradaban filosofis yang dibangun di Adlusia. Dengan mempertahankan beberapa tokoh seperti Ibn Hazm, Ibn Tumart, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dll. Karena tradisi filosofis yang dikembangkan di Andalusia merupakan hakikat dari Autentisitas yang kita cari selama ini dimasa kontemporer. Andalusia lebih banyak mengembangkan tradisi rasionalisme yang sesudah sepantasnya kita anut saat ini. Disinilah letak bagaimana Al-Jabiri menjadikan tradisi sebagai sesuatu yang mesti dirangkul tanpa harus merasa terkungkung oleh tradisi irasionalisme yang juga dikembangkan pada masa lampau. Disamping itu, pengembangan akan kultur demokrasi pada masyarakat Islam merupakan keautentikan yang ideal bagi dunia Arab. Hal ini dituangkan dalam rangkaian projeknya tepatnya pada volume ketiga yang berjudul Al-agl al-Siyasi al-araba : Muhadidah wa tajbli yatuh (nalar politik Arab : faktor-faktor penentu dan manifestasinya).

Ia berfikir bahwa bangsa Arab akan tetap maju dengan semangat nasionalisme dan persatuan Arab, manakala dalam struktur masyarakat Arab dikembangkan kultur demokrasi dan rasionalisme. Prototipe yang ia ambil mengenai konsep rasionalisme berasal dari rasionalisme yang dikembangkan Ibnu Rusyd baik itu dalam pemikiran filsafat, maupun dalam pemahaman syariah. Selain itu, sebagai rujukan bagi konsep nasionalisme yang dianutnya. Ia mengembangkan ala al-Syatibi dan Ibn Khaldua.

KESIMPULAN

Apa yang dirajut oleh Al-Jabiri dalam pencariannya tentang autentitas merupakan usaha besarnya untuk memajukan dunia Arab Islam dan menghindarkan dari proses klaim kebudayaan lain baik yang berasal dari tradisi Islam masa lampau maupun dari rahim modernitas Barat. Arab kontemporer  harus mampu merumuskan atau menemukan kekhasan dirinya sendiri, kekhasan yang tidak pernah dimiliki oleh orang lain, karena memang ia terlahir dari keunikan dan arisinalitas kebudayaan masyarakat.

Kekalahan Arab pada tahun 1967 atas Israel tak perlu menjadi gusaran peradaban yang terus membebani dunia Arab sampai saat ini, karena sebetulnya titik tekannya adalah bagaimana Arab memunculkan potensi-potensi besar yang merupakan kekayaan yang dimilikinya. Aktualisasi akan potensi-potensi yanga da merupakan sebuah upaya dalam membangun keautentikan Arab dihadapan peradaban lain.

DAFTAR PUSTAKA

Issa J, Boullata. 2001. Dekontruksi : Tradisi dan Gelegar Pemikiran Arab Islam. Jogjakarta : Belukar.

Semoga bermanfaat. Baca juga artikel saya tentang bocoran UN 2012 dan Hasil UN 2012 serta SNMPTN Undangan 2012.

 

Anda suka dengan artikel Makalah Oto Biografi Dan Pemikiran Abed Al-Jabiri ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Soal UN 2012 5 Paket Saja. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Makalah Oto Biografi Dan Pemikiran Abed Al-Jabiri" :