Masalah pokok pendidikan di Indonesia saat ini masih berkisar pada soal pemerataan kesempatan, relevansi, kualitas, efesiensi dan efektifitas pendidikan. Sesuai dengan masalah pokok tersebut serta memperhatikan isu tantangan masa kini dan kecenderungan di masa depan, maka dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk mengatasi persoalan yang dihadapi, tantangan itu, perlu diciptakan pendidikan yang unggul yaitu pendidikan yang dapat mengembangkan potensi dan kapasitas siswa secara optimal. Sebagaimana disyaratkan Barbara G. Burch (1997) “In today’s village educational excellence depend on our ability to not only contribute to the improvement of the world’s economic but also educate all learners to the tullest capacity”. Berkenaan dengan itu, pemerintah telah menetapkan empat strategi pokok pembangunan pada sector pendidikan, diantaranya adalah peningkatan kualitas (Cece Wijaya, et al, 1998:33).

Untuk mencapai tujuan pendidikan yakni standar kompetensi yang harus dimiliki siswa, guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan di lapangan sangat menentukan keberhasilannya. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa diikuti oleh kemampuan guru dalam mengimplementasikannya dalam kegiatan proses pendidikan, maka kurikulum itu tidak akan memiliki makna. Berkaitan dengan itu, standar proses pendidikan bagi guru berfungsi sebagai pedoman dalam membuat perencanaan program pembelajaran, baik program untuk periode tertentu maupun program pembelajaran harian, dan sebagai pedoman untuk implementasi program dalam kegiatan nyata di lapangan.

Tugas guru yang utama adalah membantu siswa melakukan kegiatan baik secara perorangan maupun secara kelompok. Untuk itu guru harus mampu membuat perencanaan kegiatan belajar-mengajar yang tepat bagi setiap siswa dan kelompok serta mampu melaksanakannya. Untuk membuat perencanaan yang tepat, guru dituntut mampu mendiagnosis kemampuan akademis siswa, memahami gaya belajar-mengajar, minat siswa, dan sebagainya.

Keberhasilan belajar siswa akan lebih memadai, apabila guru menerapkan peran bimbingan dalam belajar mengajar, yang berupa upaya fasilitatif bagi perkembangan kepribadian siswanya, serta upaya bimbingan lain untuk membimbing siswa menentukan tujuan yang hendak dicapainya, membimbing siswa dalam menilai keberhasilannya dalam mencapai tujuan.

Dalam proses pembelajaran, interaksi antara guru dan siswa merupakan hal yang sangat penting. Guru akan memberikan sejumlah informasi dan pengetahuan kepada siswa dan siswa sebagai penerima bahan informasi. Apabila dalam proses pembelajaran ada materi yang belum dimengerti oleh siswa, maka siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada guru. Dengan bertanya, siswa akan lebih aktif dalam belajar. Tetapi sering kali dijumpai siswa yang enggan mengajukan pertanyaan walaupun belum memahami materi yang diberikan.

Untuk lebih mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, salah satu metode yang dapat dilakukan yaitu dengan Permainan Kartu Indeks (Index Card Match), karena dalam metode ini terjadi interaksi antara siswa dan guru, dan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Dalam metode ini guru akan membuat pertanyaan dan jawaban yang dibagikan kepada siswa. Dengan metode ini, diharapkan siswa akan lebih aktif dalam belajar dan dapat mengajukan pertanyaan bila ada materi yang belum dimengerti.

Penelitian ini dilakukan untuk mendorong siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran. Diharapkan dari penelitian ini bukan hanya guru yang aktif, tetapi siswa juga aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan dari proses pembelajaran dapat tercapai.

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Proses pembelajaran berjalan secara optimal perlu adanya rencana pembuatan yang dikutip oleh Rustaman (2003:3) merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar siswa yang diinginkan. Strategi pembelajaran juga untuk mencapai komponen yang ada dalam pembelajaran. Subiyanto (1990:17) menyatakan komponen pembelajaran mencakup tiga hal, yaitu tujuan, model an evaluasi. Ketiga komponen tersebut disebut tiga mata jangkar (three anchor points) yang merupakan suatu perpaduan atau kesatuan. Pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan memuat kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor (Trianto, 2007).

Suatu tujuan pembelajaran pada saatnya menginginkan peserta didik mampu memahami suatu konsep melalui penemuannya sendiri dengan melakukan percobaan. Untuk merefleksikan tujuan pembelajaran ini hanya dapat dicapai dengan menggunakan strategi penyampaian secara berkelompok untuk membuat laporan sekaligus mengkomunikasikan. Penulisan ilmu pengetahuan sekaligus mengkomunikasikan hasilnya bertujuan untuk mengerti, mengingat dan menetapkan konsep pengetahuan. Selain itu, juga dapat menambah perbendaharaan ilmu, membentuk performent dalam menulis dan berpikir disiplin.

Menurut Weinstein dan Meyer, dalam Nur (2000:5) pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Pengajaran strategi belajar berdasarkan pada dalil bahwa keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada kemahiran untuk belajar mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri. Hal inilah yang menjadikan strategi belajar mutlak diajarkan kepada siswa tersendiri. Hal lain yang dianggap pentingnya mengajarkan strategi belajar adalah alur pemikiran Norman dalam Arends (1997:234), yang memberikan kelemahan guru dalam tugas mengajarkan siswa bagaimana belajar sebagai tujuan pendidikan.

Dalam konteks pengajaran, strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guna. Karena itu seorang guru dituntut memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran, sehingga terjalin keterkaitan fungsi antar komponen pembelajaran dimaksud. Strategi berarti pilihan pola kegiatan belajar mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif. Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru memerlukan wawasan yang mantap tentang kemungkinan-kemungkinan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang telah dirumuskan, baik dalam arti instruksional, tujuan belajar yang dirumuskan secara eksplisit dalam proses belajar mengajar, maupun dalam arti efek pengiring misalnya kemampuan berpikir kritis, kreatif, sikap terbuka setelah siswa mengikuti diskusi kelompok kecil dalam proses belajarnya (Sabri, 2007).

Anda suka dengan artikel Makalah Strategi Pembelajaran Matematika ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Permainan Kartu Dalam Pembelajaran Matematika. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Makalah Strategi Pembelajaran Matematika" :