Setelah membaca tentang Pengertian Penelitian Tindakan Kelas pada artikel sebelumnya, maka kali ini kita akan membahas lebih jauh tentang karakter penelitian tindakan kelas.

Mencermati definisi Penelitian Tindakan Kelas yang telah dipaparkan di atas, muncul suatu pertanyaan: “Kalau Penelitian Tindakan Kelas didefinisikan seperti itu, maka apa saja karakteristik penelitian tindakan kelas itu? Semua penelitian memang pada dasarnya dilakukan dalam upaya untuk memecahkan masalah. Jika dilihat dari masalah yang harus dipecahkan, Penelitian Tindakan Kelas memiliki karakteristik penting yaitu masalah diteliti untuk dipecahkan harus selalu berangkat dari persoalan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehari-hari di kelas. Jadi, Penelitian Tindakan Kelas akan dapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya masalah yang terkait dengan proses dan hasil pembelajaran yang dihadapi di kelas dan harus dipecahkan.

Persoalannya adalah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang sudah dilakukan selama mengajar di kelas. Dapat terjadi guru berbuat kekeliruan selama bertahun-tahun dalam melaksanakan proses pembelajaran, tetapi tidak tahu kalau yang dilakukan itu salah. Bahkan, sangat boleh jadi justru merasa yang dilakukannya selama ini diyakini sebagai sesuatu yang benar. Oleh sebab itu, guru dapat meminta bantuan orang lain untuk melihat apa yang selama ini dilakukan dalam proses belajar-mengajar di kelasnya. Di sinilah pentingnya proses kolaborasi atau kerjasama antara guru dengan peneliti.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Dalam konteks seperti itu, guru dapat bekerjasama dengan peneliti dari perguruan tinggi untuk berdiskusi guna mencari dan merumuskan permasalahan pembelajaran yang selama ini dilakukan di kelas. Dengan kata lain, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif dengan peneliti dari perguruan tinggi. Dengan kegiatan secara kolaboratif ini akan muncul pemahaman dan kesadaran terhadap kemungkinan adanya banyak masalah yang telah diperbuat selama guru itu melaksanakan proses pembelajaran selama ini. Suyanto (1997) menegaskan, jika guru bersedia melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif dengan para peneliti dari perguruan tinggi, maka banyak manfaat yang akan diperolehnya baik secara profesional maupun secara fungsional untuk meningkatkan karirnya. Karya tulis ilmiah semakin diperlukan oleh guru di masa depan. Penelitian tindakan kelas secara kolaboratif akan mampu menawarkan peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis bagi guru sambil mengajar di kelas sesuai dengan rancangan
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakannya.

Karakteristik berikutnya, menurut Suyanto (1997), dapat dilihat dari bentuk nyata kegiatan penelitian tindakan kelas itu sendiri. Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya “tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Sebenarnya, tanpa tindakan tertentu, suatu penelitian dapat saja dilakukan di kelas, tapi penelitian semacam ini tidak tergolong ke dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian semacam ini sering disebut dengan istilah “penelitian kelas”. Contohnya, guru melakukan penelitian tentang rendahnya tingkat motivasi belajar siswa. Jika penelitian itu dilakukan tanpa disertai dengan tindakan-tindakan tertentu, maka jenis penelitian yang dicontohkan itu bukan termasuk dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian yang dicontohkan itu hanya sekedar ingin tahu, tidak ingin memperbaiki keadaan rendahnya motivasi belajar siswa melalui tindakan-tindakan tertentu.

Sebaliknya, jika dengan penelitian itu guru mencoba dengan berbagai tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lebih efektif dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik, maka penelitian itu termasuk dalam penelitian tindakan kelas. Tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa itu bisa dalam bentuk menciptakan sistem kompetisi jenis-jenis bacaan secara berkelompok dan dipresentasikan di depan kelas secara bergantian, dapat juga dilakukan dengan menyediakan buku-buku bacaan yang menarik bagi siswa, atau dapat juga dilakukan dengan memberikan pertanyaan kuis pada setiap guru akan mulai mengajar sehingga mau tidak mau pada malam harinya siswa harus membaca buku.

Suhardjono (2007:62) mengajukan beberapa karakteristik penelitian tindakan kelas, yaitu:

1. Adanya tindakan (action). Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (bukan dalam laboratorium) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan praktis. Tindakan tersebut merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.

2. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. Penelitian tindakan kelas merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru (tumbuhnya sikap profesional dalam diri guru) karena penelitian tindakan kelas mampu membelajarkan guru untuk berpikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatan.

3. Hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoretis atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kalimat Iain, penelitian tindakan kelas berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis atau bersifat bebas konteks.

4. Penelitian tindakan kelas dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.

5. Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dan lain-lain) dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action).

6. Di samping itu, penelitian tindakan kelas dilakukan hanya apabila ada (a) keputusan kelompok dan komitmen untuk pengembangan, (b) bertujuan meningkatkan profesionalisme guru, (c) alasan pokok: ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan, dan (d) bertujuan memperoleh pengetahuan dan/atau sebagai pemecahan masalah.

