Pengertian Hukum Rekapitulasi. Hukum ini berasal dari teori rekapitulasi (recapitulation theory) yang berisi doktrin yang menyatakan bahwa proses perkembangan individu manusia adalah sebuah mikrokosmik (dunia kehidupan kecil) yang mencerminkan evolusi kehidupan jenis makhluk hidup dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat yang paling kompleks. Ada dua aspek yang digambarkan oleh teori ini, yakni aspek psikis dan aspek fisik (Reber, 1988).


Rekapitulasi pada dasarnya berarti pengulangan atau ringkasan kehidupan organisme tertentu seperti manusia yang berlangsung secara evolusioner (sangat lambat) dalam waktu berabad-abad. Dalam hal ini proses perkembangan psikis anak dipandang sebagai ulangan karena adanya kesamaan dengan perilaku kultural nenek moyangnya pada ratusan bahkan ribuan abad yang lalu.

Hukum Rekapitulasi dalam Psikologi Perkembangan


Hukum rekapitulasi perkembangan yang tampak pada anak adala sebagai berikut.

1. Masa berburu dan menyamun, yakni pada umur sekitar 8 tahun ketika ia suka bermain kejar-kejaran, perang-perangan, dan menangkap hewan-hewan kecil seperti kupu-kupu dan capung.

2. Masa menggembala, yakni pada umur sekitar 10 tahun ketika ia gemar memelihara hewan piaraan seperti ayam, burung, kucing, dan sebagainya.

3. Masa bercocok tanam, yakni pada umur sekitar 12 tahun ketika ia suka mengurus tanaman di kebun atau menyiram bunga-bunga dalam pot.

4. Masa berdagang, yakni pada umur 12 tahun ke atas ketika ia suka bermain jual-jualan, kemudian meningkat menjadi kesenangan tukar menukar foto, prangko, dan berkirim surat serta menjalin persahabatan.

Sebagai pelengkap uraian pada bagian ini, perlu penyusun utarakan bahwa hukum rekapitulasi di luar empat hal di atas seperti rekapitulasi bentuk fisik manusia (bukan kemampuan fisik) dan kepercayaan bahwa perkembangan manusia itu merupakan gambaran sejarah kehewanan kit (traces of our animal history) adalah tidak benar (Gleitman, 1987).

Pembahasan mengenai perkembangan ranah-ranah psiko-fisik pada bagi ini akan penyusun fokuskan pada proses-proses perkembangan yang dipandang memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan belajar siswa Proses-proses perkembangan tersebut meliputi:

1. perkembangan motor (motor development), yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka raga keterampilan fisik anak (motor skills);

2. perkembangan kognitif (cognitive development), yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak; dan

3. perkembangan sosial dan moral (social and moral development), ya proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak berkomunikasi dengan orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.

Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakannya, demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya (pengeluaran kotoran/getah). Secara singkat, motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.


Proses perkembangan fisik anak berlangsung kurang lebih selama dua dekade (dua dasawarsa) sejak ia lahir. Semburan perkembangan (spurt) terjadi pada masa anak menginjak usia remaja antara 12 atau 13 tahun hingga 21 atau 22 tahun. Pada saat perkembangan berlangsung, beberapa bagian jasmani, seperti kepala dan otak yang pada waktu dalam rahim berkembang tidak seimbang (tidak secepat badan dan kaki), mulai menunjukkan perkembangan yang cukup berarti hingga bagian-bagian lainnya menjadi datang.

Bekal apakah yang dibawa anak yang baru lahir sebagai dasar perkembangan kehidupannya selama di dunia? Menurut Gleitman (1987) ada dua jawaban pokok untuk pertanyaan ini, yaitu: 1) bekal kapasitas motor (jasmani); dan 2) bekal kapasitas pancaindera (sensori).

Mula-mula seorang anak yang baru lahir hanya memiliki sedikit sekali kendali terhadap aktivitas alat-alat jasmaninya. Setelah berusia empat bulan, bayi itu sudah mulai mampu duduk dengan bantuan sanggaan dan dapat pula meraih dan menggenggam benda-benda mainannya yang sering hilang dari pandangannya. Kini ia telah memiliki apa yang disebut “grasp reflex’”, yakni gerakan otomatis untuk menggenggam. Inilah refleks primitif (yang ada sejak dahulu kala) yang diwariskan nenek moyangnya tanpa dipelajari.

Respons otomatis yang juga dimiliki seorang bayi sebagai bekal dan dasar perkembangannya ialah “rooting reflex” (refleks dukungan) yakni gerakan kepala dan mulut yang otomatis setiap kali pipinya disentuh, kepalanya akan berbalik atau bergerak ke arah datangnya rangsangan, lalu mulutnya terbuka dan terus mencari hingga mencapai puting susu atau puting dot botol susu yang telah disediakan untuknya. Dua macam refleks di atas, grasp dan rooting reflex merupakan kapasitas jasmani yang sampai umur kurang lebih lima bulan belum memerlukan kendali ranah kognitif karena sel-sel otaknya sendiri belum cukup matang untuk berfungsi sebagai alat pengendali.

