Menurut Ulfyahanin (2009), pembelajaran dengan pendekatan konvensional merupakan perpaduan antara penjelasan tradisional dan tanya jawab. Dalam pembelajaran konvensional, metode ceramah adalah cara yang sangat dominan digunakan dalam proses belajar mengajar.

Pelaksanaan metode ceramah dalam pembelajarankonvensional dimulai dengan penyampaian informasi oleh gurumengenai materi pelajaransecara pasif. Selanjutnya, siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, dan menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran, siswa belajar secara individual dan pembelajaran berlangsung secara teoritis.

Dalam pelaksanaanya, metode yang diterapkan guru di sekolah hanya dengan tatap muka, dengan perlengkapan yang sangat terbatas, dan tanpa perencanaan yang matang. Selain itu, bahwa pembelajaran konvensional meliputi: (1) pola tradisional dalam bentuk tatap muka antara guru dengan siswa. Guru bertindak selaku komponen sistem instruksional yang merupakan satu-satunya sumber informasi, (2) guru dan media bantu pengajaran, dan (3) memandang guru sebagai komponen instruksional utama dengan sumber belajar lain yang digunakan sebagai bahan tambahan belajar.

NCTM (1989) menyatakan, tujuan pembelajaran matematika adalah mengembangkan: kemampuan mengeksplorasi, menyusun konjektur; dan menyusun alasan secara logis, kemampuan menyelesaikan masalah non rutin; kemampuan berkomunikasi secara matematis dan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi,  kemampuan menghubungkan antar ide matematika dan antar matematika dan aktivitas intelektual lainnya. Selanjutnya  NCTM (2003) menamakan kemampuan di atas dengan mathematical power process atau daya matematis. Kurikulum Matematika (2006) tidak mencantumkan  istilah daya matematis secara eksplisit. Secara implisit istilah daya matematis  tercermin dalam empat tujuan pertama pembelajaran matematika yaitu: a) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien,dan tepat, dalam pemecahan masalah, (b) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat genaralisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (c) memecahkan masalah; (d) mengomunikasikan gagasan  dengan symbol, tabel,  diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan (e) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, sikap rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. NCTM (2003) menamakan tujuan kelima di atas dengan istilah mathematical disposition atau disposisi matematis.

Pada saat ini, daya dan disposisi matematis siswa belum tercapai sepenuhnya. Hal tersebut antara lain karena pembelajaran cenderung  berpusat pada guru  yang menekankan pada proses prosedural, tugas latihan yang mekanistik, dan   kurang memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir matematis Padahal, pentingnya mengembangkan kemampuan berfikir dan peran guru sudah sejak lama dikemukakan oleh Polya (1973) bahwa untuk mengajarkan cara berpikir, guru  tidak hanya memberikan informasi tapi juga menempatkan diri sesuai kondisi siswa, dan memahami apa yang terjadi dalam benak siswa. Pendekatan pembelajaran matematika yang mengakomodasi pendapat Polya di atas terdapat dalam pembelajaran yang berpandangan konstruktivisme, yaitu pembelajaran yang didisain untuk membangun pemahaman konsep/prinsip matematika melalui proses asimilasi dan akomodasi. Menurut Bruner (Djaeng, 2009) salah satu cara belajar memahami konsep, dalil, atau prinsip matematika yang baik adalah dengan melakukan sendiri penyusunan representasi dari konsep, prinsip, atau dalil tersebut. Proses membangun pemahaman sendiri seperti di atas antara lain berlangsung dalam pembelajaran investigasi.

