Banyak jenis penelitian yang termasuk sebagai penelitian deskriptif. Setiap ahli penelitian sering dalam memberikan informasi tentang pengelompokan jenis penelitian deskriptif, cenderung sedikit bervariasi. Perbedaan itu biasanya dipengaruhi oleh pandangan dan pengetahuan yang menjadi latar belakang para ahli tersebut.

Perbedaan pandang tersebut, salah satu di antaranya bila dilihat dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dalam penelitian deskriptif dilakukan oleh peneliti.

Contoh Metode Penelitian Deskriptif


Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, contoh penelitian deskriptif minimal dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan diri atau self-report, studi perkembangan, studi kelanjutan (follow-up study), dan studi sosiometrik.

Contoh Metode Penelitian Deskriptif #1 : Penelitian Laporan Diri (Self-Report Research)

Dalam kaitannya dengan data yang dikumpulkan maka penelitian deskriptif mempunyai beberapa macam jenis termasuk di antaranya laporan diri dengan menggunakan observasi. Dalam penelitian self-report, informasi dikumpulkan oleh orang tersebut yang juga berfungsi sebagai peneliti.

Dalam penelitian self-report ini peneliti dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatannya dalam situasi yang alami. Tujuan observasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera, dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan.

Yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yang dengan model self-report adalah bahwa dalam menggunakan metode observasi dan melakukan wawancara, para peneliti harus dapat menggunakan secara simultan untuk memperoleh data yang maksimal. Salah satu contoh penelitian menggunakan self-report dapat dilihat dalam laporan tentang Studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah.

Contoh Penelitian Deskriptif Menggunakan Self-Report

Studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah

Studi banding tentang Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah ini mempunyai 5 tujuan penting, yaitu

  1. Mengidentifikasi faktor-faktor pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui sistem kelembagaan.
  2. Memperoleh informasi tentang faktor-faktor pengembangan kelembagaan bagi koperasi usaha kecil dan menengah.
  3. Meningkatkan kerja sama lembaga pemerintah agar secara komprehensif mempunyai sistem pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan para pengusaha.
  4. Merumuskan kebijakan, implementasi, dan sistem monitoring yang relevan dengan kelembagaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah.
  5. Memperoleh model best practice tentang kelembagaan dan sistem pembiayaan di negara Filipina yang mungkin dapat diterapkan sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Penelitian studi banding ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan self-report. Tempat penelitian adalah lembaga tinggi departemen Perdagangan dan Industri dan lembaga lain yang menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil dan menengah. Lembaga-lembaga lain tersebut termasuk Kantor Biro Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (BSMD), Kantor Technology Livelihood Resource Center (TLRC), Colombo Plan Staff College (CPSC), dan Technology University of Philippines (TUP). Subjek penelitiannya adalah narasumber yang memiliki informasi yang diperlukan dan mereka yang berhasrat dan bersedia bekerja sama dalam memberikan informasi.

Studi banding ini mempunyai hasil yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu lembaga pengelolaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah. Yang berkaitan dengan Lembaga Pengelola UKM di antaranya adalah termasuk:

  1. Pengembangan usaha kecil dan menengah di Filipina di bawah Department of Trade and Industry (DTI), dengan melibatkan beberapa biro yang ada di tingkat nasional dan regional.
  2. Yang termasuk pengusaha kecil dan menengah di Filipina, adalah para pengusaha atau entrepreneur, baik individual maupun kelompok warga negara Filipina yang memiliki ciri-ciri seperti berikut: pengusaha mikro mempunyai aset < P 1,500,001; pengusaha kecil mempunyai aset P 1,500,001 – P 15,000,000; dan pengusaha menengah mempunyai P 15,000,001- P 60,000,000.
  3. Ada enam lembaga tinggi negara dan beberapa kantor yang relevan dengan macam-macam kegiatan bisnis sebagai tempat pendaftaran dan yang akan
  4. Program pemerintah yang terkait dengan usaha kecil dan menengah dilaksanakan oleh semua lembaga yang relevan termasuk kantor yang berada di bawah tanggung jawab departemen perdagangan dan industri, departemen keuangan, anggaran dan manajemen, pertanian, reformasi agraria, lingkungan dan sumber daya alam, tenaga kerja dan perburuhan, transportasi dan komunikasi, pekerjaan publik dan jalan raya, pemerintah daerah dan ekonomi nasional dan otoritas pengembangan dan semua Bank Central Filipina baik tingkat nasional, regional, dan provinsi.
  5. Pada masing-masing kantor lembaga mempunyai prosedur, wewenang, dan dugaan jumlah pembiayaan pendaftaran yang dicantumkan secara jelas. Wewenang, prosedur, dan jumlah biaya yang jelas tersebut, pada prinsipnya adalah untuk mempermudah bagi para pengusaha, ketika mereka melakukan pendaftaran ke kantor lembaga tersebut.

Contoh Metode Penelitian Deskriptif #2 : Studi Perkembangan (Developmental Study)

Studi perkembangan atau developmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku. Sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamanya membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti.

Studi perkembangan biasanya dilakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan dimensi yang terjadi pada seorang responden. Dimensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, (CPSC), misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadap perlakuan tertentu, dan a adalah perkembangan sosial anak. Studi perkembangan ini bisa dilakukan baik secara berhasrat cross-sectional atau longitudinal.

Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan simultan menggunakan berbagai tingkatan variabel untuk diselidiki.

Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian dikomparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas dalam satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkem¬bangannya secara kontinu dalam jangka waktu tertentu seperti 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian. 

Contoh Metode Penelitian Deskriptif #3 : Studi Kelanjutan (Follow-up Study)

Studi kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memperoleh perlakuan, misalnya program pendidikan. Studi kelanjutan ini dilakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksternal, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contohnya, Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya.

Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Output (keluaran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran diselesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang diambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang diteliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat.
Contoh Metode Penelitian Deskriptif #4 : Studi Sosiometrik (Sociometric Study)

Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisis hubungan antar-pribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan seseorang terhadap orang lain dalam satu kelompok dapat ditentukan.

Prinsip teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah menanyakan pada masing¬-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan dengan siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memilih 1 atau 3 orang dalam kelompoknya. Dari setiap anggota, peneliti akan memperoleh jawaban yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi.

Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukkan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya:

  • “bintang” diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya,
  • “terisolasi” diberikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok,
  • “klik” diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya.

Di bidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel lain dalam kegiatan pendidikan.
Sumber : Sukardi, Ph.D., Metodologi Penelitian Pendidikan 

Anda suka dengan artikel Contoh Metode Penelitian Deskriptif ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Pengertian Penelitian Deskriptif. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Contoh Metode Penelitian Deskriptif" :