Skala Pengukuran. Skala pengukuran merupakan suatu sistem atau skema untuk menetapkan nilai skor terhadap karakteristik yang diukur. Terdapat 4 skala yang digunakan dalam pengukuran, antara lain sebagai berikut.

1)     Skala Nominal

Skala nominal memberikan suatu sistem kualitatif untuk mengkatagorikan orang atau objek ke dalam kelas, kategori, dan klasifikasi tertentu. Contoh : digunakan kategori 1 untuk mewakili kategori mahasiswa matematika, 2 untuk mahasiswa Fisika, dan 3 untuk kategori Biologi. Dalam hal ini, tidak ada maksud untuk mengurutkan ketiga kategori tersebut. Dalam skala nominal juga tidak berlaku operasi baku pada bilangan sehingga konsekuensinya teknik statistik tidak dapat digunakan pada data yang berbentuk nominal.

2)     Skala Ordinal

Skala ini memungkinkan kita untuk mengurutkan objek sesuai dengan kuantitas dan karakteristik yang dimilikinnya. Contoh : Dalam pengukuran tinggi badan siswa, siswa dengan badan tertinggi diberi urutan 1, kemudian di bawahnya diberi urutan ke 2, dan seterusnya.

3)     Skala Interval

Skala ini juga memungkinkan kita untuk mengurutkan objek seperti halnya pada skala ordinal, namun dengan unit yang sama. Contoh : ada 3 orang siswa yaitu siswa A mendapat skor 100, siswa B mendapat  skor 110, dan siswa C mendapat skor 120. Bisa disimpulkan bahwa siswa C memperoleh skor tertinggi, selisih skor siswa A dan B ekuivalen dengan selisih skor siswa B dan siswa C, selisih skor antara siswa B dan siswa C adalah dua kali lebih besar antara siswa A dan siswa C.

Data yang berskala interval dapat dimanipulasi dengan operasi matematika. Namun kelemahan skala ini adalah tidak adanya nilai 0 mutlak. Contoh : jika seorang siswa tidak dapat menjawab dengan benar satu pertanyaan dalam suatu tes, maka ia mendapat skor 0. Nilai 0 bukan berarti siswa tersebut tidak mengerti sama sekali tentang konsep yang diujikan. Tetapi nilai 0 disebabkan karena tidak ada butir soal yang memiliki tingkat kesulitan yang sesuai dengan kemampuannya.

4)     Skala Rasio

Kekhususan dari skala ini adalah memiliki nilai 0 mutlak. Nilai 0 mutlak menunjukkan ketiadaan karakteristik yang diukur. Dengan adanya nilai 0 mutlak, kita bisa menyatakan ukuran-ukuran onjek ke dalam bentuk perbandingan. Contoh : pohon yang tingginya 20 m adalah dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan pohon yang ukuran tingginya 10 m.

Deskripsi Skor Tes

Agar dapat menginterpretasikan kemampuan siswa berdasarkan skor tes yang diperoleh, diperlukan suatu acuan. Salah satu acuan yang bisa digunakan adalah statistik sederhana yang meliputi distribusi frekuensi, dan ukuran kecenderungan memusat.

1)     Distribusi

Distribusi merupakan kumpulan dari skor. Bentuk distribusi data dibedakan menjadi 2 bentuk yakni :

Bentuk simetris : bila distribusi dibagi ke dalam dua bagian, maka luas daerah keduanya akan sama. Namun tidak semua data bisa membentuk distribusi simetris.

Distribusi non-simetris : distribusi ini memiliki bentuk kurva yang menceng baik ke kiri maupun ke kanan. Kurva yang menceng ke kiri memiliki ciri khas yaitu sedikitnya jumlah siswa yang mendapat skor rendah dan skor cenderung mengumpul pada skor yang tinggi. Sedangkan Kurva yang menceng ke kanan memiliki ciri khas yaitu banyaknya jumlah siswa yang mendapat skor rendah dan skor cenderung mengumpul pada skor yang rendah.

2)     Ukuran Kecenderungan Memusat

Distribusi skor memiliki kecenderungan memusat. Adapun tiga ukuran tendensi sentral yang sering digunakan dalam pengukuran pendidikan antara lain : Mean, Median dan Modus.

Mean : (1) mean dapat dihitung dengan menggunakan skala data interval dan rasio, (2) mean dari sampel merupakan estimasi yang baik untuk menduga populasi berdasarkan sampel yang diambil, (3) mean sangat penting untuk mendefinisikan dan menghitung statistik deskirptif yang berguna dalam konteks pengukuran, (4) mean memiliki karakter yang sensitif terhadap perbedaan skor tiap individu.

Median : (1) bila ada n skor yang diurutkan mulai dari yang terendah sampai tertinggi, maka nilai tengah dari kumpulan skor tersebut dinamakan median, (2) median dapat dihitung untuk distribusi skor dengan skala rasio, interval ataupun ordinal.

Modus : (1) modus merupakan skor yang sering muncul (paling banyak frekuensinya) pada suatu distribusi skor, (2) modus tidak efektif digunakan sebagai ukuran tendensi sentral jika pada distribusi skor, memiliki dua skor atau lebih yang sama banyak frekuensinya, (3) untuk data-data yang berukuran kecil / terbatas, modus selalu menghasilkan nilai yang tidak sama (relatif berubah).

Baca juga tentang Perbedaan Pengukuran, Penilaian dan evaluasi dan Gangguan Kecemasan dalam Pembelajaran Matematika

Anda suka dengan artikel Konsep Dasar Matematika Dalam Pengukuran ini?! Jangan lupa share ya ... Baca juga tentang Tips Meningkatkan Stamina Tubuh. Semoga bermanfaat...

plusone  twitter  facebook Share

Baca juga Artikel Terkait "Konsep Dasar Matematika Dalam Pengukuran" :