Paham Konstruktivis. Kehirarkian dalam materi matematika sangat berpengaruh dalam belajar matematika. Siswa yang belajar suatu konsep X akan mengalami kesulitan bila belum mengetahui atau memahami konsep Y yang menjadi pengetahuan prasyaratnya. Hal ini berarti bahwa suatu materi prasyarat menjadi tumpu untuk pemahaman materi berikutnya. Kegiatan pembelajaran berpusat pada guru.

Gurulah yang aktif, sedangkan siswanya tidak. Pola kegiatan pembelajaran semacam ini sudah saatnya perlu mendapat perhatian untuk perbaikan sehingga menjadi suatu pola kegiatan pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa. Hal ini lebih dikenal dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented learning).

Konstruktivisme memandang bahwa dalam belajar siswa secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri. Selain itu, membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru. Belajar merupakan kerja mental yang aktif, tidak hanya menerima pengajaran secara pasif. Dalam kerja ini orang lain (guru) mempunyai peranan penting dengan memberikan dukungan, tantangan, pemikiran, dan penyaji materi, tetapi siswalah yang merupakan kunci untuk belajar.

Pembelajaran kooperatif


Motivasi belajar siswa akan meningkat bila ada reevaluasi antara kebutuhan pribadi dengan situasi belajar yang berlangsung (Direktorat SLTP, 2000:6). Ada berbagai kebutuhan yang terkait dengan kegiatan belajar, di antaranya kebutuhan rasa aman. Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran dengan penekanan pada aspek sosial dalam pembelajaran dan menggunakan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 siswa yang heterogen untuk bersama-sama saling membutuhkan dalam menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan belajar, juga dalam memperoleh penghargaan. Lingkup penyelesaian tugas bukan saja dalam hal menjawab pertanyaan-pertanyaan, tetapi lebih dari itu siswa bernalar berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dalam pemahaman atas materi yang dipelajarinya. Berarti pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivis. Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran akan membawa suatu perasaan baru bagi siswa yang akan merasa sangat dihargai keberadaannya. Hal ini disebabkan siswa merasa terlibat di dalam memahami pengetahuan dari materi yang dipelajarinya. Dengan demikian pembelajaran kooperatif menjadi suatu strategi pembelajaran yang dapat memotivasi belajar siswa.

Pembelajaran kooperatif menekankan pada kerja secara kolaboratif. Tentunya berhubungan dengan kelompok. Kelompok yang dibentuk hanya berkisar 4 – 5 orang, berarti kelompok yang dibentuk adalah kelompok kecil. Tujuan dibentuk kelompok kecil adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Kita juga mengenal kelompok belajar dalam pembelajaran konvensional yang diarahkan pada penggunaan metode diskusi. Tetapi kelompok belajar tersebut berbeda dengan kelompok belajar kooperatif. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2.1.   Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dengan Kelompok Belajar Konvensional

Kelompok Belajar Kooperatif
Kelompok Belajar Konvensional
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong”.
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan.
Kelompok belajar biasanya homogen.
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok
Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing.
Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan.
Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan.
Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok.
Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
Guru memperhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)
Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.
(Depdikbud, 2000:90)


Ada tiga tingkatan keterampilan kooperatif yang dapat dilatihkan menurut Lungdren (dalam Widada, 1999:32) yaitu keterampilan kooperatif tingkat awal, keterampilan kooperatif tingkat menengah, dan keterampilan kooperatif tingkat mahir. Tetapi dalam proposal ini hanya diambil beberapa dari masing-masing tingkatan tersebut yang dianggap sangat penting, yaitu :

1. Keterampilan kooperatif tingkat awal:
a.    Menggunakan kesepakatan dan menghargai kontribusi.
Memiliki kesepakatan yang dijadikan komitmen dalam meningkatkan hubungan kerja kelompok. Saat anggota mengajukan pendapat, ide, atau suatu jawaban patut diperhatikan atau dikerjakan oleh anggota lain dalam kelompok setelah disepakati. Implikasinya, dalam kelompok akan menghasilkan perasaan kebersamaan dalam kelompok tersebut. Merasa satu dalam kelompok.
b.    Mendorong partisipasi.
Mendorong partisipasi berarti memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Jika satu atau dua anggota tidak berpartisipasi atau hanya memberikan sedikit kontribusi, maka tugas dari kelompok tersebut tidak akan terselesaikan tepat pada waktunya atau hasilnya kurang memuaskan.
c.    Mengambil giliran dan berbagi tugas.
Menggantikan seseorang yang mengemban tugas tertentu dan mengambil tanggung jawab tertentu dalam kelompok. Implikasinya, setiap anggota kelompok akan tumbuh rasa sebagai anggota kelompok kerja untuk mencapai suatu tujuan bersama.    
d.    Berada dalam tugas dan kelompok.
Meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga akan terselesaikan pada waktunya dengan ketelitian yang lebih baik dan kreatif. Berada dalam kelompok berarti tetap dalam kelompok selama kegiatan berlangsung. Implikasinya, kelompok akan lebih bangga terhadap peningkatan efisiensi dan efektifitas dalam mempersiapkan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
2. Keterampilan kooperatif tingkat menengah:
a.    Mendengarkan dengan aktif.
Jika mendengar dengan aktif maka siswa akan mampu menggunakan pesan fisik dan lisan, sehingga pembicara akan tahu bahwa orang lain secara giat sedang menyerap informasi. Pengertian dari suatu konsep akan meningkat dan hasil kelompok akan menunjukkan tingkat pemikiran dan komunikasi yang tinggi. Sebagai implikasinya, perasaan bangga bagi siswa yang memberikan partisipasi akan merasa bahwa apa yang mereka sumbangkan itu berharga, paling tidak ia akan merasa dihargai pendapatnya.
b.    Bertanya.
Maksud dari bertanya adalah meminta atau menanyakan suatu informasi atau penjelasan lebih lanjut. Dengan bertanya sesorang yang sedang tidak aktif dapat dimotivasi untuk ikut serta, termasuk anggota kelompok yang pemalu. Dari hal ini berarti memperbaiki kemampuan komunikasi, juga interaksi.
c.    Menafsirkan.
Menafsirkan berarti menyatakan kembali informasi dengan kalimat berbeda. Ini akan menimbulkan pemahaman yang lebih, sebab apa yang diperoleh diungkapkan dengan cara yang berbeda.
d.    Memeriksa ketepatan.
Membandingkan jawaban dan memastikan bahwa jawaban itu benar. Pekerjaan akan cenderung bebas dari kesalahan dan kekurang tepatan. Pemahaman akan berkembang. Hal ini berakibat siswa menjadi kritis dan hasil kelompok akan lebih baik.
3. Keterampilan kooperatif tingkat mahir:
Mengelaborasi, maksudnya adalah mampu memperluas konsep, kesimpulan, dan pendapat-pendapat yang berhubungan dengan topik tertentu. Keterampilan ini penting karena akan menghasilkan pemahaman yang lebih dalam dan prestasi yang lebih tinggi.
Semua keterampilan kooperatif tersebut (tidak langsung keseluruhan) dilatihkan guru dalam kegiatan pembelajaran, tetapi dapat dipilih sedikit demi sedikit yang dianggap sesuai dengan kepentingan hingga mencapai harapan dan seluruh keterampilan kooperatif.


Anda suka dengan artikel Perbedaan Pembelajaran Kooperatif Dan Konvensional ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Contoh Metodologi Penelitian Eksperimen Pada Pendidikan Matematika. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Perbedaan Pembelajaran Kooperatif Dan Konvensional" :