Bekal psikologis kedua yang dibawa anak dari rahim ibunya ialah kapasitas sensori. Kapasitas sensori seorang bayi lazimnya mulai berlaku bersama-sama dengan berlakunya refleks-refleks motor tadi, bahkan terkadang dengan kualitas yang lebih baik. Hal ini terbukti dengan adanya kemampuan pengaturan napas, penyedotan, dan tanda-tanda respons terhadap stimulus lainnya.

Berkat adanya bekal kapasitas sensori, bayi dapat mendenger dengan baik bahkan mampu membedakan antara suara yang keras dan kasar dengan suara lembut ibunya atau suara lembut wanita-wanita lainnya. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungannya untuk lebih tertarik pada suara dan ajakan ibunya daripada kepada suara dan ajakan ayahnya atau laki-laki lain yang ada di sekitarnya. Di samping itu, bayi juga dapat melihat sampai batas jarak empat kaki atau kira-kira satu seperempat meter, tetapi belum mampu memusatkan pandangannya pada barang-barang yang ia lihat. Namun, kemampuan membedakan suasana terang dan gelap,’ membedakan warna (walaupun belum mampu menyebut nama jenis’ warna), dan mengikuti gerakan benda-benda, sudah mulai tampak.

Semua kapasitas yang dibawa anak dari rahim ibunya baik kapasitas’ jasmani maupun kapasitas rohani, seperti yang penyusun utarakan tadi, adalah modal dasar yang tampak segera berfaidah bagi kelanjutan perkembangan anak tersebut. Di sisi lain, proses pendidikan dan pengajaran (khususnya di sekolah) merupakan pendukung yang sangat berarti bagi perkembangan motor atau fisik anak, terutama dalam hal perolehan kecakapan-kecakapan psikomotor atau ranah karsa anak tersebut.

Ketika seorang anak memasuki sekolah dasar atau ibtidaiyah pada umur enam atau tujuh tahun sampai dua belas atau tiga belas tahun, perkembangan fisiknya mulai tampak benar-benar seimbang dan proporsional. Artinya, organ-organ jasmani tumbuh serasi dan tidak lebihh panjang atau lebih besar dari yang semestinya. Misalnya, ukuran tangan kanan tidak lebih panjang daripada tangan kiri atau ukuran leher tidak lebih besar dari ukuran kepala yang disangganya.

Gerakan-gerakan organ tubuh anak juga menjadi lincah dan terarah seiring dengan munculnya keberanian mentalnya. Contoh: jika dalam usia balita atau seusia anak TK tidak berani naik sepeda atau memanjat pohon dan melompati pagar, pada usia sekolah ia akan menunjukkan keberanian melakukan itu. Keberanian dan kemampuan ini, di samping karena perkembangan kapasitas mental, juga disebabkan oleh adanya keseimbangan dan keselarasan gerakan organ-organ tubuh anak. Namun, patut dicatat bahwa perkembangan kemampuan fisik anak itu kurang berarti dan tak bisa meluas menjadi keterampilan-keterampilan psikomotor yang berfaidah tanpa usaha pendidikan dan pengajaran.

Gerakan-gerakan motor siswa akan terus meningkat keanekaragaman, keseimbangan, dan kekuatannya ketika ia menduduki bangku SLTP dan SLTA. Namun, peningkatan kualitas bawaan siswa ini justru membawa konsekuensi sendiri, yakni perlunya pengadaan guru yang lebih piawai dan terampil. Kepiawaian guru dalam hal ini bukan hanya yang menyangkut cara melatih keterampilan para siswa, melainkan juga kepiawaian yang berhubungan dengan penyampaian ilmu tentang mengapa dan bagaimana keterampilan tersebut dilakukan.

Belajar keterampilan fisik (motor learning) dianggap telah terjadi dalam dir/ seseorang apabila ia telah memperoleh kemampuan dan keterampilan yang melibatkan penggunaan lengan (seperti menggambar) dan tungkai seperti berlari) secara baik dan benar. Untuk belajar memperoleh kemampuan keterampilan jasmani ini, ia tidak hanya cukup dengan latihan dan praktik, tetapi juga memerlukan kegiatan perceptual learning (belajar berdasarkan pengamatan) atau kegiatan sensory-motor learning (belajar keterampilan inderawi-jasmani).