Evans (1987), mengemukakan bahwa pembelajaran investigasi adalah pembelajaran yang memberi  kesempatan kepada siswa untuk memikirkan, mengembangkan, menyelidiki hal-hal menarik dan mengusik rasa keingintahuan mereka. Siswa dihadapkan pada situasi yang penuh pertanyaan yang dapat menimbulkan konfrontasi intelektual dan mendorong terciptanya investigasi. Beberapa aktivitas dalam pendekatan investigasi adalah:  1) eksposisi  guru dalam bentuk menyajikan serangkaian pertanyaan yang menimbulkan konfrontasi intelektual, membangkitkan rasa ingin tahu, mendorong siswa untuk berfikir,  mengembangkan, dan menyelidiki sesuatu, 2) diskusi di antara siswa, atau antara siswa dan guru; 3) melaksanakan kerja praktik; 4) pemantapan dan tugas latihan; 5) pemecahan masalah; dan 6) kegiatan investigasi (investigational work). Langkah-langkah pendekatan investigasi yang hampir serupa dikemukakan Flenor (Iryanti, 2004) yaitu: apersepsi, investigasi, diskusi, penerapan, dan pengayaan. Dalam fase investigasi, guru berperan selain sebagai fasilitator dan motivator juga sebagai pengarah untuk membantu siswa mengembangkan pertanyaan yang lebih terarah, menggali pengetahuan siswa, dan mendorong siswa untuk memperbaiki hasil yang dicapai. Demikian pula Height, Talmagae dan Hart (Iryanti, 2004) mengemukakan langkah-langkah  pendekatan  investigasi, yang meliputi: pemberian soal dan masalah terbuka atau  tidak terstruktur secara ketat, kemudian siswa diberi kesempatan memilih jalan yang sesuai dengan pendapatnya.

Peran guru seperti di atas  juga dikemukakan Glasersfeld (Suparno, 1997), dan Nickson (Hudojo, 1998)  Menurut Glasersfeld (Suparno, 1997), mengajar adalah membantu siswa berpikir secara benar dengan cara memberi kesempatan berpikir sendiri. Guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik sehingga siswa mampu mengkontruksi pengetahuannya. Pendapat serupa dikemukakan Nickson (Hudojo, 1998), bahwa dalam pembelajaran matematika tugas guru adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep itu terbangun kembali melalui transformasi informasi dengan pengetahuan sebelumnya sehingga membentuk  konsep baru.

Dari pendapat Glaserfeld dan Nickson di atas, dapat dirangkumkan bahwa pembelajaran matematika yang berpandangan konstrukvisme mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) siswa terlibat aktif dalam belajar, (2) informasi dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sehingga membentuk skemata baru, sehingga pemahaman terhadap informasi baru menjadi lebih kompleks; (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan (Hudojo, 1998). Selanjutnya, untuk berlangsungnya pembelajaran matematika yang berpandangan konstruktivisme,  Hudoyo mengajukan saran sebagai berikut: (1) sediakan pengalaman belajar dengan cara mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, (2) integrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret; (3) integrasikan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama siswa  dengan siswa lain dan atau lingkungannya; (4) manfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis; dan (5) libatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik.

Thelen mengemukakan, keunggulan pendekatan investigasi kelompok di antaranya adalah: mampu menciptakan cara belajar siswa yang lebih aktif, menumbuhkan motivasi belajar mandiri dalam diri siswa, dapat menumbuhkan minat dan kreativitas siswa, memupuk cara berpikir analitis dan divergen, dan dapat meningkatkan kepedulian antar anggota kelompok dalam belajar. Berdasarkan telaah terhadap pentingnya pemahaman dan disposisi matematis, kesenjangan antara harapan dan kenyataan tentang keduanya  serta beberapa hasil studi di atas, mendorong peneliti melakukan suatu experimen tentang pengaruh pembelajaran investigasi terhadap pemahaman dan disposisi matematis siswa SMP.

Silakan download skripsi tentang pembelajaran investigasi di blog ini. Baca juga pengertian pendekatan investigasi dan pembuatan analisis butir soal

Anda suka dengan artikel Skripsi Tentang Pendekatan Investigasi ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Pengertian Pendekatan Investigasi Dalam Matematika. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Skripsi Tentang Pendekatan Investigasi" :

Ditulis dalam Kategori Pend. Matematika.