Mencermati uraian dan ilustrasi di atas, sesungguhnya dapat dikemukakan beberapa karakteristik inti dari penelitian tindakan kelas, yaitu:

1. Masalah berasal dari guru

2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran

3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian

4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran

5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

Jadi, adanya “tindakan-tindakan” tertentu dalam penelitian kelas inilah yang juga menjadi karakteristik penting bagi penelitian tindakan kelas. Penting untuk dipertegas di sini bahwa: “Tindakan seperti apakah yang dapat dikategorikan sebagai tindakan dalam penelitian tindakan kelas itu?” Suharsimi (2007) menceritakan pengalamannya menilai karya tulis ilmiah yang dibuat ulah guru, ternyata masih banyak yang keliru menafsirkan penelitian tindakan kelas. Pada sampul depan ditulis “Penelitian Tindakan Kelas”, tetapi di bagian dalam ternyata hanya menguraikan proses pembelajaran biasa. Dalam penjelasannya memang guru sudah melakukan sesuatu, tetapi sesungguhnya guru hanya melakukan proses pembelajaran seperti biasa saja. Misalnya: guru memberikan lembar kerja kepada siswa, atau guru memberikan tugas untuk dikerjakan siswa di luar kelas, atau guru menugaskan siswa menghafalkan rumus untuk digunakan siswa di kelas. Tindakan-tindakan semacam ini sesungguhnya bukan merupakan tindakan yang dikehendaki oleh penelitian t
indakan kelas. Suharsimi (2007) menegaskan bahwa prinsip dasar tindakan. dalam penelitian tindakan kelas adalah “tindakan yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan maksud meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan kegiatan siswa.”

Untuk memperjelas kriteria “tindakan” dalam penelitian tindakan kelas, berikut ini disajikan ilustrasi kasus: Seorang guru IPA di suatu SMP mengamati bahwa siswa pada umumnya merasa senang ketika ditugaskan melakukan praktikum di laboratorium. Begitu diberitahukan untuk melakukan praktikum dan guru memberikan lembar petunjuk pelaksanaan praktikum, mereka segera menuju laboratorium, mengambil peralatan praktikum, mengambil bahan, dan melaksanakan praktikum. Guru tidak sempat menunggui secara utuh ketika siswa melakukan praktikum. Setelah selesai, siswa menyusun laporan dan langsung menyerahkan kepada guru. Ketika guru membaca laporan praktikum yang disusun oleh siswa, guru merasa kecewa karena pada umumnya laporannya kurang sistematis dan isinya jauh dari teori praktikum yang seharusnya. Oleh sebab itu, guru tersebut berniat untuk membimbing agar siswa mampu melaksanakan praktikum dan membuat laporan dengan benar. Kalau hanya diberitahu saja, dan dipesan agar waktu memasuki laboratorium harus hati-hati, mengam
bil alat-alat praktikum dengan cermat, sangat boleh jadi pesan guru tersebut tidak terlalu diperhatikan.

Oleh sebab itu, sebagai guru yang bijaksana, dia berusaha menganalisis dan mengenali apa saja kelemahan-kelemahan yang terjadi ketika siswa melakukan praktikum. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, guru tersebut memperoleh beberapa aspek dari keseluruhan kegiatan praktikum yang harus dibenahi, yaitu:

1. Ketika guru membagikan lembar petunjuk praktikum, siswa tidak diberikan kesempatan untuk menelaah dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Barangkali masih ada yang tidak dipahami oleh siswa dalam petunjuk praktikum tersebut, tetapi siswa langsung melakukan praktikum. Tentu saja pada bagian yang belum dipahami  itu menyebabkan siswa melakukan praktikum dengan tidak benar. Bagian ini akan dicari cara untuk memperbaikinya. Ketika siswa mengambil alat-alat dan bahan praktikum tidak diberitahu secara rinci agar hari-hati serta bergiliran dan berurutan dalam mengambilnya. Bagian ini juga akan diperbaiki.

3. Ketika siswa melaksanakan praktikum, guru tidak selalu menunggui dan mengamati dengan sungguh-sungguh cara siswa bekerja sejak awal sampai akhir. Bagian ini juga menjadi perhatian guru untuk diperbaiki.

4. Ketika siswa menyusun laporan tidak dibimbing, langsung disuruh menyusunnya, dan kemudian langsung diserahkan kepada guru. Hasil praktikum belum tentu dikuasai oleh siswa karena tidak ada kesempatan untuk menelaah bersama-sama guru. Bagian ini juga menjadi perhatian guru untuk diperbaiki. Setelah guru menganalisis kelemahan-kelemahan tersebut, selanjutnya merumuskan tindakan-tindakan perbaikan proses pembelajaran praktikum tersebut, yaitu:

1. Setelah petunjuk praktikum diperbanyak dan dibagikan kepada siswa, seluruh siswa diberikan kesempatan untuk membaca dan memahami secara cermat dan diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Setelah guru yakin bahwa semua siswa memahami petunjuk praktikum, maka siswa disuruh mulai melaksanakan praktikum.