Dalam kenyatan sehari-hari, cukup banyak keterampilan indrerawi jasmani yang rumit dan karenanya memerlukan upaya manipulasi (penggunaan secara cermat), koordinasi, dan organisasi rangkaian gerakan tepat, umpamanya keterampilan bermain piano. Dalam memainkan piano, seorang pianis bukan hanya melakukan sejumlah gerakan terpisah begitu saja, melainkan juga menggunakan proses yang telah direncanakan dan dikendalikan secara internal oleh fungsi ranah ciptanya, sehingga gerakan itu menghasilkan suara merdu.

Demikian pula keterampilan-keterampilan lainnya (yang bagi sebagian orang tidak serumit bermain piano) seperti menulis, menggambar, dan mendemonstrasikan kecakapan praktis seperti olah raga atau menari dan sehagainya, semuanya membutuhkan proses ranah cipta. Sebab, kinerja jasmani (physical performance) dalam aktivitas-aktivitas tersebut hanya akan bermutu baik apabila pelaksanaannya disertai dengan keterlibatan fungsi ranah cipta atau akal. Hal ini mengingat pola-pola gerakan yang cakap dan terkoordinasi itu tak dapat tercapai dengan baik semata-mata dengan mekanisme sederhana, tetapi dengan menggunakan proses mental yang sangat kompleks (Howe, 1980).

Demikian besarnya ketergantungan kinerja keterampilan jasmani tersebut pada keterlibatan ranah cipta terbukti dengan sering munculnya kekeliruan siswa malas berpikir dalam hal menulis, menggambar, dan memperagakan keterampilan fisik tertentu. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa apabila sebuah aktivitas keterampilan jasmani seseorang (siswa), seperti menyalin pelajaran, dilakukan secara otomatis tanpa perhatian fungsi ranah cipta yang memadai, walaupun ia sudah biasa karena sering melakukannya, kesalahan mungkin akan terjadi.

Sehubungan dengan hal itu, motor skills (kecakapan-kecakapan jasmani) perlu dipelajari melalui aktivitas pengajaran dan latihan langsung, bisa juga melakukan pengajaran teori-teori pengetahuan yang bertalian dengan motor skills itu sendiri. Sedangkan, aktivitas latihan perlu dilaksanakan dalam bentuk praktik yang berulang-ulang oleh siswa, termasuk praktik gerakan-gerakan yang salah dan tidak dibutuhkan, sehingga siswa memahami bagian mana yang keliru dan perbaikan dapat segera dilakukan. Akan tetapi, dalam praktik itu hendaknya dilibatkan pengetahuan ranah akal siswa. Praktik tanpa melibatkan ranah akal,  siswa yang memadai terhadap teknik di patokan kinerja yang diperlukan, tak dapat dipandang bernilai dan hanya ibarat orang yang sedang senam beramai-ramai.

Selanjutnya, kecuali dua macam bekal bawaan anak seperti yang telah penyusun kemukakan di atas, apa faktor-faktor lainnya yang mendorong perkembangan keterampilan fisik anak selanjutnya? Ada empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga memungkinkan campur tangan orangtua dan guru dalam mengartikannya, yaitu: 1) pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf; pertumbuhan otot-otot; 3) perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin; dan 4) perubahan struktur jasmani.

Pertama, pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf (nervous sistem). Sistem syaraf adalah organ halus dalam tubuh yang terdiri at struktur jaringan serabut syaraf yang sangat halus yang berpusat di cent nervous system, yakni pusat sistem jaringan syaraf yang ada di otak (Re 1988). Pertumbuhan syaraf dan perkembangan kemampuannya membentuk intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan mendorong timbulnya pola-pola tingkah laku baru. Semakin baik perkembangan kemampuan sistem syaraf seorang anak akan semakin baik dan beraneka ragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinya. Namun uniknya, berbeda dengan org tubuh lainnya, organ sistem syaraf apabila rusak tak dapat diganti atau tumbuh lagi. Contoh: seorang anak yang luka berat pada bagian kakinya hingga sebagian dagingnya terlepas dapat disembuhkan dan bagian yang hilang itu tumbuh lagi karena obat dan gizi. Tetapi, kalau anak itu terluka pada bagian kepalanya hingga salah satu struktur subsistem syaraf rusa atau terputus misalnya, anak tersebut akan mengalam
i gangguan ingat gangguan bicara, gangguan pendengaran, gangguan pengecapan rasa, atau gangguan-gangguan lainnya bergantung pada subsistem syaraf mana yang rusak. Gangguan ini bersifat permanen, karena jaringan serabut syaraf yang rusak atau hilang tadi tidak tumbuh lagi meskipun lukanya sudah sembuh.