2. Guru memberikan petunjuk agar siswa dalam mengambil alat-alat dan bahan praktikum harus bergiliran dan berurutan. Ini dilakukan karena guru yakin bahwa jika siswa diberi panduan untuk mengambil alat-alat dan bahan praktikum secara bergiliran dan dengan urutan yang benar, maka siswa akan tertib, tidak berebut, dan melakukannya secara hati-hati.

3. Selain membuat petunjuk praktikum, guru juga membuat lembar pengamatan yang digunakan untuk mengamati kegiatan siswa ketika sedang melakukan praktikum. Dengan cara demikian, siswa dapat melaksanakan praktikum dengan lancar, tidak mengalami kebingungan, dan tidak akan bekerja secara seenaknya karena selama melaksanakan praktikum senantiasa diamati oleh guru.

4. Untuk menjaga agar laporan yang disusun oleh siswa memenuhi syarat, maka guru membuat pedoman penyusunan laporan dan dibagikan kepada siswa.

5. Agar siswa memahami isi hasil praktikum yang dituangkan dalam laporan, maka guru mengajak siswa untuk membahasnya secara keseluruhan.

Berikut ini disajikan beberapa contoh kegiatan guru yang tidak mencerminkan adanya “tindakan’ sebagaimana yang dikehendaki oleh penelitian tindakan kelas:

1. Guru merasa kesal karena setiap hari banyak siswa yang datang terlambat. Kedatangan siswa terlambat seperti itu tentu saja mengganggu kelas yang sedang berlangsung proses pembelajaran. Tindakan guru adalah memberikan peringatan bahwa bagi siswa yang terlambat tidak boleh masuk kelas.

2. Guru merasa tidak puas dengan perilaku siswanya yang ketika mengerjakan ulangan banyak yang menyontek. Guru membuat peraturan agar sebelum ulangan dimulai semua catatan harus dikumpulkan di meja guru dan setelah itu guru baru membagikan soal ulangan.

3. Beberapa siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sehingga ketika guru mengajak siswa untuk membahas hasil PR siswa tersebut tidak bisa mengikuti secara aktif. Oleh karena itu, guru memberi surat kepada orang tua siswa tersebut agar mengingatkan anaknya.

Ketiga contoh tersebut tidak mencerminkan adanya “tindakan” karena guru tidak memberikan kegiatan kepada siswa sehingga mereka harus melakukan sesuatu. Pada contoh 1 guru hanya memberi peringatan seperti biasanya. Peringatan semacam itu sudah berulang-ulang diberikan, tetapi kejadian yang sama tetap saja muncul. Pada contoh 2 guru menyuruh siswa untuk mengumpulkan catatan di atas meja guru. Memang dengan cara seperti ini siswa tidak dapat menyontek karena catatannya tidak ada pada mereka, tetapi ini bukan perintah yang menuntut siswa mengerjakan sesuatu untuk perbaikan dirinya. Pada contoh 3 justru contoh yang tidak baik karena guru tidak mengatasi sendiri dengan tindakan perbaikan, melainkan justru meminta bantuan orang tua siswa.

Ada tiga unsur yang senantiasa harus diperhatikan dalam penelitian-tindakan kelas, yaitu:

1. Pemberi tindakan, yaitu guru.

2. Subjek tindakan, yaitu siswa.

3. Tindakan yang berupa sesuatu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh siswa sebagai subjek tindakan dan tindakan itu menjadi pengarahan kepada siswa untuk melakukan perbaikan.

Berdasarkan karakteristik penelitian tindakan kelas yang telah dipaparkan di atas, maka ada sejumlah masalah penting yang dapat dijadikan bahan kajian dalam penelitian tindak kelas, yaitu:

1. Masalah belajar siswa di sekolah, misalnya: rendahnya motivasi belajar, rendahnya minat baca, kurangnya kemampuan siswa memahami teks, kurangnya kemampuan penguasaan konsep hitungan, rendahnya keaktifan belajar siswa di kelas, dan sebagainya.

2. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar siswa, misalnya: pengembangan sikap berpikir ilmiah pada diri siswa.

3. Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka meningkatkan mutu perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran.

4. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya: inovasi dan implementasi model pembelajaran atau metode pembelajaran tertentu.

5. Implementasi kurikulum, misalnya: pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

6. Media, alat peraga, dan sumber belajar lainnya, misalnya: penggunaan alat peraga tertentu untuk meningkatkan kegairahan belajar siswa; pemanfaatan perpustakaan oleh siswa; atau pemanfaatan sumber belajar di luar sekolah.

7. Sistem evaluasi proses dan hasil pembelajaran, misalnya : pengembangan alat evaluasi berbasis kompetensi; atau efektivitas penggunaan alat evaluasi tertentu.


Source : Penelitian Tindakan Kelas, Dr. Mansyur, M.Si.

Anda suka dengan artikel Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas" :

Ditulis dalam Kategori Penelitian. karakteristik ptk,