Kedua, pertumbuhan otot-otot. Otot adalah jaringan sel-sel yang dap berubah memanjang dan juga sekaligus merupakan unit atau kesatuan sistem yang memiliki daya mengkerut (contractile unit). Di antara fungsi-fungs pokoknya ialah sebagai pengikat organ-organ lainnya dan sebagai jaringan pembuluh yang mendistribusikan sari makanan (Reber, 1988). Peningkatan tonus (tegangan otot) anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatan aneka ragam kemampuan dan kekuatan jasmaninya Perubahan ini tampak sangat jelas pada anak yang sehat dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak tersebut dalan permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan tanga yang semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya dari masa ke masa. Perlu dicatat bahwa dalam pengembangan keterampilan terutama dalam bentuk karya nyata seperti membuat mainan sendiri, melukis, dan seterusnya, peningkatan dan perluasan (intensifikasi dan ekstensifikasi) pendayagunaan otot-otot anak tadi bergantung pada kualitas pusat sistem syaraf dalam otaknya.

Ketiga, perkembangan dan perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin (enducrine glands). Kelenjar adalah alat tubuh yang menghasilkan cairan Atau getah, seperti kelenjar keringat. Sedang kelenjar endokrin secara unium merupakan kelenjar dalam tubuh yang memproduksi hormon yang tjlNalurkan ke seluruh bagian dalam tubuh melalui aliran darah. Lawan endokrin adalah eksokrin (exocrine) yang memiliki pembuluh tersendiri untuk menyalurkan hasil sekresinya (proses pembuatan cairan atau getah) treperti kelenjar ludah (Gleitman, 1987). Berubahnya fungsi kelenjar-kelenjar endokrin seperti adrenal (kelenjar endokrin yang meliputi bagian atas ginjal dan memproduksi bermacam-macam hormon termasuk hormon korteks), dan kelenjar pituitary (kelenjar di bagian bawah otak yang memproduksi dan mengatur pelbagai hormon termasuk hormon pengembang indung telur dan sperma), juga menimbulkan pola-pola baru tingkah laku anak ketika menginjak remaja. Perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya. Perubahan ini dapat berupa orangnya melakukan kerja sama dalam belajar atau berolah raga, berubahnya gaya dandanan/penampilan dan lain-lain perubahan pola perilaku yang bermaksud menarik perhatian lawan jenis. Dalam hal ini, orangtua dan guru seyogianya bersikap antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan perilaku seksual yang tidak dikehendaki demi kelangsungan perkembangan para siswa remaja yang menjadi tanggung jawabnya.

Keempat, perubahan struktur jasmani. Semakin meningkat usia anak akan semakin meningkat pula ukuran tinggi dan bobot serta proporsi (perbandingan bagian) tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skills anak. Kecepatan berlari, kecekatan bergerak, kecermatan menyalin pelajaran, keindahan melukis, dan sebagainya akan terus meningkat seiring dengan proses penyempurnaan struktur jasmani siswa. Namun, kemungkinan perbedaan hasil belajar psikomotor seorang siswa dengan siswa-siswa lainnya selalu ada, karena kapasitas ranah kognitif juga banyak berperan dalam menentukan kualitas dan kuantitas prestasi ranah karsa. Pengaruh perubahan fisik seorang siswa juga tampak pada sikap dan perilakunya terhadap orang lain, karena perubahan fisik itu sendiri mengubah konsep diri (self-concept) siswa tersebut. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa perkembangan fisik siswa lebih memiliki signifikansi daripada usia kronologisnya sendiri. Timbulnya kesadaran seorang siswa yang berbadan terlalu besar dan tinggi atau terlalu kecil dan rendah jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya mungkin akan mempengaruhi pola sikap dan perilakunya baik ketika berada dalam kelas maupun di luar kelas. Sikap dan perilaku yang berbeda bersumber dari positif atau negatifnya self-concept yang dia miliki. Apabila siswa tersebut memiliki self-concept yang negatif terhadap dirinya ya berkembang terlalu pesat atau terlalu lambat itu, sehingga menimbulkan kecemasan (misalnya kalau-kalau ditinggalkan teman-temannya, atau tanpa menjadi bahan gunjingan teman-teman sekelas), para guru seyogianya memberikan perhatian khusus kepada siswa tersebut. Perhatian khusus maksudnya bukan memanjakan atau memberi perlindungan ya berlebihan, melainkan memberi pengertian dan meyakinkannya bahwa soal tinggi dan pendek atau besar dan kecil itu bukan masalah dalam mengejar cita-cita masa depan. Selanjutnya, siswa yang “berkelainan” tubuh tersebut diharapkan dapat lebih mudah memperbaiki konsep dirinya sendiri apabila guru memberi contoh-contoh konkret mengenai kesuksesan orang-orang yang terlalu pendek dan terlalu jangkung.

Anda suka dengan artikel Hukum Rekapituasi Dalam Psikologi Perkembangan ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Hukum Perkembangan Konvergensi Dalam Psikologi Perkembangan. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Hukum Rekapituasi Dalam Psikologi Perkembangan" :

Ditulis dalam Kategori Ensiklopedi.